Tolong tinggalkan Like Dan comment yah ❤😍
Danny sudah memantapkan pilihannya pada Rose, gadis yang lebih mudah darinya. Rose sudah terlanjur hidup dalam gelapnya masa lalunya, begitu berhasil mendapatkan Rose, ada saja cobaan dalam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesicca26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam yang menegangkan
Kopi dimulut Danny hampir terhambur saat dia membuka pintu kamar hotelnya dan melihat sosok Stevany berdiri didepan pintu, saat itu Danny hanya memakai handuk dan bertelanjang dada. Stevany yang nggak menyangka akan mendapat tontonan gratis, menelan ludah melihat otot-otot dada Danny, matanya nyaris lompat keluar karna pemandangan kadang-kadang itu. Tangan Danny dengan cepat mendorong kepala Stevany sampai tubuh Stevany mundur kebelakang, dan cepat-cepat dia tutup pintunya.
Stevany masih mematung dengan mulut sedikit mangap karna kaget, setelah mulai sadar dia jadi jengkel karna Danny mendorong kepalanya kebelakang. Tapi nggak bisa dipungkiri, Stevany benar-benar merasa beruntung mendapat pemandangan gratis.
"Wahh bikin panas aja." ucap Stevany sambil mengibas-ngibaskan tangannya kewajahnya
Didalam Danny cepat-cepat membungkus dadanya dengan handuk lain "Wahhh emang bener-bener gila tuh perempuan, pagi-pagi datang kekamar hotel. Maksudnya apa? ahh pak Sam, biasanya pak Sam yang datang jam segini. Jadi merasa terdzolimi.. Hiiihh.." Danny merinding mengingat kejadian barusan
Lima menit kemudian pintu kamar Danny terbuka "Lupakan kejadian tadi." ucapnya lalu mengunci pintu pintu kamar dan berjalan pergi
Stevany berjalan mengekor dibelakang Danny, dia nggak bisa berbicara karna malu, pipinya memerah mengingat pemandangan otot didada Danny tadi.
"Hari ini ada janji makan siang sama pak Kevin." beritahu Stevany memecah keheningan dilift
Danny diam saja nggak berkomentar, dia berdiri membelakangi Stevany.
"Dia setuju untuk jadi investor." lanjut Stevany. Dia menunggu respon Danny yang lagi-lagi nggak menggubris "Huh, panas." Stevany mengibas-ngibaskan tangannya kewajahnya lagi
"Lain kali kamu nggak perlu datang ketempatku, via telfon saja. Saya nggak suka bagian tubuh saya dilihat perempuan lain selain istri saya nanti." Ucap Danny membuat Stevany terperangah nggak percaya
"Sorry! tapi aku juga kan nggak sengaja, siapa yang sangka kalo kamu bakal keluar telanjang dada." Stevany nggak mau disalahkan sepenuhnya
Danny diam lagi, dia tetap pada prinsipnya, sekali nggak mau tetap nggak mau. Danny akan melakukan berbagai cara untuk membuat Stevany menyerah, bahkan nggak sekalipun memberi harapan untuk Stevany. Berbedah dengan Stevany yang semakin ditolak, jiwa mengejarnya makin memberontak, dia nggak akan puas sebelum mendapat keinginannya.
Keluar dari lift Danny berjalan cepat menuju pintu keluar, Stevany berusaha mengimbangi langkah Danny yang panjang dan cepat.
Si*lan nih cowok, sengaja banget jalan cepat. Mana gue pakek heels lagi. rutuk Stevany dalam hati
"Pak Danny, wah, kita bertemu disini." Sapa pak Ahmad pria seumuran ayahnya
"Loh? bapak menginap dihotel ini juga?" Danny tampak keheranan melihat teman ayahnya asal Makassar berada diMalang dan dihotel yang sama
"Saya kebetulan ada janji dengan rekan bisnis saya, dan dia?" mata pak Ahmad melirik Stevany disamping Danny
"Oh dia.."
"Saya Stevany.." ucap Stevany memotong perkataan Danny sambil mengulurkan tangan "Saya rekan Danny dari Jakarta."
