deleted
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwik arfiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKAH SMA 25
Nikah SMA 25
Di rumah..
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
"Lah, ayah jam segini udah pulang?." Tanya Widya.
"kan kemarin ayah baru pulang. Jadi, masih libur." Ucap ayah Dayat.
"Wajah kamu kenapa?." Sambung ayah Dayat terkejut melihat luka di wajah Widya.
"Gak apa apa yah cuma luka kecil." Ucap Widya.
"Widya berantem yah di sekolah an." Ucap Hasan yang baru masuk.
"Hah? Berantem? Berantem kenapa?." Tanya ayah Dayat.
"Ayah gak usah khawatir ya Widya baik baik aja kog." Jawab Widya.
"Widya, ayah gak mau kamu berantem berantem gini lagi. Kamu di sekolah an itu buat belajar yang rajin bukan buat berantem!." Ucap ayah Dayat sedikit kesal.
"Iya ayah, Widya salah. Widya minta maaf." Ucap Widya menyesal.
"Sudah, itu luka nya di obati dulu." Ucap ayah Dayat.
"Tadi, udah Hasan obati yah di sekolah." Ucap Hasan.
"Obati lagi kasihan menantu ayah wajah nya lebam gitu." Ucap ayah Dayat.
..
/Di kamar.
Widya keluar dari kamar mandi sembari mengering rambut nya dengan handuk.
Ia duduk di tepi kasur sembari mengeringkan rambut nya.
"Nih kenapa tiba tiba kepala ku pusing." Gumam Widya.
"Ah palingan juga karena kramas." Gumam Widya kembali.
Widya sedikit terkejut ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya. Darah, ya darah segar lolos dari hidung Widya. Menetes di handuk Widya.
Dengan cepat Widya membersihkan nya dengan handuk namun tak kunjung berhenti.
Hasan yang baru saja masuk ke kamar terkejut melihat handuk Widya berlumuran darah. Ia makin terkejut lagi melihat Widya yang mimisan.
Hasan langsung menarik Widya ke kamar mandi untuk menghentikan perdarahan pada hidung widya.
"Mikirin apa?." Tanya Hasan. Sembari tangan nya memijat pangkal hidung Widya. (Itu salah satu cara untuk mengeluarkan darah kotor)
Setelah beberapa saat.
"Mikirin apa?." Tanya Hasan lagi.
"Gak mikirin apa apa." Ucap Widya.
"Sini in handuk nya biar aku rendam." Ucap Hasan meminta handuk yang sudah kotor karena darah Widya.
"Gak usah aku aja yang rendam." Ucap widya.
Widya pun mengambil ember kecil lalu merendam nya menggunakan air sabun.
"Kamu tu aneh banget sumpah. Kalau ada apa apa itu cerita aku ini suami kamu." Ucap Hasan sedikit kesal.
Akhir akhir ini Widya selalu bersikap dingin kepada Hasan. Hasan berfikir kalau ada yang Widya sembunyikan dari Hasan.
"Gak ada apa apa. Aku baik baik aja." Ucap Widya yang hendak keluar dari kamar mandi.
Hasan dengan cepat menahan tangan Widya. Hasan menutup pintu kamar mandi dengan cepat Hasan memojokkan Widya di tembok belakang pintu. Sedangkan Tangan kiri Hasan menahan tangan kanan Widya.
Jarak mereka begitu dekat membuat kedua nya berdebar debar.
"Aku mohon jangan bohong. Widya ku gak pandai dalam berbohong." Ucap Hasan pelan.
"Aku sudah bilang tak ada yang ku sembunyikan darimu." Ucap Widya yang tak berani menatap mata Hasan.
"Cara mu berbicara saja sudah menunjukkan kalau kamu berbohong."
"Tatap mata ku."
"Tatap mata ku!." Seru Hasan geram.
Widya pun lantas memberanikan diri menatap mata Hasan. Hasan yang sudah memberikan tatapan tajam membuat Widya ketakutan.
