NovelToon NovelToon
Trauma

Trauma

Status: tamat
Genre:Teen / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: Pyrus

Sebuah cerita yang mengisahkan tentang seorang remaja yang kehilangan orang - orang yang disayanginya. Tidak ada unsur adegan dewasa.

Seorang pemudi yang trauma akan kehilangan orang tua dan orang yang dicintainya karena sebuah tragedi kecelakaan.

Nisa yang dulunya ceria sekarang menjadi dingin semenjak kecelakaan yang terjadi padanya. Sebagai penyebab kedua orang tuanya meninggal.

Berkat kehadiran temannya, Lana dan ketiga pemuda yang bersabat yaitu Aldi, Deni dan Faiz. Nisa mencoba untuk kembali ceria seperti dulu dan kehidupannya menjadi berwarna kembali.

Namun sebuah kecelakaan merenggut kembali seseorang yang Nisa cintai. Dunia Nisa seakan hancur kembali setelah pulih. Pelangi telah kehilangan satu warnanya. Membuat hari hari Nisa yang hangat kembali hampa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pyrus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Aldi

“Selamat beristirahat ya Nis,” ucap Aldi seraya menurunkanku di depan gerbang rumah.

Nisa turun dengan malas meregangkan tangannya. Badannya memang serasa lelah akibat perjalanan pulang tadi. Kantuk yang Nisa yang membuatnya ketiduran menyebabkan badannya pegal-pegal karena harus mengimbangi badan agar tetap berada di posisinya.

Nisa menghentikan langkahnya dan berbalik melirik ke arah Aldi, “Nis. Kapan-kapan ke rumahku ya.”

Permintaan yang membuat Nisa mematung.

Nisa hanya membalas Aldi dengan senyuman, sama seperti yang dilakukan Aldi saat Ini.

***

“Hallo mah.” Cium Aldi pada mamah tirinya yang sedang menyiakan makan malam keluarganya.

“Baru pulang nak. Gimana campnya sama teman-temanmu?” tanyanya dengan kedua tangan yang masih berperang dengan alat memasaknya.

“Hmhmhm Lancar, seru…” Jawabnya yang cengir-cengir sendiri seraya mengamati kegiatan memasak mamahnya.

“Padahal kamu sebaik ini, tapi kenapa adekmu belum juga menerimamu,” raut wajah mamah Aldi berubah menjadi sedih mengingat Ergi, adek tirinya.

“Mahh.. mungkin Ergi masih butuh waktu buat nerima ini semua. Dimaklumi aja ya.” Aldi selalu bisa menjadi penenang untuk orang-orang di sekitarnya, begitu dewasa menjalani kehidupannya.

“Mamah beruntung bisa ketemu sama papah kamu, bisa ketemu sama kamu nak.”

“Kan Aldi ganteng gini, pinter dan baik lagi,” cengengesnya membuat mamahnya melupakan kesedihan untuk sesaat.

“Minggu ini Aldi mau ajak temen Aldi buat ke rumah, mamah masakin yang enak ya buat dia.” Pinta Aldi.

“Memangnya siapa yang akan kamu undang,” Penasarannya.

“Rahasia dong mah, nanti juga mamah tahu, hehehe.”

“Cewek apa cowok?’

“Cewek mah,”

“Oke deh, mamah akan masakin yang paling enak buat dia,” kedua jempol mamahnya diarahkan ke Aldi.

"Ergi..." Bola mata mamah tiri Aldi berbelok ke arah Ergi yang main nyelonong melewati keduanya. Ergi membalas tatapan mamahnya kemudian mengarah tajam ke Aldi, membawa sebotol air mineral dan kembali tanpa sepatah katapun.

"Ergi...!" Nada suara mamahnya meninggi melihat kelakuan anaknya itu. Tapi yang dipanggil tak bergeming dan tetap melangkahkan kakinya menjauh.

"Mah.. udah," ucap Aldi setelah melihat keduanya.

Aldi dan mamahnya menunggu Ergi untuk makan bersama setelah semuanya siap.

"Ayo cepat duduk Gi!" tak seperti tadi, nada mamahnya sekarang lembut.

"Ergi mau pergi."

Mamah Ergi mengepalkan tangannya melihat kelakuan anaknya yang tak kunjung juga berubah. Sudah hampir dua tahun mamahnya menikah dengan papah Aldi, namun Ergi masih saja bersikap dingin.

"Mau kemana kamu?" mamah Ergi bangkit dari duduknya.

"Bukan urusan mamah"

"Ergi!! Cepat duduk!" perintah marah mamahnya. Kemarahan itu tak membuat Ergi berbalik.

"Ergi.. kamu sudah keterlaluan." Teriakan mamahnya terdengar bergema di ruangan besar itu. "Mau kamu itu apa? Mamah udah capek dengan kelakuan kamu."

Mamah Ergi tak meneruskan kalimatnya. Tangannya menyentuh dada yang saat ini terasa begitu sesak. Aldi yang memegang pundaknya pun diabaikan, memilih untuk pergi mengambil obat yang ada di kamar.

