NovelToon NovelToon
Jejak Hitas

Jejak Hitas

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Keluarga & Kasih Sayang / Healing
Popularitas:723
Nilai: 5
Nama Author: Hita Nurhidayanti

PROLOG

Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.

Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.

Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.

Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 Belajar Menjadi Anak di Rumah Baru

"Rumah bukan hanya tempat untuk berteduh, tetapi juga tempat seseorang belajar tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik."

Hari-hari terus berlalu, dan perlahan aku mulai terbiasa dengan kehidupan di rumah itu. Rasa canggung yang dulu selalu menyelimuti hatiku sedikit demi sedikit menghilang. Aku mulai mengenal kebiasaan setiap anggota keluarga, menghafal suara langkah kaki mereka, bahkan mengetahui siapa yang selalu bangun paling pagi.

Setiap pagi rumah itu terasa hidup. Suara pintu yang dibuka, sapu yang menyapu halaman, serta aroma masakan dari dapur seolah menjadi penanda dimulainya hari yang baru. Bunga-bunga di halaman depan selalu tampak segar karena dirawat dengan penuh kasih sayang, sementara kolam ikan yang berada di depan rumah masih menjadi tempat favoritku untuk menghabiskan waktu sebelum berangkat ke sekolah. Duduk di tepi kolam sambil memperhatikan ikan-ikan berenang membuat hatiku merasa tenang.

Meskipun mulai merasa nyaman, jauh di dalam hati aku masih berusaha menyesuaikan diri agar benar-benar menjadi bagian dari keluarga itu. Saat itu usiaku masih sangat kecil, begitu juga kakakku, Ucaluna. Selama tinggal bersama ibu kandung, kami belum pernah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah.

Hampir semua pekerjaan dilakukan oleh kakak-kakak kami yang lebih besar sehingga aku belum mengetahui bagaimana cara mengurus rumah.

Berbeda dengan kehidupan di rumah ini. Setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab masing-masing. Beberapa minggu setelah kami tinggal di sana, Mama—yang saat itu masih sering kupanggil Nenek—mulai mengajari kami melakukan berbagai pekerjaan rumah. Beliau tidak pernah memaksa ataupun memarahi kami. Dengan penuh kesabaran, beliau mengajarkan semuanya sedikit demi sedikit.

Suatu pagi, setelah kami selesai sarapan, Nenek memanggilku dan Ucaluna.

"Ucaluna... Hitas... sini dulu."

Kami segera menghampiri beliau.

"Hari ini nenek mau mengajari kalian mencuci piring."

Beliau memperlihatkan cara mencuci piring hingga benar-benar bersih, lalu menyerahkan sebuah piring kepadaku.

"Coba sekarang, Hitas."

Dengan tangan yang masih kaku aku mulai mencucinya. Air sabun memercik ke mana-mana dan beberapa kali piring itu hampir terlepas dari genggamanku. Aku merasa malu karena belum bisa melakukannya dengan baik.

Namun nenek hanya tersenyum.

"Tidak apa-apa, Nak. Semua orang belajar dari awal."

Kalimat sederhana itu membuatku kembali mencoba. Hari demi hari aku dan Ucaluna mulai belajar menyapu lantai, merapikan tempat tidur, melipat pakaian, hingga menggoreng telur. Mama selalu membimbing kami dengan sabar. Beliau tidak pernah membentak ketika pekerjaan kami belum rapi, tetapi dengan lembut mengingatkan agar kami mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.

"Kalau menyapu jangan terburu-buru. Rumah yang bersih membuat semua orang merasa nyaman."

Saat itu aku mungkin belum memahami sepenuhnya maksud perkataannya. Kini aku mengerti bahwa yang sedang diajarkan nenek bukan sekadar pekerjaan rumah, melainkan tanggung jawab, kepedulian, dan rasa syukur terhadap tempat yang telah menerima kami dengan penuh kasih sayang.

nenek adalah sosok yang sangat mencintai kebersihan. Rumah harus selalu rapi, halaman harus bersih, dan bunga-bunga di depan rumah harus tetap terawat. Selain itu, beliau juga sangat pandai memasak. Hampir setiap hari aroma masakan memenuhi seluruh rumah dan selalu ada menu yang berbeda tersaji di meja makan. Tidak heran jika banyak orang di kampung sering meminta beliau menjadi juru masak dalam berbagai acara.

Aku sering berdiri di depan pintu dapur hanya untuk memperhatikan beliau memasak. Dalam hati aku berkata, "Kalau sudah besar nanti, aku ingin bisa memasak sehebat nenek."

Suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam, nenek dan kakek memanggilku serta Ucaluna ke ruang tengah.

"Nak, duduklah di sini."

Kami duduk berdampingan di hadapan mereka. Setelah beberapa saat terdiam, nenek menggenggam tangan kami dengan lembut.

"Nak, Nenek ingin meminta sesuatu. Kalau kalian berkenan, mulai sekarang jangan panggil Mama 'Nenek' lagi. Panggillah Nenek dengan sebutan 'Mama', dan beliau..." katanya sambil menoleh kepada suaminya, "...panggillah 'Bapak'."

Aku langsung menundukkan kepala. Hatiku terasa berat. Bagiku, panggilan Mama hanya pantas untuk ibu kandungku, sedangkan Bapak adalah panggilan yang hanya kumiliki untuk ayahku. Aku belum sanggup memberikan sebutan itu kepada orang lain. Aku dan Ucaluna hanya saling berpandangan tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.

nenek seolah memahami isi hati kami. Beliau tersenyum dengan penuh kelembutan.

"Tidak apa-apa, Nak. Nenek tidak akan memaksa. Kalau hati kalian belum siap, panggil saja seperti biasa. Nenek akan menunggu sampai kalian benar-benar siap."

Aku mengangkat wajah perlahan. Tidak ada sedikit pun kekecewaan di wajah beliau. Yang kulihat hanyalah kesabaran dan kasih sayang yang begitu tulus.

Malam itu aku kembali masuk ke kamar dengan banyak pikiran yang berputar di kepalaku. Aku belum sanggup memanggil mereka "Mama" dan "Bapak", tetapi aku tahu satu hal: kasih sayang mereka perlahan mulai mengubah hatiku. Aku belum menyadari bahwa suatu hari nanti, panggilan itu akan keluar dengan sendirinya, tanpa ada lagi keraguan di dalam hati.

...***...

1
Sahir
semanggat ...👌
Sahir
semanggat hitas😭.....keren banget
Hita Nurhidayanti: "Terima kasih sudah membaca dan memberikan semangat. Semoga Jejak Hitas bisa terus menemani sampai akhir cerita. 🤍✨"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!