NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Dibalik Lensa Sang Makcomblang

"Aduh! Aduh! Ampun, Sael! Lepas gak?! Rambutku bisa rontok sebelum nikah nih!" pekik Kael tertatih-tatih, berusaha melepaskan diri dari pitingan Sael yang sukses menyeretnya masuk ke dalam rumah.

Begitu pintu depan ditutup dengan bantingan keras, Sael baru melepaskan lengannya. Ia berdiri sambil berkacak pinggang, napasnya terengah-engah.

"Kamu ya, Kael! Bisa nggak sih sehariiii aja gak usah ngerusak suasana?!" omel Sael.

Kael merapikan rambutnya yang berantakan, lalu sedetik kemudian seringai jahilnya yang menyebalkan itu kembali terpasang sempurna. Ia melangkah mundur.

"Wah, wah... 'ngerusak suasana' katanya? Berarti tadi suasananya lagi asyik dong? Lagi syahdu ya?" goda Kael, menopang kedua tangannya di pinggang sambil menirukan gaya Sael. "Lagian, kalau aku nggak teriak, mungkin kalian berdua udah lupa waktu. Aku tuh menyelamatkan kamu dari godaan setan sebelah, Sael!"

"Nggak ada yang begitu, Kael! Kita cuma ngobrol!" bela Sael.

"Ngobrol sih ngobrol, tapi kenapa pas aku intip dari jendela, posisi duduk kalian berdua udah kayak angka sebelas? Deket banget!" Kael menyatukan kedua jari telunjuknya, lalu menggoyang-goyangkannya di depan muka Sael.

"Terus, tadi aku lihat tangan Kak Aeros gerak-gerak di dekat mukamu. Hayo... habis ngapain? Mau modus usap-usap pipi ya? Atau jangan-jangan..."

"KAEL STOP YA!" Sael menyambar bantal sofa terdekat dan langsung melemparkannya.

𝘉𝘜𝘒

Bantal itu tepat mengenai dada Kael.

"Aduh! Kasar banget, pantesan Kak Aeros cuma berani kode-kodean," Kael menangkap bantal itu sambil tertawa terbahak-bahak. Ia berjalan mendekati meja makan, di mana Mama dan Papa sudah duduk siap untuk makan malam.

Mama yang sedang menyendok nasi hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli. "Kael, sudah ah. Sini duduk, kita makan. Jangan digodain terus kembaranmu, nanti dia gak mau makan malam."

"Biarin, Ma. Sael mah nggak butuh makan nasi sekarang, udah kenyang makan cinta dari Kak Aeros," sahut Kael lagi tanpa rasa berdosa, langsung mengambil posisi duduk di sebelah Papa.

Papa yang sejak tadi memperhatikan anak gadisnya yang masih berdiri di dekat ruang tamu sambil cemberut akhirnya ikut terkekeh. "Sael, sini makan dulu. Urusan pangeran sebelah rumah bisa dilanjut besok lagi. Ayam goreng menteganya keburu dingin nih."

Sael menghentakkan kakinya kesal, ia berjalan menuju meja makan dan duduk di seberang Kael, langsung memberikan tatapan mengancam.

Malam itu, di sela-sela suapan makan malam dan riuhnya godaan Kael yang tidak ada habisnya, pikiran Sael diam-diam terbang kembali ke ruang tamu sebelah. Kalimat terakhir Aeros sebelum ia pulang tadi rasanya masih terngiang jelas di telinganya.

****

𝐏𝐎𝐕 : 𝐊𝐀𝐄𝐋

Sebenarnya, dari awal aku emang udah punya firasat kalau ada yang nggak beres sama kembaranku.

Pas dua hari lalu aku telepon Kak Aeros pagi-pagi karena Sael tiba-tiba demam tinggi, aku bisa dengar suara napas Kak Aeros di seberang telepon langsung memburu. Nggak sampai tiga menit—sumpah, aku bahkan belum selesai nyari termometer di laci—Kak Aeros udah ngebanting pintu rumah kita dan lari masuk ke kamar Sael

Pagi itu aku ngelihat sendiri gimana paniknya cowok kulkas itu. Dan puncaknya adalah aku liat pemandangan yang bikin aku kudu gigit bibir biar nggak teriak hura-hura, Sael lagi merem, tapi kedua tangannya meluk erat banget lengan Kak Aeros ke dadanya. Kak Aeros? Alih-alih narik tangannya, dia cuma diam nahan napas sambil natap Sael pakai pandangan yang... duh, kalau ada kamera, udah aku rekam buat bahan palak seumur hidup.

