Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.
Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.
[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]
Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.
Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 013: Profesor dari Jakarta
Saya ingin berbicara dengan Anda secara pribadi.
Kalimat itu membuat suara lobi hotel seolah menjauh.
Beberapa dokter masih berdiri di depan pintu ballroom. Ada yang berbisik tentang James Regan palsu, ada yang menatap Rangga Pradana yang baru saja pergi dengan wajah gelap, ada pula yang pura-pura sibuk dengan ponsel karena takut terseret masalah sponsor.
Ardi berdiri di dekat pilar marmer, memegang ponsel dengan tangan yang tetap tenang.
“Silakan, Bu Profesor,” katanya.
Di layar, wajah Profesor Sri Mulyani Hartono tampak jelas. Rambutnya disanggul rapi, kacamata tipis berada di ujung hidung, dan di belakangnya terlihat rak buku kedokteran serta foto ruang operasi. Ia tidak tersenyum lebar. Tatapannya tajam, seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat dokter muda melebih-lebihkan kemampuan sendiri.
“Saya sudah menonton rekaman tanya jawab Anda,” kata Sri Mulyani. “Bukan hanya bagian ketika Anda membongkar identitas palsu itu. Saya menonton sejak pertanyaan pertama.”
Ardi tidak langsung menjawab.
Ia tahu bagian mana yang dimaksud.
Pertanyaannya tentang waktu iskemia dingin, strategi anastomosis arteri pulmonalis, dan cara membaca perubahan tekanan ventrikel kiri pada pasien transplantasi jantung bukan pertanyaan yang biasanya keluar dari dokter bedah umum di rumah sakit provinsi.
Apalagi dari seorang dokter yang baru beberapa hari lalu masih dicap mantan narapidana.
“Pertanyaan Anda terlalu spesifik,” lanjut Sri Mulyani. “Orang yang hanya membaca jurnal untuk pamer tidak akan bertanya seperti itu. Orang yang pernah berdiri di meja operasi pun belum tentu berani bertanya sampai ke sana.”
Ardi menurunkan pandangan sebentar.
Bayangan panel biru Sistem Modifier melintas di benaknya. Transplantasi Jantung Paralel Kiri Lanjutan. Puluhan keputusan mikro yang masuk ke kepalanya saat Livi hampir kehilangan detak. Pengetahuan itu nyata, tetapi sumbernya tidak boleh diketahui siapa pun.
“Saya belajar banyak selama... waktu luang saya,” jawab Ardi pelan.
Sri Mulyani menatapnya beberapa detik.
Keheningan itu bukan keheningan kosong. Itu seperti ujian.
“Waktu luang di mana, Dokter Ardi?”
Di belakang Ardi, Dokter Fajar dan Rudi yang baru keluar dari ballroom ikut terdiam. Rudi sempat membuka mulut, tetapi Fajar menahan lengannya dengan gerakan kecil.
Ardi menarik napas.
“Di tempat saya tidak punya banyak pilihan selain membaca, Bu Profesor.”
Tidak ada kata penjara. Tidak ada pembelaan diri. Tidak ada dramatisasi.
Namun Sri Mulyani mengerti.
Tatapannya tidak melembut, tetapi nadanya turun setengah tingkat. “Saya tidak sedang menilai masa lalu Anda. Saya menilai kemampuan klinis Anda.”
Kalimat itu membuat dada Ardi terasa lebih berat daripada pujian.
Selama bertahun-tahun, orang menilai dirinya dari satu berkas perkara. Dari satu vonis. Dari satu label yang mudah dilemparkan orang di koridor rumah sakit: mantan napi.
Malam ini, untuk pertama kalinya, seorang profesor nasional melihat langsung ke bagian yang paling sulit dihancurkan.
Kemampuannya.
“Menurut Anda,” tanya Sri Mulyani, “pada kasus anak Hartono Harahap, bagian paling berbahaya dari operasi itu apa?”
Fajar menatap Ardi cepat.
Pertanyaan itu bukan basa-basi. Profesor Sri Mulyani sedang menguji inti dari operasi yang membuat nama Ardi mulai kembali terdengar di Soetomo.
Ardi menjawab tanpa tergesa. “Bukan hanya pemasangan jantung donor, Bu Profesor. Risiko terbesarnya adalah mismatch tekanan setelah reperfusi. Pasien terlalu lemah untuk menanggung beban hemodinamik mendadak. Kalau tim hanya mengejar anastomosis cepat, jantung bisa berdetak tetapi gagal mempertahankan sirkulasi.”
