Zevanya terpilih menjadi lulusan terbaik di kota ini, masa depan yang cemerlang serta paras cantik membuatnya menjadi wanita yang nyaris sempurna, namun secara mengejutkan ia mengalami kecelakaan fatal yang mengubahnya menjadi seorang wanita buta, hingga harus dikirim keluar negeri untuk menjalani perawatan.
Tapi saat kepulangannya, ia tiba-tiba diculik dan dipaksa menikah dengan Aezar, pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Keluarganya telah bangkrut secara tragis, ayahnya dipenjara, dan dikabarkan orang yang menghancurkan keluarganya adalah suaminya sendiri, begitu banyak hal yang terjadi membuatnya bingung.
Siapa sebenarnya pria ini? apa motif sebenarnya menikahi Zevanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mufli cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Zevanya tidak yakin kemana Aezar mendaftarkan jadwal operasinya, tapi yang jelas bukan dengan dokter yang merawatnya selama ini di Singapura.
Tidak mau ambil pusing ia percaya saja saat Aezar bilang dia adalah dokter kenalannya yang terbaik, di rumah sakit terbaik juga.
Sementara itu seluruh rumah sakit sudah gempar sejak pagi karena kedatangan mereka, pasangan itu menarik banyak tatapan iri dari para suster lajang.
Zevanya tentu saja tidak tahu, dia hanya dengan santai membuka mulut saat Aezar memaksa untuk menyuapinya, malas berdebat.
"Buka," titah pria itu.
Zevanya menggeleng, "Aku sudah kenyang, jangan fikir aku tidak tahu kalau kau sudah memberikanku sepiring penuh makanan" protes gadis itu.
Suaminya hanya terkekeh, menaruh piring dimeja lalu mengambil segelas air putih dan kembali menjejalkannya kepada Zevanya.
"Kau bisa pergi beristirahat dulu di hotel," ujar gadis itu.
"Aku tidak menyewa hotel, aku akan disini" Aezar menjawab dengan enteng, sebenarnya ini adalah ruangan VVIP yang mirip seperti sebuah kamar hotel juga, ia bisa nyaman hidup disini selama beberapa hari tanpa meninggalkan Zevanya dari pengawasan.
Zevanya merengut tidak senang, "Kau gila? kau benar-benar akan menungguiku 24 jam setiap hari?"
"Ya begitulah"
"Tapi tinggal dirumah sakit pasti tidak nyaman"
"Apa yang membuatku tidak nyaman?" Aezar bertanya dengan bingung.
"Bau obat, virus, kau tidak bisa berkeliaran disini seperti di rumah mu sendiri"
"Aku bisa" pria itu kembali menjawab dengan tenang.
Jengkel karena sepertinya Aezar tidak mengalah Zevanya hanya bisa menarik selimut dan berniat untuk tidur, pemeriksaannya dijadwalkan siang nanti.
Aezar tersenyum ganjil, ia juga memilih untuk merebahkan dirinya sejenak di sofa, itu nyaman digunakan untuk tidur meski kurang panjang hingga menyebabkan kaki Aezar sedikit diangkat keatas sandaran.
Tidak pasti berapa lama mereka tidur sampai saat pintu diketuk, Aezar yang pertama kali waspada segera melirik seseorang dengan jas putih masuk keruangan dengan sopan.
"Kau sudah datang sejak pagi?" orang itu menyapa Aezar namun perhatiannya langsung tertuju pada gadis yang meringkuk di ranjang pasien.
Dia memiliki fitur halus dengan rambut panjang yang lurus dan tergerai, sama sekali tidak kelihatan seperti orang sakit, sebaliknya ia seperti putri tidur yang nyaman di kastilnya sendiri.
Aezar mengucek matanya dan langsung berlari ke wastafel untuk mencuci muka, perkiraannya ini sudah jam dua siang.
Mengeringkan wajahnya dengan cepat ia menghampiri sosok itu, mereka adalah teman saat Aezar kuliah di luar negeri, dan dia dokter yang hebat.
"Hmm.. kapan pemeriksaannya akan berlangsung" Aezar juga menatap Zevanya yang tidur lelap tanpa terganggu sedikitpun, perjalanan tadi malam pasti membuatnya kelelahan.
"Tidak usah terburu-buru, ini hanya tes singkat. Semua riwayat pengobatan yang dikirim dari Singapura sudah banyak membantu" ujarnya, orang itu juga tidak tega membangunkan putri cantik ini dari tidurnya.
"Aku akan menghubungimu ketika dia sudah bangun" Aezar membenarkan letak selimut istrinya,
"Baiklah, aku akan mengonfirmasikan kepada dokter yang bertanggung jawab" pria berkacamata itu hendak melangkah keluar saat Aezar memanggilnya kembali.
"Terimakasih telah menjadwalkan operasinya dengan cepat,"
Pria itu membalas dengan senyuman, "Itu bukan masalah besar"
Setelah dokter itu keluar Aezar menghampiri Zevanya lebih dekat meniup telinga gadis itu berkali-kali, senyumnya muncul saat melihat Zevanya mulai bergerak tidak nyaman.
"Kau berniat tidur berapa lama" ia mengusap keningnya dengan gemas.
"Apa pemeriksaannya akan segera dimulai?" gadis itu menguap dan meregangkan badannya sejenak.
"Hmm.. bangun, aku akan membantumu mencuci muka" ujarnya mengulurkan tangan tanpa meminta persetujuan.
Aezar memanggil dokter saat Zevanya sudah rapih duduk di ranjang, seorang dokter yang berbeda datang kali ini, ia sedikit lebih ramah dan tanpa basa-basi menginstruksikan beberapa suster agar Zevanya dipindahkan lebih dulu ke ruang khusus untuk memulai observasi.
