Sebelum membaca di sarankan untuk membuka novel yang berjudul "Calon Istri Pengganti Tuan Abian" karena ini adalah lanjutan dari novel tersebut.
Cerita yang di angkat tentang perilaku suami yang bersosok malaikat selalu mampu membuat hati sang istri meleleh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24. Kemarahan Indira
Abian dan Bram segera keluar dari ruangan rawat itu.
"Kali ini biarkan aku sendiri yang menghabiskannya, Bram." ucap Abian.
"Baik, Tuan." sahut Bram.
Indira yang baru sadar membuat Nyonya Ningrum segera keluar memanggil Abian. Panggilan itu mencegah Abian untuk pergi bersama Bram.
Nyonya Ningrum sadar dengan kepalan tangan Abian. Matanya bisa membaca seperti ada yang tidak beres saat ini.
"Kita pergi sekarang."
"Abian, Indira sudah sadar." panggil Nyonya Ningrum.
Tanpa menjawab Abian segera masuk menyusul Nyonya Ningrum.
"Sayang, akhirnya kau sadar juga aku sangat mengkhawatirkan mu. Lihat anak kita sedih melihat mu tidur terlalu lama." ucapnya.
"Maafkan aku, Bi." ucap lirih Indira.
"Rabian, maafkan Mamah sayang."
"Kemari Rabian sama Mamah." Air mata Indira jatuh membasahi wajahnya melihat tubuh putra kesayangannya terluka.
Ia memeluk tubuh Rabian yang masih nampak mata sembab di sana.
"Sakit, Sayang? lain kali Rabian tidak boleh keluar tanpa Mamah yah."
Indira memeluk erat tubuh bocah itu dan mencium penuh kasih.
Abian mendekat pada keduanya. "Maafkan aku, Sayang. Ini karena aku." ucapnya penuh sesal.
"Abian, ini sudah memang kecelakaan. Tidak ada orang yang bisa menghindari itu. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri."
Nyonya Ningrum mendekat memberikan ketenangan pada anak dan menantunya.
Indira masih ketakutan melihat Rabian yang memeluk dirinya dengan erat.
"Bi, apa sebenarnya ini?" tanya Indira masih tidak mengerti dengan insiden itu.
"Afrah, Sayang." jawab Abian.
Wajah sedih Indira berubah seketika merah padam. Mendengarnama wanita itu disebut suaminya iya pahat jika pelakunya adalah Afrah. Air mata yang sejak tadi turun di mata indah Indira terhenti dengan cepat.
"Bawa aku bertemu dengannya." ucapnya tegas.
"Sayang, biarkan aku-"
"Bawa aku, Bi." ucap Indira benar-benar tidak bisa terlihat lagi keibuannya saat ini.
Kelembutan yang selalu terpancar di dirinya selama ini sirna seketika, saat berliannya yang paling berharga berani di usik oleh orang luar.
Abian ragu melihat kesehatan istrinya, namun ia juga tidak bisa marah atau pun melarang Indira karena ini semua karena kecerobohan dirinya.
"Baiklah, aku akan pergi sendiri." tutur Indira yang ingin menginjakkan kakinya ke lantai rumah sakit itu.
"Sayang, biarkan aku menggendong mu. Mami, tolong tenangkan Rabian, yah."
Rabian segera di gendong Nyonya Ningrum yang sudah tampak tenang. Sementara Abian, Bram dan Indira sudah menuju mobil.
Bram melajukan mobilnya tempat di mana anggotanya mengurung Afrah.
***
Sampai di sebuah bangunan sepi yang berada di belakang kantor Abian kini mobil masuk melewati gerbang.
Sepanjang jalan itu suasana di mobil tampak hening, Indira sama sekali tidak mengajak Abian berbicara. Abian bisa melihat kemarahan istrinya yang benar-benar ingin meledak kapan saja.
Mobil berhenti, dengan sigap Abian menggendong Indira karena ia takut jika istrinya akan pendarahan lagi.
Indira sendiri masih merasa tidak begitu kuat, namun gemetar di tubuhnya ingin sekali ia lampiaskan saat itu juga.
Arah benar telah salah mengambil tindakan kali ini. Ia mungkin tidak mengenal banyak tentang Indira.
Seperti kebanyakan orang di luar yang hanya memandang orang dari luar atau dari penampilan saja.
Pintu gudang terbuka cepat. Di sana Afrah sudah duduk terikat di kursi. Matanya menangkap Indira yang datang di gendong suaminya mendekat padanya.
"Kalian, lepaskan aku. Beraninya kalian mengikat ku seperti ini." teriak Afrah.