Pak Ahmad membalas jabatan tangan Stevany "Saya Ahmad." ucap Pak Ahmad lalu kembali melirik Danny "Jika kalian tidak keberatan saya mau mengajak kalian makan malam, kebetulan keluarga besar saya juga ada disini. Kami sedang merayakan anniversary yang ke 30 tahun."
"Kebetulan jadwal sebentar malam kosong, makan malam dimana?" tanya Danny sopan
"Ohh ini alamatnya, saya kurang hafal." pak Ahmad menyerahkan secarik kertas
Danny membaca isi kertas lalu tersenyum "Nggak jauh dari sini yah, baik, saya akan hadir."
"Baik kalo begitu, saya masuk kedalam dulu. Sampai jumpa sebentar malam."
Selesai berbicara dengan pak Ahmad, Danny dan Stevany langsung menuju lokasi proyek. Hari ini hari terakhir mereka diMalang, Danny ingin segera selesai agar dia bisa cepat--cepar bertemu Rose diJakarta.
****
Danny dan Stevany masuk kedalam ruang makan disalah satu restoran yang sudah dipesan khusus oleh pak Ahmad, didalam pak Ahmad dan keluarga besar sudar menunggu. Mereka berdua tersenyum sopan lalu duduk, suasana malam itu terasa berbedah karna kali ini Danny benar-benar menunjukkan sifat gentlemannya didepan pak Ahmad dan keluarganya, Danny menarik kursi dan mempersilahkan Srevany duduk. Stevany yang sempat terbawa suasana kemudian tersadar, Danny hanya melakukan itu disaat sedang menemui rekan penting, lebih tepatnya dia hanya bersikap sopan padanya saat ada yang memperhatikan.
Cih! makin gemes gue sama nih laki-laki sombong! bathin Stevany kesal
"Kita tunggu sebentar yah, anak laki-laki saya dan istrinya sudah dibawah. Sebentar lagi sampai." ucap ak Ahmad sopan
"Tidak apa-apa, santai saja pak." balas Danny nggak kalah sopan
"Oyah, apa ini pacar kamu Dan?" tanya Yunia istri pak Ahmad
Stevany tersenyum bangga mendengar pertanyaan barusan, tapi kemudian senyumnya seakan membeku seketika saat mendengar jawaban Danny.
"Ohh bukan, dia hanya rekan kerja saya. Pacar saya sedang menunggu diJakarta." jawab Danny membuat jantung Stevany seperti disambar petir.
Nafas Stevany mendadak berat menahan sabar, dia bukan saja ditolak mentah-mentah, namun pengakuan Danny soal punya pacar diJakarta jauh lebih menyakitkan. Danny baru saja menyatakan perang padanya, dan kali ini Stevany jadi benar-benar murkah.
"Ohh, pasti dia perempuan yang hebat sudah memenangkan hati kamu." puji Yunia
"Saya yang sudah memenangkan hatinya bu, saya sempat ditolak berkali-kali." jawab Danny sengaja memanas-manasi Stevany
"Wahh.. Kamu memang nggak pernah berubah, Dan, selalu blak-blakan." ucap Yunia terkagum-kagum
Pintu kembali terbuka, sosok pasangan masuk kedalam. Stevany kembali mendapat kejutan, moodnya benar-benar berubah drastis.
"Erik!!" kata Stevany tanpa sadar
Pak Ahmad spontan melihat Stevany "Kalian saling kenal?"
"Tidak!" jawab Stevany
"Yah!" jawab Erik bersamaan dengan Stevany
Semua orang yang berada diruangan itu otomatis heran dan melihat wajah Stevany dan Erik bergantian, jelas ada yang aneh dan terlalu kentara.
Suasana makan malam berjalan normal, dalam hati Stevany benar-benar ingin segera pulang. Karna terlalu kesal dia sampai nggak menyadari istri Erik sedari tadi memperhatikan sosoknya.
"Oyah, bukannya kamu sempat bilang ada teman dekat sewaktu di New Zealand?" Kinara istri Erik memecah keheningan
Jantung Stevany kembali berdetak cepat, dia mengerti maksud ucapan Kinara barusan. Mulutnya nggak mengeluarkan sepatah katapun, dia fokus dengan makanannya.
