Lyra tak pernah menyangka akan masuk ke dalam sebuah drama pernikahan bersama seorang laki-laki bernama Wira. Impian Lyra hancur ketika statusnya berubah menjadi seorang istri. Karena suatu kejadian, Wira dan Lyra terpaksa menikah.
Lyra merasa aneh saat lelaki itu tidak pernah mengungkapkan cinta padanya, namun berkata tidak akan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizkiTa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
...Author POV...
“Sayang sekali, Lyra kamu ternyata sudah menikah, secepat itu. Padahal saya—“
“Maaf Pak, sudah selesai kan? saya mau urus administrasi pendaftaran sidang setelah ini.” Dengan seulas senyum seramah mungkin, Lyra langsung memotong pembicaraan dosen pembimbing ke dua nya, yang dia tahu sejak dulu mempunyai maksud lain padanya. Pak Aga, dosen muda yang terpilih sebagai dosen pembimbing ke dua Lyra sempat menaruh hati padanya, tapi Lyra tidak pernah peduli.
“Kok masih panggil Pak sih? saya bilang kan panggil Mas aja saat kita cuma berdua?” Aga sering beucap demikian namun tidak di indahkan oleh Lyra.
“Nggak profesional, Pak. Terimakasih atas bimbingannya selama ini, ya Pak. Saya permisi,” Lyra mengambil tumpukan kertas-kertas miliknya di atas meja dan meninggalkan ruangan dosen itu.
“Iya Lyra. semoga sukses untuk sidangnya.”
“Sekali lagi, terimakasih Pak Aga.”
Lyra melangkah keluar, mendapati beberapa mahasiswa dan mahasiswi lain yang juga sedang mengantre untuk konsul atau sekedar mengumpulkan tugas. Sebagian teman-teman angkatannya sudah mendengar kabar tentang pernikahannya dengan anak konglomerat. Banyak dari mereka yang berasumsi bahwa Lyra sudah hamil duluan karena pernikahannya yang mendadak. Lyra mendengar sendiri gosip itu dari Anita, sahabat yang perempuan selain Juna.
Lyra memang tidak mengundang teman-temannya di resepsi pernikahannya yang mewah, siapapun termasuk anak-anak kampus. Hanya keluarga-keluarga terdekat saja.
Tak mau mengambil pusing tentang asumsi orang lain terhadapnya, Lyra memilih mengabaikan menurutnya itu tidak penting. Dia saat ini hanya fokus pada ujian akhir yang begitu mendebarkan.
Sekitar jam empat sore, Lyra sudah tiba di apartemen dengan perasaan yang tidak karuan, antara senang, terharu dan gugup selasa depan, sekitar satu mingguan lagi adalah jadwal sidangnya. Tak sabar, orang yang ingin dia beritahu pertama kali adalah Ibu.
Meletakkan buku dan skripsinya di atas meja, Lyra menjatuhkan dirinya di atas sofa untuk sekedar melepas lelahnya hari ini, sambil menatap langit-langit. Impiannya satu persatu hampir tercapai.
Ceklek
terdengar suara knop pintu kamar yang di buka, Lyra langsung menoleh dengan hati yang riang gembira, “Mas Wira udah pu—-“
“Astaghfirullah’aladzim, ya Allah, kamu siapa?” Lyra histeris, melihat sosok perempuan cantik keluar dari kamar Wira, kamar mereka.
“Aku rasa kita pernah ketemu, kamu lupa?” Wanita itu mendekat, tersenyum cukup sinis ke arah Lyra.
“Mantan pacarnya Mas Wira? mau ngapain kesini?” Lyra segera menghindar, dengan perasaan takut dan panik. Sebenranya Lyra tidak suka tinggal di hunian sejenis apartemen ini, meski mewah. Tapi rasanya, seperti anti sosial. Tidak bisa berinteraksi dengan tetangga. Apalagi disaat membahayakan seperti ini.
“Kamu baru jadi istrinya beberapa hari, jangan kepedean. Aku yang lebih dulu menguasai tempat ini. Kamar itu, dapur, sofa itu, semuanya kami pernah...”
“Cukup, sayangnya itu, dulu kan? kalau kamu nggak ada keperluan disini, mendingan pergi aja! status kamu bukan siapa-siapa lagi! aku yang lebih berhak karena aku istrinya!” Lyra berjalan ke arah pintu keluar, dengan tas ransel yang masih ia pakai.
“Kurang ajar kamu!” hentak Hanna dengan emosi memuncak.
