Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Valerius tertawa pelan, menikmati eforia kegelapan yang mengalir deras di pembuluh darahnya. Ia telah berhasil mengubah domba-domba yang ketakutan menjadi sekawanan serigala gila yang siap menggigit tuannya sendiri.
Sayup-sayup dari kejauhan, terdengar lantunan doa suci yang dinyanyikan oleh ribuan suara bariton secara bersamaan. Suara nyanyian gerejawi itu menembus deru hujan badai, membawa aura kesucian yang sangat menekan perasaan.
"Mereka sudah tiba, para algojo bersayap putih yang sangat haus akan darah pendosa," gumam Valerius santai. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, bersiap menikmati pertunjukan pembantaian dari kursi VVIP miliknya.
Pintu gerbang raksasa Istana Draken tiba-tiba meledak hancur berkeping-keping akibat hantaman sihir cahaya yang luar biasa kuat. Serpihan kayu oak dan besi panas berterbangan liar, melukai beberapa ksatria Draken yang berada di barisan paling depan.
Dari balik kepulan asap dan hujan badai, muncul barisan Pasukan Inkuisisi yang terlihat sangat megah dan mengerikan. Puluhan ribu ksatria suci berzirah perak mengkilap berbaris dengan formasi tempur yang sangat sempurna tanpa celah sedikit pun.
Di tengah barisan tersebut, belasan pendeta berjubah emas mengayunkan tongkat dupa yang mengeluarkan asap putih berbau harum. Asap suci itu seolah menetralisir hawa kematian yang sedari tadi menyelimuti pelataran istana.
Komandan Pasukan Inkuisisi, Sir Lancel, maju menunggangi kuda perang putih yang sangat besar. Ia mengacungkan pedang emasnya ke arah balkon tempat Valerius berdiri dengan tatapan mata yang memancarkan kebencian murni.
"Atas nama Dewa Cahaya dan Keadilan, serahkan nyawamu sekarang juga, dasar iblis penista agama!" raung Sir Lancel menggelegar. "Setiap jiwa di dalam istana terkutuk ini akan kami bersihkan dengan api suci hingga menjadi abu!"
Ancaman pemusnahan massal dari Sir Lancel itu justru memvalidasi kebohongan yang baru saja ditanamkan Valerius di benak pasukannya. Para ksatria Draken yang tadinya masih memiliki keraguan kini sepenuhnya yakin bahwa gereja datang untuk membantai keluarga mereka.
"Kau dengar itu, prajuritku?" teriak Valerius dari atas balkon dengan nada suara yang sangat mengejek. "Mereka bahkan tidak berniat memberikan pengampunan pada anjing-anjing penurut yang memohon di kaki mereka!"
Mata para ksatria Draken kini memerah sepenuhnya, dipenuhi oleh keputusasaan dan niat membunuh yang tak terbendung lagi. Mereka mengayunkan pedang mereka ke udara, membalas ancaman ksatria suci itu dengan raungan binatang buas.
"Bantai anjing-anjing gereja ini! Lindungi rumah dan keluarga kita!" teriak salah seorang jenderal dengan suara serak.
Ribuan ksatria Draken langsung menerjang maju secara serabutan, meninggalkan formasi pertahanan mereka demi melampiaskan amarah buta. Mereka berlari menembus hujan badai bagaikan gelombang pasang berwarna hitam yang berniat menelan daratan perak.
Sir Lancel mendecakkan lidahnya dengan jijik melihat agresi pasukan bangsawan yang telah kehilangan akal sehatnya tersebut. "Bentuk formasi perisai cahaya! Jangan biarkan satu pun bidah ini hidup menyentuh zirah kalian!" perintahnya tegas.
Barisan depan Pasukan Inkuisisi serempak mengangkat perisai raksasa mereka yang langsung memancarkan dinding penghalang dari sihir cahaya. Benturan luar biasa keras terjadi saat gelombang prajurit Draken menabrak dinding sihir tersebut dengan kekuatan penuh.
Darah segar seketika menyembur ke udara saat barisan terdepan prajurit Draken hancur lebur tertusuk tombak cahaya dari balik perisai. Jeritan agoni meledak bersahutan, mengalahkan suara guntur yang terus menggelegar di langit kelabu Aethelgard.
Namun, pemandangan rekan mereka yang tercabik-cabik itu sama sekali tidak menyurutkan langkah prajurit Draken di belakangnya. Mereka menjadikan tumpukan mayat teman mereka sebagai pijakan untuk melompati dinding perisai cahaya tersebut.
Pertarungan jarak dekat yang sangat brutal dan kotor tak terhindarkan lagi di pelataran pualam istana yang kini licin oleh darah. Ksatria suci yang mengandalkan teknik berpedang elegan kini kewalahan menghadapi tebasan membabi buta dari prajurit yang putus asa.
