Hidup itu penuh dengan pilihan, dan kita diharuskan untuk memilih tapi kita juga diharuskan untuk menerima hasil dari pilihan kita ~ Banyu Biru
Bagaimana perasaanmu jika hanya karena pesan dari mendiang kakekmu yang mengharuskan dirimu menikah diusia dua puluh enam tahun, ibumu menjodohkan dirimu dengan seorang gadis yang sudah memiliki kekasih, karena kekasihmu selalu menolak lamaran darimu.
Banyu Biru, diminta oleh sang ibu untuk segera menikahi kekasih hatinya yang sudah ia pacari selama empat tahun lebih. Tetapi sialnya kekasihnya selalu saja menolak lamaran dari dirinya.
Pada akhirnya ibunda Banyu menjodohkan dirinya dengan seorang gadis cantik yang masih berstatus mahasiswi dan bahkan masih memiliki kekasih, hanya karena Banyu kini sudah berusia dua puluh delapan tahun.
Apakah Banyu dan gadis itu akan menerima perjodohan tersebut?
Atau mereka akan menjalin pernikahan kontrak seperti novel-novel yang sedang booming saat ini?
Simak kisah mereka dalam cerita ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
"Kenapa? Apa kau mau melakukannya?"
Jingga menggeleng cepat dengan mata melebar.
Banyu tertawa. Tangannya terulur mengacak-acak rambut gadis itu. "Baiklah, karena kamu tidak mau, kita tidak akan melakukannya sampai kamu memintanya sendiri kepadaku," ujarnya sembari menahan senyum.
Jingga semakin melebarkan matanya. Mana mungkin dirinya meminta hal seperti itu pada suaminya, batinnya.
"Aku tidak mau kita melakukannya tanpa ada rasa cinta. Kamu juga tahu, kita menikah tanpa rasa cinta diantara kita. Jadi, selama kita belum saling mencintai kita tidak akan melakukannya. Paham?"
Jingga mengangguk. Senyumnya terukir jelas. Ia tidak menyangka Banyu akan sebijak itu dalam hal seperti ini. Padahal, jika dipikirkan lagi, Banyu 'lah yang akan dirugikan. Tapi pria itu masih memikirkan kenyamanan dari dirinya.
Ah, beruntungnya memiliki suami pengertian, batinnya.
Setelah mengatakan itu Banyu beranjak menuju kamar mandi. Ia mengganti celana panjangnya dengan celana pendek kesukaannya. Ia kembali menghampiri ranjang dan hendak merebahkan diri namun tertahan oleh suara Jingga.
"Mas Banyu tidur di sini?"
Banyu menautkan alisnya. Pertanyaan macam apa itu, batinnya. "Tentu saja. Memang di sini asa ranjang lain? Tidak mungkin juga aku harus pulang ke apartemen dan tidur di sana," ujarnya.
Benar juga, batin Jingga.
"Kalau begitu aku akan tidur di sofa." Jingga mengambil bantal, namun ditahan oleh Banyu.
"Kita sudah suami istri tidak masalah kita tidur bersama. Apa kamu tidak mau berbagi kasurmu ini?"
Jingga salah tingkah, matanya berputar kemana-mana. Bukannya tidak mau, Jingga hanya merasa sungkan. Bagaimana nanti kalau Banyu khilaf, tidak lucu bukan?
"Hei, kamu benar-benar tidak mau satu tempat tidur denganku? Jika iya, aku saja yang tidur di sofa." Lanjut Banyu sembari berdiri dari posisi duduknya.
"Eh, tidak-tidak. Bukan seperti itu." Kali ini Jingga yang menahan Banyu.
"Aku tadi hanya merasa tidak enak dengan Mas Banyu. Aku takut kamu tidak nyaman." Bohong. Bukan itu alasannya, bukan Banyu yang akan merasa tidak nyaman, tapi Jingga sendiri.
Banyu berdecak.
"Baiklah, tidak ada yang tidur di sofa!" Mata Jingga meneliti kamarnya. "Tapi, bisakah kita menggunakan pembatas?"
Banyu tersenyum. "Kenapa? Kamu takut terjadi sesuatu?" tanya Banyu dengan manaik turunkan alisnya.
Bibir gadis cantik itu mengerucut lucu. Mengundang gelak tawa Banyu. Tapi tak lama kemudian ia menghentikan tawanya, saat wajah istrinya menunjukkan rasa kesal.
