Hati wanita mana yang tidak sakit saat mengetahui bukan satu-satunya wanita di hidup suaminya?
Tapi aku tidak akan menangis, aku akan membuat akulah satu-satunya wanita di hidup suamiku. Untuk pernikahanku, untuk anak-anakku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon d'nafray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Kemarahan Alina
Mas Hendra pulang lebih awal selama aku bedrest di rumah. Perhatian yang ditunjukkannya semakin besar. Selama itu juga, aku bebas dari jangkauan Mas Farhan dan ibunya. Ada sedikit rasa bersalahku terhadap mantanku, aku belum mengucapkan terima kasih dengan benar padanya. Tapi aku memang tidak ingin menemuinya, apalagi Ibu Selvi. Berkurangnya ingatannya atau kehilangan ingatannya … atau apalah namanya, membuatku benar-benar risih.
Selama besdrest juga, kami tidak pernah membahas tentang Alina. Aku berusaha mengabaikan rasa bersalahku dan fokus pada kandunganku. Anak-anakku jauh lebih penting. Mereka tidak bersalah dalam hubungan ini dan mereka berhak penuh atas ayahnya. Kata-kata itu yang tiap hari aku rapalkan dalam pikiranku. Aku tidak mau rasa bersalahku kepada Alina membuatku down. Itu juga akan berimbas pada psikisku.
Linda dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan dia harus membayar kesalahannya di balik jeruji besi selama tujuh tahun karena percobaan pembunuhan yang dilakukannya padaku. Bukti rekaman CCTV yang ada di tempat parkir café menguatkan tuntutan padanya. Semua keluarganya histeris mendengar keputusan itu dan menatapku penuh kebencian. Apalagi Linda. Sebelum dibawa oleh petugas, tatapan kami sempat bertemu. Ada kilatan penuh amarah di matanya. Seolah ingin meneruskan niat awalnya padaku.
Mas Hendra membalik tubuhku dan mendekapku agar tidak memperdulikan arti tatapan itu. Dia sudah menceraikan Linda sebelum sidang putusan perkara itu berlangsung. Dia juga membuktikan bahwa anak yang dilahirkan Linda bukanlah darah dagingnya melalui tes DNA. Tak ada satu pun dari keluarga Linda yang memperjuangkan bayi tidak berdosa itu. Begitu juga ayah kandung bayi itu. Hingga sekarang pun tidak muncul batang hidungnya.
Alina meminta bayi itu dalam pengasuhannya walaupun Ibu Winda menentang keras. Begitu juga Mas Hendra dan ayah mertuaku. Hanya ibu mertuaku yang mendukungnya dengan alasan kasihan tidak ada yang menginginkannya. Walaupun bukan darah dagingnya, Alina tampak menyayangi bayi itu.
Sejak mempunyai kesibukan yang baru, Alina tidak pernah lagi datang ke kantorku. Dia pun mulai jarang meneleponku. Aku hanya bisa melihat unggahan fotonya bersama si bayi di medsos dan berharap dengan kehadiran bayi itu, dia tidak lagi terluka karena sikap Mas Hendra. Lagipula, itu bisa membuatku sedikit tenang.
"Ibu hamil nggak boleh kebanyakan melamun," bisik Mas Hendra setelah mencuri kecupan singkat di pipiku. "Lagi mikirin apa sih, Nda?"
Aku hanya menggeleng dan tersenyum menatap gagahnya suamiku memakai baju koko putih. Wajahnya tampak bersinar.
"Dari tadi ngelamunin apa sih? Dipanggil nggak nyahut-nyahut."
"Nggak mikirin apa-apa, Mas."
Dahi Mas Hendra mengerut dan menatapku serius. "Kamu nggak lagi mikirin mantan kamu kan, Nda?"
Tawaku tergelak seketika. "Apaan sih, Mas. Kamu tuh sekarang cemburuan deh. Dikit-dikit bahas mantan. Ini sebenarnya kamu kali, Mas yang kangen mantan aku."
"Enak aja! Lagian aku cemburu juga karena apa kalau bukan dia gencar banget deketin kamu lagi. Apalagi bawa-bawa ibunya."
Tawaku meledak lagi. "Sudah, sudah. Nggak baik ngomongin orang tua."
"Belain aja terus!"
"Gitu aja sewot, sih!"
"Sudahlah, memang nggak peka kamu tuh! Kita keluar yuk, acaranya sudah mau mulai."
Dia meraih tanganku untuk digenggam dan membawaku ke ruang tamu yang sudah kami kosongkan isinya untuk acara syukuran empat bulanan kehamilanku. Kami hanya mengundang ibu-ibu pengajian di lingkungan sekitar, para sahabat kami, ayah - ibu mertuaku, Ibu Winda dan Alina.
