"Saat ini aku sedang mengandung anak, Zian. Dan aku tidak ingin menikah denganmu!!"
"Gugurkan anak itu, atau ku bunuh kau?!"
"Memang lebih baik aku mati daripada harus menikah dengan orang sepertimu!!'
-
Sherly Garcia Davis adalah putri tunggal dalam keluarga Davis. Dara cantik keturunan Korea-Amerika ini di paksa oleh kedua orang tuanya untuk menikah dengan putra sulung keluarga Lu.
Sherly yang tidak ingin mempermalukan keluarga dan nama baik ayahnya terpaksa menerima perjodohan itu. Sherly yakin jika cinta bisa tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
Satu tahun mereka bertunangan, namun tidak ada cinta di hati Sherly untuk Marcell. Sherly tidak bisa melupakan pemuda itu, Sahabat yang merangkap menjadi cinta pertamanya. Pemuda yang tiba-tiba menghilang setelah mendengar ia akan bertunangan dengan orang lain.
Satu tahun kemudian mereka kembali di pertemukan. Dan siapa yang menduga jika brandalan tampan nan cantik yang telah mencuri hatinya adalah adik kandung dari pria yang menjadi tunangannya.
Mampukan Sherly mengendalikan perasaannya? Dan apakah kali ini takdir akan berpihak pada cinta mereka? Dan apakah Marcell akan melepaskan Sherly untuk adiknya dan merelakan mereka hidup bahagia??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu Di Sungai
"Siapa dia, Pa?"
Tuan Lu mati-matian menahan emosinya ketika melihat sosok pria yang berdiri dihadapannya. Rasanya Lu Nam ingin sekali menembak mati Marcell detik ini juga. Tapi sebisa mungkin dia mencoba meredam emosinya dan tidak mengacaukan semua rencana Zian dan Maria.
Tuan Lu memaksakan diri untuk tersenyum dan menunjukkan sikap biasa saja. "Dia putra rekan, Papa. Dan mulai sekarang dia akan tinggal di sini bersama kita. Bersikap baiklah padanya, dan satu lagi. Pindahkan semua barang-barangmu ke kamar yang lain. Karena mulai hari ini kamar itu akan di tempati oleh Devan,"
"Apa?!" Marcell memekik kencang. "Apa-apaan, Papa ini? Kenapa Papa malah memberikan kamarku pada orang asing ini?Aku tidak mau dan aku tidak terima, jika Papa masih tetap memaksa, sebaiknya aku angkat kaki saja dari rumah ini!!"
"Terserah, jika itu memang yang kau inginkan, Papa tidak akan mencegahnya. Devan, sementara kau bisa istirahat di kamar putra bungsuku. Dan jangan sungkan, anggap saja sebagai rumah sendiri." Tuan Lu menepuk bahu Devan sambil mengurai senyum lebar.
Melihat senyum yang diberikan oleh sang ayah pada orang asing itu membuat tangan Marcell terkepal kuat. Apa-apaan tatapan dan senyum itu? Dan tanpa mengatakan apapun, Marcell beranjak dari sana dan pergi begitu saja.
Tuan Lu menepuk bahu Devan. "Tidak perlu di pikirkan, dia memang seperti itu. Lagipula dia bukan siapa-siapa di rumah ini. Cepat atau lambat, Papa pasti akan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu, Nak." Tuan Lu menepuk bahu Devan.
Devan tak memberikan respon apa-apa. Pemuda yang memiliki sifat pendiam dan pemalu itu pun hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
Tuan Lu membawa Devan ke dalam pelukannya. Ayah dua anak itu mulai meneteskan air matanya. "Maafkan Papa, Devan. Karena tidak bisa menjagamu dengan baik."
"Jika saja Papa lebih waspada dan berhati-hati, pasti kita bertiga tidak akan terpisah, Nak. Dan selama ini kau tidak akan menderita." Ujarnya penuh sesal.
Devan menggeleng. "Tidak, Pa. Ini bukan salah Papa. Semua yang terjadi di dunia ini telah di atur dan di tentukan oleh takdir. Sebagai seorang manusia, kita hanya bisa mengikuti jalur mana yang takdir pilihkan untuk kita. Entah itu adalah takdir baik ataupun takdir buruk."
Tuan Lu menepuk-nepuk punggung Devan dengan penuh sayang. Tuan Lu rasanya sulit mempercayainya bila Devan dan Zian memiliki sifat yang sangat bertolak belakang.
