Cinta sungguh tidak bisa di duga. Tak pernah terbayangkan oleh Rizky Ade Bramantyo yang biasa di panggil Bram, akan jatuh cinta kepada keponakannya sendiri.
Zavira putri Bramantyo, gadis polos berusia delapan belas tahun yang merupakan keponakan Bram.
Bagiamana kisah cinta mereka? akankah Vira menerima cinta Bram?? Akankah cinta mereka bersatu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesal
Vira mengambil bantal dan selimut. Dia kembali tidur di sofa. Menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Vira takut jika nanti Bram kembali menyerangnya.
Tak berapa lama matanya pun ikut terpejam. Vira tertidur pulas.
Waktu berlalu dengan cepat, detik berganti menit dan menit berganti jam. Tak terasa waktu sudah menjelang lagi.
Matahari sudah bersinar terang dan masuk ke dalam kamar melalaui cealg horden dan jendela.
Bram bangun dan duduk di atas ranjang. Matanya fokus pada satu titik yaitu sofa kamar yang sudah kosong. Tidak ada Vira disana.
Bram bangkit ke kamar mandi dan mengetuk pintunya dengan kuat. Masih sama tidak ada jawaban.
Bram duduk dan berpikir, kemana perginya yome.
Tiba tiba sebuah pikiran buruk menghinggapinya. Apa jangan jangan Vira kabur???
Bram segera mengambil ponselnya dan menelpon Henry.
"Ya tuan" jawab Henry
"Cepat cari gadis kecil itu, dia telah coba melarikan diri dariku.* ucap Bram.
Bram berubah kesal berani berani nya Vira kabur dan meninggalkannya.
"Maksud anda nyonya, tuan?" tanya Henry .
"Siapa lagi,cepat cari dasar bodoh!" umpat Bram kepada Henry.
"Haduh, ada ada saja. Kalau ada disiksa, giliran orang nya kabur dicari, apa sih maunya tuan Bram ini. Kasihan sekali non Vira." ucap Henry.
Henry langsung keluar mencari Vira. di sudah berkeliling disekitar hotel dan pasar, namun Vira tidak juga dia temukan.
Satu jam berlalu, Bram menunggu dengan tidak sabar.
Derrrt......derrrt
Ponsel Bram berdering, tampak nama Henry disana.
"Bagaimana?" tanya Bram.
"Maaf tuan, tapi saya belum menemukan nona." ucapnya.
"Cari sampai dapat, kerahkan anak buah mu segera. Aku tidak mau tahu, yome harus ditemukan segera." ucap Bram dan mematikan ponselnya sepihak.
Bram langsung bergerak keluar kamarnya mencari Vira. Langkahnya panjang lanjang dan tergesa.
Pikirannya berkecamuk, sesuatu di dalam hatinya terasa sakit dan takut. Takut terjadi apa apa dengan yome, dan khawatir jika dia tak dapat menemukan yome nya.
Dan ketakutan terbesarnya adalah home melarikan diri darinya.
"Yome dimana kau!" ucap Bram dalam hati nya,
"Awas, jika aku menemukanmu aku Kana menghukummu dengan sangat berat hingga kau tak lagi berpikir untuk meninggalkan aku."
Bram terus berjalan berkeliling dari pasar tradisional hingga akhirnya dia menuju pantai.
Sejak pagi Bram tidak berhenti, bahkan dia melewatkan makan siangnya karena sibuk mencari yome.
Beberapa kali dia menelpon Henry, namun Henry juga belum menemukan Vira.
Henry sudah m yu h anak buahnya berpencar sebagian dari mereka mencari di stasiun stasiun bus dan ada juga yang mencari di bandara.
Sementara saat ini Vira duduk termenung di tepi pantai. Meringis menqhqn sakit karena tak mampu berjalan lagi. Kakinya sakit dan berdarah. Vira duduk menunggu hingga Bram menemukannya.
