Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Setengah jam kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Ardi melangkah keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya, menyisakan tetesan air yang membasahi dada. Begitu matanya menangkap sosok Sarah yang sedang merapikan sprei di ranjang, gerakan Ardi seketika terhenti.
Dari posisi berdiri di ambang pintu, Ardi memperhatikan lekuk tubuh istrinya yang terbalut dres warna pastel tersebut. Pakaian itu melekat pas, memperlihatkan siluet tubuh Sarah yang ternyata sangat proporsional. Entah karena Ardi yang terlalu sibuk di luar selama ini atau memang Sarah yang diam-diam pandai merawat diri, yang jelas di mata Ardi, istrinya kini terlihat jauh lebih cantik, segar, dan seksi.
Gairah Ardi mendadak tersulut. Mengingat sudah berbulan-bulan mereka tidak berhubungan badan karena Ardi selalu beralasan sibuk dengan urusan kantor—padahal menghabiskan waktu bersama Tyas—pria itu kini merasakan dorongan yang kuat untuk menyentuh istrinya kembali.
Ardi berjalan mendekat dengan langkah pelan, mengikis jarak di antara mereka. Dari belakang, dia langsung melingkarkan lengannya di pinggang Sarah, memeluknya erat, dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sarah yang beraroma mawar segar.
Sarah tersentak kecil. Sentuhan mendadak itu seketika memicu alarm bahaya di kepalanya. Ketika kulit Ardi yang hangat menyentuh lehernya, rasa mual dan jijik yang luar biasa hebat langsung bergolak di dalam perutnya. Otak Sarah langsung berputar cepat, membayangkan bahwa tubuh pria ini baru saja menyatu dengan Tyas di hotel beberapa jam yang lalu. Menyerahkan dirinya pada Ardi saat ini sama saja dengan merusak harga dirinya sendiri.
"Mas Ardi... kaget, ih," ucap Sarah, memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar manja untuk menyembunyikan getaran amarahnya.
"Kamu wangi banget hari ini, Sayang," bisik Ardi dengan suara rendah yang serak, mencoba merayu. Tangannya mulai bergerak nakal ke atas, mengusap lengan Sarah. "Sudah lama kan kita tidak santai berdua seperti ini? Mas kangen. Tolong penuhi hak Mas sekarang, ya?"
Ardi membalikkan tubuh Sarah agar menghadap ke arahnya. Tatapan matanya penuh dengan hasrat, sangat yakin bahwa istri penurutnya ini tidak akan pernah bisa menolak permintaannya.
Sarah menatap langsung ke dalam mata Ardi. Senyum manis andalannya tetap terkembang di bibir, meski di dalam hati dia sedang merutuki kebuasan suaminya. Dia tahu, jika dia menolak mentah-mentah, ego Ardi akan terluka dan pria itu bisa menjadi curiga atau bahkan marah. Sarah harus menolaknya dengan cara yang elegan, memanfaatkan kelemahan terbesar Ardi: kesombongan bisnisnya.
Dengan gerakan yang sangat halus, Sarah meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang Ardi, menahannya dengan lembut agar tidak bergerak lebih jauh. Dia mendongak dengan tatapan mata yang dibuat seolah-olah penuh dengan rasa sesal dan pemujaan.
"Mas, aku juga mau banget... tapi maaf ya, Mas. Aku lagi halangan," ucap Sarah dengan nada suara yang terdengar kecewa dan manja, pandangannya meredup seolah ia sangat menyesali keadaan tubuhnya sendiri. "Baru tadi subuh dapatnya.
Mendengar itu, ekspresi bergairah di wajah Ardi langsung lenyap seketika, digantikan oleh rasa sebal yang kentara. Guratan kecewa di dahinya berubah menjadi tatapan dingin.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau membalas ucapan Sarah, Ardi langsung melepaskan pelukannya dengan kasar. Dia berbalik membelakangi Sarah, melangkah acuh tak acuh menuju lemari pakaian untuk bersiap-siap pergi lagi. Sikap hangat dan rayuannya semenit lalu menguap begitu saja, menyisakan keangkuhan mutlak seorang pria yang hanya peduli pada kepuasan dirinya sendiri.
Sarah melangkah mundur menjauh dari ranjang, menatap punggung Ardi yang sedang memakai kemejanya dengan gerakan gusar. Senyuman palsu di wajah Sarah luruh sepenuhnya, digantikan oleh sorot mata yang sedingin es dan penuh kebencian. Namun, di balik tatapan dingin itu, ada rasa puas yang membuncah di dada Sarah. Dia merasa sangat senang karena berhasil mengerjai Ardi, mengobarkan gairah pria itu lalu memadamkannya begitu saja hingga membuat suaminya mati kutu karena kekesalan.
Sikap dingin dan acuh tak acuh Ardi barusan sama sekali tidak melukai hatinya. Malah, melihat wajah dongkol Ardi yang menahan berang justru menjadi hiburan tersendiri bagi Sarah. Hal ini semakin mempertegas dalam benaknya bahwa pria egois di depannya memang tidak layak mendapatkan belas kasihan sedikit pun.
Pergilah dengan kekesalanmu itu, Ardi, cibir Sarah dalam hati dengan sangat kejam. Bersenang-senanglah membuang energimu di luar sana. Karena begitu permainan ini selesai, kamu tidak akan punya tempat lagi untuk pulang.