Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.
Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.
Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.
Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekan yang Kompeten
Zevana membenarkan duduknya lalu menautkan alisnya.
"Ya, apa?" tanya Zevana kikuk.
Jari-jemarinya tanpa sadar meremas ujung kemeja, berusaha menyembunyikan kegugupan yang tiba-tiba muncul. Sudah sangat lama rasanya ia tidak berhadapan dengan lawan jenis dalam obrolan yang tidak melulu soal angka atau pekerjaan.
"Apa Ibu ada waktu sore ini?" ulang Arka sembari menggosok punggung tangannya sembari mengulas senyum terbaiknya.
Zevana tiba-tiba terenyak. Meski ia terlahir dengan wajah rupawan, serta digandrungi oleh banyak pria, namun Zevana hampir jarang sekali bertemu dan mengobrol dengan pria manapun–kecuali Garda dan Bani tentunya. Jadi ketika ada seseorang menanyakan hal klise yang terdengar seperti ajakan bertemu di luar jam kantor, Zevana sedikit kikuk.
Bahkan tatapan Arka yang tampak tulus itu pun membuatnya ingin mengalihkan wajah. Baginya, perhatian semacam itu, adalah hal yang berisiko. Selama ini, dinding pertahanan yang ia bangun sudah cukup kokoh menjaganya agar tetap aman.
"Hm, hah ... Saya kira pertemuan pribadi semacam itu, tidak seharusnya dilakukan mengingat kita adalah rekanan kantor. Terus terang bukan karena saya merasa lebih unggul dengan jabatan yang lebih tinggi, hanya saja-"
"Saya pikir Bu Zevana terlalu memaksakan diri dengan banyak pekerjaan di dalam ruangan yang sama bahkan hampir tidak pernah istirahat sama sekali. Jadi ... Tadinya saya ingin mengajak Bu Zevana untuk berdiskusi mengenai pekerjaan kita yang kemarin, dan ... saya juga ingin meminta maaf dengan sopan, atas hal yang saya lakukan kemarin," potong Arka saat menyadari bahwa mungkin Zevana memikirkan hal lain.
"Ah? Outdoor? Semacam itu? Briefing luar kantor maksudnya? I-iya saya faham," gagap Zevana kikuk.
Panas perlahan menjalar ke pipinya. Ia merasa bodoh sendiri karena sudah berprasangka lain. Di saat semua orang hanya melihatnya sebagai atasan yang keras atau musuh yang harus diwaspadai, justru Arka—orang yang baru dikenalnya—malah melihat bahwa ia sedang lelah.
Arka tersenyum tipis melihat gelagat Zevana yang gelagapan tak karuan.
Ada kehangatan yang menjalar di dada Arka. Bagi banyak orang, Zevana adalah sosok yang dingin dan sulit didekati. Namun di matanya, wanita ini justru terlihat polos, rapuh, dan jauh lebih manusiawi daripada citra yang dibangunnya sendiri.
"Saya minta maaf," ucap Arka sembari menundukkan kepala.
"Untuk apa?" tanya Zevana yang kini pipinya mulai memerah.
Jantungnya berdegup tak karuan. Pertanyaan itu keluar begitu saja, padahal dalam hatinya ia sudah mulai bisa menebak arah pembicaraan ini.
"Saya lancang mempertanyakan dan menghakimi kinerja Bu Zevana, tanpa tahu apa-apa." Arka semakin menunduk menyesali perbuatannya.
Melihat ketulusan Arka, Zevana terenyuh. Itu adalah kali pertama seseorang memohon maaf padanya, bahkan pada hal yang ia sendiri tak mempermasalahkan hal itu.
Matanya seketika terasa hangat. Sudah lama, sejak terakhir kali ada manusia yang meminta maaf kepadanya. Bukan menyalahkan, bukan menuduh, bukan meminta pertanggungjawaban, tetapi malah meminta maaf.
Sepanjang hidupnya, apa pun yang ia lakukan, sekeras apa pun ia berusaha, rasanya selalu saja ada cela yang dicari orang. Penghakiman, kecaman, tuduhan ... semuanya sudah menjadi makanan sehari-hari. Bahkan dari orang-orang terdekatnya.
"Saya sudah banyak menerima penghakiman dan kecaman. Jadi hal seperti itu bukan apa-apa, tidak usah dipikirkan." Zevana meremas jemarinya sendiri di bawah meja, karena meski ia berkata tidak apa, hati kecilnya meleleh mendengar permohonan maaf tulus Arka.
"Bagi saya, itu sudah biasa," tambahnya dalam hati.
Namun nyatanya, ucapan Arka itu terasa berbeda. Terasa seperti air dingin yang menetes ke luka lama yang selama ini kering dan perih.
"Lalu jika Anda merasa benar-benar bersalah. Pesankan saja tempatnya, kita harus breefing di tempat baru untuk penyegaran kan?" imbuh Zevana sambil mengulas senyum.
Ia berusaha mengubah suasana, berusaha menyembunyikan betapa terguncangnya hatinya saat ini. Jangan lembek, Zevana. Kamu tidak boleh lemah di depan siapa pun, bisik akal sehatnya.
Semburat jingga memantul di atas meja kaca di hadapan Zevana. Angin sore mengibarkan rambutnya hingga poninya tersingkap. Dua manik mata legam itu menatap langit senja di bawah balkon teras kafe. Sementara Arka, duduk di depannya, diam-diam memperhatikan Zevana seolah terpikat oleh pesonanya.
Di bawah cahaya matahari yang mulai turun itu, garis wajah Zevana tampak lembut, jauh dari kesan tajam dan dingin yang biasa ia tunjukkan. Arka tak bisa memalingkan wajahnya. Ada daya tarik yang begitu kuat, meski tersembunyi di balik ribuan tembok pertahanan.
"Cantik," gumam Arka tanpa sadar, hingga membuat Zevana menoleh.
Suara itu terlalu pelan, namun angin sore seolah sengaja mengantarkannya tepat ke telinga Zevana.
"La-langitnya cantik ya. Indah," gagap Arka sembari menunduk lalu mengambil buku menu di atas meja.
Wajahnya memerah padam. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tak bisa menahan ucapan yang seharusnya hanya tersimpan di dalam kepala.
"Bu Zevana mau pesan apa? Saya pesan ini, di sini menunya enak semua. Tapi kalau mau saya rekomendasikan, sotonya paling enak," imbuhnya mengalihkan perhatian.
Sementara Arka memanggil pelayan, kini Zevana menatapnya diam-diam. Memandang Arka yang sedang memesan makanan dengan ramah dan penuh kesopanan kepada pelayan, Zevana terkekeh.
Matanya menyipit mengamati tingkah laki-laki di hadapannya itu. Sedemikian ramahnya, sedemikian sopannya, seolah dunia ini penuh dengan hal baik. Hal yang sudah lama tidak ia percayai.
"Lucu sekali, dia kan bukan anak anjing," monolognya sembari tersenyum miring.
Namun di balik senyum itu, ada rasa nyaman yang perlahan merayap masuk. Rasanya damai, sesuatu yang jarang sekali ia rasakan belakangan ini.