Keluar dari apartemen, masih berdiri di balik pintu. Meraih ponselnya, dan segera menghubungi Wira.
Tak butuh waktu lama, lelaki di seberang telepon langsung menerima panggilan dari sang istri dengan perasaan yang bahagia.
“Mas, kamu kedatangan tamu di apartemen, kalau pekerjaan kamu udah selesai, tolong kamu pulang dulu dan selesaikan urusan kamu dengan tamu yang secara tiba-tiba bisa masuk ke dalam, selama dia masih ada disini, aku pulang ke rumah Ibu!”
Dengan perasaan yang berkecamuk, Lyra langsung meninggalkan tempat itu. Sesuai dengan apa yang ia ucapkan pada Wira, Lyra benar-benar pulang ke rumah Ibunya.
Sementara Wira langsung paham atas ucapan istrinya, siapa lagi tamu yang bisa masuk kesana selain Hanna. Emosi Wira memuncak, kebetulan jam kerjanya juga sudah selesai, ia langsung tancap gas pulang ke apartemen, ternyata Hanna si jalaang belum juga menyerah.
...🌸🌸🌸 ...
“Loh anak Ibu, tumben kesini? kamu habis dari kampus, kan?” Ibu Lyra yang tengah mengobrol dengan para tetangga tentu kaget dengan kedatangan anaknya yang tiba-tiba apalagi tanpa suaminya.
“Iya Bu, suami Lyra belum pulang kerja. Katanya sih agak malaman, jadi Lyra belum terbiasa, kesepian di apartemen sendirian, kesini dulu deh.” jawab Lyra sambil melempar senyum ke beberapa Ibu-Ibu disana, yang cukup Lyra kenal.
“Idih pengantin baru, lagi hangat-hangatnya. Pasti di tinggal sebentar langsung kangen ya, ngerasa kesepian?” sahut Ibu yang letak rumahnya tepat di samping rumah mereka.
“Ya begitulah Bu,” Lyra menjawab seadanya, padahal tidak begitu keadaannya. Ada hantu mengerikan di apartemen mereka, dari pada Lyra di makan hidup-hidup, ada baiknya dia kabur saja kesini.
“Eh iya, suaminya ganteng banget loh, di jaga baik-baik euy. Pelakor merajalela sekarang, ih serem.” Ibu Yati, yang sepertinya kegiatan setiap pagi dan sore adalah menonton sinetron dengan sound track ku menangis, sudah termakan dengan adegan-adegan sedih di sinetron.
“Lah iya bener kan Bu saya juga udah ngingatin Lyra loh, emang pelakor-pelakor jaman sekarang ih, berani unjuk gigi. Kamu nak, jangan lupakan pesan-pesan yang pernah Ibu bilang ya?” Ibu langsung menyambung dengan semangat.
“Iya Bu.. iya.” sahut Lyra, sebenarnya dia sudah sangat lemas, ingin istirahat, belum makan siang pula. Tujuan utamanya kesini kan sekaligus untuk menyampaikan kabar bahagia kepada Ibu tentang sidang skripsinya, tapi apa daya ternyata terhadang oleh para tetangga.
“Ingat Lyra, kasur dan dapur, harus tuntas, paham?”
Lyra mengangguk canggung, sepertinya menikah dengan Wira, Lyra hanya memiliki fungsi optimal di kasur saja. Tidak di dapur, karena Wira lebih handal untuk urusan itu.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya para tetangga pulang karena adzan maghrib sudah berkumandang. Tadi, usai berbincang-bincang sekitar sepuluh menit, Lyra langsung masuk ke dalam, untuk mandi dan sholat ashar, sambil berdoa untuk keselamatan sang suami yang tengah menghadapi sang mantan.
Hanya satu do’a Lyra semoga suaminya tidak berniat dan tidak tergoda lagi untuk mengulang kenangan mereka di kamar, dapur dan sofa seperti yang di ucapkan mbak-mbak seksi tadi. Semoga saja Wira tidak terpana dan terpesona lagi karena saat itu Hanna mengenakan pakaian cukup seksi. Air matanya pun menetes saat mengucapkan do’a itu. Apakah ini yang dinamakan air mata cinta terhadap suami yang baru pagi tadi mengungkapkan perasaannya, meski secara tidak langsung.
“Kamu kenapa sih Nduk, ada apa? kok kayaknya resah banget?” tanya Ibu yang tengah melihat Lyra bolak balik mengecek ponselnya, tidak ada kabar berita dari Wira.
