Bermula dari murid pindahan dari kota yang bernama Rara Amelia Putri, dan Dewa hayunda seorang siswa yang tampan yang cuek dan lugu, yang tak pernah menyadari ketampanannya
Dewa terjerat tipu daya cinta Rara, dan membuat nya terbelenggu, hingga membuat Dewa terjebak dengan cinta terlarang
Kejadian berulang saat Dewa di bangku kuliah, bertemu Rara, seolah takdir menjodohkan mereka, Dewa menata kembali cintanya untuk menjadi lebih baik, tapi ternyata keinginan itu hanya sepihak, tidak dengan Rara, dalam kisah cintanya yang sedang mekar, Rara meninggalkan Dewa dan menikah dengan pria lain, membuat Dewa terpuruk dan jatuh dalam dunia hitam, kehadiran dosen cantik sebagai tuan mami, dan mas Rio yang menjadikannya kucing Anggora
Dalam perjalanan hidupnya bersama Rara Dewa memilik 2 orang anak, Arjuna dan Gading
Berakhir tuhan mengirimkan seorang malaikat bernama Dina, yang membantunya keluar dari kehidupan yang kelam
Wanita yang lembut dan bersahaja, yang memiliki cinta pertama bernama Dewa hayunda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjuna bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKU DIARY DINA
Menyambut pagi Dewa membuka pintu rumahnya, terasa sepi, Dewa sendiri lagi, tak ada suara berisik Arjuna dan Gading. Mereka sudah kembali ke rumah ibu.
Karyawan tak datang karena Dewa meliburkan mereka tiga hari
"Biar Rina menikmati hari liburnya" bisik Dewa dalam hati.
Matahari bersinar cerah, hiruk pikuk aktivitas sudah di mulai, seorang pedagang keliling menyapa Dewa
"Pagi dek Dewa" sapanya ramah,
Dewa tersenyum dengan khas Dewa yang manis menyambutnya.
Di gerak-gerakkan kakinya yang pegal mengikuti gerakan senam. Dari jauh tampak pasangan yang tak asing baginya berjalan beriring seorang anak cowok kecil duduk di pundak ayahnya.
"Aaaah...keluarga yang bahagia"
Gumam Dewa sembari berbalik badan masuk ke rumahnya
Hari itu Dewa tak menyia-nyiakan pekerjaan, dalam lelahnya ia tetap membuka toko
"Lumayanlah" bisik hatinya.
Mengingat teman-temanya Dewa jadi teringat sesuatu
"Buku diary"
Dewa melangkah menghampiri mobilnya di ambilnya buku kecil itu, di bukanya, di baca lembar demi lembar, belum selesai ia membaca suara Rara mengagetkannya. Di tutup buku itu dengan tergesa-gesa, matanya menghampiri Rara yang terlihat marah padanya,
"Plakkk...!!!!" Tamparan keras mendarat di pipinya yang tampan.
Sumpah Dewa terperangah, seumur hidupnya baru kali inilah dia merasakan nikmatnya tamparan. Belum sempat dia berargumen Rara melayangkan tamparan kedua
"Plakkk..." kembali Dewa terkejut
Tak tau harus berbuat apa, bertanya pun dia tak tau harus bertanya apa. Dewa terdiam tak melakukan perlawanan, kedua pipinya memerah sepertinya Rara memukulnya dengan seluruh tenaganya
Air matanya berlinang, dia menangis tak karuan. Gading suaminya dengan heran menghampiri istrinya memeluk dan membawanya berlalu dari hadapanku, tak ada argumen apapun di antara kami, aku diam dan gading diam, hanya suara Isak Rara terdengar pilu.
Dewa tak menghiraukan kejadian pagi hari ini, dia kembali duduk ke meja kasir tokonya membaca bait demi bait isi diary itu, semua tentang Dewa. Di akhir bait tertulis
"Tuhan biar ku habiskan hidupku untuk menantinya, kalaupun jodoh tak berpihak padaku, biarlah aku akan datang padamu seorang diri"
Dewa menghela nafas dan menghembuskan berlahan. Mengingat wajah Dina yang gendut pendek kecil manis memiliki lesung pipi
"Ahhh dia jelek sekali, mungkin kalo di bandingkan aku sekarang dia hanya sepinggang ku"
Dewa nyengir kuda membayangkan wajah Dina yang dia kenal.
Dewa memperhatikan wajahnya di depan kaca, wajahnya memerah, dan baru dia sadari bekas gigitan nyamuk di hidungnya, dia tersenyum ingat teman-temannya. Mengobati rasa sakit akibat tamparan Rara.
Dewa berdiri dari duduknya, dengan bergegas di tutupnya rolling tokonya tanpa Menganti baju dia menyambar kunci mobil, mengunci pintu.
Terios putih melaju kencang, menyusuri jalan lintas melewati hutan-hutan kecil meninggalkan rumahnya, Memasuki wilayah kabupaten tempat orang tuanya tinggal, mobil itu terus melaju melewati rumah ibunya.
Sisa kemarin dia refreshing bernostalgia dengan teman-temanya masih meninggalkan lelah. rasa badannya masih berasa remuk, tetapi tetap saja ia mengemudikan mobilnya.
Sampai pada perkampungan luas Dewa memperlambat laju mobil, melihat-lihat, sesekali dia berhenti menghampiri seseorang hanya untuk bertanya sesuatu.
