NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: BERUBAH TOTAL!

​"Hmp! Sia-sia banget aku semangat dari tadi!" gerutu Alya sambil mencibir kesal, memandangi wajah Raka dan Dimas yang sama sekali tak menunjukkan rasa terkejut.

​Alya melipat kedua tangannya di dada, lalu menyunggingkan senyum misterius. "Yaudah, karena kalian berdua dari tadi pasrah... mending sekalian dibuat makin pasrah aja!"

​"Hah?!" seru Raka dan Dimas kompak, saling pandang dengan dahi berkerut.

​"Maksudnya apaan dah, Al?" tanya Dimas mewakili rasa bingung mereka.

​Alya menghela napas pendek, menatap dua cowok itu dengan tatapan mengintimidasi. "Masa kalian gak tahu? Maksudku, ya bikin klub ini jadi lebih berfaedah lah! Bukannya cuma dipake tempat main game serasa di tempat tongkrongan!"

​Melihat drama 'penindasan' yang dilancarkan Alya, Aira yang berdiri di sampingnya mendadak tak tahan menahan tawa.

​"Pfft—"

​Tawa Aira seketika terhenti saat Alya menoleh cepat dan melayangkan tatapan tajam nan mematikan ke arahnya.

​Aira bersiul pelan, pura-pura melirik ke langit-langit ruangan. "Hmm... bukan gue ya, Al."

​Raka yang sudah terbiasa dengan mode pasrah hanya bisa menyandarkan punggungnya ke kursi. "Yaudah, lu mau bikin aturan kayak gimana terserah deh."

​"Iya, gue ikut kata lu aja, Rak," timpal Dimas mengangguk setuju.

​Alya tampak berpikir sejenak sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang terkesan Berantakan. "Hmm... gimana kalau kita ubah konsep dan desain klubnya aja?"

​Mata Alya mendadak teringat sesuatu, lalu beralih menatap Raka. "Kamu kan bisa gambar juga kan, Raka?"

​"Hmm... ya, dikit sih," sahut Raka merendah, mengingat buku sketsanya yang selalu terisi coretan.

​Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Nanti dulu, desain apa dulu nih? Masa iya semuanya mau didesain ulang? Yang ada capek duluan kita."

​"Hmm... iya juga ya. Desain apa yang pas?" Alya bergumam bingung. Ia lalu menoleh ke sebelah kirinya. "Aira, kamu punya ide gak?"

​Aira yang mendadak dipanggil terperanjat kecil. "Hah? Oh..."

​Senyum jahil mendadak terbit di wajah Aira. Ia mengusap dagunya bak seorang dalang yang siap melancarkan rencana jahat. "Kalau gitu, desain gambar aja! Kita bikin komik!"

​"Eh-eh, tunggu dulu! Gue belum sejago itu buat bikin komik!" potong Raka panik, tak menyangka akan ditumbalin secepat ini.

​"Katanya tadi kamu bisa gambar, Rak?" sindir Aira menyunggingkan senyuman licik yang makin lebar.

​Raka meringis, akhirnya mengalah sambil menghela napas pasrah. "Haah... yaudah deh, gue berusaha sebisanya."

​"Loh? Kalau Raka bagian yang gambar, terus gue ngapain dong?" tanya Dimas menunjuk dirinya sendiri, berharap dapat tugas santai.

​"Lu main game aja, Mas," celetuk Raka asal.

​"Jangan gitu lah, anjrit!" protes Dimas tak terima.

​Aira langsung mengambil alih dengan raut wajah tanpa dosa. "Dimas bagian yang bikin ceritanya!"

​Dimas melotot kaget. "Loh! Malah gue yang dapet bagian paling sulitnya?!"

​"Ya biar lu ada gunanya dikit lah, Mas," sahut Aira santai sambil menjulurkan lidahnya.

​"Kayaknya lu suka banget ya, Ra, ngejahilin gue terus dari tadi?!" geram Dimas, urat di dahinya mulai kelihatan.

​Aira mengibaskan tangannya enteng. "Ya terserah gue lah! Mulut, mulut gue... Wlee!"

​"Sialan! Sini lu, gue geprekin sekalian biar jadi ayam geprek!" teriak Dimas bangkit dari kursinya dan langsung mengejar Aira.

