Kisah cinta rumit si gadis culun yang berusaha mengambil hati seorang direktur tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSIAPAN 100%
Waktu berjalan begitu lambat dalam kecemasan yang tidak pernah pergi dalam benak Pelangi. Siang hari yang ia lewati bagai di neraka. Tatapan sinis dari Gilang yang selalu tertuju padanya membuat dirinya tertekan, belum lagi cemooh yang ia terima dari hampir seluruh karyawan kantor yang seolah tidak ada habisnya.
Sementara itu, setiap malam yang ia lewati tidak kalah mengerikan. Mimpi buruk tentang pernikahan dan menghabiskan sisa hidup bersama Gilang menghiasi setiap tidurnya. Membuatnya takut untuk memejamkan mata kembali setiap kali mimpi itu datang.
Hanya dalam waktu satu minggu, Pelangi sudah terlihat berbeda. Tubuhnya sedikit kurus, pipi tirus, dan lingkar hitam terlihat jelas di bawah matanya. Tentu saja Amara merasa kasihan pada Pelangi. Bu Tika bahkan memberikan libur pada pelangi selama tiga hari, yang Pelangi tolak mentah-mentah.
"Tidak usah, Bu, lebih baik aku di sini seharian daripada di rumah," ujar Pelangi saat itu.
Pilihan untuk berada di kantor memang lebih baik bagi Pelangi, karena jika terus berada di rumah Gilang, ia seperti sedang dihantui oleh Gilang di mana pun dan kapanpun, hal itu sangat membuatnya tertekan.
Seperti sore ini, baru saja Pelangi memasuki ruang tamu kediaman mewah Gilang, dirinya sudah dikejutkan dengan teriakan dari Gilang yang memekakan telinga.
"Pelangi!" teriak Gilang, dari tengah ruang tamu.
Pelangi yang sedang kelelahan, stress dan tertekan tidak menanggapi teriakan itu. Toh beberapa hari ini ia memang terus mendapati Gilang meneriakinya di mana pun, lebih tepatnya bayangan Gilang.
Sehingga tidak mengherankan jika Pelangi tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan Gilang sambil menghampiri sosok tinggi yang tengah menatapnya dengan murka itu.
"Kamu! Enyahlah dari dalam otakku. Kenapa kamu terus muncul dan meneriakiku sesukamu, hah? Aku ini bukan babu!" Pelangi memukul kepala Gilang dengan kuat.
Biasanya bayangan Gilang akan langsung menghilang setelah Pelangi melayangkan tinjunya di kepala pria itu. Akan tetapi, kali ini tidak. Bukannya menghilang, sosok Gilang malah mengaduh kemudian melotot menatap Pelangi.
Pelangi mengerjap bingung. Ia mengarahkan telapak tangannya dan menampar pipi Gilang dengan kuat, untuk memastikan apakah sosok Gilang yang dilihatnya kali ini adalah bayangan seperti biasanya atau kenyataan.
"Pelangi! Apa-apaan kamu!" bentak Gilang.
Melihat wajah kesal Gilang dan teriakan Gilang yang memenuhi seisi ruangan, membuat pelangi tersadar bahwa yang sedang berdiri di hadapannya adalah Gilang yang nyata, bukan bayangan.
"Aduh, mampus," gumam Pelangi, lalu segera melewati Gilang dan berlari menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.
"Enak saja kamu mau kabur!" Gilang berteriak, kemudian menyusul Pelangi yang hampir sampai di anak tangga paling atas.
Kaki Gilang yang panjang dapat dengan mudah menyusul Pelangi. Ia menarik pergelangan tangan Pelangi dan merangkul tubuh gadis itu dengan kuat.
"Kamu sengaja menamparku, hah? Apa masalahmu?" desis Gilang.
"Bukan begitu, Pak. Aku tidak tahu kalau tadi itu ternyata benar-benar Anda. Aku pikir yang tadi itu hanya bayangan Anda." Pelangi membela diri. "Beberapa hari ini aku selalu mengalami kejadian seperti yang barusan. Anda berteriak dan memarahiku. Hal itu terjadi berkali-kali. Lalu kemudian aku sadar bahwa yang berteriak dan marah-marah itu bukan Anda yang asli, aku hanya berkhayal. Aku pikir yang barusan juga adalah khayalanku, tapi ternyata bukan!"
Setelah mendengar penjelasan Pelangi, Gilang lantas melepas rangkulannya dari tubuh Pelangi, lalu mendorong gadis itu agar menjauh dari hadapannya.
"Maaf, Pak, aku sungguh-sungguh tidak berniat untuk menyakiti Anda. Lagi pula, mana aku berani." Pelangi menatap Gilang dengan tatapan memelas.
"Ya, sudahlah, lupakan saja. Sekarang cepat ganti bajumu, lalu ikut denganku."
"Kita mau ke mana?" tanya Pelangi, keheranan.
"Ayahku meminta kita berdua untuk datang ke rumahnya. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan kita katanya. Kuharap, semoga bukan kabar buruk." Gilang mengusap wajahnya dengan kasar sambil mendelik ke arah Pelangi berdiri.
Mendapat tatapan sinis seperti itu membuat Pelangi menjadi salah tingkah. "Baiklah, aku siap-siap dulu."
"Cepatlah. Aku tunggu di mobil!"
