Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.
Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umi Zahra Menemui Saqira Di kontrakan**
Jam 7 malem. Langit udah gelap. Lampu jalan bewarna kuning redup. Angin masuk lewat sela-sela kontrakan Saqira.
Kontrakannya kecil. 5x4 meter. Dindingnya bata nggak diplester. Atapnya seng. Kalo ujan kedengeran berisik. Tapi bersih. Lantainya disapu. Ada sejadah tipis warna ijo. Ada Al-Qur'an kecil di rak kayu.
Di dalem, Saqira lagi duduk. Punggungnya lurus. Di depannya... HP jadul. Layarnya muter video YouTube. "Tata Cara Sholat Fardhu Untuk Pemula - Ustadz Adi Hidayat". Volume kecil.
Saqira pake sarung warna item. Peci putih. Rambut sebahu diiket cepol rendah. Alis tipis nggak pake pensil. Lipstik nggak pake. Bibirnya kering. Mukanya serius. Fokus.
"Allahu Akbar..." Saqira bisik. Tangannya diangkat. Terus nunduk. "Subhaana rabbiyal 'azhiim..."
Lidahnya kebelit. Salah-salah. Diulang lagi. "Subhaana... Subhaana rabbiyal 'azhiim..."
Keringat netes ke alis. Tapi dia nggak berhenti. Dia sujud. Jidatnya nempel sejadah. "Ya Allah... Ya Allah... permudah Saqir belajar sholat Ya Allah... Saqir nggak pinter Ya Allah... Saqir banyak dosa... Tapi Saqir mau belajar .."
Air matanya netes ke sejadah. "Basah... pluk..."
"Assalamualaikum warahmatullah... Assalamualaikum warahmatullah..."
Salamnya pelan. Gagap. Tapi tulus.
Saqira duduk. Napasnya ngos-ngosan. "Alhamdulillah... selesai juga... Walaupun agak belepotan..."
Dia buka Al-Qur'an kecil. Surat Al-Baqarah ayat 286. Yang udah dia tandain pake lakban. "Laa yukallifullahu nafsan illa wus'aha..." Allah nggak ngebebanin hamba di luar kemampuannya.
Saqira usap ayat itu. "Iya Ya Allah... Saqira nggak minta jadi imam masjid Ya Allah... Saqira cuma minta jadi laki-laki yang bisa sholat 5 waktu...Bisa jadi imam Buat Kirana... Buat diri Saqira sendiri Ya Allah..."
"Tok... tok... tok..."
Ada ketukan pelan di pintu. 3 kali.
Saqira kaget. Langsung berdiri. Peci dipegang. "Siapa ya... Malem-malem gini..."
Dia jalan pincang dikit. Kakinya kesemutan abis duduk sujud lama. Pintu kayu dibuka "kriiit" pelan.
Di depan pintu... ada perempuan. Umur 50-an. Jilbab moka, gamis polos. Mukanya teduh. Tapi matanya... matanya tajam. Tajamnya orang yang udah 30 tahun ngajar ngaji emak-emak.
Saqira langsung nunduk. 45 derajat. Sopan. "Waalaikumsalam... Ibu... cari siapa Bu...?"
Perempuan itu senyum. Senyumnya ustazah. "Waalaikumsalam Dik... Maaf ya ngerepotin. Saya Umi Zahra. Dari Jember. Bibi-nya Kirana."
Darah Saqira kayak berhenti. "Duk." Jantungnya copot. "Bibi-nya Kirana..."
Saqira mundur selangkah. "Sil... silakan masuk Bu... Maaf kontrakannya kecil Bu..."
Umi Zahra masuk. Mata nya muter. Liat sejadah di lantai. Liat Al-Qur'an kecil. Liat HP yang masih muter video sholat. Liat peci + sarung yang dipake Saqira. Liat rambut sebahu yang diiket cepol rapi.
Umi Zahra duduk di kursi plastik. Nggak langsung ngomong. Nggak langsung nge-judge. Dia liat Saqira dari ujung rambut sampe ujung kaki.