"Iya, teman yang sangat dekat." jawab Erik makin membuat jantung Stevany menggebuh
"Siapa namanya? Aku suka lupa-lupa ingat deh namanya."
Erik melirik Stevany yang tampak nggak tertarik dengan pembicaraan mereka, dia lalu tersenyum tipis "Kita sedang makan malam dengannya sekarang."
Sontak kedua tangan Stevany berhenti memotong steak, wajahnya jadi makin kesal. Danny disampingnya langsung mengerti dengan suasana yang sedang terjadi, Stevany melepaskan garfu dan pisau pengiris steak.
"Oyah?? Siapa?" tanya Kinara berpura-pura nggak tau
Niat Stevany untuk bicara terhenti saat kakak dari Erik angkat suara.
"Cukup, kalian kekanak-kanakan." seru Lisa yang dengan cepat mengerti dengan keadaan diruangan itu, dia melihat raut wajah Stevany yang cukup kesal sementara Danny biasa saja. Dia jadi mengerti siapa yang dimaksudkan oleh adiknya dan iparnya. "Apa kalian nggak malu mempertontonkan sifat labil kalian didepan tamu kita?"
"Aku kan cuma bertanya, karna yang aku tau Erik dan SAHABATnya itu sangat dekat sewaktu di New Zealand." Kinara menjawab dengan nada bicara sombong. Lagaknya benar-benar menunjukkan dia punya dendam tersendiri pada Stevany
Dalam hati Danny jadi penasaran dengan hubungan Stevany dan Erik, namun dia nggak mau mencampuri hal yang bukan urusannya.
"Tenang sayang, itu cuma masa lalu. Sedakat apa kami dulu, itu sudah berlalu." Erik memegang tangan istrinya dengan erat
Pak Ahmad mendehem memberi peringatan "Bukankah ini seharusnya jadi makan malam yang menyenangkan??" tanya pak Ahmad sambil menatap Erik dengan tatapan tajam
Erik dan Kinara langsung diam saat pak Ahmad angkat bicara, sementara dalam hati Stevany dia benar-benar mengutuk kedua pasangan yang duduk didepannya.
"Pak Ahmad?" Stevany akhirnya angkat bicara
"Yah?" pak Ahmad melihat Stevany sambil mencoba tersenyum ramah pada tamunya
"Saya dengar pak Ahmad ini adalah suami sekaligus ayah yang sangat menyayangi keluarga, dan terpenting suami yang sangat setia. Kebetulan saya sudah mengenal bapak melalui ayah saya."
"Oh iya, saya kenal betul dengan pak Cokro."
"Saya benar-benar mendambakan sosok pendamping yang menyayangi dan setia persis seperti bapak. Pastinya anak-anak bapak juga punya kepribadian yang sama luar biasanya dengan bapak." lanjut Stevany sambil tersenyum penuh arti
Cepat-cepat Kinara menahan suaminya yang baru saja mau berkomentar, Erik langsung terpancing saat Stevany baru saja buka mulut. Dia paling takut dengan sosok ayahnya jika sudah marah, dan apa yang terjadi antaranya dengan Stevany di New Zealand nggak diketahui ayahnya, pak Ahmad.
Pak Ahmad tertawa sopan mendengar pujian barusan "Wahh kamu benar-benar pandai memuji, saya berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarga saya. Dan kalau ada anggota keluarga saya yang menyimpang, tentu akan mendapat sanksi tegas." ucapnya "Tapi saya yakin, saya sudah melakukan yang terbaik agar tidak ada seorangpun dari tiga anak saya yang akan menyimpang." lanjutnya lalu melirik tajam kearah putranya, Erik!
Stevany kemudian tersenyum sopan penuh kemenangan, Erik dan Kinara benar-benar kehabisan kata-kata. Stevany juga menyadari kelemahan Erik barusan dan memanfaatkannya.
Semakin menarik! Bathin Danny yang sedari tadi hanya menyimak
Sekalian kasih rekomen novel yang rapi juga, judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, wajib pakek tanda kurung ya nyarinya
mampir juga di ceritaku yh thor
"love with enemy