NovelToon NovelToon
Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Pengkhianatan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lautan Ungu_07

Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.

Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.

Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.

Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.

Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.

Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.

Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.

Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Berusaha Profesional

Suara alarm dari ponsel Regan terus berbunyi di atas meja. Regan mengerjap, tapi membiarkan suara itu terus memenuhi kamarnya.

Hawa dingin dari AC membuat Regan menarik selimut, hingga menutupi setengah wajahnya.

"Kenapa pagi cepet banget?" Tanyanya pada diri sendiri.

Setelah beberapa menit, Regan akhirnya membuka mata. Menatap kosong langit-langit kamar.

Penthouse itu kembali sunyi, tak ada lagi omelan Sofia atau ejekan Raymond.

Sudah satu jam berlalu. Pintu kamar Regan terbuka pelan, ia keluar dengan stelan yang sudah rapi. Mengenakan kemeja putih dan rompi hitam.

Sebelum kembali menutup pintu kamar, Regan mematung beberapa detik. Pandangannya mengintari seluruh ruangan, terutama bagian dapur.

Karena hari sebelumnya, Sofia sudah sibuk di dapur. Dengan aroma rempah-rempah yang menyeruak.

"Udah pulang, ya?" Katanya sambil menutup pintu kamar. Lalu, melangkah ke dapur.

Rasa kosong menggantung di dadanya. Saat kakinya benar-benar menginjak dapur, tak ada sambutan dari Sofia.

Mata Regan tertuju pada selembar kertas di atas meja makan. Ia meraihnya, lalu membaca setiap tulisan di sana.

"Makan yang banyak, ya. Jangan makan mie instan terus. Banyakin makan-makanan sehat. Mamy masakin banyak untuk beberapa hari kedepan. Kamu tinggal masukin microwave aja, ya. Love you sayang!"

Kedua sudut bibir Regan tertarik, menciptakan senyum manis, namun menyimpan kesedihan.

"Tunggu aku pulang, Mamy." Gumamnya sambil membuka kulkas.

Beberapa masakan khas China, India dan Singapura berjajar setiap rak. Ada juga buah yang sudah Sofia potong-potong. Bahkan setiap wadah sudah ditenpeli label kecil agar Regan tidak bingung memilih menu.

Regan meraih satu kotak yang berisi ayam kecap jahe. Ia memasukkannya ke dalam microwave.

Dan hampir sepuluh menit, makanan itu sudah panas. Regan duduk sendirian di meja makan, matanya sesekali terus mengintari ruangan itu.

...****************...

Matahari sudah berada di tengah langit. Menciptakan hawa panas yang menyengat. Cahayanya menembus masuk ke jendela kaca ruang kerja Alvero.

Alvero sedang duduk sambil memeriksa permintaan laporan keuangan dari klien.

Di hadapannya, Ahsan duduk menunggu.

"Kamu hubungi klien itu. Katakan, beri saya waktu dua hari." Ucap Alvero sambil menutup map biru tua.

Ahsan meraih map itu. "Baik, Pak. Kalau begitu saya langsung pamit, ya." Ahsan bangun dari duduknya.

Namun, setibanya di dekat pintu, Ahsan kembali menoleh. "Pak Al, mau ke kantin bareng lagi? Ini sudah jam makan siang."

Wajah Alvero terangkat menatap Ahsan. Ia tidak langsung menjawab. Seolah sedang dilanda kebingungan.

"Ehh, nanti saja. Saya belum lapar." Tolak Alvero.

"Oke, saya duluan." Ahsan mengacungkan jari jempolnya, lalu keluar dari ruangan Alvero.

Setelah pintu kembali tertutup rapat, Alvero menatapnya sebentar. Lalu beralih ke layar laptop.

Sebenarnya, rasa lapar sudah Alvero rasakan. Hanya saja, ia tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi seperti hari sebelumnya.

Jadi sekarang, Alvero menunggu cafeteria cukup sepi.

Sementara di lorong, Regan berjalan santai menuju lift, untuk makan siang. Nomor dua puluh lima bergerak turun ke sepuluh.

Begitu lift berbunyi pelan, pintu terbuka otomatis. Regan langsung keluar.

Suasana cafeteria setiap siang selalu ramai. Suara obrolan dan aroma makanan bercampur jadi satu.

Di dekat pintu masuk, Regan mengambil satu nampan.

Setelah nampan terisi oleh beberapa macam makanan, Regan duduk di kursi bagian belakang. Dan di sampingnya, dipenuhi para karyawan-karyawan perempuan.

Regan menghela napas. "Semoga aja tidak ada yang rese." Gumamnya.

Begitu ia duduk, dua perempuan langsung menatapnya. Regan hanya tersenyum sambil mengangguk.

"Tumben banget akhir-akhir ini makan di sini? Biasanya di bawa ke ruangan?" Tanya salah satu perempuan.

Regan menoleh, mulut yang sibuk mengunyah itu berhenti sesaat. "Udah bosan saja. Lagi pengen lihat cewek-cewek cantik di perusahaan ini."

Kelima perempuan di meja sebelahannya sontak tersenyum.

"Bisa aja, Pak."

Regan hanya menaikkan alisnya sekali.

"Bilang aja lagi kena hukuman, Pak Al!" Celetuk satu perempuan yang tepat berada di samping Regan.

"Jangan sok tahu," jawab Regan cepat.

Perempuan itu hanya terkekeh. Ia segera bangun dari duduknya. Lalu beralih duduk di kursi yang satu meja dengan Regan.

"Aku tahu loh," katanya.

"Diam! Saya lagi makan!" Regan menegurnya dengan suara datar.

