NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda" 14

Tiga hari berlalu.

Tiga hari yang bagi sebagian besar murid SMA Seiran hanyalah rutinitas biasa—bel, pelajaran, kantin, pulang. Tapi bagi mereka yang terlibat dalam pusaran cinta segitiga yang semakin rumit, tiga hari ini terasa seperti tiga babak pertempuran tanpa akhir.

Dan di tengah semua itu, Lucy—Dewi Rubah yang menyamar sebagai gadis imut dan polos—berdiri dengan anggun, menarik benang-benang takdir seenaknya.

Hari Pertama

Pagi itu, Lucy turun dari motor Kaito dengan senyum cerah. "Terima kasih, Kaito! Sampai nanti!"

Kaito mengangguk, menyimpan helm, lalu berjalan di sampingnya. Mereka sudah menjadi pemandangan yang tidak asing lagi—CP terbaik sekolah, begitu julukannya. Namun di depan gerbang kelas, seseorang sudah menunggu.

Ren Arisugawa.

Tangan di saku. Wajah datar. Tapi begitu matanya menangkap Lucy dan Kaito berjalan berdampingan, rahangnya mengeras.

"Lucy," panggilnya. "Bisa bicara sebentar?"

Lucy menatap Ren, lalu menatap Kaito. Ekspresinya berubah canggung. "Ah... iya. Kaito, aku ke kelas dulu ya?"

Kaito menatap Ren. Ren menatap Kaito. Udara di antara mereka berdua hampir bisa dipotong dengan pisau.

"Hm," jawab Kaito akhirnya, lalu masuk ke kelas tanpa berkata apa-apa lagi.

Lucy berjalan menghampiri Ren. "Ada apa?"

"Aku..." Ren menunduk, lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sekotak mochi stroberi. "Aku lewat toko kue tadi. Kau suka yang ini, kan?"

Mata Lucy berbinar—kali ini asli. "MOCHI STRAWBERRY! EDISI TERBATAS!" Dia mengambil kotak itu dengan kedua tangan, memeluknya seperti harta karun. "Terima kasih, Ren! Kau ingat!"

"Tentu saja aku ingat." Suara Ren melembut. "Kau selalu membawa susu stroberi. Jadi... kurasa kau suka stroberi."

"Kau perhatian sekali." Lucy tersenyum manis. "Aku jadi merasa spesial."

Ren membuang muka, menyembunyikan rona merah di telinganya. "Aku hanya... tidak suka melihatmu sedih."

Di dalam kelas, Kaito menyaksikan adegan itu dari jendela. Tangannya mengepal di atas meja.

"Mochi stroberi. Kenapa aku tidak kepikiran itu?"

Hari Kedua

Hujan turun deras saat jam pulang sekolah. Lucy berdiri di depan gerbang, menatap langit kelabu dengan ekspresi murung. Kaito ada latihan basket—dia tidak bisa mengantarnya. Dan Ren... Ren sedang rapat OSIS.

"Kau tidak bawa payung?"

Suara itu membuatnya menoleh. Ren berdiri di sampingnya, payung hitam di tangannya. Wajahnya sedikit basah, napasnya terengah—dia jelas-jelas berlari ke sini.

"Ren? Bukannya kau rapat?"

"Kutinggalkan sebentar." Dia membuka payungnya. "Ayo, ku antar."

"Tapi..."

"Aku tidak bisa membiarkanmu kehujanan."

Lucy menatap payung itu. Lalu menatap Ren. Lalu tersenyum kecil. "Baiklah."

Mereka berjalan berdampingan di bawah payung yang sama. Bahu mereka hampir bersentuhan. Lucy sengaja berjalan sedikit lebih dekat—cukup untuk membuat jantung Ren berdetak lebih cepat.

"Aku suka hujan," kata Lucy tiba-tiba.

"Kenapa?"

"Karena... hujan membuat semuanya terlihat lebih tenang. Dan..." Dia menatap Ren. "...karena hari ini kau di sini."

