NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:817
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 24 : GEMURUH BINTANG DAN DUA HATI YANG TERIKAT

Malam merayap semakin pekat menyelimuti area Rumah Sakit Pusat Harapan Medika. Jarum jam dinding digital di lobi luar sudah menunjukkan pukul delapan malam tepat. Suasana di dalam area gedung vaskular berangsur sunyi, menyisakan kesibukan senyap para perawat yang berjaga. Di sudut taman terbuka lantai dasar rumah sakit yang dikelilingi rimbunnya pohon palem, Raditya Evan Baskara duduk sendirian di atas bangku taman besi bercat putih.

Jas dokter putihnya sudah dilepas, disampirkan begitu saja di sandaran bangku. Radit menyandarkan punggung tegapnya, menatap lurus ke arah langit malam Jakarta yang kebetulan sedang bersih bertabur banyak bintang malam ini. Tangan kanannya menjepit sebatang rokok yang asapnya mengepul perlahan, mengalir ditiup angin malam yang dingin.

Radit mengembuskan asap rokoknya kasar ke udara, seiring dengan helaan napas berat yang keluar dari lubuk dadanya. Pikirannya benar-benar buntu. Isi kepalanya seratus persen dipenuhi oleh bayangan sepasang mata berwarna biru jernih milik Kalea Azzahra Putri. Pria berusia 29 tahun itu memejamkan kedua mata elangnya perlahan, meresapi debaran aneh yang kini berubah wujud menjadi rasa cinta yang teramat sangat mendalam di dalam dadanya.

"Aku udah mencintai kamu, Kalea. Aku bener-bener udah jatuh cinta sama kamu kalea," batin Radit mengakui perasaannya sendiri tanpa kedok kaku lagi malam ini.

Radit hanya mau Kalea yang menjadi istrinya yang sah, bukan Natasha Olivia Renata. Walaupun pertemuan mereka terhitung sangat singkat dan selalu diawali adu mulut yang jenaka, Radit merasa kenyamanan yang luar biasa besar setiap kali berada di dekat Kalea. Pembawaan Kalea yang mandiri dan tegas terasa begitu menyegarkan di hidupnya yang kaku laksana robot laboratorium. Jauh berbeda dengan Natasha yang selama bertahun-tahun ini selalu menempel manja padanya demi status sosial, apalagi pakaian Natasha yang selalu terbuka dan kurang bahan di depan umum. Sisi religius Radit jauh lebih mengagumi kesopanan Kalea yang selalu tertutup rapi dengan jilbab voalnya, memancarkan keanggunan seorang wanita muslimah yang seutuhnya.

"Kalea... kamu sekarang lagi ngapain? Apa kamu lagi nangisin omongan Mommy tadi?" gumam Radit berbisik lirih menyebut nama Kalea di tengah kesunyian taman, matanya masih terpejam rapat menikmati rasa rindu yang menyiksa batinnya.

Puk!

Sebuah tepukan tangan yang cukup pelan namun terasa berat mendadak mendarat di bahu kanan Radit. Radit langsung membuka kelopak mata elangnya perlahan, memutar kepalanya sedikit ke arah samping.

Dimas Narendra Baskara sudah berdiri di sana dengan kemeja rektornya yang lengannya digulung acak-acakan. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk meminta izin, Dimas langsung mendudukkan tubuh tegapnya di samping Radit, merasai kursi besi yang dingin. Tangan kokoh Dimas bergerak cekatan merogoh saku kemeja kakaknya, mengambil sebatang rokok milik sang kakak beserta pemantiknya, lalu menyalakannya dengan gerakan lambat.

Dimas mengembuskan asap rokoknya ke depan, matanya menatap kosong ke arah deretan tanaman hias. Tanpa basa-basi, suara Dimas terdengar sangat pelan namun sarat akan getaran kepedihan batin yang mendalam. "Mas Radit... aku mau nanya satu hal sama kamu. Tolong jawab yang jujur."