"Turunkan aku." ucap Indira tanpa menyebut panggilan kesayangannya pada Abian.
Abian menatap ragu, namun Indira kembali membalas tatapan suaminya mengisyaratkan jika harus menurut apa yang di katakan Indira.
Abian pun menurunkan tubuh istrinya meski ragu.
Kali ini sepertinya kemarahan Abian tertutup karena rasa khawatirnya terlalu membuat dirinya kehilangan kesadaran.
Justru Indira yang sudah menggantikan sifatnya saat ini.
Afrah menatap langkah Indira yang semakin mendekati dirinya.
"Mau apa kau? jangan coba menyentuh diriku." pekik Afrah yang terus meronta dari ikatan itu.
Tanpa bisa terhitung tangan Indira sudah mendarat begitu kerasnya layaknya orang yang sedang berlatih meninju.
"Astaga." Suara Bram begitu jelas terdengar meski hanya berucap pelan.
Mata Abian dan Bram fokus menatap gerakan Indira yang begitu benar-benar melampiaskan kemarahannya.
Sesekali Afrah yang bisa berteriak kesakitan bersamaan dengan setiap pukulan yang di daratkan oleh Indira.
Wajah, perut bergantian mendapatkan pukulan dari Indira.
Abian hanya terdiam mencerna apakah dirinya saat ini membawa istrinya atau pasien yang lainnya.
"Ini penghargaan untukmu wanita gatal." Suara Indira meninggi saat kakinya menginjak kepemilikan Afrah tanpa alas kaki.
"Ah..." teriak Afrah yang sudah tidak bertenaga.
Wajah cantik yang lusuh akibat kerjaan Rabian kini sudah tidak lagi tampak mulus. Beberapa lebam di wajah bahkan tubuhnya pasti sudah tertinggal jelas karena ulah Indira.
"Kau berani menyentuh putraku, aku tidak akan segan membuat dirimu cacat Afrah. Kau rasakan ini."
Indira kembali meninju mulut wanita itu hingga terlihat bibir Afrah yang pecah di bagian atas.
Indira bisa merasakan tangannya yang terasa nyeri, namun hatinya jauh lebih sakit melihat keadaan Rabian saat ini.
Puas dengan pelampiasannya saat itu ambruk seketika. "Sayang. Bram, siapkan mobil." teriak Abian yang berlari menangkap tubuh istrinya.
"Afrah, kau telah salah langkah. Urusan kita belum usai." Abian pergi menatap wanita yang sudah terduduk lemah dengan tatapan kaburnya karena kepalanya juga pusing.
Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi, Bram masih menggelengkan kepalanya. Ia sungguh tidak habis pikir dengan keanggunan Indira selama ini ada jiwa preman di dirinya.
"Ternyata bukan hanya istriku saja wanita jadi-jadian. Bahkan Nyonya bisa berubah selembut kapas dan bisa berubah menjadi monster mengerikkan. Aku tidak habis pikir jika sampai Gia mengalami hal seperti itu mungkin aku sendiri tidak bisa melawannya layaknya wanita." gumam Bram sepanjang perjalanan.
"Sayang, bangunlah." tutur Abian menepuk pelan pipi Indira.
***
Gibran yang baru selesai mengerjakan pekerjaan di ruangannya kini segera mengemasi berkas yang sudah selesai.
"Sudah selesai?" tanya Maureen.
"Iya, ayo kita ke kampus." ajak Gibran.
Keduanya berjalan menuju keluar kantor dan Gibran melajukan mobilnya ke arah kampus.
Selama di perjalanan suasana begitu hangat, namun tiba-tiba Maureen mengingat sosok Dita.
"Bagaimana Dita?" tanyanya.
Gibran beralih sebentar menatap kekasihnya yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Dia baik-baik saja, bahkan Dita sepertinya sudah memiliki kekasih." tutur Gibran jujur.
"Kau tahu tentangnya?" tanya Maureen mulai menatap Gibran dengan serius.
"Hey jangan berprasangka buruk, aku hanya sesekali mengecek memastikan jika Dita tidak melakukan hal bodoh lagi. Jangan sampai wanita itu bunuh diri lagi. Dan saat aku melihat ada seorang pria yang bersamanya aku rasa mereka memiliki hubungan yang baik. Dan aku memutuskan untuk tidak mengeceknya lagi." terang Gibran.
"Kau cemburu yah?" tanya Gibran menggoda Maureen.
"Ti-tidak siapa yang cemburu lagi pula aku juga khawatir padanya." ucap Maureen berbohong. wajah putihnya memerah karena malu.
ika widya
semoga lbh seru y....😘