NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21 - Keluarga yang Retak

Kelvin benar. Soal Bagas dan Dimas tidak selesai hanya karena Keiko tersenyum di koridor.

Begitu Keiko masuk kelas, Bagas langsung mendorong buku latihannya ke tengah meja dengan wajah seperti orang hampir tenggelam. Dimas duduk di sebelahnya, memegang pulpen merah, tampak sudah pasrah menghadapi sahabatnya sendiri.

"Nona Guru," kata Bagas, sengaja meniru nada Kelvin, "kalau gue jawab begini, kemungkinan gue selamat berapa persen?"

Keiko menatap lembar itu sebentar. "Dua puluh."

"Lumayan."

"Dari seratus."

Dimas menutup wajah dengan satu tangan. Kelvin, yang baru duduk di kursinya, mengeluarkan suara pendek seperti menahan tawa.

Untuk beberapa menit, kelas terasa seperti sore biasa. Buku latihan terbuka, suara kipas angin berputar di langit-langit, Fajar mengeluh karena penghapusnya hilang padahal penghapus itu ada di bawah sikunya sendiri. Keiko menandai langkah salah di kertas Bagas, lalu menggeser catatan kecil ke arah Kelvin agar dia mengerjakan soal berikutnya.

Ponselnya bergetar di dalam tas.

Keiko hampir tidak memeriksanya. Bu Tuti biasanya mengirim pesan kalau sudah sampai lobby, dan jam pulang masih agak lama. Namun getaran kedua datang terlalu cepat, disusul panggilan singkat yang langsung terputus.

Di layar, nama Mama muncul dengan pesan pendek.

**Mama**: Oma masuk rumah sakit. Setelah pulang langsung ke sini. Jangan banyak tanya.

Ujung pulpen Keiko berhenti di atas kertas.

"Keiko?"

Suara Kelvin pelan, cukup untuk tidak menarik perhatian Bagas dan Dimas. Dia tidak bertanya panjang. Tatapannya turun ke layar ponsel yang belum sempat Keiko kunci.

Keiko menekan tombol samping sampai layar gelap. "Oma masuk rumah sakit."

Rahang Kelvin bergerak sedikit. "Aku antar?"

"Bu Tuti jemput."

"Aku bisa ikut sampai lobby."

Keiko ingin menolak seperti biasa. Tidak perlu. Nggak apa-apa. Aku bisa. Kalimat-kalimat itu sudah hafal di lidahnya, lebih mudah keluar daripada napas. Tapi wajah Kelvin terlalu tenang, seolah dia tidak sedang menawarkan bantuan besar, hanya memindahkan buku yang berat dari satu meja ke meja lain.

Akhirnya Keiko mengangguk kecil. "Sampai lobby saja."

Ketika bel pulang berbunyi, Bagas masih bertengkar dengan soal terakhir. Dimas mengangkat buku mereka berdua tanpa ekspresi. Kelvin tidak ikut komentar. Dia hanya mengambil tas Keiko dari sandaran kursi, mengembalikannya setelah memastikan botol air hangat tidak jatuh.

Di koridor, suara murid pulang sekolah memantul di dinding. Ada yang membicarakan tugas kimia, ada yang sibuk memilih tempat makan, ada yang tertawa keras karena sandal temannya putus. Keiko berjalan di sebelah Kelvin sambil menggenggam tali tas.

"Kalau butuh apa-apa, bilang," kata Kelvin.

Keiko menoleh. "Aku belum tahu butuh apa."

"Nanti kalau sudah tahu, bilang."

Jawaban itu membuat langkah Keiko melambat setengah detik.

Di lobby, mobil Bu Tuti sudah menunggu. Bu Tuti berdiri di samping pintu belakang, wajahnya lebih cemas daripada pesan Mama tadi. Begitu melihat Keiko, beliau langsung membuka pintu.

"Kei, ayo. Oma Tan sadar, tapi dokter bilang harus observasi. Katanya infark ringan."

Kelvin berhenti dua langkah di belakang Keiko. Dia tidak masuk ke urusan keluarga yang bukan miliknya. Hanya ketika Keiko hendak naik mobil, dia menyodorkan kotak susu dari saku jaketnya.

Susu itu hangat.

"Minum di jalan," katanya.

