Anjani, 21 tahun. Baginya memiliki suami tampan dan mapan adalah keberkahan. Namun, siapa sangka keberkahan itu akan menjadi sebuah ujian. Suami Anjani, banyak didekati wanita cantik nan sexy. Sembari menjalani peran sebagai istri sekaligus mahasiswi di kampus baru, Anjani belajar meredam kecemburuan dan prasangka macam-macam yang seringkali melemahkan kesetiaan.
Ketika Anjani hamil besar, datanglah kabar yang menguji jalinan ikatan cinta halal. Sang suami meminta izin untuk menikahi rekan bisnisnya lantaran sebuah skandal. Apakah Anjani akan mengizinkan dan bertahan menjalani takdirnya bersama sang suami, sembari menahan perih? Atau justru mengakhiri janji suci dan menikah lagi dengan teman kampus yang sedari awal dicemburui oleh sang suami?
Dapat mengobrak-abrik rasamu. Harap bijak untuk tidak baper berlebihan. Enjoy reading dan terima kasih sudah mampir. 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Hapsari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 : Ceroboh
Pesawat tiba di bandara mendekati pukul sembilan. Mario, Lovey, Paman Li dan rombongan telah kembali membawa kontrak kerjasama yang menguntungkan perusahaan. Tidak sia-sia usaha mereka seminggu ke belakang. Bisa dipastikan perusahaan Mario dan Lovey namanya akan lebih dikenal.
"Vey, pikirkan baik-baik tentang bodyguard itu." Mario berpesan sebelum masing-masing dari mereka menuju mobil jemputan.
"Its oke, sudah dalam perencanaan. Terima kasih atas kerjasamanya satu minggu ini, Mario. Mulai sekarang, kita akan jarang bertemu, kecuali ada urusan bisnis yang mengharuskanku bertemu denganmu. Sampaikan salamku untuk istri tercintamu itu. Ini, tolong berikan hadiah dariku untuknya." Lovey memberikan papar bag berisi oleh-oleh untuk Anjani.
"Terima kasih. Akan kusampaikan pada Anjani."
Lovey balik badan usai memberikan senyuman. Langkahnya segera menuju mobil jemputan yang menunggu. Namun, baru beberapa langkah saja kaki diayunkan, Lovey terjatuh.
"Aduh!" seru Lovey.
Mario yang sudah meraih pintu mobil, urung masuk lantaran mendengar seruan Lovey. Begitu balik badan, Mario mendapati Lovey jatuh terduduk sambil memegangi kaki kanannya. Mario bergegas menghampiri, disusul Paman Li dan sekretaris Lovey.
"Apa sakit?" Mario memeriksa kaki Lovey yang lebam.
"Aw! Jangan disentuh, Mario!" Lovey protes.
"Berarti sakit," ujar Mario dengan santainya.
"Sakitnya sih nggak seberapa, tapi malunya ...." Lovey memperhatikan sekretarisnya dan sekretaris Li yang menatapnya khawatir. Memang, sakit yang dirasa tidaklah sebanding dengan rasa malu yang melanda.
Mario berdiri, tidak membantu Lovey. Tawa ringan justru Mario tampilkan kemudian.
"Sedari kemarin kamu ceroboh, Vey." Mario mengulurkan tangannya, kemudian membantu Lovey berdiri.
"Ya mana kutau kalau bakal jatuh," celetuk Lovey sambil cemberut.
"Lain kali pakailah sepatu biasa. High heels memang menunjang penampilan seorang wanita, tapi perhatikan juga penggunaannya, apalagi saat tubuh lelah. Salah langkah bisa seperti ini akibatnya," nasihat Mario dengan sikap santainya.
Lovey tidak menanggapi. Dirinya terus cemberut, tapi menurut saat Mario memapahnya masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih, Pak Mario."
Sekretaris Loveylah yang berterima kasih, sementara Lovey masih terus cemberut sambil menahan rasa malu yang tak kunjung surut.
"Sama-sama. Minta tolong bawa Bu Lovey ke rumah sakit untuk mengobati kakinya," pesan Mario pada sekretaris Lovey.