"Ok, kamu tidur di situ, aku di sini. Gulingnya diletakkan di tengah," ujar Banyu sembari meletakkan guling dibagian sisi tengah kasur.
Setelah itu mereka sama-sama merebahkan diri. Banyu yang memang tipe mudah tidur langsung terlelap menggapai mimpinya. Sedangkan Jingga, matanya masih begitu terang, rasa kantuknya hilang entah ke mana setelah tubuhnya mendarat dengan cantik di atas kasurnya.
Terasa aneh bagi Jingga berada dalam satu ruangan gelap bersama seorang pria. Ia terbiasa sendiri dalam gelapnya malam. Namun, ia tetap mencoba memejamkan mata. Mencoba untuk menyelami alam bawah sadar. Dan hasilnya, Jingga masih terjaga setelah satu jam yang lalu Banyu terlelap. Sesekali ia melirik pria yang telah menjadi suaminya itu, meskipun terhalang guling.
Terbiasa tidur dengan posisi miring, membuat Jingga merasa lelah saat posisinya yang sedari tadi telentang. Dengan berani ia menghadapkan tubuhnya ke arah sang suami, dan mencoba untuk menutup matanya. Seperti sudah biasa, tangannya refleks meraih guling dan mendekapnya erat. Tak butuh waktu lama, gadis itu sudah mengarungi dunia mimpi sembari menaiki awan yang tinggi di ujung bumi.
*
*
*
*
Udara dingin menyeruak kulit tubuh Jingga. Membuatnya semakin erat mendekap sesuatu yang begitu hangat. Pipinya mengusap-usap benda itu, mencari kehangatan lebih.
"Kenapa guling gue jadi tambah anget sih," batinnya tanpa membuka mata. Bibirnya tersenyum, tangannya kembali mendekap semakin erat tatkala embusan angin terasa masuk ke dalam kamarnya.
"Kok guling gue jadi wangi gini, perasaan kemarin nggak sewangi ini deh," gumamnya lagi.
"Anget banget guling gue, kek kulit manusia," gumamnya lagi. "Tunggu, manusia" Seketika itu juga mata Jingga terbuka lebar, setelah menyadari sesuatu.
Hal pertama yang ia lihat sesuatu berwarna putih, bukan biru seperti gulingnya. Jantungnya berdebar tiba-tiba. Perlahan Jingga mendongak, dan benar saja, sesuatu yang ia dekap sejak tadi suaminya dan bukan guling. "Astagaaaa," jerit Jingga dalam hati. Ia segera menarik lengannya yang masih setia bertengger pada tubuh pria yang posisinya menghadap dirinya. Dengan segera Jingga turun dari ranjang dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
Di dalam sana Jingga merutuki kelakuannya sendiri. Namun, ia bersyukur Banyu belum bangun dan menyadari ia telah memeluk pria itu, entah sejak kapan. Setelah detak jantungnya mulai beroperasi seperti biasa, Jingga mulai membersihkan diri.
*
*
*
*
Banyu terbangun dari tidurnya. Ia merasakan ada seseorang yang memeluknya dengan begitu erat. Banyu sempat terkejut melihat istrinya begitu dekat dengan dirinya. Tapi ia juga tersenyum melihat wajah cantik istrinya saat matanya terbuka. Tak ada niat dari Banyu melepaskan dekapan sang istrinya yang begitu hangat. Ia dengan senang hati menikmati dekapan itu, sembari memandang wajah polos istrinya.
Sudah setengah jam setelah ia bangun, tapi istrinya masih terlelap. Ia kembali tersenyum saat sang istri mengeratkan dekapannya. Hangatnya tubuh gadis itu merasuk ke dalam tubuhnya. Dan saat ia merasa ada pergerakan lain dari istrinya ia memilih untuk kembali memejamkan mata. Tak lama kemudian ia merasakan tangan gadis itu ditarik dari tubuhnya, dan kemudian ia merasa ada pergerakan lebih dari istrinya hingga menimbulkan gelombang pada kasur mereka. Banyu mendengar langkah kaki yang cukup cepat, membuatnya mengerti bahwa istrinya telah bangun dan langsung pergi ke kamar mandi. Banyu tersenyum membayangkan bagaimana reaksi sang istri saat bertemu dengannya nanti.
Sembari menunggu sang istri mandi, Banyu menaikkan kembali selimutnya, menghalau angin dingin yang mulai menggoda tubuhnya.
