NovelToon NovelToon
Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: Melisa ekprisa

Sekuel Talak di Ujung Ramadhan


Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.

Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.

Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 24

 Gema menghentikan langkahnya. Pegangannya pada gagang troli USG mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia membalikkan badan sepenuhnya, menatap Sarah yang masih menunduk menyembunyikan wajah di balik helaian rambutnya. Suasana hangat yang sempat tercipta beberapa menit lalu menguap seketika, digantikan oleh ketegangan yang pekat.

"Keluar?" Gema mengulang kata itu dengan nada rendah—hampir menyerupai bisikan, namun sarat penekanan. "Kamu dengar apa yang saya katakan tadi, Sarah? Kondisi kamu baru saja stabil."

Lala yang berdiri di dekat pintu langsung mengalihkan pandangan dari papan klipnya, menatap Sarah dengan dahi berkerut cemas.

"Saya tahu, Dok. Tapi saya tidak punya uang untuk membayar semua ini," suara Sarah bergetar, akhirnya pecah bersama air mata yang sejak tadi ditahannya. Dia meremas ujung selimut rumah sakit dengan sangat kencang. "Biaya kamar, obat-obatan, USG... saya tidak tahu harus membayarnya dengan apa. Dan kalau saya terus di sini, Bu Anisa dan keluarganya pasti akan menemukan cara untuk menyeret saya kembali."

Gema terdiam. Urat di pelipisnya tampak menegang. Ia sudah terlalu sering melihat pasien pulang paksa karena biaya, lalu kembali ke UGD dalam kondisi yang jauh lebih buruk. Ia menarik napas panjang, lalu berjongkok hingga sejajar dengan ranjang Sarah.

"Sarah, dengar saya," Gema sengaja memanggil nama tanpa sebutan formal untuk menjangkau kesadarannya yang sedang panik. "Soal biaya, itu urusan saya dan bagian administrasi. Bukan urusan kamu hari ini. Kamu masuk lewat UGD sebagai kasus KDRT. Kita bisa urus bantuan dari dinas sosial dan yayasan."

Lala langsung menimpali, "Benar, Sar. Bagian JPK lagi proses data kamu. Kamu fokus pulih saja dulu."

Gema berdiri kembali, tatapannya menajam. "Dan soal Bu Anisa, kalau dia mengaku-ngaku sebagai penjamin agar bisa mengakses kamu, rumah sakit punya kuasa untuk menolak. Data medis kamu dilindungi undang-undang. Tapi, kalau kamu tetap memaksa pulang sekarang dan menandatangani surat pulang paksa, semua perlindungan itu lepas. Bu Anisa bisa bebas menghampirimu di jalan. Kamu mau?"

Pertanyaan itu bukan ancaman, melainkan realitas yang sengaja dibiarkan menggantung di udara kamar. Gema menghela napas, lalu pushing trolinya sedikit menjauh, mengubah strateginya saat melihat ketakutan Sarah yang begitu besar.

"Begini saja. Saya akan cari tempat yang aman agar kamu bisa fokus ke kandungan. Kita pindahkan kamu ke shelter rumah aman untuk korban KDRT. Di sana ada bidan jaga, makanan terjamin, dan Bu Anisa tidak akan bisa menyentuhmu."

Lala menambahkan, "Aku ada kenalan di UPTD PPA, Sar. Mereka bisa jemput kamu pakai mobil dinas secara rahasia."

Untuk pertama kalinya, bahu Sarah yang tegang mulai turun sedikit. Ada setitik cahaya di matanya.

"Tapi ada syaratnya," tegas Gema. "Kamu tetap pasien saya. Kontrol USG tetap di sini seminggu sekali. Kalau kamu kabur dari shelter, aku tarik semua bantuan. Setuju?"

Sarah menggigit bibir bawahnya, perlahan mengelus perutnya yang membulat. "Tempat itu... bayar, Dok?"

"Negara yang bayar," jawab Lala cepat.

"Terima kasih. Saya tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan kalian," ujar Sarah terbata-bata.

"Kamu cukup membalasnya dengan menjaga kandunganmu," respons Gema datar namun tegas.

Sarah menundukkan kepala, mengusap perutnya dengan pelan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

...******...

"Jadi ini desain kamu, Nak Randi?" tanya Pak Gunawan.