Saqira duduk di samping . Jarak 2 meter. Jaga adab. Tangannya gemeter. Ia bergegas kedapur sebelumnya minta izin ke umi terlebih dahulu. Ditangannya ada nampan dengan dua gelas teh hangat. "Minum Bu... Maaf hanya ada teh anget..."
Umi Zahra terima gelas teh. "Makasih Dik... Saqira ya Dik namanya?"
Saqira angguk. Pelan. "Iya Bu... Saqira mana panggung saya Bu. Nama asli saya Saqir Indrawan Bu..."
Umi Zahra nyeruput teh. "Srepet..." Terus diem. 5 detik. Lama. Bikin Saqira makin keringat dingin.
"Kirana nggak tau saya ke sini Dik..." Umi Zahra buka suara. Kalem. "Kirana masih di pondok. Sama saya. Saya nggak bilang ke dia kalo saya mau ketemu kamu."
Saqira langsung nunduk lagi. 90 derajat. "Iya Bu... Saqira ngerti Bu... Saqira mohon maaf Bu belum bisa menjemput Kirana.. Saqira cuma... cuma minta waktu Bu..."
Umi Zahra angkat tangan. "Shhh... Dik, saya nggak kesini buat marah. Saya nggak kesini buat ngusir. Saya kesini buat liat. Liat langsung. Saqira atau Saqir Indrawan yang bikin ponakan saya betah 2 bulan di kontrakan ini. Yang bikin dia bilang 'Mas Saqira rumah saya'."
Saqira diem. Mata nya ke lantai. "Bu... Saqira seorang waria Bu... Badan Saqira laki-laki, hati Saqira... hati Saqira lembut... Orang bilang Saqira aneh Bu... Orang bilang Saqira sampah masyarakat.."
Umi Zahra motong. Pelan. "Saya tau Dik. Saya udah denger cerita dari Kirana. Semua. Dari pasar. Dari Taman Jati. Dari mie setengah mateng. Dari kamar yang kamu kasih ke dia."
Saqira angkat kepala. Matanya merah. Tapi ditahan. "Terus... terus kenapa Bu dateng ke sini Bu? Mau marah ya Bu? Mau bilang Saqira nggak pantes deket Kirana ya Bu?"
Umi Zahra geleng. "Nggak Dik. Saya dateng karena penasaran. Penasaran sama laki-laki yang berani bilang ke Paman Syarif: 'Saya minta waktu. Saya mau berubah. Bukan jadi orang lain. Tapi jadi versi saya yang lebih baik'. Itu kalimat berat Dik. Nggak semua laki-laki berani ngomong gitu."
Saqira diem. Terus bisik. Suaranya serak. "Bu... Saqira nggak pinter ngaji Bu... Saqira belum lancar sholat... Saqira gak hapas 30 juz seperti ustadz yusuf. Saqira cuma... cuma bisa masak mie Bu... Bisa nyetrika Bu... Bisa jagain Kirana malem-malem kalo dia demam Bu..."
Umi Zahra senyum. "Dik, yang bikin rumah tangga sakinah itu bukan hafalan 30 juz Dik. Hafalan penting. Tapi yang lebih penting akhlak.
Rasulullah bilang: 'Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap keluarganya'. HR Tirmidzi."
"Dan saya liat Dik... kamu akhlaknya baik ke Kirana. Kamu ngasih tempat. Kamu ngasih makan. Kamu jagain kehormatan dia. Kamu rela tidur di sofa. Kamu nggak maksa dia. Kamu nggak bentak dia. Itu akhlak Dik. Itu lebih mahal dari sorban."
Saqira nangis. Kali ini nggak ditahan. "Hiks..... Saqira takut Bu... Takut Paman Syarif nggak pernah izinin... Takut Kirana capek nunggu Saqira Bu... Takut Saqira nggak bisa jadi laki-laki seutuhnya versi Paman.."