"Mah.. mamah nggapapa?" Aldi khawatir dengan wanita yang mempunyai penyakit asma itu.

"Ergi.. Lo mau kemana?" Aldi mengejar Ergi yang kurang selangkah lagi melewati pintu.

"Bukan urusan lo."

"Urusan gue, sekarang gue kakak lo."

"Gausah berharap pengen jadi kakak gue, sampai kapanpun lo tetep musuh gue."

"Lo kenapa sih gi gamau menerima ini semua? Lo gak kasihan sama mamah? dia mamah kandung lo Gi."

"Lo tahu kenapa gue bersikap gini sama keluarga ini. Ha"

"Apa? kenapa lo kayak gini. Udah lah Gi, kita lupain aja masa lalu kita. Ini semua demi Mamah lo, demi papah gue."

"Itu yang belum gue bisa. Ngelupain masalah kita!" Egi mengepalkan tangannya dan pergi meninggalkan Aldi.

Sama halnya dengan Ergi, Aldi pernah tidak menerima pernikahan papahnya. Ergi yang selalu menjadi panglima dari gengnya Angga dan Aldi beserta sahabatnya yang selalu berantem sama mereka.

Memang awalnya susah buat Aldi, buat kehidupannya setelah mamah kandungnya meninggal. Namun Aldi tetaplah Aldi, yang dengan dewasa menyikapi sesuatunya. Apalagi ternyata mamah Ergi sama baiknya dengan mamah kandungnya, yang senantiasa memperlakukannya selayaknya anaknya sendiri, kakak dari Ergi.

Aldi tahu bahwa hal ini juga tak mudah oleh Ergi, menerima musuhnya sebagai kakak tirinya. Aldi mengikuti jalan yang ditempuh oleh Ergi, dengan tidak membiarkan orang lain mengetahui bahwa mereka kini menjadi satu keluarga. Hanya Faiz, Deni dan Lana yang tahu. Bahkan teman-teman Ergi pun tak ada yang mengetahuinya.

Mata Aldi hanya melihat kepergian Ergi. Dalam benaknya, dia berharap bahwa Ergi akan menerima kenyataan ini.

Makanan yang sudah disiapkan tadi dibiarkan begitu saja menjadi dingin di mejanya, menunjukkan suasana yang terjadi.

Aldi berjalan menuju salah satu kamar, mengetuk pintu dengan hati hati, "Mah.. mamah nggapapa? Asma mamah ngga kambuh kan?"

Sudah ke-tiga kalinya dia mengetuk, namun tak ada jawaban dari mamahnya. Aldi memnundurkan jaraknya dari pintu, bersiap dengan sekuat tenaga hendak mendobrak pintu di depannya. Hampir saja tubuhnya akan menendang keras, tapi mamahnya sudah lebih dulu membukanya.

"Mah.. kirain mamah kenapa-kenapa di dalam."

"Mamah tadi di kamar mandi, udah ayo kita makan berdua aja ya. Papah tadi ngabarin kalau pulang telat."

"iya mah."

"Al, mamah nitip Ergi ya. Mamah udah nggatau lagi sama kelakuan dia," ucapnya kemudian menyendokkan sesuap makanan ke mulutnya.

"Aldi akan berusaha mah."

Dengus mamahnya terdengar setelah menelan makanan yang tadi dikunyahnya, "Dulu Ergi itu anak yang baik, tapi semenjak kenal sama teman-teman barunya, dia jadi suka keluyuran ngga jelas ditambah mamah yang nikah sama papah kamu."

"Ergi mungkin masih butuh waktu buat nerima ini semua mah." Tak mungkin Aldi memberitahu mamahnya kalau Ergi suka berantem di lingkungan sekolahnya. Sudah menjadi rahasia umum oleh para siswa sekolahan Ergi bahkan sekolahan lain, kalau geng Angga suka semena-mena di sekolah terutama dengan siswa baru apalagi siswa yang suka mencari gara-gara dengan gengnya, akan dibabat habis oleh geng Angga dan Ergi adalah kunci cari geng itu, dia yang paling jago dalam hal berantem.

"Kamu mau ajak teman kamu kapan nak, nanti biar mamah bilang sama papah kamu."

"Emmb lusa aja gimana mah?"

"Oke boleh. Mamah jadi ngga sabar pengen lihat gadis yang kami sukai. Beruntung banget dia bisa disukai oleh kamu ya."

"Mamah bisa aja."

***

Malam ini Aldi memjemput Nisa dengan mobil papahnya. Yups, Nisa menyetujui permintaan Aldi yang mengajaknya ke rumahnya.

"Gausah takut Nis, mamah sama papah aku ngga galak kok," Ucap Aldi melihat Nisa yang sepertinya terlihat takut.