Seorang ksatria suci berhasil memotong lengan prajurit Draken, namun prajurit itu justru memeluknya erat dengan lengan yang buntung. Prajurit Draken itu kemudian menggigit leher sang ksatria suci hingga merobek urat nadinya, membuat keduanya mati bersamaan dalam kubangan darah.
Di sudut lain, seratus prajurit perbatasan pimpinan Baron Kaelos bertarung layaknya iblis kelaparan yang lepas dari neraka. Mereka menargetkan para pendeta berjubah emas, mengabaikan pedang yang menusuk tubuh mereka demi memenggal kepala penyebar doa tersebut.
Kepala seorang pendeta emas terlempar ke udara, menghentikan lantunan doa suci di satu area dan memicu kepanikan ksatria pelindungnya. Prajurit perbatasan itu tertawa gila dengan mulut penuh darah sebelum akhirnya tubuhnya hancur ditebas tiga pedang sekaligus.
Valerius menyaksikan seluruh pembantaian absurd itu dari atas balkon dengan mata yang memancarkan kenikmatan absolut. Ia tidak memegang senjata sedikit pun, namun tangannya berlumuran darah dari puluhan ribu nyawa yang sedang bertarung di bawah sana.
Sistem holografiknya terus berkedip gila-gilaan, menyerap poin dosa dari setiap iman yang hancur dan nyawa yang melayang sia-sia.
[Dosa Pembunuhan Massal Terakumulasi. Poin Dosa: +5000. Sistem Penyulut Kiamat memasuki fase pemanasan inti.]
"Inilah wujud asli dari peradaban kalian yang sangat memuakkan itu," bisik Valerius pada embusan angin badai. "Kalian membungkus nafsu membunuh kalian dengan jubah kesucian, namun darah yang kalian tumpahkan sama anyirnya dengan darah bandit jalanan."
Nyonya Karat muncul dari dalam bayangan di belakang Valerius, jubah abu-abunya basah oleh cipratan darah segar. "Tuanku, pasukan Inkuisisi sayap kiri mulai menembus pertahanan gerbang barat, mereka memiliki penyihir tempur tingkat tinggi."
Valerius sama sekali tidak menoleh, matanya masih terpaku pada lautan darah yang menggenangi pelataran istananya. "Biarkan mereka masuk lebih dalam, Nyonya Karat. Seekor lalat akan lebih mudah dipukul hancur jika ia sudah hinggap dengan tenang di atas piring makanmu."
Nyonya Karat menunduk hormat, menyadari bahwa sang majikan telah merencanakan sebuah jebakan maut di area dalam istana. Valerius tidak pernah berniat memenangkan peperangan ini di luar ruangan, pelataran ini hanyalah saringan darah untuk memisahkan yang lemah.
Sir Lancel yang berada di tengah medan pertempuran berhasil menebas tiga jenderal Draken sekaligus dengan ayunan pedang cahaya sucinya. Ia mendongak menatap balkon, mata birunya mengunci sosok Valerius yang masih berdiri angkuh mengamati pembantaian tersebut.
"Turunlah kemari dan hadapi takdirmu, iblis pengecut!" tantang Sir Lancel dengan raungan yang menembus hiruk pikuk peperangan. Ia memacu kudanya menabrak kerumunan prajurit, mencoba membuka jalan secara paksa menuju bangunan utama istana.
Valerius menyeringai lebar, merespons tantangan sang komandan suci dengan gestur tangan yang sangat merendahkan. Ia sengaja menggeser posisi Mahkota Tiran Berdarah di kepalanya, memancarkan gelombang provokasi magis langsung ke arah Sir Lancel.
Komandan suci itu terpancing emosinya hingga ke ubun-ubun, ia meninggalkan formasi perlindungannya dan memacu kudanya lebih gila lagi. Sir Lancel tidak menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam jaring psikologis yang ditenun dengan sangat rapi oleh sang tiran.
"Pancingan yang sangat mudah untuk ukuran seorang anjing suci tingkat tinggi," gumam Valerius pelan sambil berbalik meninggalkan balkon. "Mari kita sambut tamu kehormatan kita ini di dalam aula perjamuan, Nyonya Karat."
Valerius melangkah santai menyusuri lorong pualam istana yang kini telah sepi karena seluruh ksatria dikerahkan ke depan. Suara dentingan pedang dan jeritan kematian dari luar terdengar semakin samar seiring langkahnya menuju pusat istana naga.
Pertumpahan darah pertama di Perang Suci yang Ternoda ini telah memenuhi ekspektasi kegelapannya dengan sangat memuaskan. Ratusan nyawa ksatria elit melayang hanya karena ilusi kebohongan dan dogma agama yang saling dibenturkan oleh satu pemuda.
Malam ini, sejarah Aethelgard akan mencatat pembantaian paling ironis di mana cahaya suci justru membawa kegelapan terburuk. Dan di tengah lautan mayat itu, singgasana Valerius van Draken berdiri semakin kokoh tanpa bisa digoyahkan oleh doa apa pun.