Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pagi itu masih menyisakan kabut tipis saat Marco tiba di lokasi tanah yang sejak lama menjadi incarannya. Bersama Onta, Gagak, dan dua anak buahnya mereka tiba di lokasi. Tidak peduli rumput yang basah oleh embun pagi mengotori sepatunya yang kelimis.
Rencana pagi ini sebenarnya hendak mengantar anak-anaknya pindahan, tapi gagal karena memastikan dulu laporan anak buahnya.
"Kurang ajar!" gumamnya murka ketika pemandangan di sana seketika membuat rahangnya mengeras. Puluhan orang bersenjata tajam dari kelompok mafia tanah saingan sudah lebih dulu menduduki lahan, bahkan mulai memasang papan nama secara paksa.
"Kalian berani-beraninya menginjak wilayah saya!" desis Marco dingin, melangkah maju tanpa gentar.
"Hahaha... Anda ini siapa? Berani sekali mengaku-ngaku yang punya wilayah?! Yang benar itu leluhur saya orang pribumi yang punya wilayah sejak saya belum lahir." pimpinan pria itu mengacungkan senjata.
Marco menyeringai sinis, siap melayani tantangan pria yang banyak bicara itu.
"Anda ini pendatang tapi berani mengaku-ngaku. Hah?! Langkahi dulu mayat saya!" tantang lawan, sambil maju dengan cepat, siap melawan mafia yang dia dengar tidak ada tandingannya. "Orang boleh menganggap Anda tidak terkalahkan, tapi saya pastikan hari ini terakhir petualanganmu!" Lanjut lawan yang sudah berada di hadapan Marco.
"Hahaha... besar juga nyali Anda! Badan kerempeng kurang gizi sepertimu berani melawan saya!" Marco tertawa lebih kencang.
Buk!
Satu pukulan dari tangan kekar Marco mengenai wajah pria itu hingga sempoyongan.
Suasana memanas seketika, tanpa peringatan lebih lanjut, terjadilah baku hantam. Lima orang dari pihak Marco melawan 10 orang tentu saja Onta dan Gagak sempat tidak bisa mengimbangi. Benturan tubuh, deru napas, dan suara senjata beradu memenuhi udara.
Sementara Marco walau tubuhnya terasa kaku dan pikirannya terbagi dengan anak-anaknya yang pasti sedang menunggunya, ia bergerak lincah dan mematikan, menepis serangan demi serangan dengan tenaga penuh. Namun, jumlah lawan terlalu banyak dan mulai curang, salah satu dari mereka mengacungkan senjata api ke arah Onta dan Gagak.
Tanpa ragu sedetik pun, Marco menyambar pistol di pinggangnya, lalu menembakkan satu peluru tepat ke tanah di depan kaki pemimpin kelompok itu. Suara ledakan keras memecah hiruk-pikuk, seketika membungkam semua lawan.
"Berani menggunakan senjata, saya tembak kepalamu!" ancamnya dengan suara keras dan menggetarkan. Mata tajamnya menatap ke arah lawan, memancarkan aura kejam yang tak bisa dibantah. Namun, sikap Marco bukan lantas membuat pimpinan mereka jera, justru mengarahkan pistol ke tubuh Marco.
Dooorrr....
Belum lagi pimpinan mereka menarik pelatuk, senjata Marco meledak lebih dulu tepat di betis lawan hingga jatuh tersungkur.
Kelompok mafia itu seketika mundur ketakutan, dengan cepat menggotong pimpinan meninggalkan lokasi dengan tergesa-gesa. Marco menurunkan senjata, mengembalikan ke pinggan yang tertutup jaket.
"Kalian cabut plang itu saat ini juga, lalu kembali ke markas! Saya masih ada urusan!" perintah Marco. Tanpa menunggu jawaban, ia meninggalkan lahan yang penuh ilalang itu.
************
Di rumah yang baru, Yasmin membereskan pakaian ke lemari yang cukup besar. Tentu saja masih banyak rak yang tidak terisi karena bajunya hanya itu-itu saja, dan beberapa pasang yang ia gantung.
Begitu selesai ia memandangi kasur empuk yang sudah siap memanjakan tubuhnya ketika lelah pulang kerja. Kontras saat tinggal di kontrakkan hanya tidur di kasur tipis untuk bertiga.