Mas Hendra mengusap perutku sambil membacakan surat Yusuf dan Maryam untuk calon anaknya. Air mataku menitik haru mendengarnya. Tapi hanya sekejap saat mataku bertemu dengan tatapan Alina. Ada kesedihan di sana. Seketika hatiku mencelos. Rasa bersalahku semakin menggunung, apalagi melihat matanya yang berkaca-kaca.
Semua yang hadir di acara pengajian itu tidak ada yang tahu jika Alina adalah istri pertama suamiku, kecuali tiga sahabatku. Mas Hendra mengenalkannya sebagai adiknya. Hatiku semakin tidak karuan saat pengajian sudah selesai. Semua tamu sudah pulang, termasuk sahabat-sahabatku dan Mas Hendra. Saat pulang semua menyalamiku dan Mas Hendra, mereka mendoakan keluarga selalu bahagia. Saat itu pula, lengan Mas Hendra tak sekalipun terlepas dari pinggangku.
Tanpa melihat pun, aku bisa merasakan Alina semakin menatapku tajam. Menambah kegelisahanku. Sebisa mungkin aku mengabaikannya. Terlebih, saat dua orang sahabat Mas Hendra menghampiri kami setelah barisan ibu-ibu pengajian selesai berpamitan pada kami. Mereka tak henti-hentinya mengolok suamiku karena sudah mempunyai tiga anak dan menyuruhku menambah momongan jika anak yang di dalam kandunganku bukan anak perempuan.
Mendengarnya Alina tampak kesal dan berjalan masuk ke ruang tengah, diikuti dengan seorang babysitter yang menggendong bayi Linda. Tinggal ayah ibu mertua, Ibu Winda yang masih betah menemani Kenzo dan Arka bermain di ruang tamu.
"Kamu lapar?" tanya Mas Hendra yang menggandengku ke ruang makan. Ternyata Alina berada di sana juga. Menimang Fajar, anak Linda, sambil menunggu babysitternya membuat susu. "Fajar rewel?" Mas Hendra menatap Fajar dengan tatapan datar setelah membantuku duduk di kursi makan.
"Fajar anak yang pinter. Tiap malam dia nggak pernah rewel," cerita Alina. "Gendonglah dia sekali, Mas."
Mas Hendra masih berkeras tidak mau menerima Fajar.
"Dia nggak berdosa, Mas," ucapku dengan mengusap lengannya. Aku merasa kasihan dengan bayi itu. "Apa salahnya? Tolong kamu jangan melihatnya karena sikap ibunya. Gendonglah, Mas. Dia masih belum mengerti apa-apa."
Setengah hati Mas Hendra berdiri dan menghampiri Alina. Dengan senang hati Alina menyerahkan Fajar ke pelukan Mas Hendra.
"Kasih senyum dong, Mas." pintaku melihat wajah kaku Mas Hendra. Terlihat enggan menatap Fajar. "Nanti Fajar takut lihat muka kamu."
Mas Hendra mencebik sambil memutar bola matanya. Dia hanya menatap Fajar tanpa ekspresi sementara Alina mengusap pipi tembem Fajar. Satu tangannya memeluk lengan suamiku.
Brak!
Aku langsung menoleh ke arah suara itu dan terperangah. Kenzo sedang menatap Alina marah. Dia baru saja membanting robot ironman-nya. Langkahnya lebar mendekati Alina.
"Kenapa Tante selalu dekat-dekat Ayah? Tante mau rebut Ayah dari Bunda? Tante jahat! Kenzo nggak suka Tante ada di sini."
Setelah mengucapkannya Kenzo berlari ke kamarnya. Melihat reaksi itu, Mas Hendra mengembalikan Fajar ke gendongan Alina dan berlari menyusul Kenzo. Tanpa mempedulikan wajah Alina yang mengeras. Istri pertama suamiku itu menyerahkan Fajar pada babysitternya dan mengajaknya pulang.
"Tunggu, Lin."
Alina tidak memperdulikan panggilanku. Dia berjalan cepat ke arah ruang tamu sementara aku mengikuti langkahnya dengan hati-hati. Ayah ibu mertuaku dan juga Ibu Winda mengejar kami.
"Lin."
Tiba-tiba Alina berbalik saat di teras rumah. Dia menatapku marah. "Pernah kamu sekali aja merasakan posisi aku? Pernah kamu sekali aja memahami sakit hatiku? Hatiku sakit sejak Mas Hendra bilang dia jatuh cinta dan ingin melamar kamu jadi istrinya. Pernah kamu bayangkan bagaimana sakitnya seorang istri saat suaminya mencintai wanita lain?"
Aku terhenyak mendengarnya.