"Nggak perlu. Emang lebam di kakiku segawat itu. Sudah. Kamu pulang saja sana. Ingat ya, sampaikan hadiahku buat istrimu. Da!" Lovey menjulurkan lidah, menampilkan senyum sekilas, lantas melambaikan tangannya.
Mario geleng-geleng kepala. Dibalasnya lambaian tangan Lovey, kemudian balik badan menuju mobilnya. Tak lupa pula Mario meletakkan oleh-oleh dari Lovey di samping oleh-oleh yang telah disiapkannya untuk Anjani.
"Mohon maaf, Tuan. Saya perhatikan Tuan Mario semakin akrab saja dengan Nona Lovey." Paman Li memulai obrolan ketika mobil sudah dilajukan.
"Keakraban kami hanya sebatas rekan bisnis saja, Paman." Mario santai menanggapi.
Kepala Paman Li tampak mengangguk-angguk. Meski berstatus sebagai sekretaris dan orang kepercayaan, tapi Paman Li juga sering menasihati Mario macam-macam layaknya seorang ayah pada anak lelakinya.
"Alangkah lebih baik jika Tuan Mario sedikit menjaga kedekatan dengan Nona Lovey. Mengingat pula karakter Nona Anjani yang pencemburu. Khawatirnya kesalahpahaman seperti yang terjadi dengan Nona Ayu waktu itu terulang lagi, Tuan." Paman Li mengingatkan.
"Terima kasih nasihatnya, Paman." Hanya itulah yang Mario sampaikan sebagai tanggapan.
Paman Li percaya pada Mario. Apalagi Paman Li adalah salah satu saksi perjuangan Mario mendapatkan hati Anjani saat Mario-Anjani masih sama-sama di bangku kuliah. Meski banyak yang menaruh hati pada Mario, tapi Anjani tetap menjadi pilihan utama. Paman Li dengan jelas masih mengingatnya, dan sampai saat ini masih percaya bahwa Mario akan setia satu hati pada Anjani.
"Tuan, mau langsung pulang atau ke kantor lebih dulu?" Paman Li menawarkan.
Mario melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Masih ada waktu kurang lebih satu setengah jam sebelum Mario mengantar Anjani periksa kandungan.
"Ke kantor saja dulu, Paman. Walau bagaimana pun posisiku masih seorang wakil direktur. Akan kusampaikan secara lisan laporan selama satu minggu perjalanan pada direktur. Aku pun akan meminta izin pulang lebih awal untuk menemani Anjani periksa kandungan." Mario bersikap profesional.
"Baik, Tuan. Akan saya temani menemui direktur. Laporan secara tertulis dan pengarsipan dokumen penting hasil perjalanan beserta kontrak yang didapatkan akan saya urus kemudian."
"Oya, Tuan. Pemindahan Tuan Ken dari kantor cabang ke induk perusahaan sudah mulai berjalan. Tuan Ken bisa bekerja bersama Tuan Mario mulai minggu depan."
"Baik. Terima kasih atas bantuannya, Paman." Senyum Mario mengembang. Kau akan menemukan obat patah hatimu di sini, Ken.
Pikiran Mario kembali fokus pada pekerjaan. Begitu sampai di kantor, Mario langsung menemui direktur. Disampaikannya segala hal baik yang didapat selama seminggu. Diskusi ringan seputar rencana ke depan juga sempat menjadi topik perbincangan. Hingga dirasa cukup, Mario pun pamit pulang lebih awal demi mengantar Anjani periksa kandungan.
Mario mengemudikan mobilnya sendiri kali ini. Oleh-oleh untuk Anjani tak lupa disiapkan di kursi belakang dan telah tertata rapi. Mario sempat mampir sebentar ke toko bunga guna membeli sebuket mawar putih untuk Anjani. Bagi Mario, keromantisan dengan sang istri adalah hal wajib yang perlu dijaga. Kerap kali juga setangkai mawar pemberian akan berbalas pelukan mesra.
"Biar saja aku modus sebentar lewat perantara bunga mawar," gumam Mario sambil meletakkan buket mawar di kursi samping kemudi.
Senyum Mario semakin mengembang. Berangan mendapat perhatian dan perlakuan romantis dari Anjani usai satu minggu LDR-an. Akan tetapi, senyum Mario langsung memudar kala tiba di rumahnya.