Radit melirik adiknya sekilas dari sudut mata. "Mau nanya apa kamu malam-malam begini, Dimas?"

Dimas memutar kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata elang Radit dengan pandangan yang sangat intens dan kaku. "Apa kamu bener-bener mencintai Kalea, Mas? Kamu beneran mau jadiin dia istri kamu, Mas?"

Mendengar pertanyaan kritis yang keluar begitu saja dari mulut adiknya, Radit tidak langsung menjawab. Sifat jeli seorang dokter bedah vaskular membuatnya menangkap ada sesuatu yang sangat aneh dari pembawaan adiknya sejak di koridor IGD siang tadi. Radit mematikan putung rokoknya di asbak taman, lalu memajukan tubuhnya menatap balik wajah Dimas penuh selidik yang tajam.

"Iya, kenapa memangnya?" jawab Radit dengan datar

Dimas menarik sudut birunya, mengulas sebuah senyuman pahit yang sangat miris menatap kakaknya. Rasa sesak luar biasa di dalam dadanya membuat dia memilih untuk membongkar semuanya malam ini. "Kalea adalah gadis yang aku ceritakan sama Mas waktu itu. Aku menyukai Kalea, Kalea sangat berbeda dengan gadis lain."

DEG!

Bagai dihantam godam besar tak kasat mata, kalimat lantang dari mulut Dimas seketika memukul mundur seluruh ketenangan Radit. Sepasang mata elang Radit membelalak sempurna, wajah tampannya menegang kaku dipenuhi rasa terkejut yang luar biasa besar menembus rongga dadanya.

"Jadi... cewek yang diceritain Dimas waktu itu... adalah Kalea-ku? Adekku sendiri ternyata mencintai calon istriku?! jerewih batin Radit frustrasi, merasakan jaring takdir cinta segitiga di antara mereka bener-bener nyata dan mengerikan malam ini.

Dimas tidak memedulikan keterkejutan kakaknya. Dia kembali mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu membuang wajahnya menatap ke arah rembulan. "Mas... kenapa kalea di panggil anak haram? Apa benar Kalea itu anak haram?"

Radit mengendikkan kedua bahunya dengan gerakan kaku yang acuh tak acuh, suaranya kembali datar sedingin es. "Aku nggak tahu silsilah jelasnya gimana, Dimas. Memangnya kenapa kalau emang statusnya begitu? Ada hubungannya sama perasaanmu?"

Dimas menggelengkan kepalanya perlahan, senyuman tipisnya terlihat sangat hambar. "Nggak apa-apa kok, Mas. Aku cuma nanya aja."

Radit menyipitkan matanya semakin tajam, aura intimidasi kepemimpinannya mengurung posisi duduk adiknya dari jarak dekat. "Dimas... Kamu beneran menyukai, Kalea?"

Dimas memutar tubuhnya kembali, menatap mata Radit tanpa ada rasa takut sedikit pun sepeser pun dengan wibawa penuh seorang rektor muda. "Iya, Mas Radit! Aku menyukai Kalea, kalau Mas menikah dengan Kak natasha, aku akan menikahi Kalea."

SETTT!!!

Mendengar kalimat lantang Dimas yang nekat mau merebut Kalea masuk ke dalam dekapannya, kemurkaan Radit akhirnya pecah total malam ini. Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, kasar, dan dipenuhi emosi yang meledak-ledak, tangan kanan Radit langsung maju ke depan, mencengkeram kuat-kuat kerah kemeja formal Dimas di bagian leher, lalu menarik tubuh adiknya merapat secara paksa hingga wajah mereka berdua nyaris bersentuhan dengan napas yang memburu kesetanan.

Radit memajukan kepalanya, lalu dengan suara bariton yang sangat rendah, bergetar hebat menahan geram, dia berbisik tajam tepat di dekat lubang telinga adiknya dengan kalimat rahasia yang mematikan.