"Saya tahu." Jawabnya.

Perempuan itu, Jenar. Rekan kerja Ahsan yang satu profesi. Yaitu, perwakilan Alvero untuk menemui klien, atau disaat klien meminta penjelasan keuntungan.

Tatapan Regan jatuh menusuk ke arahnya. Tapi mulutnya masih mengunyah dengan santai. Ia tidak menanggapinya lagi.

"Pak Regan, mau aku bantu cari calon investor gak nih?" Katanya.

Regan hanya diam. Seolah tidak ada siapa-siapa di depannya.

"Aku bisa loh. Nanti aku kasih trik dan tipsnya. Biar Pak Regan bisa lepas dari hukuman, Pak Al." Katanya lagi.

Regan memutar bola matanya malas.

"Hm, aku kasihan aja sih sama kalian. Gara-gara Pak Al ngasih hukuman sama Pak Regan, dia jadi gak bisa makan dengan tenang." Jenar memajukan wajahnya.

"Dia sampai tidak nyaman makan di sini. Karena banyak desas-desus, yang mengaggumi ketampanannya." Lanjut Jenar, suaranya dibuat pelan. Dan ekpresinya dibuat seserius mungkin.

Regan masih tidak memberikan satu jawaban pun. Ia membuka tutup botol air meneral, dan meneguk minumannya.

"Pak Regan, nanti aku..."

"Berisik!" Potong Regan sambil menyuapi satu anggur hijau ke mulut Jenar. Dan Regan, cepat-cepat bangun dari duduknya.

Jenar mengunyah anggur itu sambil menatap langkah Regan.

Sementara Regan, ia berjalan menuju tempat kotak makanan tersusun. Ia mengambil satu, air minum dan beberapa makanan penutup.

Setelah semuanya lengkap, Regan segera keluar. Dan naik lift.

Begitu tiba di lantai dua puluh lima. Regan tidak langsung masuk ke ruangannya. Melainkan ke ruangan Alvero.

Mendengar cerita Jenar tadi, membuat Regan paham atas ketidaknyamanannya Alvero. Sekaligus khawatir kalau Alvero telat makan, dan asam lambungnya kambuh.

Di depan pintu, Regan berdiri, ia menarik napas.

"Harus profesional," katanya sebelum mengetuk pintu.

"Masuk!"

Setelah samar suara itu terdengar, Regan membuka pintu.

"Al aku..." Ucapannya seketika terhenti. Ia cepat-cepat berdeh kecil. Merubah ekpresi menjadi serius.

"Selamat siang, Pak Al. Maaf mengganggu, saya hanya mengantarkan makan siang."

Regan menyusun makanan di meja kaca yang berada tak jauh dari meja kerja Alvero.

Alvero memperhatikan Regan dengan sedikit rasa asing.

"Makanannya sudah siap. Kalau begitu, saya kembali ke ruangan saya." Regan berbalik, melangkah menuju pintu.

"Regan, tunggu!" Alvero menghentikan langkah Regan yang sudah berada di ambang pintu.

Regan menoleh. "Kenapa?" Tanyanya datar.

Alvero tidak langsung berbicara. "Orangtuamu... sudah pulang?" Ucapnya setelah diam beberapa detik.

Regan mengangguk sekali. "Sudah."

"Regan, Zio nanyain kamu terus."

Mendengar nama itu, tubuh Regan membeku seperkian detik. Lalu ia tersenyum tipis. "Nanti aku main ke rumah."

Tangan Regan memegang gagang pintu, ia hendak menutup pintu itu.

"Regan."

Tapi suara Alvero kembali menghentikan gerakannya.

"Iya?"

"Terima kasih."

Regan hanya mengangguk. Dan sekarang pintu itu benar-benar terutup. Alvero hanya menatap permukaan pintu.

Ia terkekeh. "Kenapa jadi asing. Bukannya dia sedang berusaha profesional?" Gumamnya.

Alvero menutup pelan laptopnya. Kemudian, Ia duduk di sofa sambil membuka makanan di atas meja.

Sementara di lorong. Regan hanya tersenyum kecil. Hanya untuk satu hal. Yaitu, mendengar Renzio yang mencarinya. Membuat Regan merasa tidak benar-benar kesepian setelah orangtuanya pulang.​

1
Laila Sarifah
Pleaseee jgn sampai lengan vey, Regan itu sebenarnya suka sama kamu😭
james
kira-kira Veyra kenapa yah/Doge/
james
ah Veyra yang tergoda atau Regan /Sly/
Addb_Rh
Veyra... ingatlah trs suamimu.. jan ingat pria lain.. ya...? 🥲
Lenny Utami
go regan🤭
Lenny Utami
holang kaya ini mahj
Addb_Rh
Ini si, gmn pinternya ngendaliin perasaan aja. Btw, congrats Gan. akhirnya bisa ya ngeyakinin kerja sama sama mereka
Agatha soul
tanggung jawab lhoo
Its me
sikap veyra bisa mancing Regan nih
hati-hati lidah tak bertulang vey
mama Al
untung Alvero ga marah.
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri
arsyila putri
regan Regan kok bisa sih
Laila Sarifah
Kamu udah mulai ada rasa ya Gan sama Veyra?
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ooooo.. regan memang begitu toh. mudah akrab ke siapa aja
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
di sini aku mulai curiga regan suka sama veyra
SANG
Lanjut👍👍👍💪👍👍👍👍💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Like iklan plus komen 💪👍
SANG
Semangat ya thor 💪👍
SANG
Apaan tuh
SANG
Tuh, disana
SANG
Aku kasih suka ya Thor 💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!