4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Makan Malam Keluarga
Dan membuat punggung Naomi dingin.
Ethan berdiri di ujung koridor dengan senyum yang terlalu tenang untuk jam hampir tengah malam. Cahaya bulan dari jendela tinggi jatuh di bahunya, membuat wajahnya tampak lembut, hampir tidak nyata. Sapu tangan abu-abu di tangannya terlipat sempurna.
Naomi menahan keinginan untuk mundur lebih jauh.
"Aku mau mengambil air," jawabnya.
"Dapur kecil ada di tangga samping." Ethan menunjuk dengan gerakan pelan. "Tapi malam-malam begini, lebih baik panggil pelayan. Rumah ini terlalu besar untuk orang yang belum hafal jalan."
"Terima kasih. Aku bisa."
"Tentu." Senyum Ethan tidak berubah. "Darren pasti memilih perempuan yang bisa."
Kalimat itu terdengar seperti pujian. Entah kenapa, Naomi merasa seperti sedang diuji.
"Selamat malam, Ethan."
"Selamat malam, adik ipar."
Naomi berbalik dengan langkah terkendali. Ia tidak berlari. Tidak menoleh. Baru setelah kembali ke kamar dan melihat Darren masih tertidur, napas yang ia tahan keluar perlahan.
Ia tidak jadi mengambil air.
Keesokan paginya, Darren langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.
"Kamu keluar semalam," katanya saat Naomi baru selesai mencuci muka.
Naomi menatapnya dari cermin. "Kamu tidur."
"Tanganku kosong."
Ia mengangkat tangan yang semalam memegang ujung piyama Naomi. Naomi hampir ingin tertawa, tetapi wajah Darren terlalu serius.
"Aku bertemu Ethan di koridor," katanya jujur.
Darren berdiri dari tepi ranjang. "Dia bicara apa?"
"Tidak banyak. Dia menunjukkan arah dapur."
"Nao."
"Aku tahu." Naomi berbalik, memegang lengannya. "Aku tidak mengikutinya. Aku langsung kembali. Aku juga tidak minum apa pun."
Ketegangan di bahu Darren berkurang sedikit, tetapi matanya tetap gelap. "Mulai malam ini, bangunkan aku."
"Untuk mengambil air?"
"Untuk apa pun."
Naomi ingin membantah, lalu ingat aturan yang mereka buat sendiri. Jika takut, bilang. Jika panik, bilang.
Maka ia mengangguk. "Baik."
Makan malam keluarga resmi diadakan malam itu di ruang makan utama.
Meja panjang dari kayu gelap bisa memuat dua puluh orang. Di atasnya, hidangan tersusun seperti jamuan hotel: sup asparagus kepiting, ayam panggang saus madu, cap cai seafood, ikan kukus, sapi lada hitam, dan dimsum kecil yang disusun di piring porselen. Pelayan berdiri di sepanjang dinding, menunduk rapi.
Engkong belum hadir karena kesehatannya menurun. Kursi paling ujung tetap dibiarkan kosong, seolah bayangannya cukup untuk membuat semua orang ingat siapa yang paling tinggi di rumah itu.
Naomi duduk di samping Darren. Di seberang mereka, Ethan duduk dengan postur santai, Natalia belum terlihat. Helena duduk di sisi kanan kursi kosong Engkong, Felicia di dekatnya, sementara Bryan sibuk memutar gelas air.
Helena membuka percakapan bahkan sebelum sup disajikan.
"Naomi, kamu terbiasa makan dengan banyak orang seperti ini?"
Suara itu lembut, tetapi beberapa pelayan langsung menunduk lebih dalam. Mereka tahu pertunjukan baru saja dimulai.
Naomi meletakkan serbet di pangkuan. "Tidak sesering keluarga Wijaya, Tante."
"Pantas." Helena tersenyum tipis. "Kamu terlihat agak tegang. Di rumah besar, orang harus belajar membawa diri. Apalagi kalau asalnya dari keluarga kecil."
Felicia menutup senyum dengan gelas.
Darren meletakkan sendoknya.
Naomi menyentuh lututnya di bawah meja, meminta ia menunggu.
"Keluarga kecil juga mengajarkan cara membawa diri, Tante," kata Naomi. "Hanya tempat latihannya berbeda."
Helena mengangkat alis. "Begitu? Menarik. Aku hanya khawatir kamu kaget. Di sini, setiap nama punya sejarah. Setiap kursi punya posisi. Tidak semua orang bisa menyesuaikan diri."