Langkah Ren terhenti sejenak. "Lucy..."

"Aku hanya bercanda!" Lucy tertawa kecil. "Ayo, lanjutkan. Kakiku mulai basah."

Mereka terus berjalan. Dan di kejauhan, dari dalam gedung basket, Kaito menatap mereka dari jendela. Bola basket di tangannya hampir penyok karena cengkeramannya.

Hari Ketiga

Lucy duduk sendirian di bangku taman belakang sekolah. Kotak bekal di pangkuannya belum tersentuh. Wajahnya murung—akting, tentu saja. Dia sedang menunggu.

Dan benar saja, tidak butuh waktu lama.

"Kau tidak makan?"

Kaito berdiri di sampingnya, tangan di saku, ekspresi khawatir yang coba dia sembunyikan.

"Ah, Kaito." Lucy menggeleng. "Aku hanya... tidak lapar."

"Kau selalu lapar. Setiap hari. Setiap jam." Kaito duduk di sampingnya. "Jadi kalau kau tidak lapar, pasti ada yang salah."

Lucy terdiam. Lalu menghela napas panjang. "Aku hanya... bingung."

"Bingung kenapa?"

"Entahlah." Dia menatap langit. "Kadang aku merasa... tidak pantas. Dikelilingi orang-orang hebat sepertimu dan Ren. Aku hanya gadis biasa."

"Kau tidak biasa."

"Itu kata-kata manis."

"Itu fakta." Kaito menatapnya serius. "Kau berbeda. Dan aku... aku tidak suka melihatmu sedih."

Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya—sekotong cokelat impor, kali ini dari Belgia. "Aku tidak tahu kau suka yang mana. Jadi kubeli yang ini."

Lucy menatap cokelat itu. Lalu menatap Kaito. Pipinya yang tembem perlahan memerah. "Kaito..."

"Terima saja."

Dia mengambil cokelat itu dengan kedua tangan. "Kalian berdua kenapa sih? Selalu memberiku makanan manis."

"Karena kau selalu tersenyum saat makan yang manis-manis."

Lucy tidak bisa menahan tawanya kali ini. "Jadi kau ingin melihatku tersenyum?"

Kaito tidak menjawab. Tapi telinganya memerah.

Sementara itu, di koridor lantai dua, Hana Himura menyaksikan semuanya.

Dia berdiri di dekat jendela, menatap Lucy dan Kaito di bangku taman. Tangannya mencengkeram pinggiran jendela begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih.

"Lihat dia," desisnya dalam hati. "Duduk di sana seperti putri yang tidak bersalah. Dikelilingi dua pria tampan yang memperebutkannya. Sementara aku... AKU..."

"Tuan Putri, tolong tenangkan diri—"

"Bagaimana aku bisa tenang?! Lihat mereka! Lihat gadis sialan itu! Dia merebut semuanya dariku!"

Ini sudah hari ketiga. Hari ketiga sejak Hana mencoba mendekati Ren. Hasilnya? Ren selalu menghindar. Selalu ada alasan—rapat OSIS, ada urusan, harus pergi. Dan setiap kali Hana mencoba mendekati Kaito...

"Kaito!" Hana pernah mencoba, kemarin. Dia menghampirinya di depan ruang basket, memasang senyum terbaiknya. "Aku Hana. Kita pernah bertemu—kau membantuku waktu itu. Ingat?"

Kaito menatapnya dengan dingin. "Oh."

"Itu... itu saja? Oh?"

"Ada perlu apa?"

"Aku hanya ingin berterima kasih dengan—"

"Tidak perlu."

Dan dia pergi. Begitu saja. Seolah Hana bukan apa-apa.

Tapi pada Lucy? Gadis sialan itu? Dia membelikannya cokelat impor. Dia menjemputnya tiap pagi. Dia menatapnya dengan tatapan yang tidak pernah diberikan pada Hana.