***
Perjalanan menuju kediaman Farhan Andreas tidak membutuhkan waktu lama. Kediaman orang nomor satu di Andreas Group itu hanya berjarak empat blok dari kediaman Gilang Andreas, sang pewaris utama.
Bagi gadis sederhana seperti Pelangi, jarak antara kediaman Gilang dan Farhan sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik motor saja. Akan tetapi, tidak bagi Gilang yang sepertinya tidak pernah terkena debu dan polusi sama sekali.
Gilang mengemudi mobil sport hitamnya seorang diri kali ini, sementara Pelangi duduk dengan dada berdebar di sebelahnya. Bagaimana tidak, jika penampilan Gilang terlihat luar bisa. Pria muda itu mengenakan pakaian sederhana yang hanya berupa kaos polos berwarna putih dan celana chino berwarna cokelat muda, membuat Pelangi merasa salah kostum, karena memilih untuk memakai dress selutut berwarna merah maron dan berlengan panjang.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka berdua tiba di tempat tujuan.
Pagar tinggi yang menutupi bangunan mewah di hadapan mereka terbuka dengan sendirinya, seperti ada tangan-tangan tak terlihat yang mendorong pagar itu untuk menyambut tamu yang datang.
Gilang melewati pagar dan langsung mengarahkan mobilnya ke sebuah garasi besar yang terpisah dari bangunan utama. Ada sedikitnya lima buah mobil di dalam garasi itu, dan semuanya adalah mobil mewah yang harganya selangit.
Setelah mobil terparkir dengan benar, Gilang segera keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju bangunan utama, disusul oleh Pelangi yang berlari-lari kecil di belakangnya.
"Halo calon menantu!"
Gilang dan Pelangi terkejut, karena mendengar suara Farhan, tetapi mereka tidak melihat Farhan di mana pun.
"Hai, kalian berdua, kemarilah!" Teriakan Farhan kembali terdengar.
Pelangi menyipitkan mata, berusaha memfokuskan pandangannya ke segala arah. Lalu, ia melihat seseorang melambai dari balik semak Lavender yang membentuk labirin di tengah halaman.
Pelangi senang sekali melihat labirin itu. Sebelumnya ia tidak memperhatikan jika di halaman rumah yang luar biasa besar itu terdapat labirin yang terbentuk dari tanaman Lavender.
"Waah, indah sekali!" Pelangi bergumam, lalu segera berlari menghampiri labirin itu.
Gilang memperhatikan. Bibirnya menyunggingkan senyuman saat melihat binar bahagia di wajah Pelangi yang polos. Gadis itu memang benar-benar polos dan sederhana. Melihat tanaman Lavender saja sudah senang sekali, itulah yang dipikirkan Gilang.
"Hai, kamu anak durhaka! Cepat kemari!" teriakan Farhan, membuat Gilang tersadar.
"Ya, ya, Pak tua!" Gilang balas berteriak, kemudian menghampiri sang ayah dan Pelangi yang sekarang sedang asyik berlarian di sekitar pintu labirin, tidak lama kemudian, gadis itu menghilang ke dalam labirin.
"Bagaimana harimu, Gilang? Apakah lebih berwarna sejak kehadiran Pelangi?" tanya Farhan, saat Gilang telah tiba di hadapannya.
Gilang memasang wajah masam. "Berwarna apanya. Gara-gara dia, hubunganku dengan Gisel bisa kacau!"
"Gisel bukan gadis baik!"
"Memangnya apa yang Ayah tahu tentang Pelangi, sehingga menganggap Pelangi lebih baik daripada Gisel?" Gilang bertanya dengan geram. "Gadis baik-baik tidak akan pernah mengundang pria asing ke atas ranjangnya."
"Kamu yang memaksanya, bukan dia yang mengundangmu." Farhan menjawab dengan cuek.
"Kenapa ayah berpikir aku yang memaksa?"
"Ya, karena kamu memang seperti itu, benar bukan?"
Gilang tertawa tidak percaya. Bagaimana mungkin ayahnya berasumsi demikian. "Oh, come on, Ayah, bisa saja dia menjebakku!"
"Ini kisah nyata, Gilang, bukan sinetron. Seorang gadis yang nekat menjebak seorang pria kaya hanya terjadi di sinetron-sinetron."
"Tapi, Ayah--"
"Sudahlah, tujuan ayah memintamu datang ke sini adalah untuk mengabarimu secara langsung bahwa semuanya sudah siap seratus persen dan akan kita lakukan besok siang.
"Apanya yang sudah siap?" tanya Gilang.
"Apa yang akan dilakukan besok siang?" tambah Pelangi, yang muncul dari dalam labirin. Wajah gadis itu terlihat serius kali ini, padahal baru beberapa menit yang lalu ia terlihat rileks.
"Pernikahan kalian, tentu saja. Memangnya apa lagi?"
Bersambung ....
dan ending yang menyedihkan untuk Gisel and the Genk..
btw..
soal visualnya mereka ,aku liat² wajah mereka pada serupa yaa sama para pasangan nya..
jangan ² mereka beneran jodoh di dunia nyata 🖤🖤
rasa nya kok sedih yaa..
Selamat ber bahagia Gilang pelangi dan semua nya🤗🖤
gemes sama Toni ..
satu demi satu
kebahagiaan mu akan trcapai
terlebih Gilang harapan saya kpd outhor smoga Gilang sembuh seperti sedia kala
supaya pelangi semakin bahagia 🙏❤️