Seorang singa betina bisa takut dengan kucing hitam. Sungguh mengherankan.
Widya menatap mata Hasan seperti yang Hasan minta. Tangan nya bergetar karena tatapan itu semakin tajam.
Entah arah angin dari mana tiba tiba Hasan mencium bibir Widya.
Widya yang terkejut masih membelalakkan matanya.
Tangan kanan Hasan menarik punggung Widya agar tak ada jarak bagi kedua nya.
Widya yang sudah kehabisan nafas pun berusaha melepaskan diri dari Hasan.
Widya pun mencoba menetralkan nafas nya yang masih ternggah nggah..
"Sekarang jawab aku! Apa yang kamu sembunyikan dari ku!." Ucap Hasan kembali.
"Aku tidak mengira kalau Hasan bisa Semarah ini." Gumam Widya.
"Kenapa hanya diam?!." Seru Hasan.
"Apa aku harus berbuat lebih dari ini agar kau mau mengatakan nya?." Ucap Hasan yang seketika membuat Widya tersentak.
"Ak-akku." Widya mencoba menjawab pertanyaan Hasan namun, tiba tiba ia menjadi gagap.
Tubuh Widya lemas karena ia ketakutan.
Belum sempat melanjutkan ucapannya Widya pingsan lantaran tak kuat menahan rasa takut nya.
Hasan yang terkejut dengan sigap menahan tubuh Widya agar tak melorot ke bawah.
"Kenapa harus sekarang?!!!." Ucap Hasan kesal.
Hasan pun lantas membawa Widya keluar dari kamar mandi. Ia meletakkan Widya di atas kasur lalu menarik selimut.
...
Jam 10 malam
Hasan sudah tertidur di samping Widya. Entah kenapa Hasan tidur secepat itu.
Sedangkan Widya masih setia dalam ketidak sadar an nya.
..
Ke esokan hari nya.
Widya sudah sadar sejak jam 3 pagi. Lalu Widya pun melaksanakan sholat tahajud. Widya tak kembali tidur namun ia memilih membaca Alquran untuk menenangkan hati nya.
Ia membaca Alquran sampai subuh.
Ketika subuh Hasan terbangun karena mendengar suara adzan. Hasan sedikit terkejut melihat Widya yang sudah bangun terlebih dahulu.
Ketika Widya sadar Hasan sudah terbangun. Widya dengan cepat membereskan mukena nya lalu pergi ke bawah.
...
"Widya.."
"Widya.."
"Widya.." panggil ayah Dayat berhasil mebuyarkan lamunan Widya.
"Ah iya ayah ada apa?." Tanya Widya.
"Kamu kenapa? Apa ada yang salah?." Tanya ayah Dayat.
"Gak apa apa ayah. Widya cuma lagi nge inggat tugas hari ini." Ucap Widya.
"Kalian berangkat pakai mobil saja ya. Kasihan Widya kayaknya lagi capek banget." Ucap ayah Dayat.
Mereka berdua pun berangkat ke sekolah an dengan menaiki mobil.
Di dalam mobil Widya hanya diam dan melamun.
Beberapa kali Hasan memanggil Widya namun Widya tak mendengarkan nya.
...
Di kelas
Bu Yuni sedang menjelaskan pelajaran sastra Indonesia. Ia meminta Widya untuk menjawab pertanyaan nya. Namun Widya tetap saja melamun.
"WIDYA!!!." seru Bu Yuni memanggil Widya.
"Maaf! Aku minta maaf!." Ucap Widya secara spontan.
"Apa yang kamu katakan?! Kamu tidak mendengar apa yang saya katakan?!!." Seru Bu Yuni kesal.
"M-maaf Bu." Ucap Widya menyesal.
"Jangan melamun lagi. Atau saya suruh kamu keluar kelas." Ucap Bu Yuni.
"Baik Bu s-sekali lagi s-saya minta maaf." Ucap Widya.
Lalu pelajaran pun kembali berjalan dengan baik.
..