Umi Zahra berdiri. Jalan ke Saqira. Jongkok di depannya. Pegang bahu Saqira. "Dik, denger saya ya Dik. Laki-laki seutuhnya itu bukan yang langsung jadi ustadz Dik. Bukan yang langsung potong rambut cepak. Bukan yang langsung suaranya berat. Laki-laki seutuhnya itu yang berani bilang: 'Saya mau belajar'."
"Kamu pake peci. Kamu pake sarung. Kamu lagi belajar sholat. Belepotan. Salah-salah. Tapi kamu nggak malu Dik. Kamu terus ulang. 'Subhaana rabbiyal azhiim'. Itu namanya ikhtiar Dik. Itu namanya taubat Dik."
Saqira usap air mata pake ujung sarung. "Bu... Saqira mau belajar taubat Bu... Saqira mau berubah... Bukan karena Paman maksa... Bukan karena Kirana ngemis ... Tapi karena Saqira malu ke Allah Bu... Malu udah 25 tahun hidup nggak jelas.. Malu udah nyakitin diri sendiri Bu..."
Umi Zahra angguk. Matanya juga basah. "Iya Dik. Taubat itu gitu Dik. Nggak nunggu sempurna dulu. Taubat itu jalan sambil jatuh. Jalan sambil belepotan. Yang penting arahnya ke Allah SWT."
Umi Zahra lepas pegangan. Duduk lagi di kursi. "Dik, saya kasih kamu 3 nasihat ya. Dari Al-Qur'an + hadis. Biar kamu kuat."
"Satu: 'Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah'... QS Az-Zumar 53.
maksud dari surah ini kalau untuk kamu adalah. kamu nggak boleh bilang 'Saqira udah telat'. Nggak ada kata telat Dik. Pintu taubat kebuka 24 jam. Sampe matahari terbit dari barat."
"Dua: 'Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri'... QS Al-Baqarah 222.
Allah cinta sama kamu. Sama kamu yang sekarang. Yang pake peci belepotan. Yang sholatnya masih gagap. Allah cinta Dik. Bukan cinta sama kamu yang sempurna."
"Tiga: 'Dan bersabarlah Dik. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar'... QS Al-Anfal 46.
Paman Syarif kasih kamu waktu 3 hari. Itu kejam Dik. Allah aja ngasih waktu seumur hidup. Jadi kamu sabar ya Dik. Sabar buktiin. Sabar kerja. Sabar sholat. Sabar nunggu. Sambil terus belajar memperbaiki diri. Jangan sampai ketika meninggal masih menggunakan nama dan atribut Saqira itu sudah pasti dosa besar.
Saqira sujud lagi. Kali ini sujud syukur. Jidatnya nempel lantai. "Ya Allah... Makasih Ya Allah... Makasih udah kirim Umi Ya Allah... Makasih Umi nggak nge-judge Saqira Ya Allah..."
Umi Zahra usap punggung Saqira. Pelan. "Udah Dik. Bangun. Belajar nggak harus nangis terus. Belajar itu tenang."
Saqira duduk lagi. Senyum. Senyumnya miring. Tapi lega. "Bu... Saqira janji Bu... Saqira nggak akan maksa Kirana Bu... Saqira nggak akan ngerusak nama baik pondok... Saqira cuma... cuma mau jadi laki-laki yang Kirana bangga... Walaupun Kirana nggak jadi istri Saqira... Saqira tetep doain dia Bu..."
Umi Zahra kaget. "Lho? Kamu rela Kirana nggak jadi istrimu Dik?"
Saqira angguk. "Iya Bu... Kalo Allah bilang Kirana bukan jodoh Saqira... Saqira ikhlas Bu... Tapi Saqira tetep mau jadi kakak buat dia... Mau jadi temen ngaji.. Mau jadi yang masakin mie kalo dia kangen... Cinta itu nggak harus memiliki Bu... Cinta itu ngedoainkan bu...?"
Umi Zahra diem. 10 detik. Terus berdiri. Jalan ke rak. Ambil Al-Qur'an kecil Saqira. Buka halaman Al-Hujurat ayat 13. "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan... dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa."