"Jaga mulut ya, Dimas Narendra Baskara?!" desis Radit penuh ancaman wibawa seorang abang tertua. "Siapa yang bilang aku beneran mau menikah sama model genit kayak Natasha, hah?! Otak jenius dokterku nggak sekonslet itu buat ngejual hidupku demi kebohongan! Aku tadi terpaksa melontarkan janji manis itu murni cuma sebagai taktik darurat biar kondisi jantung Mommy cepet sembuh, stabil, dan beliau bisa secepatnya pulang ke rumah berkumpul sehat lagi sama kita! Begitu Mommy aman di rumah, aku yang bakal cari cara buat hancurin perjodohan gila itu dan jemput Kalea kembali! Kalea itu cuma boleh jadi milikku, bukan milikmu, paham?!"

Dimas yang kerah bajunya dicengkeram erat langsung tersentak kaget mendengarkan penjelasan rahasia taktik palsu abangnya. Rasa terkejutnya seketika meledak berubah jadi amarah tingkat tinggi karena merasa takdir cinta Kalea dipermainkan oleh sandiwara kakaknya. Dimas menyentak kasar tangan Radit dari kerahnya hingga cengkeraman Radit terlepas kasar.

"Kamu egois banget, Mas Radit?!" bentak Dimas dengan suara setengah berbisik namun terdengar sangat tajam menahan emosi di tengah taman sepi. "Kamu mikirin buat Mommy, tapi kamu pernah mikir nggak gimana hancurnya perasaan Kalea pas denger kamu janji nikah sama cewek lain di depan matanya sendiri, hah?! Kamu udah ngelukain harga diri dia! Kamu nggak pantes dapet ketulusan Kalea."

Radit tidak membalas makian adiknya dengan kata-kata lagi. Wajah tampannya kembali terkunci sepenuhnya menjadi kaku, datar, sedingin es, dan memancarkan aura kegelapan yang luar biasa pekat. Radit berdiri dari bangku taman besi, menyambar jas dokter putihnya dengan sentakan kasar, lalu membalikkan tubuh tegapnya melangkah lebar meninggalkan area taman terbuka rumah sakit tanpa berniat menengok ke belakang lagi.

Radit berjalan lurus menembus koridor lobi menuju ke arah mobil mewahnya untuk pulang, meninggalkan Dimas seorang diri yang masih duduk mematung di bawah pendar rembulan malam. Dimas mengepalkan kedua tangannya.

...****************...

Suasana di lantai dua rumah keluarga Wijaya malam itu begitu senyap, namun terasa sangat mencekam. Kamar tidur Shinta Kirana Wijaya yang biasanya dipenuhi oleh suara tawa centil saat membuat konten video kecantikan, kini diliputi suasana redup. Pintu kamar terkunci rapat dari dalam.

Shinta sedang duduk meringkuk di sudut ranjang besarnya yang bernuansa merah muda dan emas. Kedua lututnya ditekuk erat menempel ke dada. Wajah cantiknya tampak sangat berantakan; maskara dan eyeliner mahalnya luntur menyisakan coretan hitam di sekitar kelopak mata akibat tangisan histeris yang menahan dongkol sejak sore tadi. Di pipi kanan dan sudut bibirnya, masih terlihat jelas rona merah keunguan bekas tamparan keras yang berulang kali dia dapatkan dari Hermawan dan jambakan Fitri.

Sifat angkuh dan manja Shinta benar-benar terguncang hebat malam ini. Selama 23 tahun hidupnya di rumah ini, Shinta adalah anak emas yang selalu dimanja. Dia tidak pernah sekali pun dicubit, dibentak, apalagi ditampar oleh papanya. Setiap kali Shinta membuat ulah gila—mulai dari menghabiskan uang ratusan juta secara misterius hingga merusak barang mewah—Hermawan selalu mengalihkan seluruh amukan dan cambukan ikat pinggang kulitnya kepada Kalea. Kalea selalu dijadikan kambing hitam dan keset pelampiasan amarah. Tapi sore tadi, pertahanan itu runtuh. Hantaman bogeman mentah Papa dan jambakan brutal dari Fitri benar-benar meremukkan ego besarnya.