Sri Mulyani diam.
Ardi melanjutkan, “Karena itu strategi paralel kiri harus menjaga transisi. Tidak boleh memaksa organ baru bekerja seperti mesin baru di tubuh yang sudah lama rusak. Detak pertama penting, tapi lima menit setelahnya lebih menentukan.”
Di layar, Sri Mulyani akhirnya mengangkat alis.
“Itu jawaban konsultan.”
Rudi refleks menoleh ke Fajar.
Fajar tidak bicara, tetapi wajahnya berubah. Bukan terkejut karena Ardi pintar. Ia sudah melihat Ardi menyelamatkan terlalu banyak pasien dalam beberapa hari terakhir. Yang membuatnya terdiam adalah sumber pengakuan itu.
Profesor Sri Mulyani bukan orang yang murah memberi nilai.
“Saya belum konsultan, Bu Profesor,” kata Ardi.
“Secara administrasi, belum,” balas Sri Mulyani. “Secara pemahaman, Anda sudah melewati garis yang tidak bisa dicapai hanya dengan keberuntungan.”
Ardi menggenggam ponsel sedikit lebih kuat.
Di sudut pandangannya, panel sistem muncul tanpa suara.
[Reputasi medis meningkat.]
[Perhatian akademik tingkat nasional terdeteksi.]
[Kategori tugas baru sedang dibuka: Misi Reputasi.]
[Status: pratinjau. Syarat aktivasi penuh belum terpenuhi.]
Tidak ada hadiah. Tidak ada PM masuk. Namun tulisan itu seperti pintu besar yang terbuka sedikit.
Selama ini Sistem Modifier memberi Ardi kekuatan untuk menyelamatkan pasien satu per satu. Tetapi reputasi bisa mengubah skala pertarungan. Reputasi bisa membuka ruang operasi yang lebih besar, forum ilmiah yang lebih tinggi, dan musuh yang selama ini berlindung di balik jabatan.
Sri Mulyani tidak melihat panel itu. Ia tetap menatap Ardi.
“Bulan depan ada forum ilmiah bedah jantung dan pembuluh darah di Jakarta, di bawah koordinasi IDI dan beberapa pusat pendidikan. Jika jadwal Anda memungkinkan, datanglah.”
Rudi hampir tersedak.
“Jakarta?” bisiknya.
Fajar menoleh tajam, menyuruhnya diam.
Ardi menahan ekspresi. “Saya dokter RSUD Soetomo, Bu Profesor. Untuk perjalanan dinas, saya harus mengikuti izin rumah sakit.”
“Tentu. Saya tidak meminta Anda melanggar prosedur.” Nada Sri Mulyani datar, tetapi justru karena itu terdengar kuat. “Saya akan mengirim undangan resmi. Bukan sebagai pembicara utama. Belum. Tetapi saya ingin Anda hadir dalam diskusi kasus.”
Belum.
Satu kata itu tidak merendahkan. Justru sebaliknya, kata itu seperti garis awal.
Sri Mulyani sudah melihat sesuatu pada dirinya. Dan jika Ardi bisa membuktikannya di Jakarta, pintu berikutnya akan terbuka.
“Terima kasih, Bu Profesor,” kata Ardi. “Saya akan datang jika rumah sakit memberi izin.”
“Satu hal lagi.”
“Ya, Bu?”
“Jangan terlalu sering membongkar penipuan dengan cara dramatis seperti malam ini.”
Rudi menahan tawa kecil.
Ardi berkedip.
Sri Mulyani menambahkan, “Bukan karena saya melarang. Tetapi orang yang merasa dipermalukan di depan umum sering tidak berhenti pada argumen akademik. Mereka akan menyerang dari tempat lain.”
Wajah Rangga melintas di benak Ardi. Senyum tipis, jas mahal, cara dia menepuk bahu seperti sedang menyentuh barang rusak.
“Saya mengerti,” kata Ardi.
“Bagus. Simpan bukti. Jaga prosedur. Dan jangan bergerak sendirian jika musuh Anda memakai uang.”
Panggilan berakhir beberapa detik kemudian.
Layar ponsel kembali gelap.
Baru saat itu Rudi menghembuskan napas panjang. “Di, lo sadar barusan siapa yang ngajak lo ke Jakarta?”