Suara berat pria paruh baya itu bergema di ruang rapat yang sunyi. Sepasang matanya yang tajam menatap layar proyektor besar di ujung ruangan. Di sana, sebuah model tiga dimensi sedan sport bertenaga listrik berputar pelan, menampilkan lekukan bodi aerodinamis yang futuristik sekaligus agresif.

Randi menahan napas sejenak, lalu melangkah maju mendekati meja presentasi. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu betul, jawaban Pak Gunawan saat ini akan menentukan apakah proyek Nexus-X akan terus berjalan atau berakhir di tempat sampah.

"Benar, Pak," jawab Randi dengan nada suara yang diusahakan tetap tenang. "Itu adalah rancangan final yang sudah mengintegrasikan baterai solid-state terbaru pada sasis bagian bawah. Desain ini mampu memangkas hambatan udara hingga dua belas persen lebih baik dari purwarupa sebelumnya."

Pak Gunawan tidak langsung merespons. Beliau menyandarkan punggung ke kursi, mengetuk-ngetukkan pena ke meja. Para petinggi divisi lain yang hadir hanya saling melirik, menunggu keputusan dari pimpinan perusahaan otomotif tersebut.

"Luar biasa," ucap Pak Gunawan, akhirnya memecah keheningan.

Beliau bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati layar proyektor. Senyum tipis yang jarang terlihat kini menghiasi wajah tegasnya.

"Saya belum pernah melihat integrasi sasis seefisien ini dalam sepuluh tahun terakhir," lanjut Pak Gunawan sambil menepuk bahu Randi. "Kamu baru saja membuktikan bahwa tim muda kita punya taji, Nak."

"Saya semakin yakin menempatkan kamu di pusat perusahaan di Singapura."

Ucapan Pak Gunawan terasa seperti hantaman yang tak kasat mata bagi Randi. Tawaran promosi ke markas regional Singapura adalah mimpi setiap karyawan di perusahaan itu.

"Terima kasih, Pak. Tapi bukannya ini posisi Pak Leo?" tanya Randi, mencoba memastikan.

Leo bukan sekadar senior di kantor. Pria itu adalah mentor yang membawa Randi masuk ke divisi ini.

"Tadinya iya, tapi saya lihat kamu lebih berpotensi," jawab Pak Gunawan datar tanpa keraguan.

Bagi Pak Gunawan, bisnis otomotif yang kompetitif tidak mengenal belas kasihan atau utang budi. Di matanya, Randi adalah aset masa depan yang mampu membawa proyek kendaraan listrik mereka melompat jauh ke depan.

Pak Gunawan menghentikan ketukan penanya. Tatapan matanya mendadak berubah sedingin es. "Dunia otomotif bergerak cepat, Randi. Kalau kamu menolak karena alasan sentimental, saya bisa dengan mudah mencari orang lain yang tidak punya beban moral. Dan proyek Nexus-X ini? Akan saya serahkan ke divisi lain."

Ancaman itu membuat Randi bungkam. Kehilangan proyek ini sama saja dengan mematikan kariernya yang baru saja mekar.

Tepat saat keheningan mencekam kembali menguasai ruangan, gagang pintu kuningan berputar pelan. Pintu ruang rapat yang tadinya sedikit terbuka kini terdorong lebar.

Di ambang pintu, berdiri Pak Leo.

Wajah seniornya itu tampak sangat pucat, namun sepasang matanya menatap Randi dengan sorot kekecewaan yang teramat dalam. Tangannya yang memegang map laporan proyek tampak bergetar hebat. Rahang pria itu mengeras, menandakan bahwa ia telah mendengar setiap kalimat yang diucapkan di dalam ruangan sejak tadi.

"Jadi," suara Leo terdengar parau namun bergetar penuh amarah, "Awas kamu, Randi!"

...*******...

"Mas, kamu bisa bantu aku kerahkan anak buahmu?" pinta Cantika setiba di ruang kerja suaminya, Chandra Putra Wiguna.

Chandra, pemilik firma hukum ternama itu, langsung menghentikan ketukan jarinya pada permukaan meja jati yang mengilat. Pernikahan yang berjalan hampir dua tahun membuat pria itu sangat mengenali setiap perubahan emosi sang istri. Melihat wajah Cantika yang diliputi kecemasan, ia beranjak dari kursi kerja dan menuntunnya ke sofa.

