Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Sepasangan kekasih yang harus terpisah karena keadaan. Namun, dengan berbagai cobaan yang datang, akhirnya mereka di pertemukan kembali dan di satukan dengan keadaan yang berbeda pula.
Raditya Purnomo ♥️ Winda Wulandari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Bapaaaaaakkk..."
Winda berseru memanggil bapaknya. Ada rasa haru melihat wajah bapaknya, yang lama tidak dia lihat.
"Winda, apa kabar kamu, nduk? Ibu sama bapak kangen sama kamu."
"Alhamdulillah baik, pak. Bapak juga ibu bagaimana kabarnya? Winda juga kangen sama ibu bapak. Maaf ya pak. Winda gak pernah menghubungi bapak."
"Iya gak apa-apa. Yang penting kamu sehat."
"Ibu mana, pak?"
"Tunggu, bapak panggil."
Pak Kirno memanggil istrinya. Winda pun menanggis melihat kedua orang tuanya.
"Ibuuu...Winda kangen."
"Ibu juga kangen, nduk. Kamu bagaiman di Jakarta? Baik-baik saja kan?"
"Alhamdulillah, Bu."
Gito membiarkan orang tua dan anak itu saling melepas kangen. Dia memandang berkeliling warung. Keadaan warung itu masih tetap sama seperti beberapa bulan lalu, di saat proyek masih berlangsung.
"Kenapa, bro?" tanya Adi.
"Gue ada rencana untuk ngasih modal ke pak Kirno biar bisa gedein warungnya."
"Ya coba aja. Tapi jangan loe bilang kalau modal itu dari loe. Khawatir mereka gak mau terima"
"Ya lihat saja nanti."
Setelah beberapa saat, pak Kirno menghampiri Gito dan menyerahkan ponselnya.
"Terimakasih ya nak Gito. Kangen kami ke Winda sudah terobati." kata pak Kirno.
"Iya, pak. Sama-sama."
Pak Kirno meninggalkan mereka. Ternyata video call masih terhubung.
"Sayang, udah ngobrolnya sama ibu bapak?" tanya Gito.
"Udah. Makasih ya mas untuk surprisenya."
"Iya sama-sama. Apa sih yang enggak buat kamu."
Winda tersipu mendengar perkataan Gito.
"Kok mas Gito bisa mampir ke rumah sih?"
"Eng... kebetulan antar barangnya ke daerah dekat rumah kamu jadi sekalian mampir. Kangen sama masakan ibu."
Winda tertawa kecil mendengar perkataan Gito.
"Mas di temani sama siapa?"
"Ama temen kerja aku."
"Oh..."
Gito berusaha menutupi sosok Adi yg duduk di sampingnya, agar Winda tidak mengenalinya.
"Dek, sudah dulu ya. Udah mau jalan lagi nih."
"Iya mas. Hati-hati di jalan ya."
"Iya, sayang. Udah ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Gito memutuskan panggilannya. dan kembali menyimpan ponselnya.
"Oh iya pak. Apakah bapak tidak ada niat untuk melebarkan warung bapak ini?" tanya Gito.
"Ada. Hanya saja bapak belum punya modal. Ini saja bisa makan sehari-hari saja sudah alhamdulilah."
Gito dan Adi saling pandang. Lalu Gito mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan menyerahkan nya kepada pak Kirno.
"Ini untuk bapak."
"Apa ini, nak?"
"Ini ada rezeki buat ibu dan bapak."
Pak Kirno mengambil amplop itu dan membukanya. Matanya terbelalak melihat segepok uang berwarna merah dalam amplop itu.
"Ini uang dari siapa, nak Gito?"
"Itu...itu uang dari...dari..."
"Dari Winda pak." sahut Adi.
"Iya, pak. Itu dari Winda. Winda menitipkan nya ke saya sebelum kami ke sini." Gito memperjelas. Dia bersyukur Adi bisa menemukan jawaban yang tepat. Mendengar itu, pak Kirno tersenyum.
"Baik, nak. Uang ini bapak terima. Sampaikan ucapan terimakasih bapak ke Winda ya."
"Iya pak. Nanti di sampaikan. Oh iya pak, berhubung sudah siang, kami pamit ya pak."
"Lho kok buru-buru."
"Iya pak soalnya masih banyak kerjaan."
"Ya udah kalau begitu. Hati-hati di jalan. Terimakasih atas kunjungannya."
"Sama-sama, pak. Assalamualaikum..."
"Waalaikumssalam..."
Setelah mencium punggung tangan bapak dan ibu Kirno, Gito dan Adi meninggalkan warung itu, berjalan menuju jalan raya.
"Kapan loe ambil uang bro, tau-tau udah ada uang aja loe buat pak Kirno?" tanya Adi di sela-sela menunggu taksi.
"Tadi waktu loe masih tidur gue ke ATM ambil uang. Gue memang sudah ada niat bantu pak Kirno. Oh iya thanks ya loe tadi udah bantuin gue."
"Bantuin apa?"
"Yang loe bilang kalau uang itu dari Winda. Mungkin kalau pak Kirno tau uang itu dari gue dia gak akan terima."
"Iya sama-sama."
