Alya, seorang wanita lembut dan setia, tak pernah membayangkan rumah tangganya yang terlihat sempurna harus terguncang oleh kenyataan pahit. Suaminya, Reza, yang selama ini ia percaya dan cintai sepenuh hati, tiba-tiba membawa wanita lain dan memperkenalkannya sebagai istri sirinya. Hancur dan terluka, Alya dipaksa menerima kehadiran orang ketiga dalam hidupnya, meski batinnya menolak keras.
Namun, hidup tak semudah menelan kenyataan
Alya harus menghadapi dilema antara mempertahankan rumah tangganya demi Ibunya atau memperjuangkan harga dirinya yang diinjak-injak. Perlahan, rahasia demi rahasia tentang rahasia istri sirinya mulai terungkap, membuka luka lama dan menguji batas kesabaran Alya. Mampukah cinta bertahan saat kepercayaan telah dikhianati? Ataukah Alya akan menemukan kekuatannya sendiri untuk berdiri dan memilih jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niya_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Reno menutup map berisi bukti keterlibatan Nadia dalam kasus kematian Ryan dengan langkah mantap ia mendatangi kantor polisi, menyerahkan semua hasil penyelidikannya. Ruangan penyidik yang dipenuhi aroma kopi serta tumpukan berkas, namun suasananya begitu serius.
“Baik Pak Reno, kami terima bukti ini. Bukti ini cukup kuat untuk memanggil Nadia sebagai saksi,” kata salah satu penyidik sambil menatap Reno lurus. “Tapi prosesnya panjang. Kita harus hati-hati. Kita tidak bisa langsung menetapkannya sebagai tersangka,” Lanjutnya.
Reno mengangguk, sorot matanya penuh tekad. “Saya mengerti. Yang penting, jangan beri dia kesempatan untuk memanipulasi keadaan.”
Keesokan harinya di Apartemen Nadia saat ia sedang sibuk mengurus bayinya ia mendengar suara ketukan pintu. Bergegas ia membuka pintu apartemennya.
“Surat untuk Ibu Nadia Putri.” ucap seorang kurir.
Nadia menerima amplop coklat itu dengan gugup. Berstempel “Kepolisian Resor Jakarta,” langsung membuat perutnya mual. Ia menutup pintu perlahan, membuka surat itu dengan tangan gemetar.
“Diminta hadir memberikan keterangan sebagai saksi dalam kasus kematian Ryan Aditya,” Nadia membaca surat itu pelan.
Ia tertegun sejenak dunia seolah goyah. Ia buru-buru melipat surat itu dan menyelipkannya di bawah tumpukan majalah di meja.
“Reza tidak boleh tahu,” pikirnya.
Beberapa jam kemudian, Reza baru pulang setelah sibuk seharian mencari pekerjaan baru. Ia masuk ke kamar sambil mengelap wajahnya yang basah oleh hujan.
“Nad, kamu lihat charger HP aku nggak? Biasanya di meja sini.”
“Coba aja cari di tas kamu, Mas. Mungkin disitu,” teriak Nadia yang sedang berada di kamar sambil menggendong bayinya yang rewel.
Reza merogoh ke tasnya tapi tidak ada lalu mencari di tumpukan majalah tempat biasanya ia menaruh charger. Tapi tangannya justru menyentuh amplop coklat yang terselip di sana. Ia menariknya, penasaran lalu membuka amplop itu
“Ini apa?” ucap Reza sambil mengerutkan keningnya. Lalu perlahan membacanya.
Nadia menoleh cepat, wajahnya memucat.
“Jangan dibuka, Mas. itu—”
Tapi sudah terlambat. Reza sudah membaca baris pertama surat itu.
“Pemanggilan saksi kematian Ryan? Nad... kenapa nama kamu ada di sini?” kata Reza yang nyaris tak bisa percaya.
Nadia terdiam. Ruangan terasa dingin. Hujan di luar kembali turun deras.
“Aku.nggak tahu harus jelasin dari mana. Aku cuma kebetulan kenal sama Ryan,” jawab Nadia terbata.
“Kamu nggak bilang apa-apa sama aku? Kamu tahu seberapa parah ini, Nad?” ucap Reza ia menatap tajam Nadia.
