NovelToon NovelToon
Naruto : Sistem Shinobi Tanpa Batas

Naruto : Sistem Shinobi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Barr

Ren, seorang pemuda yang hidupnya hancur di dunia modern, terbangun di dunia yang ia kenal hanya melalui layar kaca—dunia Shinobi yang penuh dengan darah, air mata, dan pengkhianatan.

​Tepat saat ia lahir di tengah kekacauan serangan Kyuubi, Ren menyadari bahwa ia tidak memiliki garis keturunan klan hebat, tidak memiliki chakra yang melimpah, dan hanya dianggap sebagai sampah oleh dunia.

​Namun, tepat saat ia menginjak usia 6 tahun, sebuah layar transparan muncul di depannya: [Selamat datang, Ren. Sistem Evolusi Shinobi telah aktif.]

​Dengan pengetahuan tentang masa depan yang pahit dan sistem yang memungkinkan segalanya, Ren bersumpah untuk mengubah nasib. Dari seorang anak yatim piatu yang diabaikan, ia akan bangkit, melampaui para Hokage, hingga menantang para dewa yang bermain-main dengan takdir dunia ini.

​Bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai penjahat. Dia adalah Faktor X yang akan mengubah dunia Shinobi selamanya.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menangkap Kikaichu

​Sepatu ninja berbahan kain tebal milik Ren menapak langsung di atas tanah basah area latihan Hutan Tiruan Akademi. Udara lembap khas vegetasi buatan berbau humus langsung menyergap indra penciumannya, menghapus sisa aroma alkohol tanaman dari kelas toksikologi beberapa menit lalu. Tanah di area ini sengaja dibuat gembur dan dilapisi lumut tipis—sebuah kondisi lingkungan ideal yang dirancang khusus untuk menguji kemampuan murid dalam menyembunyikan jejak mekanis.

​Di depan sana, Iruka Umino sudah berdiri di atas sebuah log kayu besar yang melintang. Tangannya bergerak lincah, menarik seutas kawat baja standar dari gulungan di pinggangnya, lalu merangkai simpul pengunci di sekitar dahan pohon cedar.

​"Dalam menata perangkap, kekuatan tidak ada hubungannya dengan efektivitas!" suara Iruka menggema di antara pepohonan, menarik perhatian tiga puluh pasang mata murid yang berdiri melingkar. "Kalian harus menghitung hukum tegangan mekanis, memperkirakan sudut pantul kawat saat ditarik oleh momentum target, dan menyembunyikan pressure plate di balik lapisan dedaunan alami. Satu sentimeter pergeseran pasak bisa berarti perbedaan antara target yang lolos atau target yang terjerat."

​Iruka menarik ujung kawat, mengaitkannya pada sebuah pasak kayu yang tertancap di tanah, lalu menutupinya dengan segenggam daun kering. Dengan satu sentikan ringan dari kunai tumpulnya, perangkap tersebut terpicu. Daun-daun kering berhamburan saat dahan cedar melesat cepat, menarik kawat baja hingga lurus tegang dalam waktu kurang dari setengah detik.

​"Jika tegangan terlalu longgar, target akan merasakan gesekan kawat sebelum perangkap mengunci. Jika terlalu tegang, pasak akan patah oleh perubahan cuaca atau kelembapan tanah," tambah Iruka tegas.

​Ren berdiri berjarak empat meter di sebelah kanan podium alami Iruka. Matanya bergerak setengah busur, memetakan area latihan bukan sebagai lanskap hutan, melainkan sebagai matriks vektor tiga dimensi yang transparan. Di dalam kesadaran visualnya, jalur-jalur elastisitas dahan, titik tumpu beban, dan proyeksi regangan tali terbentang secara otomatis dalam bentuk garis-garis algoritma digital.

​Sistem di kepala Ren secara pasif mengalkulasi energi potensial pegas dari dahan pohon menggunakan hukum mekanika klasik.

Di mana koefisien elastisitas kayu k telah terpengaruh oleh residu chakra dari akar hutan tiruan tersebut. Melalui sudut lateral matanya, Ren langsung mengunci target utamanya hari ini: Shino Aburame berjalan dengan langkah konstan memilih posisi di pohon besar nomor tiga—area yang berbatasan langsung dengan patok nomor empat yang dialokasikan untuk Ren.