Awalnya dia cuma ingin jalan jalan namun, tadi saat berjalan kaki di pantai kakinya terkena cangkang kerang. Dalam dan berdarah. Hingga dia sulit untuk melangkah. Akhirnya dia memilih duduk di bawah pohon sampai sekarang.
Hari sudah menjelang sore, Vira sedikit ketakutan. Bagaimana nasibnya ini, dia takut orang jahat menghampiri nya. Karena pantai sudah mulai sunyi, orang orang sudah kembali ke hotel masing masing.
"Yome..." terdengar sayup sayup seseorang memanggil namanya.
Vira berusaha duduk dan mencari sumber suara tersebut. Entah mengapa kali ini dia sangat berharap Bram bisa menemukannya.
"Yome ......" suara itu terdengar kembali.
Vira melihat ke Kana dan kiri, dan akhirnya dia melihat Bram yang berteriak di tepi pantai tak jauh darinya.
sekali lagi Bram berteriak, dan yome antusias melambaikan tangannya. "Om......" jawab Yome.
Bram menoleh ke sumber suara. Dan dia melihat Vira, bibirnya tersenyum tipis. Namun dengan cepat senyum itu berubah menjadi amarah. Dia marah dan kesal kepada Vira.
"Apa yang kau lakukan gadis bodoh!" bentak Bram
Vira yang tadinya gembira berubah sedih mendengar Bram membentaknya.
"Ayo pulang?" Jika tidak ingin aku meninggalkan mu disini." ucapnya lagi.
Vira masih diam tak bergeming. Melihat Vira diam saja, Bram semakin kesal dia berjalan lebih dulu. Namun setelah beberapa langkah, dia kembali melirik ke belakang, Vira tak juga berdiri.
Bram yang kesal berbalik dan menarik Vira. Pada saat itu, Vira mengaduh kesakitan.
"Aduh....sakit om." ucapnya meringis menahan sakit.
Bram kaget, dan melihat ke arah kaki Vira yang sakit.
Dilihatnya kaki vira terbelah dan kembali berdarah. Bram memandang wajah Vira yang kesakitan.
Kemudian tanpa aba aba dia menggendong Vira.
Vira yang terkejut, berteriak."Auw ...." dan langsung mengalungkan tangannya di leher Bram. Karena Vira takut terjatuh.
"Diam atau aku cium! " ucap Bram.
Kalimatnya ampuh membuat Vira bungkam, padahal awalnya Vira ingin protes.
Vira terdiam dan menyembunyikan kepalanya di dada Bram. Dia malu menjadi tontonan orang.
Ini baru permulaan om, aku akan membuat mu jatuh cinta padaku,"
Bram terus menggendongnya hingga ke sebuah klinik dekat hotel.
Dokter telah menjahit dan menutup luka di kaki Vira. Setelah nya, Bram kembali menggendongnya ke hotel.
"Lepas Om, aku malu. Aku bisa jalan sendiri." ucap Vira di depan hotel. Bram diam tak menanggapi.
Henry sudah menunggu disana , tadi saat di klinik Bram sudah mengabarinya jika Vira sudah di temukan.
Henry kaget melihat Bram menggendong Vira. Dia pikir Bram akan sangat marah dan menyeret Vira dengan kasar atau menyiksanya.
"Nyonya kenapa tuan?" tanya Henry.
Bram tak menjawab dan terus berjalan. Dia masuk kedalam kamarnya, dan meletakkan Vira di tempat tidur.
"Tunda kepulangan kita hingga besok malam." ucapnya pada Henry.
"Dan pesankan makanan kesini. Suruh pelayan wanita menggantikan baju nyonya."
"Siap tuan." jawab Henry dan berlalu pergi.
"Om , makasih." ucap Vira.
"Jangan berterima kasih padaku, Karena aku akan tetap menghukum mu karena kau pergi tanpa ijin. Dan asal kau tahu, aku menunda kepulangan kita juga karena mu, itu semua tidak gratis. Kau harus membayar mahal untuk itu." ucap Bram , setelah itu dia pergi ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Vira yang awalnya senang berubah sedih.