Kariva Diana Natashya, gadis cantik di kampus X yang menyandang predikat sebagai bunga kampus. Katanya, “tidak tertarik dengan kaum adam.”
Masa iya, sih?
Namun, hidupnya berubah 180° ketika sang ayah menjodohkannya dengan anak sahabat dengan alasan “permintaan terakhir.”
Hei, Ayah Heru baik-baik saja, kok. Tidak sakit ataupun sekarat.
Tak ingin mengecewakan sang ayah, Natashya mengangguk saja. Toh, tidak ada larangan bahwa mahasiswa tidak boleh menikah, kan?
Masalahnya, cuma satu. DIA TIDAK MENGENAL CALON SUAMINYA!!
❄️❄️❄️
Antonio Riko Alfiansyah, lelaki tampan di kampus X yang menyandang predikat idola kampus nomor satu. Kata mahasiswi di sana, sih, “tampannya tumpah ruah.”
Lelaki yang tidak pernah mengenal kata pacaran ini berakhir dijodohkan dengan gadis keturunan es yang suka bicara pedas. Anton jadi kurang yakin untuk menerima.
Tak ingin mematahkan kebahagiaan Mama-nya, Anton menerima saja. Yang penting keluarganya bahagia, dia juga bahagia, kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayla Noona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 | Senyum Antonio
Usai makan malam, Natashya dan Anton berpamitan untuk masuk ke dalam kamar kepada Bi Jati. Bi Jati pun menyahut sopan. Keduanya lantas menaiki tangga bersama dan menenggelamkan diri dibalik pintu yang sama.
Bi Jati yang melihat hal tersebut menjadi tersenyum misterius. Ia senang sekali. Akhirnya, dua majikannya bisa akur dan bersatu.
“Harus lapor ke Bu Bos, nih.”
...❄️❄️❄️...
Jam 10 malam.
Belum ada yang terlelap di kamar pasutri ini. Anton dan Natashya sama-sama berbaring di ranjang dengan posisi membelakangi satu sama lain. Tapi, percayalah, berusaha sekeras apa pun, keduanya nggak akan bisa tidur.
Ngantuknya mana, sih? Kenapa nggak dateng-dateng. Anton menggerutu sebal.
Lelaki itu ingin berbalik, tapi takut Natashya belum tidur dan dia malah kepergok tengah memperhatikan lagi.
But, gue kepo. Tashya udah tidur apa belum. Liat aja kali, ya?
Anton bergerak sedikit, menimbulkan pantulan lembut di ranjang empuk. Lelaki itu spontan membatu, tak ingin Natashya merasakan pergerakannya.
Dia nggak bangun, kan?
Merasa bahwa Natashya tak terganggu, Anton membalikkan badan. Pemandangan punggung berkulit putih berlapis piyama biru satin tersuguh di depan matanya. Anton tersenyum tanpa sadar, entah apa yang lelaki ini pikirkan. Intinya, sih, berhubungan sama pinggang ramping Natashya.
Lihat tuh tangan Anton. Udah mulai raba-raba pinggang Natashya.
Natashya yang memang belum tidur kaget tentu saja. Ia melirik ke bawah, tangan Anton bertengger di pinggangnya tanpa dosa. Mau ditepis, tapi gadis itu ingin tahu apa yang Anton ingin lakukan. Jadi, dia diam saja.
“Shya? Udah tidur?”
Hening. Natashya berpura-pura memejamkan mata.
“Bener-bener udah tidur?” Dengan jailnya, Anton mengusap punggung Natashya naik turun.
Plakk!
“Tangan lo, Yo!” sentak Natashya. Usapan tadi membuat sekujur tubuhnya merinding. Semacam menghadirkan hawa-hawa aneh ke dalam benak Natashya.
Anton meringis, punggung tangannya sakit dipukul Natashya. “Gue pikir lo udah tidur,” belanya.
Natashya menatap tajam. “Terus kalo gue udah tidur, lo mau ngapain?” kecamnya sinis.
Anton tersenyum kikuk. Ia menepuk bahu Natashya dua kali lanjut menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
“Sentuh dikit, nggak masalah, kan, Shya? Kan, udah sah.”
...❄️❄️❄️...
Kriinggg....
Sebuah tangan terjulur ke arah jam, menghentikannya dari deringan menyebalkan yang memekakkan telinga. Anton mengucek matanya, memperjelas penglihatan lelaki itu agar bisa segera bangun.
Jam 04.30 pagi.
Time to salat.
Anton menoleh ke samping, mendapati Natashya masih belum kembali dari dunia mimpinya. Mengurungkan niat untuk bangun, Anton malah memosisikan diri agar bisa menatap Natashya dengan leluasa.
Dilihat dari dekat, paras Natashya luar biasa cantiknya. Tak heran, sih, Riana dan Heru juga masih tampak elok dan ayu di umurnya yang sekarang. Pasti gen mereka menurun sempurna pada Natashya.
Bola mata cokelat (Anton tahu ini udah lama), bulu mata lentik, lengkungan alis yang sempurna, hidung yang tidak terlalu mancung tapi juga tidak terlalu pesek, bibir tipis menggoda, terakhir pipi chubby. Wow, so beautiful di mata Antonio.
Tangan lelaki itu terangkat, mengusap pipi Natashya pelan. Kulit gadis ini memang selembut itu. Sangat nyaman untuk dijadikan objek usapan dan elusan. Dan, cocok sekali sebagai sasaran kecupan.
Persis seperti semalam.
Anton jadi senyum-senyum mengingat kejadian semalam. Ia jadi ingin mengerjai Natashya lagi, deh.
Cup!
