Bilawal Kenta Faaruq nama seorang anak lelaki tampan yang mempunyai arti lelaki yang selalu menjaga kehormatan, harga diri dan bijak dalam bertindak apapun nyatanya tidak sesuai dengan kenyataan.
Al biasa dia dipanggil oleh teman-temannya adalah seorang ketua Basis di sekolahannya. Tiada hari tanpa masalah yang menghiasi hari-harinya. Keluar masuk ruang BP dan kantor polisi selalu ia lakoni namun tak kunjung jua dikeluarkan dari sekolahnya karena keponakan dari kepala sekolah tempatnya belajar sekaligus papanya menjadi penyumbang utama di sana.
Suatu hari Al bertemu dengan Makaila yang tidak lain ketua OSIS yang terkenal galak.
Konflik terjadi antara mereka berdua sampai akhirnya Al menyukai Makaila dan menjadi cinta pertamanya. Segala cara Al lakukan agar Makalia menyukainya, sampai Makalia menjadi target musuh anak Basis Al.
Segala cara Al lakukan untuk melindunginya sampai nyawa menjadi taruhannya.
Hi jangan lupa follow akun IG snow_white97suga
Tik-tok. snowwhite19975
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Bilawal
Aliran darahnya mendidih dan seperti ada sengatan listrik menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat respon syaraf otak dan motoriknya terhenti.
Ia membeku dan tidak berkedip saat Bilawal mencium pipi sebelah kanannya. Napasnya terasa sedikit tersendat dan detak jantungnya mendadak tidak menentu, serta wajahnya terlihat sedikit memerah merona.
Bukan hanya Makaila tapi juga Bilawal yang hatinya begitu porak-poranda, pikirannya berisik dan tubuhnya mematung sesaat ketika ia mencium pipi Makaila.
Entah dorongan dari mana Bilawal begitu berani berbuat seperti itu di luar kendalinya. Ia tidak bisa menahan dirinya setiap kali berada di hadapan Makaila.
Kedua bola mata Makaila membulat sempurna menatap Bilawal dengan bibirnya terbuka lebar menahan napasnya, lalu tangan kanannya begitu kencang menampar pipi lelaki penyuka jeruk.
Plak.....Suara tamparan terdengar begitu keras membuat pipi Bilawal terlihat sedikit memerah. Bilawal hanya terdiam saat Makaila menamparnya seolah tidak perduli perempuan bermata indah akan marah kepadanya.
Wajah Makaila merah padam dengan sorot mata yang begitu tajam seolah murka dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Bilawal.
"Kurang ajar lo! Dasar cowok mesum!" Bentak Makaila murka dan Bilawal hanya terdiam tidak banyak bicara tidak ada juga rasa menyesal.
Teman-temannya hanya terdiam saling menatap satu sama lain, mereka tidak menyangka jika Bilawal akan melakukan sesuatu yang di luar kehendaknya selama ini.
"Brengsek tahu nggak lo! Gue nggak akan tinggal diem aja sama perlakuan lo, PAHAM!" Makaila pergi begitu saja dengan emosi yang masih meluap di hatinya meninggalkan Bilawal.
Tamparan Makaila menyadarkannya jika semua bukan mimpi dan semua yang dilakukannya secara sadar.
"Si kampret malah nyium dia lagi," celetuk Fabio seraya tertawa ringan disambut dengan temannya yang lain juga ikut meledeknya.
"Bikin masalah aja lo," timpal Deren menggelengkan kepalanya.
Bilawal masih terdiam membisu dengan tatapan kosong dan pikirannya entah kemana, ia merasa ada yang aneh menggelitik di hatinya. Sesuatu yang aneh belum pernah terjadi padanya.
"Dih, malah bengong lagi nih anak!" Teriak Kentaro mencoba menyadarkan Bilawal yang masih terdiam membeku.
Tanpa banyak bicara ia meninggalkan teman-temanya begitu saja membuat semuanya keheranan dengan perubahan sikap Bilawal.
Meski kaki sebelah kanannya tidak memakai alas sepatu tidak membuat Makaila memperdulikannya langkahnya yang terus menjauh dari lapangan basket dengan rasa dongkol di hatinya.