Air mata Nadia menetes. Ia lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Sebenarnya aku juga takut, Mas. Aku pikir kalau aku diam, semuanya akan selesai.”
“Selesai? Sekarang polisi manggil kamu, Nad. Ini baru permulaan.” teriak Reza ia marah sekaligus khawatir.
Suasana membeku. Surat di tangan Reza menjadi simbol rahasia yang akhirnya terbuka dan mungkin awal dari kebenaran yang selama ini disembunyikan.
Reza masih berdiri mematung sambil memegang surat panggilan itu. Hujan di luar semakin deras, menimbulkan suara gemuruh yang menambah tegang suasana.
“Jadi, Sebenarnya siapa Ryan itu kenapa aku tidak pernah tahu pria itu?” selama ini kamu menyembunyikannya dariku?”
“Bukan siapa-siapa, Mas. Dia hanya nggak penting untuk kamu ketahui, Mas…” sahut Nadia menahan air matanya.
“Nggak penting? Nad, ini panggilan polisi! Mereka nyebut nama kamu dalam kasus kematian! Kamu pikir itu hal kecil?”
“Aku cuma takut, Mas. Aku nggak mau kamu salah paham. Aku juga nggak tahu kenapa mereka manggil aku. Aku nggak ngelakuin apa-apa!” jawab Nadia tersentak matanya mulai basah.
“Kalau kamu nggak ngelakuin apa-apa, kenapa kamu sembunyiin surat ini? Kenapa nggak jujur dari awal?”
“Karena aku tahu kamu bakal marah kayak gini!” suara Nadia pecah.
“Ya jelas aku marah, Nad! Aku marah bukan hanya karena kamu dipanggil polisi, tapi juga karena kamu bohong. Kita ini pasangan, tapi kamu malah sembunyiin hal sepenting ini.”
Mas, tolong jangan bikin ini tambah berat. Aku udah cukup takut.”
“Takut? Kamu pikir aku nggak takut? Aku bahkan nggak kamu terlibat sama Ryan sampai detik terakhir dia hidup!”
Nadia tersentak keras, matanya langsung menatap Reza dengan luka. “Kamu nuduh aku terlibat? Kamu pikir aku ada hubungannya sama kematian dia?”
“Aku… aku nggak tahu, Nad. Tapi semuanya jadi keliatan aneh. Terlalu banyak yang kamu sembunyikan.”
Keheningan menggantung di antara mereka. Hanya suara hujan yang terdengar. Nadia memeluk dirinya sendiri, tubuhnya gemetar.
Reza ingin menahan, tapi kata-kata itu terlalu berat untuk dibantah. Ia hanya bisa terdiam, memandangi Nadia yang perlahan berjalan menjauh meninggalkan suasana dingin dan hening yang lebih menyakitkan daripada hujan di luar sana.
Kabar pemanggilan Nadia mulai beredar. Di kantor, bisikan-bisikan kecil terdengar di setiap sudut ruang kerja.
Alya yang mendengar kabar itu hanya bisa menelan ludah, jantungnya berdegup cepat. Tangannya sedikit gemetar saat membereskan dokumen.
Dirga yang sedang memperhatikan, gerak gerik Alya segera mendekat.
“Kamu kelihatan pucat, Alya,” ujarnya lembut.
Alya mencoba tersenyum, meski gugup.
“Saya cuma sedikit capek, Pak,” jawab Alya. “Nadia orangnya ambisius, tapi aku nggak pernah nyangka sampai sejauh itu,” batin Alya.
Dirga meletakkan tangannya di meja Alya, memberi rasa tenang. “Jika kamu butuh bantuan kamu bisa hubungi saya,” ujar Dirga menyakinkan.
Ada keheningan sesaat, hanya suara mesin pendingin ruangan yang terdengar. Alya menunduk, dan kali ini senyumnya tulus kehadiran Dirga benar-benar menjadi penopang.
Sementara itu, di gedung kepolisian, Nadia memenuhi pemanggilan pertama sebagai saksi. Wajahnya pucat, matanya berkilat penuh kegelisahan. Ia meremas bajunya keras-keras, lalu membuang napas panjang.
“Reno…” bisiknya dengan nada geram. “Kau yang ada di balik semua ini, ya? Aku tidak akan tinggal diam.”
Bersambung...
Kasih like jangan lupa.....🤩🥰