Perjalan hidup seorang Damar menggapai kesuksesan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Tatapan Pertama Amara
Proses penanganan Pak Hendrawan di teras gubuk baru saja hendak dimulai sewaktu pintu depan mobil MPV mewah itu mendadak terbuka lebar. Dari dalam kendaraan yang sejuk ber-AC itu, seorang gadis muda melangkah keluar dengan raut wajah yang amat merengut.
Gadis itu adalah Amara, putri tunggal Pak Hendrawan. Penampilannya tampak amat modis dan mewah, sangat bertolak belakang dengan suasana perkampungan. Ia mengenakan kemeja sutra berwarna merah muda lembut, celana kain putih bersih, serta sepatu hak tinggi buatan desainer ternama. Tangan kanannya memegang tas kulit mahal, sementara mata indahnya tertutup kacamata hitam berbingkai lebar.
Namun, begitu heels sepatunya menyentuh permukaan tanah pekarangan yang berdebu dan tidak rata, Amara langsung menghentikan langkahnya. Wajah cantiknya berkerut cemberut, memperlihatkan rasa tidak nyaman yang amat jelas.
"Aduh... Papa! Ini tempat apa sih?!" seru Amara dengan nada suara tinggi, penuh kemanjaan dan kekesalan. "Kotor banget! Debunya ke mana-mana, bau tanah lagi! Kenapa sih sekretaris Papa malah bawa Papa ke gubuk reot kayak begini?!"
Sekretaris Pak Hendrawan yang sedang membantu melonggarkan kancing kemeja bosnya mendongak panik. "Mbak Amara, tolong pelankan suaranya, Mbak... Ini rumahnya Mas Damar, tabib yang mau menolong Bapak."
"Tabib apa?! Dokter spesialis di rumah sakit terbaik kota aja kagak ada yang bisa nyembuhin Papa, masa Papa mau diobatin di gubuk bambu yang mau ambruk begini?!" cecar Amara pedas sambil mengibaskan tangannya di udara, seolah-olah mengusir debu kotor. "Ini mah bukan tempat pengobatan, ini tempat penampungan barang bekas! Sepatu aku bisa rusak kalau jalan di tanah becek begini!"
Bu Rahmi yang baru saja melangkah keluar membawa baskom berisi air hangat dan kain bersih sempat tertegun mendengar ucapan pedas gadis kota itu. Namun, Bu Rahmi hanya tersenyum maklum dan canggung, mencoba memahami kepanikan seorang anak yang sedang cemas melihat ayahnya sakit.
"Mbak... mari masuk dulu. Maaf ya, gubuk kami memang kotor dan cuma dari bambu," sapa Bu Rahmi ramah dan halus.
Amara menatap Bu Rahmi dari balik kacamata hitamnya dengan pandangan menilai yang dingin. "Kagak usah sok ramah deh, Bu. Saya ke sini cuma karena terpaksa nemenin Papa saya! Kalau bukan karena Papa yang kumat, saya kagak bakal mau menginjakkan kaki di tempat terpencil kayak gini!"
"Amara... diam kamu..." tegur Pak Hendrawan dari atas lincak dengan suara yang sangat lemah dan serak. "Jangan... bersikap tidak sopan..."
"Tapi Papa! Ini tuh ngga higienis!" bantah Amara makin menjadi-jadi, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya angkuh. "Masa Papa mau ditangani sama orang desa yang ngga jelas pendidikannya?!"
Damar yang dari tadi berjongkok di samping Pak Hendrawan perlahan berdiri. Ia membalikkan badannya, menatap gadis muda yang sedang mengomel itu dengan tenang.
Damar membetulkan posisi berdirinya. Tanpa kacamata tebal yang dulu selalu membingkai wajahnya, paras Damar terpapar sepenuhnya di bawah paparan sinar matahari pagi. Wajahnya begitu bersih dan tampan, rahangnya tegas, dan sepasang matanya yang jernih memancarkan ketenangan serta wibawa yang luar biasa teduh.
Saat Damar menatapnya lurus-lurus, Amara refleks menurunkan kacamata hitamnya ke ujung hidung. Langkah kaki Amara mendadak terkunci di tanah berdebu.
Mata cantik Amara membelalak pelan. Pandangannya terpaku pada sosok pemuda berkaos oblong sederhana di hadapannya. Tidak ada kesan kucel, kumal, atau kampungan seperti yang ada dalam bayangannya tentang seorang tabib desa. Sebaliknya, ketampanan alami dan aura tenang yang dipancarkan Damar terasa begitu kuat mengintimidasi.
Deg!
Dada Amara mendadak berdesir hebat. Jantungnya berdetak cepat tanpa alasan yang jelas. Wajahnya yang tadi pucat karena kesal, dalam sekejap merona merah jambu.
"Kamu... kamu siapa?" bisik Amara terbata-bata, nada suaranya mendadak melunak tanpa ia sadari.
Damar menyunggingkan senyum tipis yang amat ramah, menatap Amara tanpa ada sedikit pun rasa tersinggung oleh makian gadis itu tadi.
"Saya Damar, Mbak," jawab Damar santai dan lugas. "Pemilik gubuk reot dan kotor yang Mbak sebutkan tadi."