Sedari tadi tatapan Bilawal begitu kosong menatap ke sembarang arah di kamarnya. Perasaannya kacau dan tidak karuan, yang jelas sedari tadi ia merasakan hal-hal aneh di dalam hatinya.
Sejak Makaila selalu ada di hadapannya ada sesuatu bergetar aneh di dalam dadanya. Di sisi lain juga Bilawal sangat kesal karena Makaila selalu mencampuri urusannya.
"Mau sampe kapan lo bengong?" tanya seseorang yang dari ambang pintu kamar yang terbuka tidak ditutup.
Suara yang sangat dikenalnya membuat dirinya tersadar dan menoleh ternyata Kentaro sudah berdiri sejak tadi di sana dengan senyuman menggoda.
Wajahnya yang tadinya terlihat sangat tenang berubah sedikit murung dan jengkel saat kehadiran Kentaro di sana, dan teman baiknya hanya tertawa ringan seraya menghampirinya.
"Mikirin apa sih sampe bengong kaya gitu?" tanya Kentaro duduk di ujung meja belajar Bilawal seraya menatapnya yang masih duduk di atas tempat tidur.
Baru saja Kentaro mengajukan satu pertanyaan kepadanya membuat Bilawal tiba-tiba saja terlihat sangat gugup.
"Siapa yang bengong?" tampik Bilawal balik bertanya mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Nggak usah bohong sama gue. Pasti lagi mikirin kejadian tadi, kan?" tebak Kentaro lagi menggoda Bilawal.
"Siapa yang bohong?" tampik Bilawal terus menghindari pertanyaan Kentaro dan sayangnya Bilawal tidak bisa berbohong kepadanya.
"Gimana kalau lo deketin dia dan pura-pura jadi pacarnya?" saran Kentaro membuat Bilawal spontan menatap ke arahnya dengan kedua bola matanya membulat sempurna.
Gila, itulah yang ada dipikiran Bilawal saat satu kalimat terlontar dari mulut Kentaro. Bagaimana bisa Ken begitu disapa memberi saran kepadanya.
Hanya tawa ringan dan gelengan kepala yang bisa Bilawal lakukan mendengarnya, matanya menyipit menatap Kentaro tentang rencana gilanya.
"Gila!" Hanya satu kata yang keluar dari mulut Bilawal.
"Kalau bisa buat dia suka dan jadi pacar lo, dia pasti akan melakukan semua yang lo mau dan nggak akan ganggu kita."
Mulut Bilawal membisu tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya, ia tidak akan melakukan hal konyol yang diucapkan oleh Kentaro tadi. Baginya sangat merepotkan berurusan dengan perempuan.
"Cari masalah lo sama gue!" Bilawal mulai terdengar kesal dengan ide Kentaro.
"Coba pikirin kalau sampai dia jatuh ke tangan lo nanti dia nggak bakal berani macem-macem." Kentaro terus memprovokasi Bilawal agar mau membuat Makaila suka kepadanya.
Pikirannya mulai mencerna semua ucapan Kentaro dan membayangkan adegan demi adegan bagaimana jika Makaila bisa berada di dalam genggamannya, pasti dia tidak akan pernah merepotkannya lagi.
*
*
*
RUMAH MAKAILA
Entah sudah berapa kali gadis berambut panjang sebahu berwarna hitam membasuh wajah dan mencucinya dengan facial wash. Seolah ada noda menempel yang sulit untuk dihilangkan.
Makaila ingin menghilangkan noda bekas ciuman Bilawal yang mendarat di pipinya. Cuman pertama baginya dari seorang lelaki selain papanya.
Sampai saat ini Makaila masih terlihat sangat kesal dan emosi saat mengingat kejadian tadi, tatapannya begitu tajam menatap pantulan wajahnya di cermin yang basah karena sehabis mencuci muka.
"Awas kamu Bilawal!" Gerutu Makaila dalam hati dengan emosi yang menggebu-gebu.
Setelah selesai mencuci muka entah untuk yang keberapa kalinya, Arunika menelepon dirinya bertanya kenapa ia pulang lebih dulu. Tentu saja Makaila tidak bisa berbohong kepada Arunika dan menceritakan semuanya.
Arunika mendengarkan cerita Makaila ternyata perselisihan antara mereka berdua semakin sengit saja.
Di sisi lain Arunika juga tertawa terbahak-bahak karena seorang Bilawal dikenalnya begitu dingin dan sangat kasar nekat berbuat seperti itu kepada Makaila.