Devan adalah pria hangat yang penuh kelembutan. Sedangkan Zian adalah pemuda arogan dan memiliki tempramen yang sangat buruk.
Dan jika diibaratkan, mereka bedua seperti Sun & Moon. Devan adalah mentari pagi, hangat dan penuh kelembutan. Sedangkan Zian adalah bulan di malam hari. Dingin dan penuh misteri. Tapi apapun itu, mereka tetaplah putranya, permata paling berharga dalam hidupnya.
"Sebaiknya pergi ke kamarmu dan segeralah istirahat. Sementara tempati saja dulu kamar, Zian. Papa akan meminta pelayan agar menyiapkan kamar untukmu." Devan tersenyum dan kemudian mengangguk.
Devan menyapukan pandangannya. Matanya terperangah melihat kemegahan dan kemewahan kediaman ayah kandungnya. Rumah ini puluhan kali lebih besar dari gubuk sederhana yang dia tempati selama ini.
Selain tiang-tiang penyangga yang terlapisi marmer dengan kualitas terbaik. Ada juga lampu gantung yang terbuat dari Cristal yang terlihat begitu mewah dan elegan, belum lagi ubin lantainya yang sangat elegan, mahal dan menawan.
Setiap ubin lantai yang terpasang dilapisi dengan 95 berlian yang dipotong cemerlang dengan pola kelopak bunga mewah yang mengelilingi lingkaran batu akik hitam yang kaya. Setiap sudut dilapisi dengan kulit abalone dan mutiara, menciptakan efek keseluruhan yang menakjubkan.
Devan benar-benar masih tidak percaya jika sebenarnya dirinya adalah putra dari seorang milyader yang sangat terkenal di seluruh dunia. Dan dia bersyukur akan hal itu. Devan pun melanjutkan langkahnya dan pergi ke kamar Zian yang berada di lantai dua. Dia merasa sangat lelah.
-
Seorang pemuda dengan style serampangan nya. Celana jeans belel, tank top dan Leather Vest menghentikan motor besarnya di halaman sebuah rumah sederhana yang terletak di pinggiran kota di kota Busan.
Pemuda itu 'Zian' memasuki rumah dengan tenang. Di dalam sana terlihat dua pemuda yang sedang asik bermain kartu, dua perempuan berbeda usia yang sedang sibuk menyiapkan makan malam di dapur.
Zian tersenyum tipis. Dihampirinya kedua perempuan itu sambil membawa kantong hitam yang di dalamnya berisi cake coklat keju kesukaan Sherly.
"Eo, Zian kau sudah pulang." Seru Sherly menyadari kedatangan kekasihnya. "Apa yang kau bawa itu?" Sherly menunjuk kantong di tangan Zian.
"Untukmu." Zian menyerahkan kantong itu pada Sherly.
Sherly yang penasaran apa isinya langsung membuka kantong tersebut dan menemukan sebuah cake yang tersimpan di dalam box berbentuk segi empat. Melihat ceke tersebut membuat mata Sherly langsung berbinar.
"Kau membelikan ini untukku?" Zian mengangguk. Sherly tersenyum lebar. "Dari mana kau tau jika aku sangat menyukai cake ink?" tanya Sherly penasaran.
"Bukankah saat kita makan di luar kau selalu memesan cake ini sebagai hidangan penutup. Jadi aku pikir kau sangat menyukainya." Tutur Zian.
"Kau memang yang terbaik, Zian Lu. Makan malam hampir siap. Setelah ini kita makan malam sama-sama. Sebaiknya kau mandi dulu." Pinta Sherly yang di balas anggukan tipis oleh Ken.
Tanpa mengatakan apapun, Ken melenggang pergi meninggalkan dapur dan pergi ke kamarnya. Sedangkan Sherly kembali ke aktifitas awalnya, yakni membantu sang ibu menyelesaikan masakannya.
.
.
.
Usai makan malam. Semua orang berkumpul di ruang tengah dan saling mengobrol dengan hangat. Di sana ada Maria, Daniel, Zian, Sammy dan Sean. Namun sosok Sherly tidak terlihat batang hidungnya. Gadis itu sengaja memisahkan diri dari yang lain.
Begitu banyak hal yang dia pikirkan. Ia membutuhkan suasana yang lebih mendukung untuk menjernihkan pikirannya yang sedang kacau.