"Tenang dulu, Sayang. Ada apa?" tanya Chandra lembut.

"Ini tentang Sarah, Mas. Adik sepupuku itu kabur dari rumah mertuanya," tutur Cantika dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca. "Aku punya firasat buruk. Mas ingat waktu Ibu masuk rumah sakit beberapa bulan lalu? Sarah sempat menelepon dan mengabari kalau bayinya meninggal di dalam kandungan. Saat itu kita sedang kalut, dan aku menyesal sekali tidak langsung tanggap mencari tahu kondisinya."

Chandra mendengarkan dengan saksama. Otak hukumnya langsung memetakan situasi. Jika seorang wanita kabur dengan riwayat kematian bayi dalam kandungan, kemungkinan besar ada tindak kekerasan atau tekanan mental luar biasa di dalam rumah tangga tersebut. Apalagi ini melibatkan keluarga Bu Anisa, sang ibu mertua yang terkenal dominan.

"Jadi sekarang dia hilang kontak?" tanya Chandra memastikan.

"Sama sekali tidak bisa dihubungi, Mas. Aku takut Bu Anisa atau keluarganya melakukan sesuatu yang buruk pada Sarah," sahut Cantika cemas. "Tolong, Mas. Kerahkan informan atau tim investigasimu untuk melacak keberadaan Sarah secepatnya."

Chandra terdiam sejenak dengan rahang mengeras. "Baik. Aku akan utus tim internal untuk melacak sinyal ponsel terakhirnya dan memeriksa semua rumah sakit terdekat. Kita harus bergerak senyap sebelum keluarga Bu Anisa menyadarinya."

1
ginevra
kok ada ya ibubyabg suka ngehasut anaknya
ginevra
terlihat jelas kalau Tuhan akan mencabut rizkinya kalau kamu dzalim pada istri yang sholehah
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
inilah alasan kenapa harus menikahi orang yang mencintai kita bukan kita mencintai dia. tapi lebih bagus saling mencintai dan juga kedua pihak keluarga merestui yah yang paling penting orang tua sih🤭 sok menasehati padahal pacar aja gak punya say😆😆😆
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
seharusnya dulu Sarah lebih pentingkan pendidikan daripada pernikahan /Bye-Bye/rugi kan sekarang
mama Al: gimana dia mau mentingin pendidikan kalau masih numpang sama orang. apalagi mereka bukan orang kaya.
total 1 replies
Aii Flow🌷
Fitnah ihhh, dia yang jahat Sarah yang dipojokin
Teteh Lia
mau bilang "sabar, Gema." tapi gw juga ikut esmosi.
Teteh Lia
jadi pengen makan martabak. masalah na harus nunggu malem. baru nongol kang martabak na
Apriyanti
lanjut thor 🙏
mama Al: lanjut ke bab selanjutnya
total 1 replies
Miu.Nuha
apa ibu berniat mencelakai pemuda itu 🙄
dosa bu dosaaa...
Miu.Nuha
gampang bngt 😭
bahkan uang ny Sarah bakal ditilep sama ibu matre ini jangan2...
Myz Pena
agak curiga dengan suaminya ni.. jangan sampai dia selengki /CoolGuy/
Myz Pena
boleh nggak sihh bilang ini mertua jahat.. asli kesellll /Angry/
THE GIRL COOL😑
ya allah sedihhhhhh ayahhhhhhh gue yg di tinggal ayah sejak berusia 5 tahun aja rindu *tapi bohong!🤣 jujur gue gak kangen karena gue benci sama ayah gue
THE GIRL COOL😑
semangat leo!!! kamu tau gak kamu sama kaya aku dan hidup aku😭
Apriyanti
kamu gema yg harus bertgg jawab🤣
mama Al: Tanggung jawab apa nih?
total 1 replies
Aii Flow🌷
Enak aja, dia yang ngabisin duit, Sarah yang harus nanggung bayarannya
Melissa McCarthy
hih paling gamau hidup sama mertua apalagi kaya gitu
Renarenn
yey yey greenflag aseeek😍
Renarenn
Yaaaa! marah aja dok maaaraaaahh!💪
Renarenn
Mau nanya dong, sebelum cerita ini ada cerita lain ya Thor? kayak masing berkaitan gitu🙏
mama Al: tapi batas nya ga sampai gema besar. cuma pas balita aja
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!