Tak lama kemudian sebuah taksi lewat. Adi menghentikan taksi itu. Setelah mereka naik, taksi pun meluncur menuju ke hotel tempat Radit menginap. Sesampainya di hotel, Radit segera membersihkan diri di duduk oleh Adi., Lalu Radit membuat laporan hasil meeting kemarin dengan pak Anwar dan di kirim ke Vika melalui email. Pekerjaan itu selesai menjelang makan malam. Mereka pun menuju restoran hotel untuk makan malam. Selesai makan mereka beristirahat karena besok mereka kembali ke Jakarta menggunakan penerbangan pagi.
####
Winda dan Septi tengah membersihkan pantry sedangkan Sony sedang mengantarkan minuman. Tiba-tiba telfon pantry berdering. Septi mengangkat telepon Itu. Selesai menerima telfon, Septi mengambil gelas di isi air putih.
"Nih, kamu antar ke ruangan ibu Vika."
"Mbak Septi aja ah."
"Kenapa gak mau?"
"Gak mau aja."
"Hadeh...giliran suruh antar buat pak Radit aja semangat."
Winda hanya nyengir mendengar perkataan Septi. Septi pun ke ruang ibu Vika dengan membawa nampan berisi gelas air putih. Tak berapa lama kemudian Septi sudah kembali ke pantry.
"Winda, di panggil Bu Vika. Di suruh ke ruangannya."
"Ada apa, mbak?"
"Gak tau. Mungkin Bu Vika marah karena kamu gak mau anterin minumannya."
Winda terkejut mendengar perkataan Septi. wajahnya berubah menjadi pucat.
"Ih, mbak Septi. Yang bener dong.*
Septi tertawa melihat wajah Winda yang pucat.
"Gak, lah. Gak tau ada apa. Yang jelas kamu di suruh ke sana. Buruan di tungguin."
Winda segera menuju ruangan ibu Vika. Hatinya berdebar-debar. Winda mengetuk pintu ruangan ibu Vika.
"Masuk."
Winda membuka pintu dan segera masuk. Dia terkejut karena melihat ada Tante Ami. Winda tersenyum ke arah Tante Ami seraya mengangguk.
"Permisi, Bu. Ibu panggil saya?" tanya Winda kepada Vika.
"Eh iya Win, silahkan duduk."
Vika menunjuk ke samping Tante Ami. Winda ragu karena ini di kantor dan dia sadar akan posisinya.
"Duduk sini, sayang." kata Tante Ami sambil menepuk sofa di sampingnya.
"I...iya, Tante...*
Winda duduk di samping Tante Ami.
"Winda, nanti hari Minggu kamu datang ke rumah Tante ya?"
"Ada acara apa, Tante?"
"Acara lamarannya Vika."
Winda terkejut dan memandang ke arah Vika.
"Kak Vika udah mau lamaran? Tapi selama ini Winda lihat kak Vika seperti masih sendirian?"
"Iya, Win. Tunangan Kakak itu orang Indonesia yang sekarang tinggal di Malaysia. Kemarin dia datang mau melamar kakak."
Winda mengangguk.
"Bagaimana, Win. Kamu mau kan datang?"
Winda diam. Dia masih teringat kejadian tempo hari waktu Tante Ami memperkenalkan dirinya sebagai calon menantu. Winda gak mau nanti di hadapan keluarga besar tunangan Vika , dia juga di perkenalkan juga sebagai calon menantu Tante Ami.. Tapi jika menolak untuk tidak datang, Winda takut mengecewakan hati Tante Ami.
"Winda, kenapa diam? Kamu bersedia datang kan?" tanya Tante Ami.
"Iya Tante. Winda akan usahakan untuk datang."
Tante Ami tersenyum dan menepuk pundak Winda.
"Terimakasih ya sayang. Kamu memang baik."
"Kalau begitu Winda permisi mau kembali ke pantry ya Tante."
"Iya. Silahkan."
Winda keluar ruangan dan kembali menuju pantry. Dia kesal dengan keputusannya menyanggupi datang. Sesampai di pantry, Septi dan Sony sedang duduk sambil ngobrol.
"Eh, ada apa di panggil Bu Vika,?" tanya Septi.
Winda segera menceritakan semuanya yang dia bicarakan tadi di ruangan ibu Vika. Septi senyum-senyum mendengarnya.
"Udah Dateng aja, Siapa tau kamu memang jodohnya pak Radit." kata Septi.
"Gak usah dateng, Win. Kamu sama aku aja." celetuk Sony. Winda jadi kesal.
"Ih, apaan sih kalian berdua."
Winda membanting kain serbet yang ada di dekatnya. Septi dan Sony hanya tertawa melihat Winda yang sedang kesal. Tanpa mereka sadari, ada yang mengawasi aktivitas mereka melalui cctv. Sejak ingatannya pulih dan tau Winda bekerja di kantornya, Radit sengaja memasang cctv tersembunyi di pantry, tanpa sepengetahuan Septi, Sony juga Winda. Radit meminta tukang untuk memasang cctv itu di saat kantor telah sepi. Tujuan Radit memasang cctv adalah untuk bisa terus menatap wajah Winda setiap saat.
meluncur ke cerita lainnya