Keiko menerima kotak itu. Di bawah tatapan Bu Tuti yang basah oleh cemas, dia tidak bisa tersenyum terlalu lama. "Terima kasih."

Kelvin memasukkan tangan ke saku. "Kabari."

Keiko mengangguk, lalu pintu mobil tertutup di antara mereka.

Rumah sakit sore itu penuh suara roda ranjang dan pengumuman dari pengeras suara. Bau antiseptik menempel di udara, bercampur aroma bubur dari kantin bawah. Bu Tuti membawa tas kecil berisi baju ganti Oma Tan, sedangkan Keiko membawa rantang stainless berisi bubur halus yang dibeli di perjalanan.

"Dokter bilang Oma harus makan lembut dulu," bisik Bu Tuti saat mereka menunggu lift. "Jangan pedulikan kalau beliau ngomel. Orang sakit kadang emosinya naik."

Keiko menatap lantai lift yang mengilap. Bayangan wajahnya terlihat pucat di sana. "Oma memang begitu, Bu."

Bu Tuti tidak langsung menjawab.

Di ruang rawat, Oma Tan berbaring dengan selang infus di punggung tangan. Satu sisi wajahnya tampak lebih kaku, tetapi matanya masih tajam. Lilian berdiri dekat jendela sambil menelepon seseorang dengan suara tertahan. Hendry tidak terlihat. Di sofa kecil, Benjamin Tan duduk menyilangkan kaki, kemejanya rapi, jam tangan di pergelangan memantulkan cahaya lampu.

Begitu Keiko masuk, suara Lilian berhenti.

Oma Tan menoleh pelan. Tatapannya turun dari wajah Keiko ke rantang di tangannya, lalu naik lagi dengan dingin.

"Siapa yang suruh kamu datang?"

Keiko berhenti di ambang pintu. "Mama yang mengirim pesan."

Lilian menutup telepon dan memijat pelipis. "Mama jangan ribut dulu. Tekanan darah Mama baru turun."

"Aku tanya, siapa yang suruh anak ini datang?" Suara Oma Tan serak, tapi cukup keras membuat pasien di kamar sebelah terdengar berhenti bicara. "Bawa penyakit ke mana-mana, sekarang mau lihat aku mati?"

Jari Keiko mengencang di pegangan rantang.

Bu Tuti maju setengah langkah. "Oma, Keiko cuma bawakan bubur. Dokter bilang harus makan."

"Kamu diam. Kamu cuma pembantu."

Wajah Bu Tuti memucat, tetapi beliau tidak mundur. Keiko yang lebih dulu bergerak. Dia berjalan ke meja samping ranjang, meletakkan rantang pelan, lalu membuka tutupnya. Uap tipis keluar bersama aroma jahe dan ayam.

"Oma makan sedikit, ya. Biar obatnya tidak kosong di perut."

Oma Tan menatap sendok yang Keiko pegang.

Untuk satu detik, ruangan hening.

Lalu tangan Oma Tan bergerak mendadak. Tidak terlalu kuat, karena tubuhnya masih lemah, tetapi cukup untuk menepis mangkuk kecil dari tangan Keiko.

Bubur hangat tumpah ke seragam putih Keiko.

Sendok jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring.

Lilian menarik napas tajam. Benjamin Tan berdiri sedikit, lalu duduk lagi. Dari luar, seorang perawat menoleh melalui celah pintu.

Keiko tidak bersuara. Panas bubur meresap ke kain di bagian perutnya. Kulitnya tidak sampai terbakar, tetapi rasa hangat itu membuat lambungnya berkontraksi. Dia menekan bibir, menahan mual yang tiba-tiba naik.

"Oma," kata Lilian, kali ini lebih seperti keluhan daripada teguran, "nanti perawat masuk."

Bukan `Keiko, kamu sakit?`

Bukan `Maaf.`

Hanya kekhawatiran agar orang luar tidak melihat.

Bu Tuti cepat mengambil tisu dari tas. "Kei, sini, Bu bersihkan."

"Nggak apa-apa." Keiko berjongkok, memungut sendok dari lantai. Tangannya sedikit gemetar, jadi sendok itu sempat tergelincir lagi sebelum dia berhasil memegangnya.

Oma Tan memalingkan wajah ke jendela. "Aku tidak mau makan dari tangan anak pembawa sial."

Kalimat itu tidak keras. Justru karena tidak keras, ia terdengar jelas sampai ke sudut ruangan.