Tok! Tok! Tok!

"Shinta sayang... Ini Mama, Nak. Tolong buka pintunya sebentar," panggil suara lembut Sarah Wijaya dari balik pintu, terdengar penuh kecemasan seorang ibu.

Shinta tidak bergerak, dia cuma diam membisu dengan tatapan mata yang dipenuhi kedengkian. Setelah mendengar selot pintu dibuka menggunakan kunci cadangan dari luar, pintu kayu mewah itu perlahan terbuka. Sarah melangkah masuk dengan gaya anggunnya, membawa nampan berisi sepiring nasi hangat dengan lauk piring bistik daging sapi kesukaan Shinta, lengkap dengan segelas air putih. Sarah sengaja mengantarkan makan malam ini ke atas karena sejak sore tadi Shinta ketakutan setengah mati untuk turun ke bawah menghadapi tatapan mata tua Hermawan yang berkilat tajam laksana badai petir.

Sarah menutup pintu kembali, lalu melangkah pelan mendekati ranjang. Dia meletakkan nampan itu di atas nakas, kemudian mendudukkan tubuh paruh bayanya di samping posisi Shinta meringkuk. Sarah mengelus lembut pundak putrinya dengan kelembutan yang sangat pilih kasih.

"Sayang... Ayo makan dulu, Nak. Dari sore tadi kamu belum makan, nanti kamu sakit," bujuk Sarah dengan nada suara yang sangat manis, matanya berkaca-kaca melihat sudut bibir anak emasnya yang sedikit bengkak.

Shinta memalingkan wajahnya kaku, mendengus kasar. "Shinta nggak laper, Ma! Shinta nggak mau makan! Pipiku masih sakit banget buat ngunyah gara-gara pukulan Papa sama jambakan setan dari Mbak Fitri sore tadi! Shinta benci banget sama mereka semua, Ma?!"

Sarah menghela napas panjang yang sarat akan rasa sesak, lalu mengambil piring makan malam itu. Dengan penuh ketelatenan yang memanjakan, Sarah menyendok sedikit nasi dan daging, lalu menyodorkannya ke depan bibir Shinta. "Mama paham kamu lagi marah, Nak. Tapi tolong jangan hukum fisikmu sendiri. Ayo, buka mulutnya sedikit, Mama suapin ya. Biar badanku ada tenaganya."

Shinta menatap ibunya dengan pandangan mata yang sayu bercampur emosi yang meluap-luap. Akhirnya, dengan kepasrahan yang manja, Shinta membuka mulutnya sedikit menerima suapan dari mamanya. Setelah mengunyah perlahan dengan rahang yang terasa ngilu, Shinta kembali berkicau meluapkan seluruh rentetan dialog penuh dendam di dadanya.

"Ma! Mbak Fitri itu bener-bener keterlaluan banget ya!" maki Shinta dengan suara yang bergetar hebat menahan sesak. "Berani-beraninya dia dateng melabrak aku, terus ngejambak rambutku sekasar itu di depan Mama! Dia pikir dia siapa, hah?! Cuma karena dia seorang dokter spesialis jantung sukses, dia merasa punya hak buat nginjak-injak harga diriku di rumah ini?!"

Sarah menyuapi Shinta untuk kedua kalinya, mencoba meredam emosi putrinya dengan nasehat yang penuh kepalsuan moral. "Udah, Shinta... Tolong dengerin nasehat Mama dulu. Mbak Fitri-mu itu bertindak kasar begitu murni karena dia lagi kalut dan syok berat setelah liat kamu sama Mas Fandi di atas ranjang tadi sore. Bagaimanapun juga, Fandi itu kan status hukumnya masih suami sah dia. Wajar kalau emosi dia meledak. Kamu jangan malah balik memusuhi kakak kandungmu sendiri."