Dewa tampak bersungguh-sungguh, sedih terlintas di wajahnya ada komentar orang yang di temuinya mencibir Dina, marah, tapi dewa diam saja.
Mobil Terios putih miliknya berhenti di depan taman kanak-kanak, riuh suara anak-anak membuat Dewa pusing.
Mata Dewa mencari-cari, tapi tak ada yang di cari, sempat pesimis jauhnya perjalanan akan sia-sia.
Kembali teringat Agus bercerita tentang Dina, ada rasa kasihan terlintas di hatinya. Dewa ingin memeluk erat tubuh Dina lembut.
Dewa Memberanikan diri untuk turun dari mobilnya, tatapan mata asing menghampirinya tapi
"Biarlah" bisik hatinya
Kakinya yang telanjang dengan sendal jepitnya melangkah menghampiri seorang guru TK itu,
"Mbak numpang tanya ?" Dewa buka suara,
Gadis itu berdiri menghampirinya
"Iya..." jawab wanita itu
Matanya yang bening tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada Dewa.
"Apa di sini ada yang namanya Dina Marlinda, orangnya pendek gendut ada lesung pipi" Jelas Dewa lengkap
Wanita itu agak bingung tapi kemudian menjawab jelas
"Ada pak yang namanya Dina tapi dia nggak gendut, sebentar saya panggilkan"
Wanita itu berlalu dari depanku, aku menunggu dengan sabar berharap itu benar dia, agar bisa menjelaskan banyak hal pada semua orang yang sudah menghinanya dulu.
Dewa merasa bersalah. ia berniat untuk membayar rasa bersalah yang telah membuat pernikahannya hancur.
Ku mainkan ujung kakiku, dengan sabar. Rambutku yang sudah mulai sebahu berkibar tertiup angin menganggu mataku
"Hai, siapa ya ?" suara lembut di belakangku membuyarkan sedikit lamunanku
Dewa menoleh dan, mataku menatap heran bibirku menyeringai
"Salah orang" ku telan ludahku "Maaf mbak sepertinya saya salah orang"
Dewa melangkah dengan berlahan, memohon dengan sopan
"Uuuh malu rasanya" semua mata yg sembari tadi menatapku heran jadi berasa ingin melempari ku telur mentah.
Mereka tersenyum seolah-olah menghakimiku, aku melangkah meninggalkan tempat itu, tapi mataku sekilas melihat sesuatu, dia tersenyum dan,
"Lesung pipi itu...?" aku berbalik kembali menghampiri gadis itu dengan tergesa yang membuat ia kaget
"Mbak!" panggilku sopan dan tiba-tiba
Membuat Dina langsung melihat ke arahku lagi
"Aku Dewa, apa kamu mengenalku ? " harap Dewa cemas.
Tiba-tiba, gadis itu tertegun ada kaget, dia menjatuhkan sesuatu dari tangannya saking kagetnya air matanya berlinang, tubuhnya tak bergerak kaku, sejurus kemudian dia pingsan tak sadarkan diri.
Menyadari itu Dewa langsung memegangnya dengan kuat di peluknya tubuh mungil itu, beberapa guru lain membantuku membawa ia masuk memberi pertolongan pertama
Dia Dina, gadis yang ku cari, tak ku sangka dia jadi gadis yang sangat cantik
Ku kipas-kipas kan tanganku. Aku menunggu Dina hingga sadar sedangkan teman-temannya harus menyelesaikan tugas mereka.
Para orang tua wali murid bertanya-tanya, ku dengar dari balik pintu ada komentar yang bermacam sangat buruk, ku telan ludahku
"Seberapa sakit hidupmu karena aku ?"
Beberapa menit kemudian Dina sadar dari pingsannya, dia menatapku tak percaya, air matanya terus mengalir, ku usap air mata itu
"Sudahlah jangan nangis, ini aku sudah ada di sini" bisikku padanya ku peluk dia
******
Jam pulang anak didik Dina sudah tiba, dengan meminta izin pada kepsek, Dewa membawa Dina pulang, diiringi pandangan mata orang-orang yang membuat Dina Canggung.
Memahami keadaan Dina Dewa ambil posisi mendahului, Dewa membuka pintu mobil untuk Dina, dengan perasaan enggan dan malu Dina menaiki mobil Dewa.
Dengan senyum khas Dewa yang mempesona Dewa berpamitan pada teman-teman Dina.
Mobil melaju dengan pelan melewati jalan setapak, Dina hanya diam, rasa kagetnya dan tak percaya belum sembuh, dia mencoba mencubit tangannya, dan meringis sakit
Dewa tersenyum melihat tingkah Dina yang masih bingung seperti orang baru bangun tidur.
Niat Dewa datang mencari Dina untuk menjelaskan banyak hal dan mengklarifikasi kejadian yang pernah menyakiti Dina di urungkan nya.
"Din, aku tadi sempet pangling Lo liat kamu, ku pikir salah orang " suara Dewa memecah suasana
Tapi Dina hanya tersenyum
"Kamu udah lama ngajar anak TK ?"
Dewa kembali mencoba mencairkan suasana, tapi lagi lagi Dina hanya diam dan tersenyum
"Udahlah Din, ini aku Dewa, kamu nggak mimpi kok"
Dina mengangkat wajahnya tersenyum
"Buset" cantik juga
Tak lama perjalanan, sampai kami di depan rumah sederhana, terbuat dari papan rapih.