Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Oliver terdiam didalam ruangannya, perasaannya menjadi tidak enak setelah melihat kepergian Zafana.
Drrrrttt
Sebuah pesan masuk dari salah satu mahasiswanya, Roos.
Pak, Zafana hilang
Oliver sontak bangkit saat mendapatkan pesan itu. Sudah 3 jam lamanya setelah ia melihat Zafana pergi dari hadapannya. Saat Oliver mengajar dikelas namun tidak melihat keberadaan Zafana, ia hanya berpikir jika Zafana masih butuh waktu untuk sendiri.
Dengan cepat ia berlari keluar dari ruangannya dan mencari Zafana disetiap sudut ruangan bersama Roos. Kampus tampak mulai sepi karena beberapa mahasiswa sudah pulang.
"Ada kabar dari Zafana?"tanya Oliver saat dirinya berpapasan dengan Roos.
"Gak ada pak, Hp dia aja ada dikelas tadi"jawab Roos panik.
Oliver mengacak rambutnya kasar kemudian lanjut berlari mencari Zafana diikuti Roos dibelakangnya.
"Zafana!"teriak Oliver.
"Na, lo dimana?"Roos ikut berteriak.
Langkah mereka terhenti didepan toilet yang mengeluarkan begitu banyak asap. Oliver dan Roos saling bertukar pandang sebelum akhirnya langsung berlari kearah pintu itu dan berusaha untuk membukanya.
Brakk
Setelah banyak percobaan akhirnya pintu itu berhasil terbuka dengan dobrakan Oliver. Asap gas begitu menyeruak keluar saat pintu itu terbuka membuat Oliver dan Roos terbatuk. Ruangan itu pun masih gelap tertutup asap membuat mereka sulit untuk menemukan Zafana.
"Pak, itu Zafana!"ucap Roos saat matanya menangkap sosok Zafana yang sudah tidak sadarkan diri dilantai toilet.
Oliver berjongkok lalu dengan segera memindahkan tubuh Zafana keluar dari toilet itu. Wajahnya pucat dan tubuhnya sangat dingin membuat Oliver semakin khawatir dan segera membawanya ke rumah sakit.
"Roos, jangan kasih tau orang tua Zafana dulu, biar semua ini jadi urusan saya"ucap Oliver
"Baik pak"jawab Roos.
"Kamu bisa pulang sekarang"ucap Oliver.
Roos mengangguk, "pak, saya titip Zafana ya"
"Iya, kamu hati-hati dijalan ya Roos"
Oliver melangkahkan kakinya dengan tubuh Zafana dalam gendongannya. Ia membawa Zafana menuju rumah sakit sekarang. Dengan perasaan yang cemas Oliver terus menggenggam tangan Zafana sepanjang jalan.
"Pasien mengalami kebocoran pada paru-parunya karena terlalu banyak menghirup gas, untung saja anda segera membawanya kesini..jika dibiarkan maka pasien tidak akan selamat"jelas dokter itu setelah memeriksa keadaan Zafana.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang dok?"tanya Oliver.
"Pasien harus segera dioprasi karena pembocoran paru-paru akan sangat bahaya jika dibiarkan begitu saja"jawab dokter itu.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya dok"ucap Oliver.
Dokter itu mengangguk, "kalau gitu saya akan siapkan keperluan oprasinya sekarang"
Oliver menjawabnya dengan anggukan lalu membiarkan dokter itu pergi dari hadapannya. Setelah itu Oliver melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang ICU dimana Zafana terbaring lemah dengan selang oksigen di hidungnya.
" Zafa, bangun...saya tau kamu kuat"bisik Oliver.
"Bangun Zafa, buktiin ke mereka kalau kamu itu perempuan yang kuat dan pantas untuk saya"Oliver kembali berbisik.
"Orang yang sudah menjahati kamu sudah saya laporkan ke polisi, kamu gak perlu takut sekarang"
4 hari berlalu, pasca oprasi paru-paru itu Zafana belum juga sadar. Selama 4 hari itu juga Oliver selalu menunggu Zafana didalam ruangan itu tanpa meninggalkannya barang sedetikpun.
Hari ini orang-orang dirumah Zafana mulai merasa curiga karena Zafana hilang begitu saja tanpa kabar. Meski Oliver sudah memberitahu berkali-kali jika Zafana baik-baik saja dan sedang menginap dirumahnya tapi tetap saja, Clara selaku ibu kandungnya tetap merasa khawatir.
Oliver menghela, kepalanya mulai terasa berat sekarang. Selama 4 hari ia menggantikan posisi Zafana untuk memakan makanan rumah sakit yang sudah disediakan. Dan ternyata itu tidak cocok untuknya.
Ia memejamkan matanya diatas sofa dengan kepala yang menengadah ke langit-langit rumah sakit.
Zafana merasa nyawanya telah kembali, dengan perlahan ia membuka mata dan menyesuaikan pandangannya yang langsung tertuju pada langit-langit yang berwarna putih. Ia berusaha mengingat kejadian terakhir kali yang ia alami, dan saat mengingatnya Zafana malah merasa hatinya kembali sakit.
'Gue masih hidup?'-gumam Zafans sembari berusaha untuk duduk.
Ia menatap Oliver yang sedang terlelap diatas sofa dengan menampilan yang sangat kacau, baju yang dipakainya pun masih sama seperti baju yang ia pakai saat terakhir kali bertemu dengan Zafana. Dengan perlahan Zafana melepaskan selang infusan dan selang oksigennya lalu berjalan kearah Oliver.
'Pak Oliver nungguin gue disini?'-batin Zafana.
Zafanana mendaratkan bokongnya disamping Oliver, jemarinya ia sematkan pada jemari Oliver lalu mendaratkan kepalanya pada pundak Oliver. Matanya terpejam, merasakan setiap detik ketenangan dalam hidupnya.
Merasa bahunya semakin berat, Oliver pun membuka matanya lalu menoleh, bibirnya perlahan terangkat membuat semburat senyuman saat menyadari kalau Zafana sudah sadarkan diri dan sudah duduk disampingnya.
Jemarinya ia eratkan menggenggam jemari Zafana membuat siempunya menoleh.
"Gimana keadaan kamu?"tanya Oliver dengan suara beratnya.
Zafana mengangguk sebagai jawabannya lalu kembali menyandarkan kepalanya pada pundak Oliver.
"Kenapa aku bisa ada disini?"tanya Zafana.
Oliver menghela, mengingat kembali kejadian 4 hari lalu dimana dokter mengatakan jika ia hampir kehilangan Zafana.
"Kamu mengalami kebocoran paru-paru yang mengharuskan untuk segera dioprasi"Oliver menjelaskannya secara singkat.
"Apa ini ada kaitannya sama kejadian ditoilet waktu itu?"tanya Zafana dan Oliver mengangguk.
"Orang-orang yang merundung kamu sekarang udah diamani sama pihak kepolisian, mereka bilang menyesal dan akan meminta maaf secara pribadi ke kamu kalau kamu sudah sadar"jawab Oliver.
"Mama sama papa tau?"tanya Zafana.
"Enggak, mas dan Roos menyembunyikan semuanya dari orang tua kamu, mas takut mereka semakin cemas sama keadaan kamu"jawab Oliver.
Zafana tersenyum lalu menatap Oliver dengan dagunya ia daratkan pada bahu Oliver.
"Jadi sekarang aku manggilnya mas aja?"tanya Zafana.
Oliver mengangguk lalu menempelkan ujung hidungnya dengan ujung hidung Zafana. Keduanya tersenyum.
'Gue yakin sekarang'-batin Zafana.