Rara, gadis belia yang belum pernah merasakan indahnya hidup. Terlahir sebagai anak haram, menjadi awal dari kesengsaraannya. Cacian dan makian menemani hari-harinya. Tidak lupa kekejaman kedua saudari dan ibu tirinya. Lengkap sudah penderitaan gadis malang itu.
Hingga akhirnya, Bara, yang merupakan saudara angkatnya yang tidak kalah kejam dari kedua saudari tirinya, menikahinya tanpa alasan yang jelas.
Akan seperti apa hidup Rara setelah pernikahan itu?
Cerita ini adalah sekuel dari My Hot Daddy, silahkan cek untuk mengetahui lebih jelasnya.
Jangan lupa follow Ig: Novia_gultom
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elizabetgultom191100, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejiwaan Rara
Rara mengerjapkan matanya ketika merasakan sesuatu tengah menggenggam tangannya. Kepalanya terasa pusing, tetapi Rara mencoba membuka matanya untuk melihat siapa yang tengah memegang erat tangannya.
Maniknya melihat seorang anak muda yang sangat dia kenali.
"Mic..." panggil Rara menyadarkan pria itu.
"Rara, kau sudah sadar?" tanya Mic begitu melihat mata itu terbuka. Wajah Mic terlihat cemas melihat keadaan Rara saat ini.
"Aku dimana?" memperhatikan langit-langit dan dinding ruangan yang berwarna putih. Aroma obat-obatan tercium pekat memenuhi indra penciumannya.
"Kau ada di rumah sakit." kata Mic.
"Au..." Rara meringis, karena dadanya sangat sakit ketika hendak duduk.
"Jagan banyak bergerak, dadamu terluka." dengan sigap Mic menahan tubuh Rara agar tetap berbaring.
Mendengar ucapan Mic, Rara baru sadar bahwa tubuhnya hanya berbalut kaus tanpa lengan, sedangkan dadanya terbuka lebar. Dengan terburu-buru, Rara hendak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang terbuka.
"Jangan." lagi-lagi Mic menahannya. Mic menggeleng, "Jangan menutupinya, nanti lukamu akan mengelupas."
Mic memberikan sebuah cermin kecil pada Rara, agar Rara dapat melihat dadanya.
Rara membekap mulutnya ketika melihat bayangan dadanya di cermin. Kulit dadanya bagian atas sudah melepuh dan memerah. Pantas saja dadanya terasa panas sekali.
"Rara..." Mic menarik tangan Rara lalu menggenggamnya erat. "Kalau kau punya masalah, tolong jangan lakukan hal seperti tadi." lirih anak muda yang terkenal akan kesombongannya di seluruh penjuru kota ini.
"Melakukan apa?" Rara bingung akan ucapan Mic.
"Kau tidak ingat?"
Rara menggeleng. Hal itu semakin membuat Mic sedih. Sekarang dia benar-benar yakin, gadis di hadapannya ini tengah memiliki masalah dengan kesehatan jiwanya.
"Rara..." akhirnya Mic menceritakan bagaimana dia menemukan Rara di danau pagi ini. Gadis itu hampir mati tenggelam, dan beruntung Mic yang secara kebetulan atau memang sengaja melihat Rara dan menolongnya.
Lagi-lagi Rara membekap mulutnya. Dia begitu terkejut mendengar penuturan Mic.
"A..aku benar-benar melakukan hal seperti itu?" Rara benar-benar tidak percaya.
Mic mengangguk lemah. "Kau benar-benar tidak mengingat apapun?"
"Tidak. Aku tidak mengingat apapun. Yang kuingat hanyalah aku sedang duduk di sana sambil melihat ibuku."
"Ibumu?" Mic berusaha mencerna ucapan Rara. Bagaimana mungkin ada ibunya di sana, sedangkan Mic sangat ingat dengan jelas, tidak ada seorang pun di sana kecuali dirinya dan Rara. "Bukankah ayah dan ibumu ada di Indonesia?"
"Tidak. Ibuku sudah meninggal enam tahun yang lalu." ucap Rara lagi.
Mic semakin bingung akan ucapan gadis ini. Ternyata begitu banyak hal yang tidak dia ketahui tentang gadis ini. Mic menyesal tidak menyelidiki Rara sejak pertama kali mereka bertemu.
"Tapi, aku tidak melihat siapa-siapa di sana." ucap Mic yang ingin mengetahui lebih dalam lagi.
"Kau tidak melihatnya? Ibuku ada di tengah danau itu. Dia memanggilku...."
"Sst..." Mic menempelkan telunjuknya di bibir Rara. "Jangan diteruskan lagi. Kau harus istirahat." berusaha mendorong agar Rara kembali berbaring.
"Tidak Mic. Aku harus pulang." Rara menolak.
"Rara, kau masih sangat lemah. Lihat lukamu, akan infeksi jika tidak dirawat dengan baik."
"Tidak usah Mic. Aku bisa mengobatinya di rumah." Rara bersikukuh tidak mau dirawat lebih lama lagi.
Mic menghela nafas berat, dia melirik dua orang perawat yang ada di sana sedari tadi, lalu memberikan isyarat pada mereka.
Kedua perawat itu mendekatkan Rara, lalu menahan tubuh Rara, dan kemudian salah satu perawat itu menancapkan jarum suntik di lengan gadis itu.
Tidak butuh waktu lama, kesadaran Rara berangsur-angsur menghilang, hingga akhirnya terkulai lemah di atas ranjang.
Setelah memastikan Rara sudah tenang di atas brankar, Mic mengusap kepala Rara dengan penuh iba. Dia begitu penasaran dengan hidup gadis ini.
"Bawa aku bertemu dengan dokter psikiater terbaik di rumah sakit ini!" perintahnya pada kedua perawat itu.
TBC ☘️☘️☘️