Rania, gadis yatim piatu yang hidup bersama neneknya. Kesulitan ekonomi membuatnya terpaksa tidak melanjutkan kuliah dan membantu neneknya bekerja di rumah majikannya di kota. Kasih sayang sang majikan dengan menganggap Rania seperti cucunya bahkan membiayai kuliahnya, membuat seisi rumah perlahan membencinya. Hingga pada puncaknya ketika Tuan Haryo sang majikan terbaring sakit tak berdaya, sejak itulah penderitaan Rania dimulai. Nasib baik tak melulu berpihak pada Rania, bahkan sang kekasih yang selama ini selalu mendukungnya pun meninggalkan Rania saat hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon baby Fy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. "Sakit"
Seperti sekarang, ini bahkan Rania belum mengatakan kunjungan Keisha tempo hari tapi Devi sudah menyuruh pindah, apalagi kalau nanti Rania memberitahu.
“Aku rasa kita perlu pikir hal itu matang-matang kak. Kita masih belum memilki cukup uang untuk pindah ke Batam dalam waktu dekat.” Devi diam sejenak.
Meskipun tempat tinggal sudah dijamin akan tetapi perkataan Rania benar ada nya, terlebih uang mereka terkuras habis setelah membayar hutang dan juga sebentar lagi Rania akan melahirkan.
Devi yakin meskipun Rania tidak mengeluh, akan tetapi orang yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu, pasti sedang kebingungan mencari tambahan uang untuk biaya persalinan.
“Baiklah, kakak akan coba bicarakan lagi dengan Rosa setelah kakak pulang kerja.” Setelah nya Devi berpamitan untuk pergi dan segera diangguki oleh Rania yang kini sudah meneruskan untuk membentuk adonan nya.
Klek
Bunyi pintu di buka membuat Rania heran, terlebih tidak ada suara yang terdengar setelah nya
Rania berpikir mungkin Devi lupa membawa sesuatu, akan tetapi ia merasa mendengar langkah kaki mendekat ke arah nya.
“Kak Devi, ada yang tertinggal kah?” Tanya Rania setelah selesai memasukan adonan ke dalam oven lalu mencuci tangan nya dan berjalan menghampiri asal suara langkah kaki tersebut.
“Kak Dev-“
“Hai, Rania. Maaf tadi aku sempat mengetuk pintu tetapi tidak ada jawaban.”
“Itu arti nya kehadiran anda tidak di terima! Anda punya etika dan sopan santun kan? Nona Keisha.”
Rania menekan panggilan nya pada Keisha. Sedangkan Keisha dibuat mematung tanpa berkedip melihat tatapan dingin penuh permusuhan dari Rania.
“Ran, Kakak mohon. Kakak ke sini mau meluruskan sesuatu, terlebih pembicaraan kita kemarin belum selesai.” Keisha berjalan menghampiri Rania dengan tatapan memohon dan penuh penyesalan.
“Jangan mendekat! Saya bilang keluar!!” Rania tidak bisa menahan bentakan nya, bahkan Keisha sampai berhenti seketika karena terkejut mendengar bentakan dari Rania.
“Rania.” Lirih Keisha yang tiba-tiba pusing dan sesak seketika, bahkan perut nya mulai terasa sakit.
-
Vano menutup pintu ruangan nya dengan gusar, keputusan rapat yang menguntungkan bagi perusahaan namun tidak bagi nya.
Para pemilik saham dan juga rekan bisnis nya meminta agar Vano turun tangan mengerjakan proyek yang ada di Singapura.
Sebenar nya Vano tidak mengapa, akan tetapi ia begitu berat meninggalkan Keisha yang sedang hamil untuk pergi ke Singapura selama beberapa minggu.
Terlebih perkataan dokter tempo hari yang mengatakan bahwa kandungan Keisha begitu lemah, ditambah penyakit Keisha yang belum lama ini baru Vano ketahui.
Mendesah frustasi, Vano duduk untuk menenangkan pikiran nya. Di tatap nya foto yang ada di atas meja nya, foto orang yang tak pernah tergantikan di hati nya.
“Alasan aku tidak mau ke Singapura bukan hanya karena Keisha, akan tetapi karena aku ingin sekali bertemu dengan kamu dan juga anak kita, Ran. Tolong beri aku keberanian dan kesempatan untuk itu, Rania.” Dielus nya foto tersebut dengan sayang, Vano hendak menitikan air mata kalau saja pintu di ruangan nya tidak di buka secara tiba-tiba.
