Rumah tangga yang bahagia seketika menjadi kesedihan, dan hati tersakiti. Istri yang setia tak menjamin suami juga setia. Istri yang begitu sabar dan tulus tak membuat Aldi menghargai kesetiaan itu.
Dia berkhianat hanya karena ujian rumah tangga yang diberikan. Sahabat sendiri malah mencari kesempatan hal itu hanya untuk dapat memiliki sesuatu.
Keserakahan membutakan mata hatinya, dan tidak memperdulikan perasaan sesama wanita. Semua dilakukannya demi ingin memenuhi keegoannya. Sampai rela anaknya yang menjadi korban. Seorang ibu begitu tega menjadikan anaknya untuk dikorbankan.
Namun semua yang namanya kebohongan pasti akan terbongkar juga. Semua yang ditutupinya akan dibukanya sendiri dari mulutnya sendiri. Sedangkan istri sah yang tersakiti sudah tak sanggup untuk berulang kali memaafkan.
Akhirnya semua yang dia pertahankan dalam rumah tangganya sirna. Dia sudah tidak ingin hidup bersama orang yang telah terlalu menyakitinya. Setelah tidak bersama hanya malaikat kecil yang bersamanya dapat memberi kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radiah Ayarin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu hari
Perut Nisa sudah sangat besar, dan sekarang sudah memasuki 8 bulan.
Setiap malam Nisa tidak bisa tidur dibuat baby nya. Bayi itu selalu mengganggu tidurnya, namun saat seperti itu yang dia dambakan dan membuat dia bahagia. Jagoan kecilnya sangat sehat dan aktif sekali.
Sering sekali pinggang Nisa pegal dan kakinya membengkak. Mbak pelayan selalu mengoleskan minyak angin ke kaki nya yang bengkak. Anita juga sering menjenguk dan sering memberi pengetahuan seputar ibu hamil.
Nisa mendapat ilmu baru dari Anita, karena Anita sudah lebih jauh berpengalaman. Waktu kelahiran sudah begitu dekat. Rasa yang ada didalam hati pun menjadi kacau dan gelisah.
Malam ini Aldi tidur dirumah Nisa, Sinta tidur dirumah ibunya. Malam itu Aldi mendekati Nisa yang sedang duduk disofa kamarnya.
Nisa sama sekali tidak ingin diganggu, dia menghindar dan hanya diam saja.
Setiap Nisa tidak bisa tidur, ia selalu memutar lantunan ayat - ayat suci dari ponselnya.
Karena itu bisa dapat membuatnya tenang dan nyaman. Aldi mendekat lagi dan berkata," biarkan mas memelukmu sebentar saja." Mas hanya ingin bisa merasakan lagi kebahagiaan mas yang dulu pernah kamu berikan." ucap Aldi sedikit berbisik dan tidak bisa menahan kerinduannya.
Aldi sebentar lagi menjadi seorang ayah, Sinta tinggal menunggu harinya saja.
Sementara Nisa baru masuk 8 bulan. Seharusnya Sinta sudah waktunya, namun ntah kenapa belum juga ada tanda akan melahirkan.
Malam itu ponsel Aldi berbunyi, dilihatnya panggilan dari nomer Sinta.
"Hallo Sin.., ada apa malam - malam telpon." tanya Aldi.
"Aldi, Sinta sudah kesakitan. Dia sepertinya akan melahirkan." ucap ibunya Sinta.
"Apa buk?" Sinta akan melahirkan?" Aldi terkejut mendengarnya.
"Aldi cepat kesini ya, Sinta sudah dirumah sakit Cipta." ucap ibunya Sinta.
"Iya buk, saya akan kesana sekarang." ucap Aldi.
Aldi segera mengambil kunci mobilnya dan pergi menuju rumah sakit Cipta.Tengah malam Aldi mengemudikan mobil dengan cepat, jalanan pun tidak terlalu ramai ataw pun macat. Nisa dirumah langsung telpon mama Aldi dan memberi kabar itu.
...****************...
Sinta menangis menahan kesakitan. Ketika diperiksa oleh suster, Sinta masih pembukaan satu.
"buuu.., sakit sekali, dimana mas Aldi buk.." tanya Sinta.
"Iya nak sebentar lagi dia datang." Sekarang masih dijalan." ucap ibunya.
"Mas.., buk.., sakit sekali. Sinta gak kuat buk..," Rintihan Sinta kesakitan.
Aldi sampai juga di rumah sakit itu, ia mencari keberadaan Sinta di bagian resepsionis.
"Mbak, saya mencari pasien yang mau melahirkan atas nama ibu Sinta Thalia diruangan mana ya?" tanya Aldi.
"Oh, sebentar ya pak, ibu Sinta Thalia berada di bagian ibu dan anak kamar nomer 101 ya pak." ucap mbak suster tersebut.
"Baik sus, terima kasih." ucap Aldi.
Aldi bergegas pergi ke tempat bagian ibu dan anak. Dari jauh dia sudah melihat adik Sinta berada dikursi tunggu depan kamar 101 tersebut.