​Aira tertawa lepas sambil ngacir memutari meja-meja di dalam markas klub. Dimas terus mengejarnya ke sana kemari dengan gemas, namun Aira selalu berhasil meliuk lincah menghindari juluran tangan Dimas yang hampir meraup pundaknya.

Sementara Aira dan Dimas masih asyik saling kejar-kejaran memutari meja, Alya dan Raka memilih untuk tetap dalam mode serius.

​"Kalau gitu, sekarang mau gimana?" tanya Raka memecah keheningan di tengah kebisingan dua temannya itu.

​Alya mengedarkan pandangannya ke sudut-sudut ruangan yang terbengkalai. "Hmm... kita beresin aja dulu barang-barang atau perabotan tua yang udah gak kepakai."

​"Mau dibuang? Atau mau dijual ke tukang loak?" usul Raka.

​Alya menggeleng cepat. "Dibuang lah! Lagian barang-barang lapuk begini emangnya bakal laku berapa kalau dijual?"

​"Iya juga ya..." gumam Raka membenarkan.

​"Yaudah, langsung kerjain aja dari sekarang," instruksi Alya. Ia kemudian memalingkan wajah ke arah dua orang yang masih kejar-kejaran. "Aira! Dimas! Jangan kejar-kejaran mulu, bantuin!"

​Alya lalu membungkuk, berusaha mengangkat tumpukan buku-buku tebal dari tahun lalu yang sudah berdebu. "Aduh... berat banget sih..."

​"Butuh bantuan?" tanya Raka yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.

​"Iya... tolong," sahut Alya mengangguk.

​"Oke."

​Raka membungkuk dan mulai memegang tumpukan buku itu dari sisi kanan. Namun karena tumpukannya terlalu tinggi dan sempit, jemari Raka tak sengaja menyentuh kulit tangan Alya yang sedang menahan bagian bawah buku.

​Deg!

​Sentuhan fisik yang mendadak itu membuat mereka berdua tersentak kaget bersamaan. Raka langsung menarik jemarinya refleks, sementara pipi Alya mendadak merona tipis.

​"Ehh... maaf! Bikin risih ya?" ujar Raka canggung sambil menggaruk tengkuknya.

​Alya dengan cepat membuang muka, berusaha menetralkan degup jantungnya. "Gak... gak papa kok."

​Di sudut lain ruangan, Aira yang dasarnya punya 'radar gosip' tajam langsung menyadari momen manis nan canggung tersebut. Mata Aira berbinar, lalu dengan cepat menyenggol lengan Dimas yang berdiri di sebelahnya.

​"Hey, hey! Dimas, lihat itu! Lucu banget gak sih mereka?" bisik Aira gemas sambil mengulum senyum. "Coba aja ada 'seseorang' yang bisa peka dan manis kayak gitu juga..."

​Dimas melirik sinis ke arah Raka dan Alya, lalu mendengkus enteng. "Hah? Gitu doang bikin seneng? Mending dipake main game lah."

​Mendengar jawaban super tak peka yang jauh dari harapannya, raut wajah Aira seketika berubah masam.

​"Hmp! Dasar otak game!" gerutu Aira kesal sambil melipat tangan.

​Dimas menggidikkan bahunya santai. "Ya terserah gue lah."

"Mau gue kejar lagi?" tantang Dimas sambil memasang kuda-kuda.

Aira menyunggingkan senyum licik sambil melangkah mundur. "Ya ayo! Tapi kalau lu gagal ketangkap gue, lu harus lakuin apa yang gue mau!"

"Deal!" seru Dimas tanpa sadar kalau dia sedang dijebak.

Mereka mulai kejar-kejaran lagi. Aira lari meliuk-liuk dengan lincah memutari meja, sementara Dimas berusaha keras mengejar sambil mengulurkan tangannya yang berkali-kali cuma meraih angin.

​"Kalian ini malah main-main! Ayo beresin lagi, ini masih banyak sampah dan barang bekas!" tegur Alya dengan tangan berkacak pinggang, menatap tajam ke arah Dimas dan Aira yang baru saja selesai kejar-kejaran.

​"Ah... iya, iya! Siap, Bos!" sahut Dimas lemas, langsung memasang wajah serius.