Udara malam ini lebih dingin dari malam-malam sebelumnya, tapi hal itu itu tak membuat Sherly beranjak dari tempatnya. Suasana hatinya yang sedang kacau membuat udara dingin di luar jauh lebih nyaman daripada di itu.
Di taman pinggir sungai yang terletak di belakang rumah, Sherly menyandarkan tubuhnya pada pohon yang besar dan tua. Kedua matanya tertutup rapat.
Wanita itu memandangi jembatan yang melewati sungai, menikmati semilir hembusan angin yang dingin seraya memejamkan mata. Berpikir kegundahan hatinya bisa sedikit teratasi.
Ia masih memejamkan matanya seraya menikmati angin yang berhembus, dari sisi lain terdegar suara beberapa orang yang sedang nebgobrol. Sekejap, ia membuka matanya perlahan dan mulai mencari asal suara itu.
Tidak biasanya ada orang lain selain ia yang mengunjungi tempat itu. Pasalnya, tempat itu dikenal sedikit angker, karena itu tidak banyak, bahkan jarang sekali ada orang yang mengunjungi satu titik pinggir sungai itu. Tiba-tiba bulu kuduk Sherly berdiri.
Sherly menggelengkan kepalanya. Mencoba meyakinkan pada dirinya sendiri jika yang ia dengar itu bukanlah hantu tapi benar-benar orang yang sedang mengobrol. Sherly bukan tipe orang yang mempercayai hal-hal mistik, jadi ia sangat yakin kalau itu bukan hantu.
Masih mencari asal suara itu, tiba-tiba suara tawa yang sedikit mengerikan terdengar. Membuat Sherly terlonjak kaget dan menjerit, tanpa banyak membuang waktu. Sherly segera meninggalkan sungai tersebut dan kembali ke rumah.
"KYAAA!! HANTU!!!"
BRAK....
Dobrakan pada pintu mengejutkan lima orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Sherly menangis dan langsung berhambur ke dalam pelukan Zian. "Huwaa... Ada hantu di sungai," ucapnya sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Zian.
"Hantu?" Zian mengulangi ucapan Sherly, gadis itu mengangguk.
"Iya hantu. Pertama aku mendengar suara orang yang sedang mengobrol tapi wujudnya tidak ada. Kemudian aku mendengar suara wanita yang sedang tertawa dan suaranya sangat mengerikan."
"Sepertinya itu adalah hantu para korban yang meninggal di sekitar sungai," sahut Daniel dan membuat Sherly menoleh seketika.
"A-Apa?Apa maksud, Papa?"
"Dua tahun yang lalu. Ada pembantaian di sekitar sungai. Lima remaja di bunuh secara brutal dan sadis lalu jasadnya di buang ke dalam sungai."
"Kemudian tiga tahun berikutnya, seorang gadis di temukan tewas dengan keadaan yang sangat-sangat mengenaskan. Tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Tubuhnya di penuhi memar dan Miss-nya terluka parah seperti di sulut besi panas. Dan satu tahun berikutnya, seorang pria tewas gantung diri karena putus cinta."
"Hiyyaaa...!! Kenapa begitu menyeramkan. Zian, kenapa kau memilih tempat semacam ini? Huaa... Aku takut, aku tidak mau di sini lagi, ayo kita pergi... Huaaa...." Tangis Sherly pun pecah.
Dia yang dasarnya memang penakut semakin ketakutan setelah mendengar cerita ayahnya tentang beberapa kejadian buruk di sekitar sungai. Dan parahnya lagi, sungai itu berdekatan dengan kamar yang Sherly tempati.
"Malam ini aku tidak ingin tidur sendiri. Aku juga tidak mau tidur dengan Mama dan Papa, Zian aku ingin tidur denganmu. Boleh ya, kau bisa tidur disofa. Boleh ya, boleh ya, em." Pinta Sherly dengan tatapan memohon.
Zian mendengus berat. Dengan terpaksa dia mengiyakannya. "Baiklah, aku akan tidur denganmu malam ini." Sherly tersenyum lebar setelah mendengar ucapan Zian.
Sedangkan Maria dan Daniel tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan keinginan Sherly. Mereka mempercayai Zian, meskipun luarnya dia terlihat urakan dan bukan seperti pemuda baik-baik. Tapi sebenarnya Zian adalah pemuda yang baik yang selalu menjaga harkat dan martabat wanita.
-
Bersambung.