​"Sekarang, ambil perangkat kalian dan mulai simulasi mandiri!" seru Iruka sembari melompat turun dari log kayu.

​Keheningan hutan tiruan langsung pecah oleh suara langkah kaki yang berhamburan. Murid-murid mulai berebut mengambil gulungan kawat, tali rami, dan pasak kayu dari dalam kotak inventaris Akademi.

​Di zona kiri, Naruto Uzumaki langsung menarik seutas tali tambat dengan kasar. Wajahnya memerah saat dia mengikat pemicu kayu pada dahan ek tanpa melakukan perhitungan penyeimbang sama sekali, hanya mengandalkan insting kasarnya yang berantakan.

​Wusss—Klak!

​"Aaaah!" Naruto berteriak kaget saat pasak penguncinya terlepas akibat tegangan mekanis yang melampaui batas toleransi kayu. Tali tersebut berputar balik seperti pecut, menjerat pergelangan kakinya sendiri, dan menarik tubuhnya dalam satu sentakan hingga bergelantung terbalik di atas pohon seperti kantung umpan. Gelak tawa langsung meledak dari barisan murid-murid klan sipil yang menganggapnya sebagai hiburan konyol di tengah kelas yang menjemukan.

​Di sisi lain, Sakura Haruno bergerak dengan presisi buku teks yang kaku namun rapi. Jari-jarinya yang ramping menggunakan penggaris kuningan untuk mengukur sudut kemiringan peluncur senbon tersembunyi tepat 45 derajat, memastikan area cakupan serangan memenuhi standar teori akademi tanpa celah mikro sedikit pun.

​Sementara itu, dua meter dari posisi Ren, Shino Aburame bekerja dalam kesunyian yang dingin. Kawat baja tipis ditarik menyilang di antara dua akar pohon yang mencuat, membentuk garis diagonal yang hampir tak kasat mata di bawah bayang-bayang lumut.

​Namun, mata tajam Ren yang telah didukung oleh sirkuit saraf Tahap Dua menangkap detail mikro yang luput dari pandangan mata manusia biasa: di setiap titik simpul mati kawat tersebut, Shino menempelkan seekor serangga Kikaichū berukuran mikro. Serangga-serangga itu tidak bergerak, kaki-kaki kecil mereka mencengkeram untaian kawat baja, bertindak sebagai transduser getaran biologis. Begitu kawat tersentuh dalam skala mikrometer sekalipun, sinyal saraf distres akan langsung ditransmisikan ke tubuh Shino melalui frekuensi biologi koloni. Itu adalah sistem keamanan perimeter yang sempurna.

​Dan itu adalah target buruan yang diperintahkan oleh sistem Ren.

​Ren berlutut di dekat patoknya sendiri, mulai menyusun jebakan jaring kayu pasif tingkat dasar. Gerakannya dibuat sengaja terlihat sedikit canggung, tipikal murid sipil yang kesulitan mengatur koordinasi motorik antara elastisitas tali rami dan pasak tanah. Namun, di balik bayang-bayang batang pohon cedar yang lebar, jemari tangan kanan Ren bergerak senyap di bawah lipatan lengan bajunya, memilin potongan kawat tiga sentimeter berdiameter 0,1 milimeter yang sudah dipotongnya sejak akhir kelas botani.

​Melalui sirkuit saraf Tahap Dua yang telah terkalibrasi sepenuhnya, Ren mulai mengalirkan impuls listrik biologis super kecil dengan frekuensi sangat spesifik ke dalam kawat mikro tersebut. Kawat kecil di sela jemarinya mulai bergetar dalam skala atomik yang tidak menghasilkan suara di udara, namun menciptakan efek Resonansi Mikro—sebuah gelombang elektromagnetik buatan yang meniru persis sinyal kimiawi feromon dari serangga betina sekaligus sinyal darurat koloni Aburame.

​Jemari kiri Ren mendadak mengendurkan tekanan pada pasak penahan jebakan kayunya sendiri secara sengaja.

​Klak—Sret!

​Jebakan kayu Ren menjepret keras ke udara, menghantam angin kosong dan melepaskan gelombang kejut udara kecil ke arah sektor pohon nomor tiga tempat Shino berada. Sentakan angin mendadak itu memicu getaran mekanis nyata pada kawat baja milik Shino, memaksa perhatian sang analis klan teralih selama satu detik untuk memeriksa apakah ada serangga atau daun yang memicu perimeternya.