"Aku tidak mengerti!" Hana hampir menjerit dalam hatinya. "Aku ini protagonis! Sistemku mengatakan demikian! Seharusnya mereka berdua memperebutkan AKU! BUKAN DIA!"

"Tuan Putri, mungkin ada anomali dalam dunia ini. Gadis itu... seharusnya dia karakter figuran. Lucy si kutu buku. Dia seharusnya mati. Tapi entah kenapa..."

"Dia tidak mati. Dia malah hidup. Dan merebut semuanya." Mata Hana menyipit. "Aku harus melakukan sesuatu."

Sore itu, Kaito mengantar Lucy pulang seperti biasa. Jalanan basah setelah hujan reda, dan udara sore terasa segar. Lucy duduk di belakang, memeluk pinggang Kaito, tapi pikirannya melayang.

"Tiga hari. Rasa suka mereka naik turun. Kadang Ren 55%, kadang Kaito 55%. Mereka seperti komoditas di bursa saham."

"Itu karena kau terus memainkan mereka," komentar Lili dalam kepalanya.

"Aku tahu. Dan itu menyenangkan."

"Kau tidak merasa... lelah?"

"Lelah? Lihat ini." Lucy menyeringai dalam hati. "Aku dapat mochi stroberi, cokelat Belgia, susu impor, dan besok pasti ada lagi. Ditambah dua pria tampan yang memperebutkanku. Kenapa aku harus lelah?"

Motor berhenti di lampu merah. Kaito menoleh sedikit. "Lucy."

"Ya?"

"Gadis itu. Hana Himura."

Jantung Lucy berdetak lebih cepat—bukan karena gugup, tapi karena antisipasi. "Apa dengannya?"

"Aku membantunya sekali. Waktu dia tersesat di dekat lapangan basket." Suara Kaito datar, seperti melaporkan fakta. "Itu saja. Aku tidak mengenalnya lebih dari itu."

Lucy terdiam. Lalu suaranya berubah menjadi lebih pelan. "Oh..."

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa. Hanya saja... dia cantik. Dan kaya. Dan sepertinya dia menyukaimu."

"Aku tidak peduli."

"Tapi—"

"Lucy." Kaito berbalik sedikit, menatapnya dari balik helm. "Aku tidak peduli dengan gadis lain."

Lampu hijau menyala. Motor melaju lagi. Tapi tangan Lucy yang memeluk pinggang Kaito sedikit lebih erat.

"Dia bilang dia tidak peduli dengan gadis lain," pikir Lucy. "Tapi dia tidak bilang dia peduli padaku. Menarik. Dia masih menjaga jarak."

"Atau dia takut?" usul Lili.

"Mungkin. Tapi itu tidak masalah. Yang penting, Hana sudah mencoba mendekatinya... dan gagal."

Keesokan harinya, hari keempat, Ren menemui Lucy di perpustakaan saat jam istirahat. Wajahnya sedikit lebih kusut dari biasanya—mungkin kurang tidur.

"Aku dengar sesuatu," katanya, duduk di samping Lucy.

"Apa?"

"Hana Himura. Dia... mendekati Kaito kemarin."

Lucy memasang ekspresi terkejut. "Oh? Dia... dia juga mendekatimu, kan?"

"Itu berbeda. Dia—" Ren berhenti. "Aku tidak peduli dengan dia."

"Itu kata-kata yang sama yang dikatakan Kaito."

Keheningan. Ren menatap Lucy dengan intensitas yang berbeda. "Kaito bilang begitu?"

"Ya. Dia bilang dia tidak peduli dengan gadis lain." Lucy menunduk, memainkan ujung roknya. "Kalian berdua... kenapa sih?"

"Kenapa apa?"

"Kenapa... memperebutkanku?" Dia mendongak, menatap Ren dengan mata berkaca-kaca buatan. "Aku hanya gadis biasa. Aku tidak secantik Hana. Aku tidak sekaya dia. Aku bahkan—"

"Berhenti."

Suara Ren tegas. Lebih tegas dari biasanya. Dia meraih tangan Lucy dan menggenggamnya.

