Sinta percaya bahwa rumah tangganya bersama Edi adalah tempat paling aman untuk pulang. Setelah bertahun-tahun menikah, ia rela mengorbankan segalanya demi mempertahankan cinta yang ia anggap suci.
Namun, hidupnya runtuh dalam satu malam ketika ia mengetahui sebuah kenyataan pahit, suaminya sendiri berselingkuh dengan Mayang, sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara kandung.
Di balik senyum manis dan perhatian Mayang selama ini, ternyata tersimpan pengkhianatan yang perlahan menghancurkan rumah tangga Sinta. Edi yang dulu begitu mencintainya kini berubah dingin, penuh dusta, dan diam-diam memilih wanita lain di belakangnya.
Sinta tidak hanya kehilangan seorang suami, tetapi juga kehilangan sahabat terbaik yang selama ini selalu ada di sisinya.
Terkadang..
Musuh paling kejam bukanlah orang asing
Melainkan orang yang pernah kita percaya sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang kini kosong
Jika kehidupan Sinta mulai berkembang ke arah yang lebih baik, berbeda dengan kehidupan Edi dan Mayang.
Pagi datang terlalu cepat. Namun, bagi Edi, malam seolah tidak pernah benar-benar berakhir. Sejak Sinta pergi meninggalkan rumah itu, ia sama sekali tidak mampu memejamkan mata dengan tenang. Setiap kali menutup mata, bayangan wajah istrinya selalu muncul. Senyum lembut yang dulu menyambutnya sepulang kerja kini berubah menjadi tatapan penuh luka yang menghantuinya tanpa henti.
Edi mengurung dirinya di kamar yang dahulu menjadi tempat ia tidur bersama Sinta. Tempat yang menjadi saksi kisah cinta mereka, sekaligus menjadi saksi pengkhianatan yang ia lakukan sendiri.
Di tangannya masih tergenggam bantal milik Sinta. Aroma parfum wanita itu mulai memudar, sama seperti kesempatan yang perlahan menghilang dari hidupnya.
Sinar matahari yang menyelinap dari balik tirai membuat Edi menoleh.
Sudah pagi lagi.
Biasanya, pada jam seperti ini Sinta sudah sibuk di dapur. Suara panci dan wajan beradu memenuhi rumah. Aroma kopi racikan Sinta memenuhi udara, disusul harum masakan sederhana yang selalu berhasil menghangatkan suasana.
Dulu, ia sering menganggap semua itu sebagai hal yang biasa.
Kini... Ia rela menukar apa pun hanya untuk bisa kembali menikmati secangkir kopi buatan istrinya. Pandangannya beralih ke sebuah foto keluarga yang masih berdiri di atas meja kecil di samping tempat tidur.
Foto itu diambil saat ulang tahun Kayla. Sinta tersenyum begitu bahagia sambil memangku putri kecil mereka. Sedangkan dirinya berdiri di samping keduanya dengan wajah penuh kebanggaan.
Tanpa sadar, jemarinya mengusap wajah Sinta yang ada di dalam foto itu. "Kenapa baru sekarang aku sadar kalau aku sudah memiliki segalanya...?" gumamnya lirih.
Air mata kembali jatuh.
Rumah yang dulu terasa hangat kini jauh lebih sunyi daripada kuburan. Tak ada suara tawa Kayla. Tak ada langkah kaki Sinta. Tak ada lagi seseorang yang menunggunya pulang.
Yang tersisa hanyalah penyesalan. Namun, bisakah penyesalan mengembalikan semuanya? Masih sudi kah Sinta memaafkannya?
Edi terduduk lemas di lantai. "Sinta... maafkan Mas...." Suara itu menggema di seluruh ruangan. Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyambutnya.
Tok... tok... tok!
Ketukan keras di pintu depan memecah kesunyian. Edi mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mengira ibunya datang lagi untuk membujuknya pulang. Dengan langkah berat, ia berjalan menuju pintu. Begitu gagang pintu diputar...
Brak!
Pintu terdorong keras dari luar. Edi langsung mematung. Mayang berdiri di hadapannya. Wajah wanita itu terlihat kusut. Matanya sembap karena menangis semalaman. Perutnya yang mulai membesar semakin jelas terlihat.
"Mas, sampai kapan kamu mau seperti ini?" tanyanya dengan nada kesal. "Lihat aku! Lihat anak yang sedang ku kandung!"
Edi mengembuskan napas panjang. "Bisa-bisanya kamu masih membahas kehamilanmu saat rumah tanggaku sendiri sedang berada di ujung tanduk."
Mayang tertawa sinis. "Rumah tanggamu?" ulangnya. "Rumah tangga itu sudah hancur sejak kamu memilih tidur denganku, Mas. Jangan salahkan siapa pun selain dirimu sendiri!"
Ucapan itu membuat Edi mengepalkan kedua tangannya. "Diam! Kalau bukan kamu yang menggoda ku. Mana mungkin aku tega mengkhianati Sinta.
Mayang tidak gentar. "Jangan terus mengambing hitam kan diri ku mas. Aku hamil karena kamu! Orang tuaku terus mendesak ku. Tetangga mencibirku setiap hari. Sampai kapan aku harus menanggung semuanya sendirian?"