Aezar tidak ikut, ia memilih untuk duduk dan membuka laptopnya. Sebenarnya pekerjaan kantor belum sepenuhnya diselesaikan hingga ia harus terus mengawasi perkembangan nilai saham dari sini.
Pria itu akhirnya sibuk dengan berbagai video konferensi hingga tidak sadar waktu telah berlalu selama berjam-jam. Saat ia selesai itu sudah hampir malam dan Zevanya belum kembali.
Menutup laptop ia mulai keluar mencari istrinya, ia juga memanggil restoran untuk memesan makanan.
Pria itu berjalan menyusuri lorong yang sepi, karena ini khusus kelas VVIP itu menjadi lebih damai daripada bagian rumah sakit lainnya namun untungnya itu tidak terlihat menakutkan.
Matanya menangkap siluet seorang wanita yang kurus sedang duduk bersama seorang anak kecil di kursi tunggu, mereka tampak tertawa dan berbagi lelucon bersama.
"Hmm" Aezar berdeham menginterupsi mereka.
"Oh.. ada pria tampan, kakak apakah dia suamimu?" gadis manis itu punya mata bulat yang cerah dan cantik.
"Ya aku suaminya" Aezar mengakuinya dengan bangga.
Tolonglah tuan muda kenapa kau harus pamer pada anak kecil?
"Kau berjalan-jalan sendirian disini, bagaimana jika terjadi sesuatu" Aezar memarahi Zevanya namun nadanya masih sangat lembut.
"Tadi sepertinya kau sibuk, jadi aku takut menganggumu"
"Jangan khawatir aku menemani kakak jadi tidak akan terjadi sesuatu padanya" ujar gadis kecil itu nyaring, pipinya yang bulat membuat siapapun yang melihatnya gemas.
"Berapa umurmu?" Aezar berjongkok di sekitar Zevanya, sekarang wajah mereka sejajar.
"8 tahun" jawabnya mantap, seraya menunjukan dengan jari tangannya yang pendek.
"Kenapa kau sendirian?"
Gadis itu melirik sekitar sebelum menjawab, "Ibuku pergi ke luar untuk membeli makanan dan aku bosan menemani pamanku sendirian"
"Sayang sekali kau harus ke kamar sekarang, kakak perempuan juga akan kembali ke kamar untuk istirahat" Aezar berusaha terdengar ramah, sebenarnya ia tidak terlalu bisa berinteraksi dengan anak-anak.
Gadis itu mengangguk dan berkata lagi "Kami akan bertemu lagi kakak cantik, cepat sembuh"
Zevanya tersenyum, membelai rambut ikal bocah itu.
"Aku tidak sabar melihatmu" sahutnya sebelum mengikuti Aezar kembali ke kamar.
"Bagaimana denganku?" Aezar bertanya beberapa saat kemudian.
"Apa?"
"Apa kau tidak sabar melihatku juga?" tanyanya.
Zevanya terdiam sejenak, "Itu.. tentu saja"
Pria itu tersenyum miring, "Maka aku akan pastikan wajahku tidak akan mengecewakanmu"
"Apakah kau harus selalu pamer?"
"Apakah aku pamer?"
Ya. Kau pamer.
Zevanya mengejek didalam hati.
"Aku hanya berbicara jujur" Aezar berbicara dengan muka lurus.
Mereka memasuki kamar setelah lima menit berjalan,
"Bagaimana hasilnya?" tanyanya kemudian,
"Semuanya berjalan lancar, aku hanya perlu mempersiapkan diri dan makan makanan bergizi sebelum operasi" jelas Zevanya.
Aezar mengangguk, ia membawa Zevanya untuk duduk di sofa, semua laptop dan berkas pekerjaannya telah ia rapihkan diatas meja.
"Kau ingin mandi? biarkan aku membantu mengambil pakaianmu" ujar pria itu sambil berjalan menuju dua koper besar yang satu miliknya dan satu lagi milik Zevanya.
Zevanya duduk tenang namun beberapa saat kemudian ia berteriak histeris, "Tidak, aku akan memilih sendiri"
"Kenapa?" tanya pria itu heran.
Bagaimana mungkin aku membiarkanmu menyentuh pakaian dalamku!! teriaknya dalam hati.
"Aku bisa sendiri, biar aku saja" gadis itu menghampiri Aezar dengan kikuk, hampir tersandung karpet.
"Tapi aku belum sempat membongkar, itu sedikit susah memilih pakaian di koper" alis Aezar merajut melihat tingkah aneh gadis ini.
"Aku bisa"
Zevanya meraba-raba koper, membukanya dan mulai memilih pakaian. Aezar hanya bisa menatap tingkah anehnya dari samping.
"Lihat aku bisa sendiri" kata Zevanya canggung.
Dimana bibi meletakkan pakaian dalamku?
"Kau mencari apa?" tanya Aezar saat gadis itu terlihat kebingungan.
"Hmm sebentar" Zevanya tidak bisa menjawab dan hanya terus melakukan pencarian.
Bertanya-tanya apa yang sebenarnya gadis ini cari, Aezar hanya bisa menahan tawa saat menyadarinya. Istrinya sungguh lucu.
"Ke kanan sedikit"
"eh?"
"Kau mencari pakaian dalam kan? itu ada dipojok kanan atas.. haruskah aku membantu?"
"Tidak!! jangan coba-coba menyentuhnya" teriak gadis itu nyaring.
Beberapa suster yang lewat didepan kamar kebingungan mendengar teriakan dari dalam namun mereka tidak berani masuk dan hanya bisa mengabaikannya.
.
.
.
.
Minta vote nya dong.. maaciww