"Anjani!" seru Mario.
Pintu mobil dibuka dan ditutup Mario dengan kasar. Langkah Mario tergopoh mendekati Anjani dalam gendongan Bastian. Mario semakin panik karena melihat Anjani dalam kondisi pingsan.
"Ada apa dengan istriku?"
"Pingsan."
"Minggir! Biar aku yang menggendong Anjani!" Di saat seperti ini Mario masih saja sempat mengurus rasa cemburunya.
Bastian mengalah, karena melihat raut wajah tak sedap yang terarah padanya. Bastian membiarkan Mario mengambil alih gendongan. Sementara dirinya membukakan pintu mobil bagian belakang.
"Ke rumah sakit terdekat, ya Pak!" perintah Mario pada Pak Gun.
"Siap, Tuan."
Wajah Anjani yang pucat terus diperhatikan oleh Mario. Diusapnya pelan pipi Anjani yang terasa hangat karena demam.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Pak?" Mario bertanya pada Pak Gun.
"Kronologi ketika pingsan saya kurang tau, Tuan. Setelah menjemput dari kampus, saya langsung ngantar Mbok Darmi ke pasar seperti biasanya. Pas sampai rumah, tau-tau Non Anjani sudah digendong Mas Bas."
"Apa beberapa hari ini istri saya terlihat kurang enak badan, Pak?"
"Setau saya baik-baik saja. Tidak terlihat kurang enak badan." Pak Gun menjawab apa adanya.
Mario tak lagi mengajukan tanya, melainkan menyuruh Pak Gun untuk mempercepat laju mobilnya.
"Tolong istri saya, Dok. Dia sedang hamil." Mario terlihat panik.
"Bisa terangkan apa yang terjadi?"
"Istri saya tadi ...." Mario menggantung kalimatnya karena memang tidak tau penyebab Anjani pingsan.
"Namanya Anjani, Dok. 21 tahun. Sedang mengandung. Tadi pingsan karena terpeleset dan kepalanya terbentur. Badannya sedikit hangat karena demam. Pagi hari juga sempat bilang kelelahan." Bastianlah yang memberi penjelasan, usai berhasil mengekor di belakang mobil hingga ke rumah sakit tujuan.
Penjelasan Bastian membuat Mario tertampar. Merasa kurang berguna sebagai suami karena sama sekali tidak tahu kondisi Anjani.
"Baik. Tolong salah satu ada yang mengurus di loket pendaftaran."
Mario hendak menanggapi, tapi lebih dulu Bastian yang menyahuti.
"Pinjam kartu identitasnya Anjani. Biar aku bantu urus. Kamu yang lebih berhak menemani Anjani di sini." Bastian paham situasi.
Sempat bingung, tapi pada akhirnya Mario mengiyakan instruksi Bastian. Mario duduk diam menanti kabar usai beberapa menit Anjani dalam penanganan.
Bastian bergabung bersama Mario usai mengurus di loket pendaftaran. Canggung, itulah situasi yang terjadi antara Mario dan Bastian. Duduk bersebelahan, tapi hingga beberapa menit tak kunjung memulai obrolan.
Bersambung ....
Terima kasih sudah hadir dan membaca. Mampir juga ke novel pertama author yang berjudul Cinta Strata 1, ya. Kisah Mario-Anjani bermula dari sana. Kenal juga sahabat baiknya Anjani, Meli. Merapat ke novel Menanti Mentari karya my best partner, Kak Cahyanti. Dukung kami 💙
NB : Novel IKATAN CINTA ALENNA sudah END di episode 63. Silakan mampir bagi yang kepo sama kisah bar-bar adik bulenya Mario.
🌸😉 Yuk update aplikasi NovelToon atau MangaToon kalian agar bisa leluasa mendukung author dengan hadiah, vote, like, dan komentarnya. Barakallah kakak-kakak online yang baik. 😉🌸
***
Emang Mamanya kemana???
Sedangkan sewaktu Ayah Mario selepas pulang dari Bandara kan bareng Mamanya,terus kenapa " Ada tapi seakan tiada."?!
😤😤😤