Umi Zahra nunjuk ayat itu. "Dik, liat Dik. Allah nggak bilang 'yang paling mulia itu yang normal'. Allah bilang 'yang paling mulia itu yang paling taqwa'. Taqwa itu apa Dik? Taqwa itu takut berbuat dosa. Taqwa itu malu ke Allah. Nah kamu Dik... kamu udah ada rasa malu ke Allah. Itu salah satu bibit taqwa Dik."
Saqira pegang mushaf itu. Cium. "Iya Bu... Saqira mau berubah pelan-pelan Bu... Nggak mau buru-buru Bu..."
Umi Zahra liat jam. Jam 8 malem. "Udah Dik. Saya pamit ya Dik. Saya mau balik ke pondok. Kirana nunggu. Saya nggak cerita ke dia kalo saya ketemu kamu. Ini rahasia kita berdua ya Dik. Biar dia nggak kepikiran."
Saqira berdiri. Nunduk lagi. "Iya Bu... Makasih banyak Bu... Udah mau dateng Bu... Udah mau dengerin Saqira..."
Umi Zahra jalan ke pintu. Berhenti. Nengok. "Dik... satu lagi. Kalo kamu beneran mau berubah karena Allah... terusin sholatnya Dik. 5 waktu. Bolong-bolong nggak apa-apa. Yang penting balik lagi. Kalo kamu beneran mau tanggung jawab... terusin kerjanya. Cari kerja yang kira-kira tidak membuat mu merubah dari kodrat mu. Hasil kerja kamu tabung Jangan buat beli lipstik dulu. Buat kamu halalin Kirana. Buat masa depan kalian kedepannya."
"Dan Dik... kalo nanti Paman Syarif masih keras... kamu tetep sabar ya Dik. Jangan ngamuk. Jangan ngancem. Laki-laki seutuhnya itu yang suaranya pelan tapi hatinya kenceng Dik."
Saqira angguk. Kenceng. "Siap Bu... Saqira catet ... Di hati Saqira..."
Umi Zahra buka pintu. Angin malem masuk. "Wus..." Dingin. Tapi anget di dada Saqira.
"Assalamualaikum Dik... Jaga diri baik-baik ya Dik..."
"Waalaikumsalam Bu... Hati-hati di jalan Bu..."
Pintu nutup "kriiit" pelan.
Saqira diem di dalem. 1 menit. Terus dia sujud lagi. Sujud lama. "Ya Allah... Umi Zahra baik banget Ya Allah... Dia nggak bilang Saqira laknat Ya Allah... Dia bilang Saqira punya bibit taqwa... Ya Allah kuatin Saqira... Buat sholat 5 waktu... Buat kerja.. Buat jagain Kirana dari jauh Ya Allah..."
Umi Zahra di kereta balik ke Jember. Dia cuma bisik ke jendela: "Ya Allah... aku liat sendiri Ya Allah... Saqira itu bukan banci omong doang Ya Allah... Dia laki-laki yang lagi belajar jadi hamba Ya Allah... Mudahkan jalannya Ya Allah..."
Di pondok, Kirana lagi tidur Peluk guling. Di mimpinya... dia liat Mas Saqira pake peci + sarung. Sholat. Imamin dia. Imamnya gagap. Tapi tulus.
Kirana senyum di dalem mimpi. "Mas... Mas udah belajar sholat ya Mas... Mas hebat Mas..."
Besok paginya. Saqira bangun jam 4. Subuh. Dia wudhu. Air dingin. Gigil. Tapi dia senyum.
"Allahu Akbar..." Takbirnya masih gagap. Tapi lebih kenceng dari kemarin.
Di sejadah.. ada 2 orang yang sholat. Satu di kontrakan jember. Satu di pondok Ngawi. Jaraknya jauh. Tapi doanya sama. "Ya Allah... satukan kalo baik. Jauhkan kalo buruk. Tapi jangan membuat sesuatu yang sakit Ya Allah..."
...****************...