Satu kecupan mendarat lagi di pipi mulus Natashya.
Gadis itu bergerak, mulai merasa tak nyaman. Sontak Anton menarik tangannya dari pipi gadis itu. Lantas berpura-pura memejamkan mata, tak ingin ketahuan telah mencuri satu kecupan lagi di pipi gadis itu.
Hei, dia nggak bangun!
Anton tergelak tanpa suara. Ia kembali mencondongkan tubuhnya dan menci*m pipi Natashya beberapa kali.
Dan, ya. Gadis itu tidak bangun. Hanya bergerak tidak nyaman.
Udah, ah. Kasian juga. Tapi, imut juga, sih.
Anton bangkit dari tidurnya dengan tidak rela. Lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Cium cewek emang semanis ini, ya. Hihi.
...❄️❄️❄️...
Anton berpamitan untuk berangkat ke kantor. Sedangkan Natashya pergi ke kampus untuk mengikuti kelas paginya.
Lagi-lagi, Natashya dibuat bingung dengan sikap sang suami. Kalau kemarin, lelaki itu berusaha keras menjauhinya. Kalau sekarang, lelaki itu terus menempel padanya.
Di setiap kesempatan, Anton pasti akan menggunakannya untuk menekan-nekan pipi Natashya sambil tertawa renyah. Gadis itu sampai dibuat ngeri.
Baru semalam mereka tidur bersama, efeknya sudah terasa sangat dahsyat. Apalagi kalau mereka terus tidur bersama di malam-malam seterusnya.
Wah, jangan-jangan Anton bisa mendadak gila?
Sepanjang perjalanan, senyum Anton masih belum hilang. Terus terpatri di bibirnya tanpa dosa. Pokoknya, mood lelaki ini sedang super duper baik.
Iya dong. Kan, dapet morning kiss dari istri.
Walaupun gue ambil diem-diem, but okelah.
Sekarang tahu, kan, alasannya? Anton lagi berdebar gara-gara Natashya, kawan.
Setibanya di kantor, para karyawan juga dibuat bingung dengan sikap bos mereka. Berjalan di antara kubikel dengan senyum mengembang dan tak memedulikan sapaan karyawan.
“Kayaknya Bos kita lagi seneng, deh.”
“Iya. Pak Anton pasti sedang bahagia.”
“Lihat tuh senyumnya. Lebar banget.”
“He’em. Biasanya, kan, jarang senyum kalau di kantor.”
Memasuki ruangan, Anton menemukan Hafi dan Rio yang sudah ada di dalam. Mereka tengah berbincang seru di sofa ruangannya.
“Ngapain lo berdua di sini?”
Hafi dan Rio menunjukkan senyum kelewat lebar. “Numpang WiFi, Nton,” seru keduanya girang.
Anton memutar bola matanya jengah. Ia duduk di kursi kebesarannya dan menyalakan koneksi WiFi. Hafi dan Rio langsung memekik senang. Mereka segera membuka aplikasi game online favorit untuk dimainkan.
Sementara Anton, ia masih sibuk berkelana dengan mimpinya sendiri. Tidur satu ranjang, satu selimut, dan dapat kiss. Haha, cerah juga hidup pernikahan Anton-Natashya.
Hafi dan Rio yang sedari tadi memperhatikan Anton dibuat bingung sendiri. Lelaki itu terus-terusan mengukir senyum. Kadang juga tertawa lirih.
Hafi mendekatkan diri ke arah Rio. “Ada yang nggak beres, nih,” bisiknya.
Rio mengangguk setuju. “Anton pasti stress karna nggak dikasih jatah sama Natashya.”
“Kita bantuin, yuk. Kasian.”
“Oke.”
...❄️❄️❄️...
Anton kembali ke ruangannya setelah makan siang di kantin kantor. Beberapa menit yang lalu, Natashya menghubunginya untuk mengingatkan makan siang. Dia juga bilang kalau mulai besok, Natashya akan datang untuk membawakan bekal.
Demi apa pun, ya, Anton girang bukan main. Perhatian kecil Natashya benar-benar sudah memengaruhi otak dan hatinya.
“Maaf, dengan Bapak Antonio?”
Anton berjengit. Seorang pria paruh baya dengan jas putih khas dokter tengah duduk manis di sofa ruangannya.
“Iya, saya. Ada keperluan apa?”
“Gue manggil psikiater buat lo, Nton.” Rio tiba-tiba datang dari belakang bersama Hafi.
“Psikiater buat gue?” bingung Anton.
Hafi mengangguk setuju. “Lo kayaknya agak stress, deh. Dari pagi senyum-senyum terus. Makanya, kita sebagai sahabat yang baik bawain psikiater biar lo bisa konsultasi,” terang lelaki itu bangga.
Anton memejamkan matanya erat-erat. “Maksud kalian, gue gila?” geramnya bernada dingin.
Rio berdeham dan menggangguk kecil. Membuat kode ‘sedikit’ menggunakan ibu jari dan telunjuk.
“ANJ—LO BERDUA!” kecam Anton tajam. Tatapan menghunus yang lelaki itu keluarkan seketika membuat sang dokter berlari keluar terbirit-birit. “KELUAR DARI RUANGAN GUE!”
Rio dan Hafi kaget. Mereka mengerjapkan mata beberapa kali.
“GUE NGGAK GILA, SIALAN!”
Orang lagi seneng kok dikira gila. Mata lo berdua yang salah, kampret!
^^^To be continue...^^^
...❄️❄️❄️...
Anton kita tidak gila, kok, kawan. Dia cuma lagi seneng karena dapet kiss. Udah gitu aja.
See you di chapter selanjutnya:)