Amara tersentak kaget mendengarnya. Rasa malu dan salah tingkah langsung membakar seluruh wajahnya. Namun, gengsi tingginya sebagai gadis kota kaya raya seketika membangun benteng pertahanan yang sangat kokoh. Ia cepat-cepat menegakkan kepalanya kembali, menaikan kacamata hitamnya ke atas mata, lalu mendengus dingin.
"Oh... jadi kamu yang namanya Damar?!" cetus Amara dengan gaya sok gengsi, berusaha keras menutupi kegugupan hatinya. "Gaya kamu boleh juga. Tapi ingat ya! Kamu jangan macam-macam sama Papa saya! Kalau Papa saya kenapa-napa gara-gara pengobatan asal-asalan kamu, saya bakal tuntut kamu sampai gubuk kamu ini digusur!"
Damar tidak marah, tidak juga membalas ancaman itu dengan nada tinggi. Ia justru tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat menyenangkan di telinga Amara, membuat jantung gadis itu kembali berdegup kencang.
"Mbak tenang saja," tutur Damar santai sambil membungkuk mengambil kain bersih dari tangan ibunya. "Tujuan saya di sini cuma mau bantu memulihkan kondisi Pak Hendrawan. Kalau Mbak takut sepatunya kotor atau jijik berdiri di tanah halaman saya, Mbak bisa tunggu di dalam mobil ber-AC yang nyaman itu."
Amara melotot, merasa tersindir oleh jawaban Damar yang begitu tenang namun menohok.
"Kamu... kamu mengusir saya?!" sergah Amara dengan nada tidak terima.
"Kagak mengusir, Mbak. Saya cuma ngasih saran demi kenyamanan Mbak sendiri," sahut Damar ramah, lalu kembali berjongkok di samping Pak Hendrawan tanpa memperdulikan Amara lagi.
Amara menggigit bibir bawahnya, merasa sangat gemas dan kesal karena diacuhkan. Biasanya, pria-pria di kota selalu bertekuk lutut dan berusaha menyenangkan hatinya saat ia marah. Namun, pemuda desa ini sama sekali tidak terpengaruh oleh gertakan maupun kecantikannya.
"Mbak Amara, tolong jangan mengganggu fokus Mas Damar," bisik sang sekretaris cemas. "Kondisi Pak Hendrawan sudah sangat kritis ini."
Amara menghentakkan kaki kanannya ke tanah dengan kesal, membuat ujung sepatunya yang mahal terpercik sedikit debu kecokelatan. "Terserah kalian lah! Awas saja kalau sampai ngga ada hasilnya!"
Meskipun mulutnya terus mengomel, Amara sama sekali tidak berjalan kembali ke mobil mewahnya. Ia justru melangkah sedikit agak dekat ke pinggir teras, berdiri bersandar pada tiang kayu sambil terus memperhatikan gerak-gerik Damar dari balik kacamata hitamnya.
Dari jarak dekat, Amara bisa melihat betapa cekatannya jemari Damar saat memeras kain hangat dan memijat titik-titik saraf di dada Pak Hendrawan. Sorot mata Damar begitu fokus, tajam, dan penuh dengan kepedulian yang tulus.
"Papa... gimana rasanya?" tanya Amara pelan, nada suaranya kali ini menyiratkan rasa cemas seorang anak.
Pak Hendrawan menghela napas yang terasa lebih ringan. "Lega... dada Papa... kagak terlalu sesak lagi, Amara..."
Amara tertegun mendengar pengakuan ayahnya. Ia memandangi wajah Damar dari samping. Garis rahangnya yang tegas dan ketenangannya sewaktu menangani pasien yang sedang kritis membuat rasa kagum di dalam dada Amara makin tak terbendung.
Ih... kenapa sih ini cowok desa bisa segagah dan setampan ini? batin Amara dalam hati, merasa kesal pada dirinya sendiri yang terus-menerus terpesona. Tapi tetap saja! Dia cuma pemuda desa miskin yang tinggal di gubuk! Ngga selevel sama aku!
Damar yang merasa terus diperhatikan menoleh sejenak ke arah Amara, memberikan senyuman tipis yang sangat menawan sebelum kembali memfokuskan perhatiannya pada terapi pemulihan Pak Hendrawan.
Amara yang mendadak ketahuan sedang memperhatikan langsung memalingkan wajahnya ke arah pematang sawah dengan canggung, membetulkan letak tas mewahnya dengan jemari yang gemetar halus. Percikan rasa penasaran dan gengsi yang membumbung tinggi kini resmi menjadi awal dari jalinan cerita di antara sang tabib muda dan gadis kota yang manja tersebut.
SKIP and OUT
PENTOL KOREK...!!!
sayangnya terlalu byk main spasi.
percakapan yg hny satu dua kata terasa kaku, terkesan seperti robot.
disinilah letak sesuatu yg harus outhor perbaiki, agar kedepan karya2 outhor lebih terasa hidup, & nyaman dinikmati reader, sehingga menjadikan outhor sbg writer yg paling dicari karyanya.
tetap semangat, pantang menyerah karna komentar yg mengkritik bahkan menyinggung. anggap itu semua sbg pemicu semangat & tangga pencapai suksesmu..💪👍🙏
contoh pembicaraan antara mc & perempuan yg bertemu dgnnya, dan mc dgn nita. tau2 nita nongol tanpa ada info drmn dia tau/ mengenal mc.
dr situ ceritamu akan terasa lbh padat dan berisi, tdk terkesan "hny menjual spasi"💪
kyk makan arum manis..
jd terasa kosong ceritanya