"Aku tidak bisa menikahimu!"
"Kenapa?!" Teriak mayang frustasi. Hatinya hancur seketika.
"Karena aku masih mencintai Sinta!"
Kalimat itu membuat Mayang membeku. Beberapa detik kemudian, ia tertawa sambil menangis. "Lucu sekali...." Air matanya terus mengalir.
"Kalau memang mencintai Sinta, kenapa kamu terus mencari ku ? Kenapa kamu menghancurkan rumah tanggamu sendiri? Sekarang semuanya sudah terlambat, Mas! Jangan salah kan aku. Karena semua hancur karena ulah mu sendiri."
Edi memalingkan wajah. Ia tidak sanggup menatap mata Mayang. Wanita itu memang melakukan kesalahan. Namun dirinya jauh lebih berdosa.
Mayang mengusap air matanya kasar.
"Aku menagih janji mu mas. Nikahi aku."
Edi menundukkan kepala. "Aku akan bertanggung jawab kepada anak itu...."
Mayang langsung mengangkat wajahnya penuh harap.
"...tapi bukan dengan menikahi mu."
Harapan yang baru saja muncul kembali hancur berkeping-keping.
"Jadi... kamu tetap memilih Sinta?"
"Aku akan terus memperjuangkan Sinta sampai kapan pun."
Mayang menggigit bibirnya. "Kalau begitu... jangan salahkan aku kalau nanti semuanya menjadi lebih rumit."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Mayang berbalik meninggalkan rumah.
Brak!
Pintu kembali tertutup. Edi terduduk lemas. Ia sadar. Kini bukan hanya kehilangan Sinta. Ia juga telah menghancurkan kehidupan Mayang dan anak yang belum sempat lahir ke dunia. Kesalahan nya telah menghancurkan begitu banyak kehidupan.
*
*
*
Di tempat yang berbeda... Suasana Kayla Bakery jauh berbeda. Aroma roti yang baru matang memenuhi ruangan. Beberapa pelanggan tampak menikmati sarapan di area kafe sambil bercengkerama.
Tawa kecil Kayla terdengar dari sudut ruangan. "Bunda... Kayla sudah hafal!"
Sinta tersenyum hangat. "Coba dibaca lagi, Sayang."
Dengan suara polos dan merdu, Kayla melantunkan salah satu surah pendek yang baru dihafalnya. Sinta mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali ia membetulkan tajwid putrinya dengan lembut.
Melihat itu, Rahayu ikut tersenyum. "Masyaallah... cepat sekali hafalannya."
Kayla langsung memeluk bundanya. "Apa Kayla hebat?"
Sinta mencium kening putrinya. "Sangat hebat."
Wajah Kayla berbinar. Kebahagiaan sederhana itu membuat hati Sinta terasa damai.
Rahayu menghampiri sambil membawa dua gelas teh hangat. "Alhamdulillah ya, Sin. Sekarang usaha kamu semakin ramai."
Sinta mengangguk. "Iya, Mbak. Semua ini berkat pertolongan Allah. Dan juga bantuan dari mbak."
"Dan berkat kerja kerasmu." Tambah Rahayu
Sinta tersenyum tipis. "Doakan sidang perceraianku nanti berjalan lancar ya mbk."
"Aamiin." Rahayu menggenggam tangan Sinta. "Allah tidak akan menyia-nyiakan air mata orang yang terzalimi."
Mata Sinta kembali berkaca-kaca. Pandangannya beralih kepada Kayla yang sedang kembali mengulang hafalannya. "Tapi... aku takut Kayla kehilangan sosok ayah."
Rahayu menggeleng pelan. "Sin, seorang anak memang membutuhkan ayah. Tapi seorang anak lebih membutuhkan rumah yang penuh kasih sayang daripada rumah yang dipenuhi pengkhianatan."
Sinta terdiam. "Percuma seorang ayah hadir kalau kehadirannya hanya membuat Bundanya menangis setiap hari."
Air mata Sinta kembali jatuh. Selama ini ia selalu merasa bersalah. Namun perlahan ia mulai memahami... Mempertahankan pernikahan yang penuh luka bukan berarti menyelamatkan keluarga.
Terkadang... Melepaskan adalah cara terbaik untuk menyelamatkan masa depan anak.
Kayla berlari kecil menghampiri Sinta. "Bunda... kenapa menangis?"
Sinta segera menghapus air matanya lalu tersenyum. "Ini air mata bahagia."
Kayla mengangkat kedua tangannya lalu memeluk leher sang bunda. "Kayla janji akan jadi anak salehah. Nanti kalau sudah besar, Kayla mau bahagiakan Bunda."
Kalimat sederhana itu membuat tangis Sinta pecah. Ia memeluk putrinya erat. "Terima kasih, Sayang."
Sinta benar-benar bersyukur. Memiliki keluarga yang mendukung nya penuh. Dan putri yang menjadi penyejuk hati nya.
Harus sampai tamat ya. sukses thor.💖💖💖💖💖