Sebuah kecelakaan kapal pesiar terjadi dan membuat 7 orang terdampar di pulau kecil tidak berpenghuni. Mereka dipaksa untuk bertahan hidup sampai bantuan tiba. Ren, salah satu dari 7 orang yang terdampar memimpin mereka dengan pengetahuannya yang luas.
Dia menggunakan keterampilannya untuk bertahan hidup di pulau yang hanya berisikan dia dan 6 orang lainnya. Banyak masalah yang dia temui, namun siapa yang menduga jika dia akan menemukan jodohnya di pulau terpencil?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YatoNime Crack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 —Wanita Selalu Benar!
Theresia dan Zain tampaknya juga berada di sisi Mirai, akan sulit bagi Ren membujuk mereka tanpa ada dukungan. Akan ada lebih banyak yang tidak senang dengan keputusannya ini.
“Aku tahu kamu memiliki hati yang baik. Namun, Ren, ada hal yang tidak lebih bisa kita lepaskan begitu saja. Dikondisi seperti ini wanita ****** itu melakukan tindakan yang merugikan kita. Tidak masalah jika pada kondisi yang biasa, namun kita saat ini sedang bertahan hidup!” Zain berusaha menyampaikan pikirannya.
Tidak perlu baginya menjelaskan, Ren sangat sadar tentang kondisi saat ini. Dia selalu memikirkan banyak hal untuk membantu mereka bertahan hidup di pulau ini.
Dimulai persediaan makanan, minuman bahkan tempat tinggal, semuanya harus diperhitungkan satu-persatu. Ren terus memikirkan bagaimana mereka harus mengambil langkah selanjutnya.
Dibandingkan yang lain, Ren pastinya menerima beban mental yang jauh lebih besar dari yang lainnya. Kendati dia menuruti mereka untuk mendebat Clarissa, lantas tidak ada apapun yang mereka dapatkan.
“Ketimbang mendebatnya, lebih baik kita persiapkan shelter dan makan malam untuk kita. Tidak akan ada hasil dari adu argumen dengan Clarissa.” Ren tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Namun, setidaknya kita bisa memaksanya memberikan kita makanan karena telah menghancurkan persediaan kita, Ren.” Mirai tetap bersikeras.
“Tenanglah Mirai. Memangnya kamu benar-benar berpikir dia akan memberikannya begitu saja?” tanya Ren.
“Ketimbang memberikan kalian makanan, aku lebih memilih membuangnya ke lautan.” Clarissa menyela dengan nada angkuhnya.
Seperti yang sudah diduga, tidak mungkin segala hal berjalan sesuai keinginan. Ada baiknya mereka menghemat waktu dengan tidak berurusan lebih jauh lagi.
Mirai dan yang lainnya jelas tidak senang dengan situasi ini, mereka tentunya tidak akan puas dengan keputusan Ren untuk mengabaikan kejadian ini.
Dilain sisi, Anastasia yang mengamati tampak sedikit prihatin kepada Ren. Dia tahu bagaimana yang dirasakan Ren saat ini, pastinya dia sangat terbebani. Lagi pula Anastasia pernah berada di posisinya.
Karena itulah, ketimbang mengurus banyak orang yang bahkan tidak dia kenal, jauh lebih baik baginya mengurus Clarissa majikannya seorang saja.
‘Tidak diragukan lagi, kelelahan mental sudah bertumpuk, baik itu Ren ataupun kelompoknya. Mereka mungkin tidak dapat berpikir irasional ke depannya,’ batin Anastasia.
Di masa depan jika waktunya tiba di mana mereka menggila, Anastasia yakin situasinya dan Clarissa akan sangat buruk. Jauh lebih baik mereka berhenti mengusik kelompok Ren dari sekarang.
“Kamu dengar, kan? Mirai. Lebih baik kita mempersiapkan kebutuhan kita sendiri, tidak ada gunanya meminta sesuatu yang pasti tidak akan kita dapatkan. Ayo, aku akan pergi ke laut untuk menangkap beberapa hewan.” Ren berbalik dan menuju perkemahannya.
“A-aku ikut denganmu, Ren!” Theresia berlari dan berjalan di sisi Ren.
Mereka tidak memiliki pilihan lain selain membuntuti Ren dan Theresia. Zain yang sebelumnya sedikit naik pitam menghembuskan napas panjang.
“Yeah, lagi pula aku bukan orang yang berani memukul wanita. Sejak jaman nenek moyang, sekarang dan di masa depan, sesuatu tidak akan pernah berubah yaitu, wanita tidak pernah kalah.” Zain tertawa dengan lantang.
Perkataan Zain tidak hanya membuat Clarissa dan Anastasia terprovokasi, namun juga gadis-gadis dari kelompoknya sendiri. Mereka jelas tidak senang dengan pernyataan Zain.
Ren di sisi lain berusaha menahan tawanya, dia sendiri teramat setuju dengan Zain. Sudah menjadi rahasia umum di alam semesta ini bahwa wanita selalu benar!
***
Likenya jangan sampai ketinggalan, ya!