"Dimana kak Sinta Dio?" tanya Aldi ke adiknya Sinta.
"Ada didalam bersama ibu kak." ucap Dio adik Sinta.
...****************...
Sekarang sudah pukul 03:00 pagi, Sinta belum juga melahirkan. Sudah 3 jam menunggu Sinta masih pembukaan 2 dan Sinta sudah tidak tahan lagi. Sinta masih dipapah oleh ibu untuk berjalan keliling agar bayi cepat mencari jalan.
Sinta sudah berusaha namun sekarang cuma pembukaan 3, sekarang sudah pukul 6 pagi.
"Mas, Sinta sudah gak tahan lagi mas..."
"Tolong mas, Sakit sekali...," ucap Sinta.
Aldi pergi mencari dokter yang biasa menangani kandungan Sinta.
"Suster, dimana dokter Nadia?" tanya Aldi.
"Dokter Nadia belum datang pak.., jam 7 nanti dokter Nadia datang." Dan itu pun ada operasi yang mau dilaksanakan oleh dokter Nadia." ucap suster.
"Sus.., bagaimana dengan istri saya?" dia sudah menahan sakitnya dari jam 12 malam sus.., ucap Aldi lagi.
"Sabar pak.., proses melahirkan memang seperti itu. Apalagi ini anak pertama." kata suster.
"Suster apa tidak ada jalan lain?" tanya Aldi.
"Ada pak, dengan cara operasi." ucap suster.
"Ya sudah sus, dioperasi saja istri saya. Kasihan dia kesakitan dari tadi malam." kata Aldi yang begitu panik.
"Sebentar ya pak, kita tulis dulu prosedurnya. Dan bapak bisa tandatangani ini, bahwa ini atas persetujuan dari bapak." ucap suster.
Aldi pun menandatangani surat itu, dan dia mengambil tindakan operasi untuk Sinta melahirkan. Sinta sudah terbaring lemas, dia tidak selera makan dan minum. Ia sudah habis tenaga dari tadi menangis dan berteriak karena menahan sakitnya.
Akhirnya pukul 8 pagi dokter Nadia menangani Sinta untuk mengoperasinya.
Aldi menemani Sinta didalam, dan memberi dia semangat. Namun Sinta sudah tak bertenaga lagi, tetapi tetap Aldi memberi semangat dan mengajak bicara.
sayng
Ibu dan adiknya masih menunggu diluar, mereka sangat cemas. Tidak lama kemudian Sinta dan Aldi keluar dari ruangan operasi. Bayi berjenis kelamin perempuan itu lahir dengan selamat. Namun Sinta masih lemas tak berdaya.
Aldi sangat senang melihat putrinya sudah lahir. Segera bayi itu di khomad kan oleh Aldi.
kulitnya yang putih dan pipi merah merona bayi kecil itu begitu cantik dan menggemaskan. Aldi pun tak tahan lagi melihatnya, ia mencium bayi mungil itu dengan penuh kasih sayang.
...****************...
Pagi itu mama dan papa datang kerumah sakit dimana Sinta melahirkan. Mereka datang hanya berdua saja, dan ingin melihat cucunya yang sudah lahir.
"Aldi, kamu diruangan mana?" mama sama papa ada di depan resepsionis." ucap papa menelpon Aldi.
"Oh iya pa, sebentar Aldi kesana." katanya.
Aldi pergi ke resepsionis dan menjemput mama dan papanya.
"Mama..!" Aldi memanggil.
"pa, Aldi pa." ucap mama.
"Bagaimana Al?" tanya mama.
"Oh, mama punya cucu perempuan yang cantik ma." katanya.
"Mari ma, kita lihat diruang baby." Aldi mengajak mama nya.
"Yuk pa." kata mama.
Mereka pun pergi melihatnya, setelah puas melihat baby. Mama melihat kondisi Sinta yang masih terbaring lemah.
"Mama?" Sama siapa mama kesini?" tanya Sinta.
"Mama datang sama papa." Kamu sudah baikan Sin,gimana sekarang?" Kata Aldi kamu masih lemas." tanya mama.
"Sudah tidak apa - apa kok ma..," Mama tahu dari siapa Sinta sudah lahiran ma?" Mas Aldi yang telpon mama?" tanya Sinta.
Mama dan papa saling menatap, dan mereka tersenyum.
"Kami tahu dari Mbak Nisa, Sin..," ucap papa.
"Oh mbak Nisa..." kata Sinta.
Sinta agak sedikit terenyuh karena Nisa memberi tahukan dirinya kepada mama dan papa.
"Mbak Nisa tidak bisa kesini, dia agak tak sehat." Katanya badannya sakit semua. Biasalah orang hamil ya buk.." ucap mama berkata ke ibunya Sinta.
Ibunya hanya tersenyum saja ke mama nya Aldi. Sinta mulai tersentuh ke Nisa, sepertinya hatinya sedikit berubah.Tetapi siapa yang tahu bagaimana kedepannya dan niat yang lainnya.
icenya lama encernya..