NovelToon NovelToon
Setelah Kata Usai

Setelah Kata Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Fahri Sohil Munawar

Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
​Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
​Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
​"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11 akhirnya terungkap

Malam mulai menyambut. Sinar bintang perlahan mengambil alih langit malam tatkala mentari benar-benar tenggelam di ufuk barat. Agenda Alex malam ini adalah bertemu dengan Kak Nadia—kakak angkatnya yang sudah bertahun-tahun tidak ia temui. Pertemuan yang sangat ia nantikan untuk mengobati rasa rindu, sekaligus mencari ketenangan.

​“Mmm... Semoga setelah cerita ke Kak Nadia nanti, pikiran soal Putri bisa pelan-pelan hilang,” gumam Alex dalam keheningan kamar, sambil merapikan pakaian yang ia kenakan.

​Setelah merasa siap, jemarinya langsung menekan tombol panggil di ponselnya untuk mengabari sang kakak.

​Tut... tut... tut…

​“Kak, Alex udah mau berangkat nih!” seru Alex saat sambungan terhubung, memancarkan nada gembira yang tak bisa ia sembunyikan.

​“Oke. Kakak sebenarnya udah di sini dari tadi,” sahut Kak Nadia dari kafe tempat mereka berjanji untuk bertemu.

​Mendengar hal itu, nada bicara Alex mendadak berubah agak cemberut gaya manja khas seorang adik laki-laki kepada kakak perempuannya.

​“Lho, kok enggak ngabarin dari tadi sih, Kak? Kalau tahu gitu kan Alex berangkat dari kemarin-kemarin!”

​“Halah, udah cepat ke sini!” potong Kak Nadia terkekeh, lalu langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.

​Alex tersenyum tipis, lalu segera memacu sepeda motornya menembus dinginnya angin malam.

​Namun, di tengah perjalanan menuju kafe, sudut mata Alex menangkap sesuatu dari kejauhan. Sosok cewek yang sangat familiar sedang berboncengan mesra dengan seorang laki-laki di atas motor lain.

​Putri?

​Penasaran, Alex mencoba mempercepat laju motornya untuk menyusul. Namun, lampu lalu lintas mendadak berganti merah, memaksa Alex menginjak rem dan menghentikan kendaraannya. Mungkin semesta sedang bekerja—memberi jeda karena belum waktunya Alex mengetahui kenyataan pahit bahwa lelaki yang membonceng Putri adalah Marko, sahabatnya sendiri.

​Alex bersandar di stang motornya, menatap lampu merah yang menyala garang. Pikiran buruk mulai berkecamuk di kepalanya.

​Put... Itu beneran kamu? Kalau itu kamu, apa artinya selama kita pacaran kemarin kamu udah main belakang di belakangku?

​Namun entah mengapa, malam ini rasanya berbeda. Dada Alex tak lagi sesakit biasanya. Rasa lelah yang menumpuk seolah perlahan mematikan rasa. Hatinya mulai berbisik pelan namun tegas: Ah, cewek kan bukan cuma Putri. Kamu layak dapet yang lebih baik, Lex.

Sesampainya di kafe, Alex melangkah menuju kasir. Entah mengapa, lidahnya tak lagi berselera pada Ice Latte manis yang dulu selalu jadi favoritnya. Malam ini, Alex justru memesan segelas Americano dingin tanpa gula dan pahit, persis seperti suasana hatinya saat ini.

Sambil menunggu pesanan, Alex mengedarkan pandangan. Karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu, ia sampai lupa raut wajah kakak angkatnya itu. Alex pun membuka ponsel, memperhatikan foto Kak Nadia sebentar hingga matanya tertambat pada sosok cewek yang duduk sendirian di sudut ruangan.

"Kak Nadia?" tanya Alex ragu, takut salah orang.

Cewek itu menoleh. "Iya, betul. Ini... Alex?"

Kak Nadia tampak pangling menatap adik angkatnya yang kini tumbuh tinggi dan berbadan tegap—jauh berbeda dari sosok kecil saat terakhir kali ia lihat di kelas 2 SMA.

"Iya, Kak, hehe..." jawab Alex canggung.

"Wah, kamu udah besar banget, Lex! Dulu masih cilut, sekarang badannya bagus. Sering olahraga ya?" puji Kak Nadia terkekeh.

"Hehe, iya Kak."

Obrolan hangat dan basa-basi melepas rindu pun mengalir. Namun setelah suasana makin mencair, Kak Nadia pelan-pelan mengarahkan pembicaraan ke topik utama.

"Kok bisa sih kamu putus sama Putri?" tanya Kak Nadia lembut.

Alex menghela napas panjang. "Gak tahu, Kak. Tiba-tiba Putri minta putus, terus malah nyuruh Alex cari kesalahan Alex sendiri. Alex bingung."

"Mungkin Putri udah ada yang lain kali, Lex?" tebak Kak Nadia hati-hati.