"Jangan bandingkan dirimu dengannya. Kau... kau berbeda."

"Berbeda bagaimana?"

"Kau..." Ren kesulitan menemukan kata-kata. "...kau membuatku merasa... nyaman. Seperti aku bisa jadi diriku sendiri."

Lucy menatapnya. Lalu air mata—air mata sungguhan, bukan akting—menggenang di sudut matanya. Bukan karena dia tersentuh. Tapi karena...

"Astaga, dia benar-benar tulus. Ini malah membuatku merasa sedikit bersalah."

"Kau? Merasa bersalah?" Lili terkekeh dalam kepalanya.

"Sedikit. Sangat sedikit. Seukuran debu."

Di luar perpustakaan, Hana berdiri di balik rak buku, mendengarkan setiap kata. Wajahnya berubah dari marah menjadi pucat, lalu merah padam lagi.

"Nyaman? Jadi diri sendiri? Omong kosong apa itu?!" Dia mencengkeram buku di tangannya begitu keras hingga sampulnya hampir robek. "AKU yang seharusnya membuatnya nyaman! AKU protagonisnya! BUKAN GADIS SIALAN ITU!"

"Tuan Putri, mungkin kita perlu mengubah strategi..."

"STRATEGI APA?! Aku sudah mencoba semuanya! Aku mendekati Ren—dia menolak! Aku mendekati Kaito—dia mengabaikanku! Dan gadis itu... gadis itu hanya duduk diam dan mereka berdua datang padanya seperti anjing penurut!"

"Itu karena dia..." Sistem Hana ragu-ragu. "Ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis itu. Datanya tidak cocok dengan databaseku."

"Apa maksudmu?"

"Dia seharusnya mati. Di alur asli, Lucy si kutu buku mati didorong oleh antagonis wanita dari tangga. Tapi dia tidak mati. Dia malah... berubah. Menjadi lebih cantik. Lebih populer. Seperti ada yang mengubah takdirnya."

Hana terdiam. Lalu perlahan, senyum dingin muncul di bibirnya. "Jadi dia juga pemain. Dia bukan karakter asli dunia ini."

"Kemungkinan besar."

"Bagus." Hana meletakkan buku itu kembali ke rak. "Kalau begitu, aku tidak perlu bersikap baik padanya. Dia musuh. Dan musuh harus dihancurkan."

Sore harinya, Lucy duduk di tangga darurat belakang sekolah, sendirian. Dia butuh waktu untuk berpikir—tanpa Ren, tanpa Kaito, tanpa siapa pun.

"Lili, bagaimana presentase terbaru?"

"Ren Arisugawa: ♡♡♡♡♡♡ | 60%. Kaito Fujiwara: ♡♡♡♡♡♡ | 60%. Tingkat kejahatan Kaito: ⚡⚡⚡ | 30%."

"Seimbang." Lucy menyeringai. "Mereka berdua sekarang setara. Dan tingkat kejahatan Kaito turun drastis. Padahal Hana sudah muncul."

"Justru karena Hana muncul, Kaito jadi tidak tertarik padanya. Dia lebih tertarik padamu."

"Dan Ren juga." Lucy menyandarkan kepalanya ke dinding. "Aku benar-benar jenius."

"Atau mereka berdua hanya mudah dimanipulasi."

"Itu sama saja."

Dia menutup matanya, membiarkan angin sore menerpa wajahnya. Tiga hari pertempuran psikologis. Tiga hari akting tanpa henti. Tiga hari menjadi pusat perhatian dua pria yang paling dicari di sekolah, sementara si protagonis wanita asli hanya bisa menggertakkan gigi dari kejauhan.

"Rencana selanjutnya?" tanya Lili.

"Pertahankan. Tingkatkan. Dan..." Dia membuka matanya, menatap langit jingga. "...buat Hana semakin frustrasi. Aku ingin melihat seberapa jauh dia akan bertindak."

"Kau menikmati ini, kan?"

"Setiap detiknya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!