"Aku menunggu sekian lama, berharap Mas Hendra bisa membuka hatinya untukku. Tapi apa yang ku dapat? Bahkan Kenzo yang sekecil itu bisa menatapku dengan penuh kebencian. Semua teman-teman kamu juga menatapku geram. Harusnya dulu aku nggak mengizinkan suamiku menikahimu, Rania."
Air mataku meluruh. Tanganku gemetar ingin menahannya tapi Alina menghempaskannya hingga aku terhuyung mundur. Ayah mertuaku dengan sigap menahan tubuhku agar tidak jatuh.
"Alin!"
Alina hanya tersenyum sinis saat ayah terpekik keras. "Lihat kan? Bahkan Ayah lebih membela kamu, Rania."
"Sudah cukup, Lin. Ayo, pulang," ajak Ibu Winda pada Alina. "Jangan emosi seperti ini. Ingat kesehatan kamu."
Ibu Winda berusaha menarik lengan Alina tetapi dihempaskannya. Alina masih menatapku marah. Seperti tahu situasi, Hana membawa Arka masuk, begitu pula babysitter Fajar yang perlahan ikut masuk menyusul Hana.
"Lin," panggil Ibu Winda sekali lagi dengan menggenggam tangan Alina. "Ayo kita pulang, Nak. Kamu juga butuh istirahat."
"Aku mau Mas Hendra menceraikan kamu."
Tubuhku menggigil mendengarnya. Air mataku tumpah, membuat mataku buram. Napasku naik turun. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutku. Dadaku terasa sesak sekali.
Aku melangkahkan kakiku menyusul Alina yang beranjak pergi. Tapi sekali lagi dia menepis tanganku yang akan menahannya. Pijakanku yang masih gemetar membuatku oleng. Tak cukup kuat menahan tubuhku. Beruntungnya Mas Hendra cepat datang menangkap tubuhku dari belakang. Aku tidak bisa membayangkan jika aku sampai terduduk dengan perut yang mulai membesar.
"ALIN!"
Wajah Alina memucat mendengar bentakan Mas Hendra.
"Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai Rania dan bayinya terluka."
Terlihat jelas raut tidak percaya di wajah Alina.
"Sampai mati pun aku tidak akan menceraikan Rania." Mas Hendra membantuku berdiri. Dia memperhatikan tubuhku dari atas hingga kakiku. Matanya kembali menatap Alina tajam. "Pulanglah. Jangan buat keributan lagi."
"Kita bicara baik-baik dulu, Mas," ucapku saat Mas Hendra akan membimbingku masuk. Aku menatap Alina memohon. "Ayo, kita masuk, Lin."
"Kamu harus istirahat. Kamu capek dan itu berpengaruh pada bayi kita."
Ada tangan yang mengusap bahuku. Ibu Winda. Dia tersenyum, meminta pengertian. Dulu ku kira dia tidak menyukaiku, ternyata aku salah. Ibu Winda sangat mengerti posisiku, karena dia tahu perasaan Mas Hendra benar-benar tulus untukku. "Istirahatlah. Alina juga harus istirahat,"
"Tapi, Bu ..."
Ibu Winda menepuk bahuku. "Nanti kita bicarakan lagi jika sudah tenang." Dia memelukku sebentar kemudian menarik lengan Alina yang masih menatap Mas Hendra. Tatapannya begitu menyedihkan. Aku bisa merasakan kesedihan itu.
Ayah mengusap kepalaku saat aku mencium tangannya. Tanpa ku sadari air mataku mengalir deras saat mencium tangan Ibu. Aku teringat Mama. Ibu memelukku erat dan mengusap punggungku. Seolah mengerti, dia membiarkanku lama memeluknya.
"Mama kamu juga nggak suka jika melihatmu seperti ini," bisiknya. "Bersabarlah. Alina hanya emosi."
Ibu menghapus air mataku dan menepuk pipiku pelan sebelum berjalan menuju mobilnya. Diikuti Fajar dan babysitternya.
Aku masih belum bersuara sampai Mas Hendra membimbingku masuk ke dalam kamar. Dia mendudukkan aku di tepi ranjang.
"Aku ingin minum teh hangat, Mas. Bisa tolong ambilkan?" pintaku tanpa menoleh. Aku tahu dia menatapku heran. Tak urung dia mengangguk dan beranjak bangun. Begitu dia keluar kamar, aku merebahkan tubuhku. Batinku lelah. Lebih baik ku pejamkan mata ini. Berharap aku bisa bertemu Mama di mimpiku.
alina, terima aja krn hendra itu kan TERPAKSA menikahimu, SADAR dong
u/ elin, ceraikan stlh anak'a lahir & tes DNA