"What! Dia nyium lo!" Suara Arunika terdengar berteriak di ujung telepon sana membuat telinga Makaila sedikit kesakitan menjauhkan ponsel miliknya sesaat.
Berbeda dengan Makaila yang sangat kesal jika ia mengingat kejadian tadi, sungguh sangat membuat hatinya terbakar emosi ingin membalas perbuatannya.
"Nggak usah ketawa, nggak ada yang lucu!" Suara Makaila terdengar sangat sinis membuat Arunika mengecilkan suara tawanya sedikit.
"Jangan-jangan dia suka sama lo lagi," tebak Arunika menggoda Makaila dan sontak membuatnya kembali tersulut emosi.
"Mana ada orang kaya gitu suka sama gue? Yang ada kita berdua kaya kucing sama anjing!"
"Hahaha....Nggak boleh begitu, memang lo nggak pernah denger yang namanya benci jadi cinta?" sindir Arunika lagi terus menggoda Makaila yang mudah sekali marah saat disinggung masalah Bilawal.
"Dia bukan tipe gue dan nggak akan pernah gue suka sama dia!" Sumpah Makaila dengan nada tegas dan sinis.
Selama ini Bilawal jika ada perempuan yang membuat masalah dengannya selalu teman-temannya yang menyelesaikannya karena ia sangat malas, dan jika ada yang menyukainya pasti ia akan segera menolaknya tanpa mengukur waktu.
Tapi saat bertemu dengan Makaila terlihat berbeda seolah ada angin baru menghampirinya. Arunika memang mengenal Bilawal karena mereka berdua satu sekolahan dulu saat masih SMP.
Jujur perasaan Makaila masih dilanda kesal meskipun bisa lupa sejenak tapi setelah kembali ke sekolah ia akan kembali bertemu dengan Bilawal.
Tring....Tring...Tring....Suara bunyi pesan saling bertautan di grup chat sekolah dan anggota OSIS.
Entah berapa pesan yang masuk yang pasti begitu banyak pesan menumpuk di sana dalam hitungan detik. Penasaran aka pesan yang begitu banyak lagi ini membuat Makaila yang biasanya membuka ponsel di dalam mobil kini membuka pesan setelah selesai sarapan.
Hatinya yang mulai tenang dan wajah cantiknya mendadak memerah menyimpan amarah saat melihat sesuatu di grup chat. Sebuah foto yang membuat hatinya berdekat sangat kencang.
Sebuah foto dirinya dengan Bilawal kemarin yang tidak ingin diingat dan mula dilupakan olehnya. Deru napasnya mulai cepat ternyata Deren dengan sengaja mengambil foto saat Bilawal mencium pipinya lalu disebarkan di grup sekolah.
Tangannya gemetaran menggenggam erat ponsel seolah ingin membantingnya lalu menghajar Bilawal. Semua ucapan negatif dan juga positif menghiasi grup chat sekolah dan OSIS, serta ada beberapa pesan pribadi masuk dari Jhousan dan Nares.
Bagaimana Makaila akan menjelaskannya karena semua siswa menyangka jika dirinya mempunyai hubungan dengan Bilawal. Apalagi Bilawal membuat caption yang mencolok semakin membuat Makaila ingin sekali membunuhnya, caption bertuliskan "Jangan Coba Ganggu Cewek Gue!".
*
*
*
*
Tring....Suara ponsel Kelvin berbunyi saat ia sedang bermain boxing bersama dengan pelatih pribadinya di rumah megah miliknya.
Sesaat ia menghentikannya lalu membuka sarung tinju yang membalut kedua tangannya, tubuhnya terlihat banyak berkeringat membasahi kaos berwarna putih yang dipakai olehnya.
Sebuah pesan masuk dari seseorang mata-matanya mengirimkan foto Bilawal yang sedang mencium Makaila.
"Target baru." Isi pesannya membuat amarah yang ada di aliran darahnya mula mendidih.
Kelvin adalah salah satu sahabat baik Bilawal, dulu. Saat SMP hubungan mereka begitu dekat bahkan mereka menjadi keluarga, tapi semua berubah saat kematian Ethan dan Aluna. Mereka bedua saling membenci dan hubungannya hancur berantakan.