"Nggak mau, Ma! Shinta tetep benci sama Mbak Fitri!" bentak Shinta ketus, matanya berkilat memancarkan kebencian egoisnya. Dia menepis pelan tangan Sarah yang mau menyuapinya lagi. "Mama nggak usah ngebela dia terus! Mbak Fitri itu harusnya sadar diri kenapa Mas Fandi bisa berpaling dan milih tidur sama aku selama tiga tahun ini! Itu karena Mbak Fitri itu MANDUL, Ma! Dia itu cewek mandul yang nggak berguna?! Dua tahun nikah nggak bisa kasih Papa cucu, tubuhnya kaku kayak robot, nggak pinter melayani suami! Mas Fandi bosen, makanya dia cari kehangatan ke aku yang jauh lebih seksi dan pinter merawat dia! Salah aku di mana coba?!"

Sarah yang mendengar kata 'mandul' keluar begitu lancar dari mulut anak bungsunya langsung terperanjat kaku. Dia buru-buru meletakkan piring makannya kembali ke atas nakas, lalu memegang kedua pundak Shinta dengan pegangan yang cukup kencang, menatap Shinta dengan pandangan menegur yang serius namun tetap sarat akan pilih kasih.

"Shinta Kirana! Jaga bicaramu, Nak! Jangan lancang ngomong kata mandul begitu tentang kakakmu sendiri di dalam kamar ini!" tegap Sarah dengan nada suara yang sedikit ditekan, melirik ke arah pintu takut kalau Hermawan atau Fitri mendengar dari luar. "Mama mohon sama kamu... Jangan pernah lagi bertengkar atau cari masalah sama Mbak Fitri. Hubungan kalian berdua itu saudara kandung, anak-anak kebanggaan Mama. Cukup... Cukup kita fokus membenci dan menghancurkan si anak haram KALEA aja di rumah ini! Jangan sampai pusaran konflik ini malah bikin kalian berdua hancur saling cakar!"

Mendengar nama lengkap 'Kalea' disebut dari mulut mamanya, Shinta mendadak menghentikan gerakannya. Raut wajah cantiknya seketika berubah jadi sangat sinis, tajam, dan dipenuhi oleh kilatan dendam yang teramat sangat mendalam. Sepasang giginya bergemeletuk kencang menahan amarah yang meledak di dalam kepalanya.

"Kalea sialan..." desis Shinta dengan nada suara yang sangat rendah namun terdengar penuh intimidasi kekejaman yang bergetar. Dia menatap lurus ke dalam manik mata Sarah dengan pandangan mata yang berkilat tajam laksana belati. "Ma... Shinta yakin, kalau orang yang udah membocorkan seluruh rahasia hubungan rahasia kita sama Mas Fandi ke Mbak Fitri sore ini... itu pasti si KALEA, Ma?! Nggak ada orang lain lagi?!"

"Cewek sialan itu emang ular berbisa yang paling licik di rumah ini! Dia benci banget liat Shinta sukses jadi influencer, dia dendam karena dari dulu selalu dapet amukan Papa. Aku nggak bakal tinggal diam, Ma! Aku bersumpah demi apa pun, aku bakal bikin hidup Kalea jauh lebih menderita kayak di neraka jahanam?! Aku bakal bikin karirnya di Hotel Grand Luminance hancur lebur sampai dia mengemis di jalanan?!"

Sarah yang mendengar sumpah serapah penuh dendam dari anak kesayangannya tidak melarang; dia justru mengulas sebuah senyuman licik yang sangat kejam di wajah paruh bayanya, mengangguk setuju mendukung penuh seluruh kebusukan moral Shinta untuk menyudutkan Kalea kembali. "Iya, sayang... Mama pasti bakal selalu ada di belakangmu buat ngebantu ngehancurin anak pembawa sial itu. Yang penting sekarang, kamu abisin dulu makan malammu ya, biar besok kita punya energi buat nyusun rencana jebakan baru buat Kalea."

Shinta mengangguk kaku, kembali menerima suapan bistik dari mamanya dengan seulas senyuman kemenangan manipulatif yang sangat tipis terukir di bibirnya yang bengkak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!