​Merekapun mulai bekerja bak kuli bangunan dadakan. Dimas mengerahkan sisa tenaganya untuk menggeser rak tua yang beratnya minta ampun, sementara Aira terpaksa berjongkok demi membuang tumpukan sampah yang bersarang di kolong meja.

​Setelah ruangan benar-benar bersih dan hanya menyisakan dinding serta lantai yang melompong, mereka berkumpul untuk menyusun rencana selanjutnya.

​"Setelah beberes ini, kita mau ngapain nih?" tanya Dimas sambil mengusap keringat di dahinya.

​Alya menatap mereka satu per satu dengan senyum penuh misteri. "Besok, kita patungan."

​"SERIUS?!" seru Raka dan Dimas serentak. Mata mereka melotot sampai nyaris keluar dari soketnya.

​Dimas langsung panik. "Kenapa gak pakai cara lain aja sih?! Soalnya duit tabungan gue mau gue paka—"

​"Bodo amat," potong Alya dingin. "Kalau kalian gak mau patungan, aku bakal datengin rumah kalian masing-masing setelah pulang sekolah buat nagih!"

​Gertakan Alya sukses bikin bulu kuduk Dimas dan Raka meremang.

​Raka meringis sambil garuk-garuk kepala. "Ihh... merinding gue. Ya-yaudah, gue besok deh bayarnya. Lu gimana, Mas?"

​Dimas yang sejujurnya gak sudi dan gak mau banget merelakan uang tabungannya berusaha mengulur waktu. "Gue... nanti-nanti aja lah, Al..."

​Raka melirik Alya. "Boleh gak tuh, Al?"

​Alya menatap Raka lurus dengan raut santai. "Hmm... boleh kok..."

​Dimas menyipitkan mata, merasa ada diskriminasi di antara mereka. "Kok nada lu beda amat pas ngomong sama Raka?!"

​"Gak papa," jawab Alya ketus sambil membuang muka.

​Tak lama kemudian, bel jam terakhir berbunyi nyaring dari arah koridor. Mereka segera bergegas kembali ke kelas sebelum guru menyadari keberadaan mereka.

​Begitu bel pulang sekolah akhirnya berdering, Dimas menjadi murid yang paling semangat melesat keluar. Ia langsung menyambar tasnya dan berlari secepat kilat menuju rumah. Dalam benaknya, Dimas sangat yakin kalau ucapan Alya tadi cuma gertak sambal belaka—Alya cuma pembohong yang sok nakut-nakutin.

​"Halah, Alya pasti cuma bohong doang biar gue mau patungan. Mana mungkin dia beneran dateng ke rumah gue..." gumam Dimas penuh percaya diri saat kakinya baru saja menginjak teras rumah.

​Namun, baru saja Dimas mau melangkah masuk, langkahnya terhenti seketika. Di balik gerbang besi rumahnya, sesosok gadis berambut panjang berdiri dengan santai sambil bersedekap dada.

​Itu Alya. Dia sudah standby di sana seperti debt collector profesional.

​"Tepat waktu. Mana uang patungannya, Dimas?" tanya Alya tanpa basa-basi, lengkap dengan senyuman tipis yang terasa mematikan.

​Dimas mematung di tempat, nyawanya seolah melayang keluar dari tubuh.

​'Bagaimana bisa hidup gue jadi se-tragis ini?!' ratap Dimas dalam hati sambil menatap nasib dompetnya yang sebentar lagi bakal nangis darah.

Keputusan Alya untuk merombak Klub Penyelamat Masa Muda mungkin berawal dari niat baik agar aktivitas mereka jauh lebih berfaedah. Namun bagi Dimas, perombakan ini tak ubahnya sebuah awal dari kemalangan panjang. Setelah dibuat kelelahan melayani aksi kejar-kejaran Aira dan dipaksa menguras keringat membuang sisa-sisa perabotan lapuk di markas, Dimas harus menerima kenyataan pahit bahwa melarikan diri dari gertakan Alya adalah hal yang mustahil.

Berdirinya Alya di balik gerbang rumahnya dengan raut tegas ala penagih utang profesional menjadi sinyal tegas: masa-masa bersantai Raka dan Dimas telah resmi berakhir. Dan besok, tangisan terhebat dalam sejarah klub bukan lagi berasal dari insiden pingsan atau timpaan buku berdebu, melainkan dari jeritan dompet mereka yang terpaksa dibedah demi masa depan markas baru.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!