Teror negeri Jawata, sosok Bocah Malapetaka yang mampu membasmi seluruh negeri dengan api. Seorang penguasa Sekte Kakilangit, Paduka Jayasinggih justru menginginkan kekuatan Bocah Malapetaka, yakni Dunia Bawah yang menyimpan kekuatan ribuan Pasukan Ular. Di bawah kendalinya, pasukan pembantai memburu Bocah Malapetaka untuk dibunuh.
Di sisi lain, sekumpulan praja dikirim ke Kakilangit untuk misi latih tanding. Namun sebenarnya mereka hendak dibantai dan diubah menjadi tentara zombie.
Satu kejahatan tersingkap. Bocah Malapetaka mematahkan ketangguhan Sekte Kakilangit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hidayanthi alifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelas Tabib
Kayaning senang ada yang berkata seperti itu setelah selama ini tidak ada yang menawarkan pertemanan dengannya. senior si Murid senior itu tampaknya memang baik meskipun agak pendiam dan lebih tua dua tahun. Sepanjang ia memperhatikan cara berjalan senior yang agak gontai, Kayaning tersenyum kecil. Diam-diam mencuri pandang padanya dan lagi-lagi tersenyum. Namun sepandai apapun Kayaning menyembunyikan ekspresi itu, senior menangkap gelagatnya.
”Ada apa?” tanya senior, satu kesempatan memergoki Kayaning tersenyum simpul.
”Berjalanlah terus!” pinta Kayaning. Tak terpikir apapun oleh senior ketika terus melangkah namun Kayaning diam di tempat.
”Ada apa?” tanya senior saat menoleh ke belakang.
”Berapa umurmu?” tanya senior.
”16 tahun," jawab Kayaning, sekaligus balik menanyakan maksudnya.
”Mm ... menurutku ... kamu terlalu tegap untuk ukuran tubuh gadis belia," kata senior.
”Perawakanmu tinggi besar untuk gadis seumur 16 tahun,” kata senior membandingkan tinggi antara mereka.
”Nyaris dua jengkal dariku!” kata Kayaning.
Senior mendengus, ”Aku seniormu, jangan kurang ajar!”
Kayaning sedikit tertawa.
”Andai kau pakai seragam praja, cocok sekali menjadi praja. Tampaknya kau bisa disebut tampan sekaligus cantik!” tawa senior pecah, namun Kayaning geleng-geleng kepala.
Sementara itu di ruang kelas tabib, seratus murid duduk rapi di bangku masing-masing. Seorang guru tabib bernama Guru Tabib memulai pelajaran seperti biasanya.
”Buka catatan minggu lalu, kita akan melakukan praktik hari ini berdasarkan teori itu!” perintah Guru Tabib. Sebelum ia melanjutkan, kelasnya kedatangan sejumlah pengawal kerajaan. Guru Tabib keluar sebentar untuk membicarakan kepentingan mereka, sekembalinya ke ruang kelas, seorang putri bersamanya.
”Berdiri!” perintah Guru Tabib pada semua murid. Serempak semua murid yang duduk langsung berdiri.
”Beri hormat pada Putri!” lanjut Guru Tabib memberi aba-aba.
”Hormat kami pada Putri Ratnaphati!” bersamaan salam hormat terucap dari tiap murid dengan diiringi tubuh setengah membungkuk dan sebelah tangan kanan mengepal di dada.
”Duduk kembali!” aba-aba Guru Tabib mengakhiri salam penghormatan.
”Mulai hari ini, kelas kita kedatangan anggota dari kalangan istana. Putri Ratnaphati akan menjadi bagian dari murid kelas ini.”
Hampir tidak dipercaya semua murid yang mendengar itu. Tidak pernah ada putri yang menjadi murid di sekolah Tanapura, karena biasanya keturunan atau keluarga raja selalu disekolahkan di kelas khusus bangsawan. Di tengah-tengah keheranan para murid, sebagian senang dan sebagian lagi bertanya-tanya bahwa ’apa alasan yang mendorong seorang putri ingin menginjakkan kaki di Kelas Tabib?’
”Mulai hari ini aku menjadi murid kelas Tabib Tingkat Pemula seperti kalian, maka selama berada kelas ini, statusku sama seperti kalian. Tidak ada perbedaan perlakuan atas apapun. Jangan terlalu sungkan kepadaku dan bersikaplah sewajarnya!” kata Putri Ratnaphati di depan semua murid pengobatan.
Semua mata masih tertuju pada putri yang melangkah ke bangku tersebut. Ada bangku kosong yang semula tak pernah dilirik seorang murid pun. Tetapi sekarang, kebanyakan dari mereka ingin mengisi bangku kosong tersebut.
Seruni tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya, bergegas ke tempat putri.
Senyumnya semanis mungkin mengawali tatap muka dengan Putri Ratnaphati lalu tanpa basa-basi lagi langsung menaruh setumpuk bukunya di bangku yang sama.
”Sungguh suatu kehormatan bila aku bisa duduk bersebelahan dengan putri,” sapa Seruni dengan seulas senyuman lagi.
”O, ya? Tetapi sayang sekali, kau terlambat. Bukankah ini tempat duduk Kayaning sebelumnya? Nasihatku, tidak baik menggusur posisi orang lain,” halus tapi cukup menyinggung, perkataan Putri Ratnaphati menusuk hati Seruni.
Semua murid dan Guru Tabib mendengar Putri Ratnaphati berbicara. Air muka Serunai merona merah karena menahan malu. Sangat terpaksa ia kembali ke tempat duduknya semula dengan melempar senyum pahit.
”Maaf Guru, kami terlambat,” belum lama dari itu, senior muncul bersama Kayaning dan membawa seperangkat alat serta bahan ramuan saru meja dorong.
Guru Tabib menyilakan mereka untuk masuk. Setelah itu, senior keluar, sedangkan Kayaning menuju tempat duduknya. Betapa kagetnya ia saat melihat sosok Putri Ratnaphati telah mengisi kursi di sebelah tempat duduknya yang selama ini kosong.
”Putri?” masih tak yakin kalau putri benar-benar duduk tersenyum di kursi sebelahnya.
”Ya. Ini aku,” setengah tak bersuara, cukup gerakan bibir Putri Ratnaphati mengucap itu. Kayaning berbinar senang, ”Duduk di sebelahku?” balasnya dengan cara yang sama. Putri Ratnaphati mengangguk kecil.
Suatu kebanggaan tersendiri bisa berdekatan dengan putri raja. Semua menginginkan itu, tetapi tidak semua murid bisa mendapatkan kesempatan seperti Kayaning. Pandangan murid-murid menyiratkan kecemburuan yang sama, menjadi berlipat ganda untuk Seruni.
”Lanjut ke pelajaran!” kata Guru Tabib memulai praktik.
* * *
Salam dari NALA dan PENDEKAR TOPENG SERIBU 🙏🏻
sehat selalu dan sukses terus 🤲