“Profesor Sri Mulyani,” jawab Ardi.
“Bukan cuma itu,” kata Fajar.
Mereka bertiga berjalan keluar dari hotel menuju area parkir. Udara malam Surabaya terasa panas dan lengket, tetapi dibandingkan ballroom tadi, langit terbuka membuat dada sedikit lebih lapang.
Fajar berhenti di samping mobilnya.
“Ardi, kamu tahu Profesor Sri Mulyani itu siapa?” tanyanya.
“Ketua divisi bedah jantung di IDI. Salah satu ahli transplantasi terbaik di Indonesia.”
“Benar. Tapi ada satu hal lagi.” Fajar menatapnya serius. “Suaminya, Dokter Budi Santoso, adalah Dirjen Pelayanan Kesehatan di Kemenkes.”
Rudi langsung bersiul pelan. “Waduh. Itu bukan pintu, Di. Itu satu gedung kementerian.”
Ardi tidak tersenyum.
Ia melihat pantulan dirinya di kaca mobil. Jas murah yang dipinjam dari Fajar. Wajah lelah. Mata yang belum benar-benar tidur sejak keluar dari penjara.
Beberapa hari lalu ia berdiri di depan pagar rumah mantan mertuanya, tidak diizinkan melihat Gatra dan Sari.
Sekarang seorang profesor nasional mengundangnya ke Jakarta.
Jalan naik itu terlalu cepat untuk orang biasa. Tetapi Ardi tahu, setiap langkah naik akan menarik orang yang ingin menyeretnya kembali ke lumpur.
“Pak Fajar,” katanya, “Rangga tidak akan diam.”
Fajar membuka kunci mobil. “Saya tahu.”
“Setelah malam ini, dia kehilangan muka di depan dokter-dokter Surabaya. Orang seperti dia akan membalas bukan dengan debat, tapi dengan keributan.”
Rudi mengangguk. “Apalagi Hendro. Kalau dua orang itu gabung, pasti ada bau busuknya.”
Mereka kembali ke RSUD Soetomo hampir lewat tengah malam. Fajar bilang masih ada berkas IGD yang harus ia cek. Ardi ikut karena sejak SIP-nya aktif, ia tidak mau memberi celah kecil pun untuk dipakai Hendro menyerangnya. Rudi duduk di belakang, setengah mengantuk tetapi tetap ikut.
Koridor administrasi sudah sepi. Lampu putih memantul di lantai yang baru dipel. Dari kejauhan, suara monitor pasien terdengar tipis seperti detak mekanis.
Di ruang Fajar, undangan Jakarta masih berputar di kepala Ardi.
Fajar menuangkan air mineral ke gelas plastik. “Saya akan bantu urus izin kalau surat resmi dari Bu Profesor datang. Direktur Hendra kemungkinan besar tidak akan menolak.”
“Terima kasih, Pak.”
“Tapi sebelum Jakarta,” kata Fajar, “kita bereskan rumah sendiri dulu.”
Ardi mengangguk.
Ia baru hendak membuka ponsel untuk mengirim pesan pendek kepada Hartono tentang perkembangan malam itu, ketika dari arah IGD terdengar suara benturan keras.
Brak!
Lalu teriakan.
“Dokter malpraktik keluar!”
Rudi langsung berdiri. “Apa itu?”
Alarm keamanan rumah sakit menyala terputus-putus. Dari jendela kecil ruang Fajar, Ardi melihat beberapa orang berlari di koridor. Seorang satpam mundur sambil menahan bahu, didorong oleh tiga pria berbadan besar yang membawa spanduk.
Tulisan merah di spanduk itu terlihat jelas meski terlipat:
RSUD SOETOMO LINDUNGI DOKTER MALPRAKTIK!
Fajar menyambar jas dokternya dari kursi.
“Hendro di mana?” tanya Ardi.
Rudi sudah membuka grup jaga di ponselnya. “Tidak ada balasan. Katanya izin keluar sebentar.”
Mata Fajar mengeras.
Di koridor, suara perempuan menangis bercampur makian. Troli pasien didorong tergesa oleh perawat. Satu pria memukul meja triase sampai map pasien jatuh berhamburan.
Ini bukan keluarga pasien yang panik.
Ini serangan yang disusun.
Fajar berlari ke pintu, lalu menoleh ke Ardi.
“Ardi, panggil polisi! Sekarang!”
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