"Nisa bingung, nanti harus gimana sama keluarga kakak," jawab Nisa jujur. Pikiran Nisa saat ini sedang membayangkan nanti harus seperti apa bersikap ke keluarga Aldi agar tidak terlihat canggung. Ini menjadi kali pertama bagi Nisa, biasanya dia mengenal keluarga teman-temannya mengalir begitu saja tanpa sebuah perencanaan.

"Udah, bersikap seperti biasa aja. Gausah bingung lagi, Ok," jari tangan Aldi membentuk kata Ok ke arah Nisa sambil tersenyum. Berharap dapat meredakan pikiran Nisa.

"Selamat datang Nisa." Sapa Mamah saat melihat Nisa dan Aldi.

Sementara Ergi yang duduk di sebelah mamahnya kaget dengan kehadiran Aldi dan Nisa. Nisa juga kaget kenapa ada Ergi di sini. Apa Ergi saudaranya Kak Aldi?. "Terima kasih tante.." menghiraukan tatapan Ergi padanya dan membalas mamah Aldi.

"Ya ampun, Nisa cantik ya pah."

Membuat Nisa jadi mati gaya. Memang malam ini Nisa begitu cantik dengan baju crop polos yang dipadu dengan rok sedikit di atas lututnya, terlihat feminim ddibandingkan biasanya yang memakai kaos dan jeans.

"Makasih tante."

"Oh iya kenalin Nis, Papah aku, Mamah, dan... Ergi adekku."

Nisa menjabat tangan Papah dan Mamah Aldi bergantian kemudian Ergi. Ergi membalas jabatan tangan Nisa dengan acuh dan dingin bahkan tak sekalipun melirik tangan Nisa.

Nisa kini duduk di kursi yang disiapkan Aldi, tepat. di samping Aldi dan di depan Ergi.

Ternyata keluarga Aldi asik, tak seperti dalam bayangan Nisa sebelumnya yang akan ditanya-tanya yang aneh ataupun tentang hubungannya dengan Aldi yang belum juga dia bisa menjawabnya.

Mamah Aldi lebih banyak membahas perihal dapur dan memasak, cocok dengan Nisa yang juga suka memasak. Sedangkan Papah Aldi hanya mendengar istrinya yang ketawa-ketawa, kadang menimpali seperlunya yang membuat tidak ada kecanggungan dintara mereka.

Ergi hanya diam mengamati keseruan mereka. Tak berniat untuk ikut menimbrung padahal sudah beberapa kali disinggung sama mamahnya, beberapa kali juga dilihat Aldi agar tidak diam saja.

Bagi Ergi, melihat bahwa gadis yang dibawa Aldi saja sudah membuaynya malas. Kalau bukan karena papah dan mamahnya yang memaksanya sebelum mereka datang, dia sudah berada di luar sekarang. Menikmati kesendirian, mencoba melupakan semuanya dan berharap hatinya bisa berangsur menerima kenyataan yang terjadi di hidupnya.

"Dasar gadis licik. Satu laki-laki apa tidak cukup untuknya," Ergi memotong dengan kasar daging yang ada di depannya, menyantapnya dengan tatapan tajam ke arah Nisa.

Nisa ngeri melihat Ergi yang menatapnya seperti itu, mengingat Ergi dan kedua teman kembarnya yang pernah memukul Faiz saat bersamanya.

"Hmhm Kak, ternyata kakak punya adek ya," tanya Nisa ke Aldi saat perjalanan pulang.

"Iya, dia adik tiriku. Papahku nikah sama mamahnya Ergi."

Nisa mengangguk paham. Tak melanjutkan pertanyaannua, tak ingin membuat Aldi merasa tak nyaman, walaupun sebenarnya banyak yang ingin dia tanyakan, apalagi perihal Ergi.

1
mama yogi
Nisa nya terlalu di buat lembek
ANAA K
Boomlike mendarat mulus ka😉👍🏾
ANAA K
Keren
ANAA K
The best👍🏾
ANAA K
Wah keren👍🏾
ANAA K
Semangat selalu👍🏾
ANAA K
Aku mendukungmu kak👍🏾
ANAA K
Semangat yah kak
ANAA K
Boomlike hadir thor👋🏾 jangan lupa mampir yah😉🙏🏿 mari kita saling mendukung👍🏾😉
ANAA K
Semangat yah🙏🏿
ANAA K
Lanjut thor👍🏾 ceritanya keren😉👍🏾
ANAA K
Semangat yah thor😉👍🏾
ANAA K
Semangat thor. Aku mendukungmu thor😉👍🏾
Fania kurnia Dewi
mampir thor
Santai Dyah
lnjut thor salam kenal dari Kabut cinta
Rini Haryati
teimakasih
Rini Haryati
bagus
Ummi Islah
sad bangettt thor😢😢😢😢
TickleStar
Ceritanya menarik, nih! Boleh kali thor dilanjut?
Daisy Louise
Ceritanya bagus, kok, thor. Jangan lupa perhatiin tanda baca ya, hehe.. Fighting fighting kakak author‾
Pyrus: Terima kasih 😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!