Sebelum membaca ini, mohon pahami Novel yang berjudul "PERFECT PARADISE" Bisa langsung baca di bab ke 350+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhewhy M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Saat tiba di restoran, Eun Mi langsung duduk bersandar di kursi paling ujung dengan wajah lesunya. Kesempatan Daus mendekatinya, sejak ia melihat Eun Mi untuk pertama kalinya di pernikahan Aminah dan Raditya, Daus sudah jatuh hati kepadanya.
"Hai,"
"Kamu terlihat lesu sekali, ada yang bisa saya bantu?" tanya Daus basa-basi.
"Kamu bicara kepadaku?" tanya Eun Mi.
Daus mengangguk.
"Oh, maaf.. ada apa?" tanya Eun Mi menengok ke kanan kiri.
Di Korea, jarang sekali ada orang sok kenal dan langsung basa-basi seperti itu. Di sana akan dianggap tidak sopan, karena Eun Mi berada di negara lain, jadi ia bersikap normal saja. Apa lagi, Daus juga teman dari sahabatnya.
"Aku lelah, bisakah kau beri aku menu?"
Segera Daus memberikan menu, ia juga sangat ramah merekomendasikan makanan mana yang sangat digemari di restoran itu. Tatapan Eun Mi seketika berubah, ternyata Daus mampu menghiburnya dari kegalauan yang akan ditinggal menikah Hae Jun.
"Aku akan buatkan makanannya dulu, sebaiknya kamu makan hidangan gratis dari kami, tunggu ya...."
Bergegas Daus ke dapur dan menyiapkan sendiri pesanan Eun Mi. Membuat Yusuf yang saat itu di dapur bersamanya membuat tertawa sendiri. Yusuf juga mengingatkan untuk tidak jatuh hati lebih dalam, karena Eun Mi masih mencintai Hae Jun.
"Jangan merusak kebahagiaanku, deh!" kesal Daus.
"Haha, fighting! Aku akan mendukungmu, sob!" seru Yusuf menempuh bahu Daus.
Saat ia memegang pisau, Yusuf teringat dengan Rebecca yang saya ini sedang jauh dengannya. Biasanya, ketika dirinya sibuk memasak, Rebecca akan usil mengganggu dirinya. Sering kali Rebecca harus terkena masalah, dihukum mencuci piring karena selalu membuat kesalahan.
"Sedang apa dia? Bagaimana keadaannya sekarang? Kenapa Allah memberi perasaan ini kepadaku?" batinnya sembari mengiris daging.
"Jika kau ada di sini, kau akan menggangguku saat memasak. Tapi, saat kau tak ada di sini, pikiranku yang kau ganggu, Rere. Sehatkan kamu di sana?"
Meski pikirannya terganggu, itu tidak sama sekali mengganggu konsentrasinya ketika memasak. Sudah bertahun-tahun Yusuf berkecimpung di dapur. Dahulu, waktu bekerja paruh waktu menjadi asisten koki di Korea, Yusuf juga menjadi kebanggaan di sana.
Datanglah Cindy, usahanya memang tak jauh dari restoran milik Yusuf. Maka dari itu, Cindy setiap hari akan datang ke resto dan membuat Rebecca kesulitan. Saat ini tidak ada Rebecca, Cindy merasa senang tidak ada yang akan mengganggunya.
"Yusuf, pesanan meja nomor delapan, segera!" ucap Cindy memberikan coretan pesanan.
"Oh, ok." jawab Yusuf masih sibuk. "Kamu di sini? Salonmu senggang, kah?" tanya Yusuf.
"Eh, tunggu! Rambut kamu keluar. Biar aku masukin lagi, maaf ya...." Cindy sangat pintar memanfaatkan kesempatan.
Ketika Cindy membantu merapikan rambut Yusuf, dari sudut pandang Rebecca yang datang ke resto membuatnya salah paham. Padahal, Yusuf menolak untuk di sentuh oleh Cindy, seketika itu melihat Rebecca yang duduk di kursi roda di dorong oleh Willy persis di depan pintu dapur.
"Rere?"
Cindy menoleh, dia juga tersenyum menyebalkan kepada Rebecca. Tatapan Rebecca hanya datar saja, lalu memalingkan wajahnya ke bawah.
"Tinggalkan aku di sini, dan kembalilah. Aku akan kabari kamu lagi nanti!" perintah Rebecca lirih.
"Baik, Nona!"
Yusuf tersenyum kepada Rebecca, ia juga memberi kode untuk meminta Fatur bersamanya. Lalu, Yusuf pun mempercepat memasaknya. Kali ini, Daus melihat Yusuf lebih semangat dari sebelumnya.