Keiko berdiri dengan sendok di tangan. Di dalam dadanya, ada sesuatu yang jatuh pelan, seperti kancing kecil lepas dari baju lama. Tidak menimbulkan suara besar, tetapi setelah lepas, baju itu tidak pernah tertutup dengan cara yang sama.

Benjamin Tan berdeham. "Sudahlah, Lilian. Kalau Mama belum mau makan, jangan dipaksa."

Lilian menoleh padanya seolah baru ingat urusan yang lebih penting. "Benny, soal deposit rawat inap tadi bagaimana? Aku sudah bilang ke bagian administrasi, kita akan lunasi malam ini."

Wajah Benjamin langsung berubah. Bukan marah, hanya tertutup. Seperti pintu kaca di kantor yang otomatis mengunci setelah jam kerja.

"Aku belum bisa bantu."

Lilian menatapnya. "Benny, ini Mama kamu."

"Dan kamu anak perempuan tertua." Benjamin merapikan ujung lengan kemejanya. "Selama ini yang paling dekat dengan Mama kan kamu. Rumah, perawat, obat, semua keputusan kamu yang ambil. Jangan setiap ada tagihan baru rekeningku yang dicari."

"Hendry sedang di luar kota."

"Itu urusan suamimu."

Keiko masih berdiri di samping ranjang, seragamnya basah oleh bubur. Perawat akhirnya masuk membawa kain lap, wajahnya profesional tetapi matanya jelas melihat semuanya. Bu Tuti mengambil lap itu dengan ucapan terima kasih pelan, lalu membersihkan lantai agar perawat tidak perlu terlalu lama berada di tengah keluarga yang retak.

Lilian menurunkan suara. "Biaya Keiko juga sudah besar. Kamu tahu sendiri."

Nama Keiko jatuh di meja seperti kartu tagihan tambahan.

Benjamin melirik Keiko sekilas. "Justru karena itu kalian harus atur prioritas. Aku tidak mau rekeningku jadi cadangan untuk semua masalah keluarga ini."

Bu Tuti berhenti mengelap.

Keiko menatap noda bubur di seragamnya. Ayam yang tadi diaduk halus menempel di lipatan kain, kecil-kecil, memalukan. Dia ingin sekali tiba-tiba berada di kelas XI-IPA 4, mendengar Bagas salah membaca rumus, Dimas menghela napas, dan Kelvin mengetuk meja untuk mengingatkannya minum.

Di sana, susu dingin saja dipikirkan agar tidak menyakiti perutnya.

Di sini, keberadaannya dihitung bersama tagihan.

"Aku ke toilet sebentar," kata Keiko.

Tidak ada yang menahannya.

Bu Tuti langsung mengikuti. Di toilet keluarga dekat ujung koridor, beliau mengunci pintu lalu membasahi tisu. Tangannya gemetar saat membersihkan seragam Keiko. Setiap kali tisu menyentuh noda di perut, Keiko menahan napas agar tidak meringis.

"Panas, Nduk?"

"Sudah tidak."

"Bohong."

Keiko menunduk. Air keran terus mengalir, suaranya menutup percakapan di luar. Di cermin, matanya terlihat terlalu tenang. Dia mengeluarkan ponsel dari saku rok, membuka ruang chat dengan Kelvin.

Pesan terakhir masih dari siang tadi.

**Kelvin**: Jangan lupa minum.

Keiko mengetik pelan.

**Keiko**: Hari ini aku mungkin nggak bisa video call belajar. Ada urusan keluarga.

Dia berhenti, lalu menambahkan satu kalimat.

**Keiko**: Aku baik-baik saja.

Biasanya, Kelvin akan membalas cepat. Kadang hanya `hmm`, kadang `jangan bohong`, kadang foto Yuan Yuan yang tidur di atas buku. Keiko menunggu sambil Bu Tuti membersihkan noda terakhir di seragamnya.

Satu menit berlalu.

Dua menit.

Di layar, pesan itu tetap centang satu.

Keiko menatap tanda kecil itu sampai matanya perih. Untuk pertama kalinya sejak sore tadi, rasa takut yang muncul bukan hanya karena ruang rawat, bukan karena Oma Tan, bukan karena tagihan yang disebut seperti kesalahannya.

Kelvin tidak menerima pesannya.

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!