*
*
*
Dua puluh menit berlalu. Jingga keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk pada kepalanya. Ia sedikit terjingkat saat melihat suaminya duduk bersandar pada kepala ranjang sembari memainkan gawainya. Pikirannya kembali pada saat ia baru saja membuka mata tadi.
Bagaimana kalau ternyata pria itu sudah terbangun tadi. Tapi tidak mungkin juga, matanya jelas terpejam tanpa ada rasa terganggu sedikitpun, batinnya. Ah, sudahlah! pura-pura tidak terjadi sesuatu saja, lanjutnya.
Banyu menyembunyikan senyumnya melihat istrinya yang dengan santai duduk di depan meja rias sembari mengeringkan rambut menggunakan hairdryer. Puas memandangi sang istri, Banyu menghampiri kamar mandi guna membasuh tubuhnya.
*
*
*
"Papa sudah menunggu untuk sarapan," ujar Jingga setelah suaminya keluar dari kamar mandi.
Banyu mengangguk dan mengikuti langkah Jingga menuju ruang makan.
Sampai di sana, ternyata semua sudah berkumpul termasuk kakak Jingga, Iren. Mereka berdua langsung mendudukkan diri di hadapan mama Kiran dan Iren.
Tak ada percakapan hangat seperti di rumah Banyu. Semua diam dan fokus pada hidangan masing-masing.
Setelah selesai sarapan, papa Arta meminta Banyu untuk mengikutinya. Ada beberapa hal yang ingin ia sampaikan, katanya. Dan Banyu dengan begitu patuh mengikuti langkah papa mertuanya.
Sembari menunggu sang suami, Jingga memasukkan beberapa baju ke dalam kopernya. Walaupun kemarin ia sudah mengemasi barang-barangnya, tetapi ternyata masih banyak barangnya yang tertinggal.
Total ada tiga koper, dua koper besar berisi semua pakaiannya dan satu koper kecil berisi semua koleksi buku miliknya.
Jingga kembali meneliti kamarnya, takut masih ada yang tertinggal. Tapi sepertinya semua yang harus ia bawa ke apartemen suaminya sudah masuk ke dalam koper. Dan gadis itu bernapas lega setelah selesai membereskan barang-barangnya. Ia hendak merebahkan diri, namun suara pintu terbuka mengurungkan niatnya.
"Sudah siap?" tanya Banyu sembari menatap tiga koper Jingga. Kening pria itu berkerut, menunjukkan rasa bingung. Ia kira istrinya akan membawa empat hingga lima koper, ternyata hanya dua koper besar dan satu koper kecil. Sungguh diluar dugaan.
Jingga mengangguk, kemudian merapikan rambutnya didepan cermin, setelah itu mendekati suaminya dan menggenggam satu koper besar miliknya.
Mereka berdua keluar dari kamar dan turun menuju ruang keluarga, dimana kedua orang tua Jingga tengah duduk bersantai.
Salah seorang pelayan membantu Banyu dan Jingga untuk membawa ketiga koper tersebut.
"Pa, Ma, Banyu dan Jingga pamit. Kita akan berkunjung lagi nanti," pamit Banyu sembari menyalami tangan orang tua Jingga.
"Jaga putri papa ya nak Banyu, tegur dia kalau dia salah," pesan papa Arta pada menantunya.
Jingga memeluk papanya dengan erat. Sangat berat bagi Jingga untuk meninggalkan cinta pertamanya ini. Seorang pria yang selalu mendukungnya, yang selalu membelanya saat dia disalahkan, dan yang selalu ada saat Jingga merasa sedih.
"Anak papa kok nangis, udah jadi istri orang loh. Nggak malu sama suami kamu?"
Pria paruh baya itu mengusap air mata putrinya yang tengah terisak. Sebenarnya ia juga ingin menangis mengingat putrinya yang begitu manja ini akan pergi. Namun, ia tak bisa melakukannya. Ia tidak mau putrinya merasa semakin berat untuk meninggalkan rumah ini.
"Sudah, jangan menangis lagi. Kalau rindu papa, kamu bisa datang ke sini," ujarnya penuh kelembutan.
Jingga mengangguk, kemudian mengalihkan pandangannya pada sang mama. Ia hanya mencium tangan wanita yang telah melahirkannya itu. Jangan harap akan ada pelukan hangat dari ibunya, karena itu tidak akan pernah terjadi.
Selesai berpamitan, Banyu segera mengajak Jingga menuju ke kediaman keluarga besarnya.
Jangan lupa like dan komen