"Hem, aku nggak salah tebak. Antara Yusuf dan Rere ada sesuatu. Semoga Allah menyatukan kalian." batin Daus.
Beberapa menit kemudian, pesanan meja nomor delapan telah siap. Fatur mengantar pesanan itu, lalu Yusuf menghampiri Rebecca yang duduk di sebelah kasir. Kasir selama ini masih dipegang oleh Fatur.
"Assalamu'alaikum, kamu di sini?" sapa Yusuf jongkok di depan kursi roda Rebecca.
"Wa'alaikumsalam, aku dari bandara langsung ke sini. Ah, lebih tepatnya.. dari markas langsung ke sini. Aku merindukanmu, Bos," jawab Rebecca dengan nada yang halus, tidak seperti biasa yang banyak tingkah dan berbicara dengan lantang.
"Kamu pasti capek, aku bawa ke ruanganku, ya. Kamu istirahat dulu di sana," usul Yusuf.
"Aku pengen masak bersamamu, Bos. Ada resep baru yang aku pelajari saat di rumah," Rebecca menunjukkan kertas kecil bertulisan resep yang memang ia buat sendiri bersama kakaknya dulu waktu masih hidup.
"Tapi kan kamu sedang sakit. Bagaimana jika aku yang masak, kamu nungguin di sampingku," ucapan Yusuf juga tiba-tiba menjadi sangat lembut.
Rebecca hanya tersenyum dan memberi hormat kepada Yusuf. Kemudian, Yusuf mendorong kursi roda Rebecca ke dapur dan akan memasak sesuai dengan resep yang Rebecca berikan.
Melihat Yusuf kebingungan dengan bahasa yang Rebecca tulis, Rebecca pun berdiri dan menghampiri Yusuf. Tentu saja membuat Yusuf panik, Yusuf mengira jika Rebecca sakit parah sampai harus menggunakan kursi roda.
"Kamu, kamu bisa jalan? Sudahlah, lebih baik kamu duduk saja!" kepanikan Yusuf membuat Rebecca tertawa.
"Bos, kakiku baik-baik saja. Ini ide Willy yang sangat khawatir denganku, makanya aku di dorong pakai kursi roda ini," tunjuk Rebecca.
"Begitu? Kamu sungguh baik-baik saja? Katakan, apa ada yang sakit? Sebaiknya kamu duduk, biar aku yang akan memasakkan untukmu. Oh, ini bukan karena ada apa-apa. Semua ini aku lakukan karena kau terluka demi adikku," Yusuf masih saja gengsi mengakui perasaannya yang mulai oleng.
Dari kejauhan, Eun Mi melihat Cindy yang hanya berdiri di depan pintu dengan tatapan aneh. Eun Mi yang penasaran, mendekati Cindy dan ingin tahu apa yang ia lakukan saat itu.
"Permi... eh, itu si mata biru?" baru saja Eun Mi ingin menyapa Cindy, tapi ia malah melihat Rebecca sudah ada di samping Yusuf tengah memasak bersama dengan senyuman lebar terlukis di bibirnya.
"Ah, sebaiknya kamu jangan di sini. Itu sangat menyakiti perasaanmu. Mencintai orang lain, tapi tidak bisa memiliki itu memang menyakitkan, ayo duduk bersamaku," ajak Eun Mi.
"Kamu tau apa? Aku mengenalnya sudah delapan tahun. Tapi, dengan santainya gadis murahan itu menempel terus di dekat Yusuf dan mencuri semua perhatiannya terhadapku," Cindy mulai menggila.
"Aku membawa soju di koperku. Kita bisa minum bersama jika kau mau. Sudahlah, mereka sudah ditakdirkan bersama, untuk apa kau mengusiknya? Ya Tuhan...." kata Eun Mi ingin bersikap ramah kepada Cindy.
"Dan perlu kamu tahu, mereka kenal juga sudah hampir delapan tahun lalu. Sabar, oke?" ucap Eun Mi menepuk-nepuk bahu Cindy dan masuk ke dapur.
Raut wajah Cindy langsung berubah. Aura kejahatan mulai terlihat lebih jelas pada dirinya. Cintanya telah membutakan mata hatinya. Tak peduli apa yang dikatakan Airy kepadanya, Cindy akan mencoba berbagai cara untuk bisa memisahkan Rebecca dari Yusuf. Apakah bisa? Lalu, bagaimana respon Rebecca tentang perjodohan Yusuf?
bagus
semangat
cerita yang unik
cerita islami+ mafia
siip lahhh
the best pokok e