“Lancang!” Vano memarahi orang yang membuka pintu nya tanpa mengetuk, orang itu tak lain adalah orang kanan nya sekaligus detektif yang menyelidiki tentang Rania.
“Maaf, Tuan. Akan tetapi saya ingin menyampaikan pesan penting.” Vano melirik ke arah tangan kanan nya tersebut memberi tanda agar orang tersebut melanjutkan bicara nya.
“Nona Rania sedang membuat kue untuk di jual sebagai tambahan uang persalinan.”
“Hanya itu?” Vano mengangkat sebelah alis nya, ia merasa kesal karena orang Kepercayaan nya itu mengganggu momen sedih nya hanya karena informasi yang telah ia ketahui sebelum nya.
“Lalu sekarang, Ibu Keisha sedang berkunjung ke rumah Nona Rania.”
Degh
Vano membeku seketika, hampir saja ia memecahkan foto Rania yang di pegang nya.
Setelah meletakkan foto tersebut dengan baik, Vano segera bergegas pergi meninggalkan ruangan nya, sebelum itu Vano sempat menemerintah orang suruhannya tadi.
“Farhan, tolong batalkan semua agenda saya tiga hari kedepan! Jangan biarkan keluarga besar tahu masalah ini” Titahnya sebelum pergi meninggalkan ruangan nya.
-
Keisha menangis tergugu menceritakan beban pikiran dan juga hati nya selama ini, ia juga menceritakan ketakutan nya jika fakta akan keberadaan Rania terungkap begitupun kebenaran yang sebenar nya.
Masih di posisi yang sama Rania menahan air mata nya agar tidak keluar, sedangkan Keisha merasa pandangan nya mulai sedikit memudar.
“Kelua..akkhh.” Rania meringis memegang perut nya yang sakit dan mulas tak tertahan kan, ia tersentak saat merasakan air mengalir di sela paha nya.
“Rania!” Keisha berlari menghampiri Rania tanpa memperdulikan perut nya yang juga mulai terasa keram.
“Arggghh.” Rania memekik kesakitan kini bukan lagi air yang mengalir di antara kedua kaki nya melainkan juga bercak darah.
Keisha memegang pundak Rania gemetaran, rasa sakit di perut nya tak lagi terasa saat melihat sang adik kesakitan di depan nya, ia merasa begitu khawatir.
Plak
Rania menghempaskan tangan Keisha yang memegang pundak nya, sakit di perut nya membuat emosi Rania tak bisa di bendung, entah kekuatan dari mana Rania berhasil menyeret tubuh lemas Keisha keluar.
Rania bersyukur rumah nya tidak luas dan jarak dapur dengan pintu keluar hanya terhalang oleh ruang tamu yang kecil sehingga dengan sekali tarik dan beberapa langkah Rania dapat mendorong Keisha keluar.
Begitu sampai di depan pintu, Rania mendorong badan Keisha yang lemas lalu menutup pintu dengan keras.
Setelah nya tubuh Rania tidak kuasa untuk berpindah dan meluruh kelantai dengan punggung menyender di pintu.
Sedang kan Keisha yang tidak siap dengan dorongan Rania pun juga badan nya yang mendadak lemah tak bertenaga membuat nya seketika oleng dan terjatuh dengan keras.
“Akhh!!” Pekik Keisha lirih sambil memegang perut nya, demi apapun Keisha merasa perut nya begitu sakit berkali-kali lipat melebihi rasa sakit saat insiden bersama Kevin dulu.
Nafas Keisha tersengal, dada nya naik turun bersamaan dengan keringat dingin yang membanjiri badan nya.
Mata Keisha melotot melihat darah mengalir dengan deras di kedua kaki nya. Kepala nya semakin pening bahkan kesadaran nya hampir hilang saat sebuah suara memanggil nya.
“Keisha!”
Deghhh
Rania tersentak kaget mendengar suara yang berasal dari balik pintu.
Suara yang ingin ia lupakan, suara yang terus terngiang dan hadir di mimpi nya.
Suara yang biasanya memanggil nya dengan lembut, suara ayah dari anak nya dan suara yang kini memanggil nama Keisha dengan penuh kekhawatiran.
“Van-no”
Rate Menunggu Mu
ga sudi pake banget klw rania balik sm vano yg najisin....
yuhhh.. sudah bekasan gitu... menjijikan..