"Saya mengerti."
"Tentu saja, kamu sekarang istri Darren. Tapi menjadi istri bukan hanya memakai nama Wijaya. Kamu harus paham garis darah, makam leluhur, aset keluarga, hubungan bisnis. Hal-hal yang mungkin tidak ada di kehidupanmu sebelumnya."
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Beberapa pelayan berdiri kaku. Bryan akhirnya berhenti memutar gelas. Ethan menatap Naomi dengan senyum yang hampir tidak terlihat, seolah menunggu jawabannya.
Naomi mengambil sendok, mencicipi sup, lalu meletakkannya kembali dengan tenang.
"Tante Helena," katanya, "pada akhirnya, semua orang akan jadi abu dan masuk tanah."
Felicia tersedak air.
Helena membeku.
Naomi melanjutkan dengan suara lembut, hampir sopan. "Mau membandingkan siapa yang makamnya lebih mewah?"
Keheningan setelah kalimat itu terasa lebih lezat daripada hidangan mana pun di meja.
Darren menunduk, bahunya bergetar kecil. Ia jelas sedang menahan tawa.
Bryan memandang piringnya dengan sangat serius, tetapi sudut mulutnya naik. Seorang pelayan di belakang hampir menjatuhkan sendok saji.
Wajah Helena berubah merah. "Kamu berani bicara seperti itu pada orang yang lebih tua?"
Naomi menunduk sedikit. "Saya hanya mengikuti topik Tante tentang garis darah dan makam leluhur. Kalau kurang sopan, saya minta maaf."
Minta maaf itu terdengar lebih tajam daripada serangan langsung.
Helena menaruh sendok dengan bunyi kecil. "Orang tuamu tidak sempat mengajarimu bagaimana berbicara pada keluarga suami?"
Kali ini senyum di wajah Darren hilang sepenuhnya.
Naomi menahan napas satu detik. Nama orang tuanya adalah garis yang tidak boleh disentuh sembarangan. Namun jika ia meledak, Helena akan mendapat apa yang diinginkan: bukti bahwa Naomi tidak pantas duduk di meja itu.
"Orang tua saya sudah meninggal," jawab Naomi. "Tapi sebelum pergi, mereka mengajari saya dua hal."
Helena tidak menyangka Naomi akan menjawab setenang itu.
"Pertama, jangan mengambil milik orang lain." Naomi menatap Helena, lalu sekilas pada Felicia yang sejak tadi menikmati pertunjukan. "Kedua, jangan merendahkan orang hanya karena meja makannya lebih kecil."
Seorang pelayan di dekat pintu menunduk lebih dalam, tetapi Naomi melihat bahunya bergetar kecil.
Darren menggenggam tangan Naomi di bawah meja. Bukan untuk menahan. Untuk memberi dukungan.
"Ajaran yang bagus," kata Ethan pelan.
Naomi tidak melepas tatapan dari Helena. "Saya pikir begitu."
Darren akhirnya mengangkat kepala. "Aku pikir jawaban istriku cukup filosofis."
"Darren," desis Helena.
Ethan tertawa pelan. "Adik ipar punya selera humor yang menarik."
Naomi menatapnya. "Terima kasih."
Ethan mengangkat gelas air. "Tidak banyak orang baru yang bisa membuat meja ini hening."
"Mungkin karena saya belum tahu aturan mana yang tidak boleh disentuh," jawab Naomi.
"Atau justru tahu terlalu cepat."
Darren menatap Ethan. "Cukup."
Ethan tersenyum dan minum, seolah tidak terjadi apa-apa.
Helena kehilangan nafsu makan. Ia memberi isyarat pada pelayan untuk mengganti piringnya, lalu berkata dingin, "Kita lihat saja berapa lama keberanian itu bertahan."
Naomi membalas dengan senyum kecil. "Semoga cukup lama untuk menyelesaikan makan malam."
Kali ini Darren benar-benar tertawa.
Suara tawanya membuat beberapa orang di meja terkejut. Mungkin sudah lama tidak ada yang tertawa seperti itu di ruang makan utama Wijaya Estate.
Naomi tidak merasa menang sepenuhnya. Ia tahu ini baru tusukan pertama, bukan perang terakhir. Namun malam itu, setidaknya Helena mengerti satu hal.
Naomi Liem tidak datang ke Rumah Besar untuk ditelan hidup-hidup.