​Di saat yang bersamaan, Ren mengarahkan ujung kawat tiga sentimeter di jarinya ke arah akar pohon Shino. Gelombang Resonansi Mikro memancar dalam radius pendek, bertindak seperti "suara pemanggil hantu" yang memanipulasi insting sensorik terdalam serangga parasit tersebut.

​Lima ekor Kikaichū yang menempel pada simpul kawat Shino mendadak mengalami disorientasi total. Saraf otonom mereka terputus dari jaringan kesadaran sang tuan karena tertimbun oleh sinyal palsu berfrekuensi tinggi milik Ren. Terpikat oleh ilusi feromon yang pekat, kelima serangga hitam itu memutuskan cengkeramannya pada kawat baja, merayap liar ke bawah melintasi batas tanah basah, dan langsung menyelinap masuk ke dalam silinder bambu berongga kecil yang menyembul dari pergelangan tangan baju Ren.

​Di dalam silinder tersebut, dinding bambu telah dilapisi getah pembius dari kelas botani. Begitu kaki-kaki mereka menyentuh permukaan kayu bagian dalam, zat penenang langsung melumpuhkan sistem motorik kelima spesimen tersebut, menidurkan mereka dalam hitungan milidetik sebelum mereka sempat mengirimkan sinyal distres terakhir ke induk koloni.

​Ren menutup lubang silinder bambu dengan ujung ibu jarinya, tepat saat langkah kaki berat Iruka Umino berjalan mendekat karena mendengar suara pemicu kayu yang lepas dari area Ren.

​"Ah, Ren," Iruka menghela napas panjang, menatap mekanisme jaring kayu Ren yang sudah berantakan sebelum waktunya. Iruka berlutut di atas tanah basah, memeriksa sisa struktur pasak dengan papan klip kayu di tangan kirinya. "Konstruksi dasarmu sebenarnya sudah cukup baik, sudut ikatannya presisi. Tapi pemasangan pasak penahanmu terlalu longgar sehingga jepretannya prematur. Jika ini di medan perang, kamu baru saja membocorkan posisimu pada musuh tanpa hasil. Perbaiki lagi insting ketegangan kawatmu. Nilai untuk praktik ini: C."

​"Maaf, Iruka-sensei. Tanganku sedikit licin karena keringat tadi," Ren membungkuk pelan dengan ekspresi penuh kekecewaan seorang murid medioker yang merasa gagal memenuhi ekspektasi.

​Tepat pada detik itu, Shino Aburame yang berada di pohon sebelah mendadak menghentikan aktivitas mengikat kawatnya. Kepala Shino terdongak kaku, otot lehernya menegang di balik kerah jaket tinggi. Kacamata hitam bulatnya memantulkan kilatan cahaya matahari sore yang menembus celah daun saat dia menatap tajam ke arah kawat jebakannya sendiri. Melalui jaringan kesadaran koloninya, Shino baru saja merasakan sensasi dingin yang ganjil: lima titik sensor hidupnya mendadak putus sinyal secara simultan tanpa ada transmisi kematian atau luka—seolah-olah lenyap terhapus dari realitas biologis.

​Ren membalikkan tubuh, melangkah tenang menjauhi area pohon tanpa memedulikan sepasang lensa hitam milik Shino yang mulai bergerak menyapu sekeliling area dengan intensitas analitis yang meningkat tajam. Tangan kanan Ren bergerak masuk ke dalam kantung ninja terdalam, meluncurkan silinder bambu berisi lima serangga biometrik itu ke dasar tas, bersamaan dengan kilatan teks hijau yang berkedip tipis di retina matanya.

​​[Misi Selesai: 5/5 Spesimen Kikaichū Berhasil Diamankan]

​[Kondisi Objek: Tersedasi (Aman dari Pelacakan Sinyal Induk Klan Aburame)]

​[Memulai Isolasi Biomassa... Menunggu Perintah untuk Evolusi Indra Tahap Tiga]

1
Klarasya
lanjutt thorr, semangattt 😻
Mitha: oyong juahattt
total 2 replies
Klarasya
semangatt thorr 😻
Mitha: oyong juahat
total 1 replies
Klarasya
lanjuttt thorrr 😻
Klarasya
semangatt thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!