“Nggak apa-apa Bu, oh iya selasa depan, Lyra sidang skripsi, mohon do’a sebanyak-banyaknya ya Bu.” Pinta Lyra.
“Pasti Nak, selalu Ibu do’akan untuk kebaikan dan kebahagiaan kamu.”
Perbincangan mereka terhenti saat mendengar suara laki-laki yang mengucapkan salam, di sertai suara ketukan pintu.
“Suami kamu kayaknya, buka gih.” titah Ibu. Lyra saat ini sedang mengenakan pakaian santai, kaos lengan pendek serta celana pendek di atas lutut. Karena hanya itu yang dia punya, setelan piyama dan baju-baju sopan lainnya sudah ia angkut saat Wira membawanya pindah.
“Waalaikumsalam,” ya dari suaranya Lyra juga menduga kalau itu memang Wira.
“Lyra, jangan marah,” bisik Wira kemudian memeluk dan mendekap erat istrinya.
“Apa sih Mas? nggak usah peluk-peluk,” Lyra segera menjauhkan dirinya dari Wira. Untunglah Ibu sedang berada di kamar mandi untuk berwudhu.
“Why? kamu marah karena kedatangan Hanna?”
Lya menghempaskan tangan Wira yang tengah mencengkeram pundaknya. “Kalau kamu belum selesai sama dia, aku disini aja dulu.” Lyra melangkah masuk ke dalam kamar, Wira mengikutinya.
Lyra bukan hanya kesal karena kedatangan wanita itu, melainkan karena ucapannya tentang masa lalu mereka. Rasanya, dia benar-benar tak sudi menginjakkan kaki di apartemen itu jika mengingat kenangan suaminya bersama mantan, merasa jijik.
“Maaf aku lupa menghapus sidik jarinya di pintu masuk, sekarang aku pastikan dia nggak bakal bisa masuk lagi, Lyra. Maafin aku, ya?”
Lyra terperangah melihat Wira yang kini berlutut di hadapannya, apalagi kedua tangan Wira berada di atas pahanya. Tatapannya penuh harap, memohon di maafkan.
Lyra menghela napas dalam, “Bukan cuma itu, aku nggak sanggup aja tidur di atas ranjang bekas kamu anu-anuan sama si Hanna, terus di sofa juga terus di dapur, kamar mandi.” Lyra merinding, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Kali ini Wira yang terbengong mendengar ungkapan sang istri yang cukup membuatnya naik darah, Lyra tahu dari mana lagi kalau bukan dari si mantan kurang ajar.
“Terus aku harus gimana? supaya kamu mau maafin aku, itu kan hanya masa lalu.” Tangan Wira berpindah untuk menyentuh tangan kanan Lyra.
“Kita tinggal disini aja dulu, nggak apa-apa sih agak jauh dari tempat kamu kerja. Oh pasti Mas nggak mau karena nggak ada tempat parkir buat mobil kamu kan? naik taksi aja sementara.” Lyra berbicara tanpa mau menatap suaminya sedikitpun.
“Gampang, kalau itu alasan kamu, kita pindah apartemen atau pindah rumah, aku masih punya rumah lain, tapi agak jauh dari tempat kerja. Nggak masalah buat aku.” Wira sudah berpindah, duduk di agas ranjang tepat di samping Lyra, berdekatan tanpa jarak.
“Hem, terserah kamu. nggak usah rangkul-rangkul deh, aku ini apalah cuma butiran pasir, di banding mbak Hanna yang bening, cantik bak permata. Oh iya, tadi ngapain aja pas ketemu dia? nggak ada ciuman perpisahan?” Lyra cukup sinis melirik Wira dengan tatapan mengerikan, ingin menerkam. Meski belum genap dua minggu menyandang status sebagai Nyonya Wira, Lyra merasa punya hak untuk bertanya.
“Siapa bilang kamu cuma butiran pasir? kamu itu lebih dari permata dan berlian, nggak ternilai harganya, nggak pantas di bandingkan dengan apapun. Dan sumpah aku nggak ngelakuin apa yang kamu tuduh barusan, aku benar-benar menyeretnya keluar, kalau nggak percaya nanti kita cek cctv.”
Penjelasan Wira yang cukup panjang lebar membuat hidung Lyra kembang kempis, menahan tangis haru dan kesal.
...🌸🌸🌸 ...
...Segitu dulu ya...
duh bakal kangen ntar