"Mungkin Kak... Tapi Alex juga gak tahu pasti."

Suasana mendadak hening. Kak Nadia menatap Alex dengan tatapan iba, lalu memberanikan diri membuka kebenaran yang ia simpan.

"Kamu tahu gak, Lex? Semalam... Kakak gak sengaja ketemu Putri di kafe. Dia udah sama cowok lain," ucap Kak Nadia pelan, berusaha menjaga perasaannya.

Alex mengangguk pelan. "Oh iya? Kakak tahu siapa cowoknya? Tadi pas jalan ke sini, Alex juga sempat ngeliat Putri dibonceng cowok di jalan."

"Kakak sempat foto diam-diam semalam. Nih..." Kak Nadia menyodorkan layar ponselnya.

Seketika, dunia Alex seolah runtuh.

Dada Alex sesak luar biasa, matanya memanas dan air mata hampir meledak keluar. Namun, Alex menahannya sekuat tenaga—ia tidak mau merusak suasana di depan kakak angkatnya. Cowok di foto itu... adalah Marko. Sahabat karibnya sendiri.

"Oh... itu cowoknya," bisik Alex, suaranya agak bergetar.

Kak Nadia memperhatikan perubahan raut wajah Alex yang hancur. "Kamu kenal cowok itu, Lex?"

"Itu Marko, Kak... Temen deket aku sendiri," jawab Alex lirih.

Mendengar hal itu, Kak Nadia langsung menggenggam jemari Alex, menguatkan. "Oh... Ya ampun, Lex. Ya udah, ikhlasin ya? Jangan bikin masalah, jangan berantem. Jaga pertemanan kalian. Biarin dia bahagia, kamu gak usah ganggu lagi." Kak Nadia tahu betul betapa nekatnya Alex kalau sedang terbakar emosi.

Alex mencoba tersenyum, menguatkan dirinya sendiri. "Iya, Kak, siap... Alex bakal berusaha lupain Putri."

Setelah percakapan berat itu, mereka mengalihkan topik ke hal-hal lain hingga akhirnya memutuskan berpisah dan pulang.

Di perjalanan pulang, rasa kecewa berkecamuk hebat di dada Alex. Ia dikhianati dua kali lipat: oleh wanita yang paling ia kasihi, dan oleh sahabat yang paling ia percayai.

Ada bagian dari dirinya yang berharap ini semua cuma mimpi buruk. Namun di sisi lain, Alex mencoba menghibur dirinya sendiri,ia tahu Marko belum pernah berpacaran seumur hidupnya, mungkin ini saatnya Marko merasakan cinta, walau harus mengorbankan pertemanan mereka.

Sesampainya di rumah, dada Alex makin sesak. Entah karena dorongan emosi atau rasa pasrah yang teramat sangat, Alex justru mengirimkan foto Marko dan Putri ke grup WhatsApp bertiga bersama Umam.

[Foto Marko dan Putri]

“Congrats kalian berdua... Langgeng terus, oke. Mar, gue titip Putri ya,” tulis Alex di grup.

Tak butuh waktu lama, Umam membalas dengan nada murka dan tak percaya.

“WHAT?! Lo bego si Ko! Lo tahu sendiri si Alex masih... Ahkkk tolol banget lo Marko!” cerceca Umam di grup.

Namun, pesan murka Umam hanya dibalas centang biru oleh Marko. Marko memilih bungkam.

Khawatir dengan kondisi Alex, Umam langsung mengirimkan pesan pribadi (chat personal) untuk menyemangati sahabatnya itu.

“Yang sabar, Lex. Banyak cewek yang nunggu lu. Besok kita cari bareng-bareng lagi!” tulis Umam.

“Iye Mam, santai aja,” balas Alex singkat, mencoba berpura-pura tegar di tengah badai emosi.

Namun, ketenangan Alex runtuh seketika saat sebuah notifikasi pesan pribadi masuk. Dari Marko.

Marko mengirimkan foto dirinya yang sedang berdua bersama Putri malam ini. Di bawah foto tersebut, tertera sebuah pesan singkat yang membuat darah Alex mendidih:

“IJIN ya Lex 😉”

Tangan Alex mengepal erat. Rasa sabar yang dari tadi ia tahan runtuh seketika.

“Maksud lo apa, Ko?” balas Alex menahan amarah.

Namun, tidak ada balasan lagi. Hanya dua centang biru yang tersisa.

Lantas, apa maksud di balik pesan provokatif Marko? Apakah ia sengaja mengajak berperang? Atau jangan-jangan... ponsel Marko sebenarnya sedang dipegang oleh Putri yang sengaja memanas-manasi Alex?

[ AKHIR BAB 6 ]

1
Putry Chan
deskripsi terlalu bertele-tele, belum nyambung.
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa

dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita
Fahri Sohil Munawar: terimakasih kak atas sarannya akan saya perbaiki terimakasih mohon bimbingannya
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Fahri Sohil Munawar: makasih kak sudah mampir 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!