Makanya, begitu Sael sembuh dan mendadak kesurupan jadi koki bintang lima sore kemarin, aku langsung tahu ini 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘰 𝘣𝘰𝘹 bukan sembarang 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘰. Ini 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘰 penuh muatan emosional terselubung.

"Aku kalau sakit cuma dibuatin mi instan," sindir aku waktu itu di dapur, sengaja pengen lihat seberapa merah kuping kembaranku. Dan bener aja, reaksi Sael selalu memuaskan: muka merah semerah tomat, spatula diacung-acungin, dan segala macam barang melayang. Menghibur banget, sumpah. Menghibur saudara kembarmu yang kurang asupan drama ini.

Puncaknya adalah tadi sore, pas aku sengaja nongkrong di pagar sambil ngunyah keripik singkong. Aku lihat mobil SUV hitam Kak Aeros masuk kompleks. Begitu Sael turun, ekspresinya itu lho, muka ditekuk tapi matanya berbinar-binar, terus pipinya... aduh, ledekanku soal udang rebus itu seratus persen akurat!

"Gimana perjalanannya? Aman? Nggak ada insiden jantung maraton, kan?" goda aku langsung begitu dia menapak di tanah. Sael gak jawab, tapi tas kerjanya langsung melayang mendarat di lenganku. 'Aduh!' Sakit sih, tapi demi melihat kembaranku salah tingkah begini, dapet memar dikit di lengan mah nggak ada apa-apanya.

Lalu, semesta emang baik banget sama bakat makcomblang aku. Mama malah nyuruh Sael nganterin ayam goreng mentega ke sebelah. Pas Sael keluar dengan kaus oblong santai, aku langsung masang alarm di otakku. Lima menit... sepuluh menit... lima belas menit... kok nggak balik-balik?

Karena naluri kepo ku udah di stadium akhir, aku mengendap-endap lewat halaman samping, meloncat sedikit di balik jendela teras rumah Kak Aeros yang untungnya gordennya nggak ditutup rapat.

Dan apa yang aku lihat?

Aku hampir aja keselek ludah sendiri. Posisi duduk mereka berdua di sofa udah deket banget, sisa satu bantal doang. Suasananya hening, syahdu, tipe-tipe atmosfer drama Korea romantis yang siap-siap masuk adegan 𝘤𝘭𝘪𝘮𝘢𝘹. Terus, tangan Kak Aeros... tangan Kak Aeros pelan-pelan bergerak ke arah muka Sael, nyelipin rambut kembaranku ke belakang telinganya sambil natap Sael dalam banget. Sael-nya sendiri udah kayak patung pancoran, nggak bergerak, mukanya kelihatan jelas merah merona bahkan dari jarak jendela luar.

𝘞𝘢𝘥𝘶𝘩, 𝘸𝘢𝘥𝘶𝘩, 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘪𝘢𝘳𝘪𝘯, pikir ku sambil menahan tawa. 𝘉𝘪𝘴𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘨𝘪𝘵𝘶𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘒𝘢𝘬 𝘈𝘦𝘳𝘰𝘴.

Lagian, sebagai saudara kembarmu yang protektif (hobi ngerusuh), aku merasa punya kewajiban suci untuk memutus arus tegangan tinggi itu sebelum mereka berdua lupa kalau ada ayam goreng mentega yang nunggu di rumah.

"EHEM!!! PERMISI!!! PAKET!!! IBU PERI DICARIIN MAMA..." teriak ku sekencang mungkin sambil mengetuk kaca jendela, puas banget pas melihat mereka berdua langsung tegak karena kaget.

Pas Sael keluar pagar sambil masang muka pengen ngebunuh aku, aku cuma bisa nyengir tanpa dosa. Pas di dalam rumah, rambut ku sempat jadi korban ditarik-tarik sama dia sampai rontok beberapa helai, tapi di atas meja makan, pas aku ngelihat Sael diam-diam senyum-senyum sendiri sambil ngunyah ayam goreng, aku tahu... tugasku hari ini sukses besar.

𝘒𝘢𝘬 𝘈𝘦𝘳𝘰𝘴, 𝘮𝘪𝘯𝘪𝘮𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬-𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘱𝘦𝘵 𝘫𝘢𝘵𝘢𝘩 𝘬𝘰𝘱𝘪 𝘨𝘳𝘢𝘵𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘧𝘦, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘨𝘢𝘪𝘯 𝘤𝘢𝘭𝘰𝘯 𝘱𝘢𝘤𝘢𝘳 𝘮𝘶, batinku sambil nyengir, siap-siap nyari bahan ledekan baru buat Sael besok pagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!