Ia tidak menyangka akan tinggal di kamar utama yang luas. Sebenarnya masih ingin tidur bersama Fatir dan Fathia. Namun, sudah saatnya anak-anak belajar tidur terpisah demi mereka agar lebih mandiri. Setelah rapi Yasmin ke kamar Fatir lebih dulu.
"Ngeeenggg.... ngeeeng... ciiiitttt..."
Begitu pintu terbuka, Yasmin tersenyum karena anak laki-lakinya itu bukan membereskan pakaian dan mainan seperti yang ia katakan. Justru main mobil-mobilan dengan mulut berisik seorang diri. Semua mainan tampak berada di luar kardus, sementara kardus pakaian belum dibuka.
"Sudah selesai sayang?" Tanya Yasmin pura-pura tidak tahu. Hawa dingin menyentuh kulit Yasmin, niatnya ingin mengejutkan Fatir, tapi justru dia yang dibuat kaget, Fatir rupanya sudah bisa menyalakan AC sendiri. Sungguh tidak percaya, padahal selama ini Fatir sama sekali belum pernah tinggal di ruang ber-AC.
"Bundaaaa..." Fatir cepat berdiri sambil tertawa kecil karena belum menyelesaikan tugasnya.
"Sekarang beres-beres dulu sayang... Bunda bantu," Yasmin membuka kardus pakaian lalu menata di lemari. Sementara Fatir pun akhirnya bersemangat menata mainan.
"Kamu bisa nyalain ac tahu dari mana sayang?" Tanya Yasmin, ternyata masih memikirkan itu.
"Tinggal pencet merah Bundaaaa... Terus pencet ini, atau ini," Fatir justru mengajari bundanya, ia pikir Yasmin belum bisa. Yasmin tersenyum, ia jelas bisa karena kamarnya di Bandung dulu ada AC.
"Sekarang lanjutkan ya, Bunda mau lihat adikmu dulu," ucap Yasmin. Ia mengajarkan mereka memanggil kakak adik karena Fatir lahir lebih dulu.
Yasmin membuka kamar Fathia yang luasnya sama dengan kamar Fatir, tapi sepi sekali. Dia melangkah masuk perlahan-lahan. Di atas kasur, Fathia tidur sambil merangkul boneka pemberian Marco. Yasmin seketika mengucap syukur, karena anak-anaknya luar biasa pintar. Jika Fatir tadi memilih menyalakan AC, Fathia rupanya membuka semua jendela hingga udara dari luar masuk ke kamar itu, terasa sejuk dan segar.
Pandangan Yasmin beralih ke arah kardus kosong, lalu memeriksa lemari. Berbeda dengan Fatir tadi, Fathia rupanya sudah membereskan semuanya dengan rapi.
"Pantas saja kamu tidur Nak, kelelahan ya?" Yasmin membungkuk mencium kening Fathia pelan agar tidak mengganggu tidurnya.
Yasmin berdiri di samping tempat tidur memandangi Fathia, lagi-lagi mengucap syukur. Di balik sejuta luka yang digoreskan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab di hatinya, Fatir dan Fathia adalah obat yang mujarab.
Yasmin meninggalkan putrinya keluar kamar hendak memasak di dapur rumah itu untuk yang pertama kali. Namun, baru melintas di ruang keluarga mendadak berhenti ketika mendengar pagar besi di luar ada yang mendorong.
"Siapa ya?" Batin Yasmin panik, seketika hatinya resah, ia menerima tawaran menempati rumah ini terlalu cepat. Tidak berpikir seandainya ia dan anak-anak hanya akan dijadikan sandra seperti berita yang akhir-akhir ini ramai terdengar.
"Astagfirullah..." Yasmin istigfar dalam hati, tinggal di rumah ini baru sekitar dua jam yang lalu belum ada teman-temannya yang tahu, mustahil tamu itu datang untuknya. Yasmin balik badan memberanikan diri melangkah ke arah pintu, tapi tidak terburu-buru membuka, mengintip dulu dari jendela. Jelas orang itu bukan orang asing di rumah ini terbukti membuka pagar sendiri. Yasmin melebarkan mata ketika seorang pria melangkah ke teras rumah itu dengan langkah tergesa-gesa.
...~Bersambung~...
sbar dong Marco dia itu GK mudah percaya ma orang tau yass itu orang nya hati2 percaya ma orang..
hadeh siapa tuh cewe jangan jangan yang nyari marco lagi😌
entah lah hanya emak yg tau