Rubby Hania, Gadis cantik yatim piatu yang di asuh sang paman dan Bibi. Namun sayang sang Bibi begitu kejam memperlakukan nya.
Suatu malam tepat setelah sang paman di makamkan, Rubby di usir sang Bibi. Rubby bertemu seorang pria bule yang sedang melintas. Marco Tarance hampir saja menabarak nya. Marco sempat memakinya. Namun anak laki-laki Marco yang berusia 6 tahun Avalon Tarance, malah menolong dan membawa Rubby pulang.
Akhirnya Rubby menjadi pengasuh Avalon. Suatu malam Marco hampir memperkosa Rubby, dan Avlon yang memergoki sang Ayah yang hendak berbuat aib, maka ia memaksa Marco agar menikahi Rubby.
Bagaimana kisah selanjutnya Antara, Rubby, Marco dan Avalon. Sorry, I Love you.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. No Rubby, please! jangan pergi.
Vallon yang mendengar kata 'pergi' pun menjadi was-was. Ia tidak ingin kehilangan Rubby.
"No Rubby, please! jangan pergi, tolong! jangan tinggalkan Aku!" ucap Vallon penuh permohonan.
Rubby hanya diam dan menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia merasa ternoda dan hina, walaupun tidak terjadinya penodaan pada mahkota kewanitaan nya. Namun
tetap saja Marco sudah menguasai tubuh bagian atasnya.
"Baiklah, mari kita ke bawah,"ajak Vallon. beruntung Vallon adalah anak yang berpikir cepat dan perangai nya lebih dewasa dari usianya, ia layak nya lelaki gentleman yang melindungi Rubby dari kejahatan Ayahnya, walaupun usianya masih kecil.
"Terimakasih, Tuan Vallon," ucap Rubby, ia di gandeng Vallon berjalan perlahan menuruni anak tangga, menuju ruang bawah.
Terdengar suara Marco yang sesekali melemparkan barang di kamar Rubby.
Ketika Rubby dan Vallon baru saja duduk di ruang televisi, suara bel berbunyi. Vallon pun bergegas melihat siapa yang datang. Ia lihat pada layar monitor yang menempel pada tembok dekat ruang televisi.
Nampaklah dua orang laki-laki sedang menunggu untuk dibukakan pintu. "Nara," gumam Vallon. Lalu Vallon menekan sebuah angka yang berada di bawah layar monitor dan pintu pun terbuka.
Nara bergegas masuk bersama seorang laki-laki lainnya. "Tuan Vallon, di mana Ayah Anda?" tanya Nara ketika sudah sampai di ruang televisi.
"Di lantai atas, di kamar yang tengah, siapakah dia uncle Nara?" tanya Vallon kemudian.
"Oh maaf Tuan, saya lupa! perkenalkan, ini dokter Abidin. Beliau ini pengganti dokter Yosep! kebetulan dokter Yosep sedang ke luar Negeri dan dokter Abidin ini akan menggantikan nya untuk mengobati Ayah mu," tutur Nara.
"Oh! baiklah, silahkan Anda naik saja. Ayah ku seperti orang gila! lihatlah ini Rubby pengasuh ku! ia di buat ketakutan oleh Ayahku, karena dipaksa agar ia mau membuat Adik untuk ku!" ucap Vallon, begitu Lugas namun polos.
Nara besarta dokter Abidin hanya saling pandang, lalu sedikit tersenyum, Vallon begitu lucu dan menggemaskan.
"Kau tidak apa-apa Nona?" tanya Nara kepada Rubby yang dari setadi hanya duduk dan merunduk, Rubby masih mengucurkan air mata.
Rubby merasa malu, ia tidak berani mengangkat wajahnya! namun ia masih sempat berucap lirih, menjawab pertanyaan Nara.
"Saya tidak apa-apa Tuan! namun saya butuh obat untuk mengobati luka saya pada leher, dan untuk rasa sakit di sekujur tubuh saya," ucap Rubby jujur walaupun malu.
"Baiklah, Nona, setelah kami mengobati Tuan Marco, kami akan mengobatimu," ucap Nara.
"Tuan Vallon lebih baik kau panggkan Ibu Muria, minta tolong untuk membuatkan minum bagi Nona ini. Sepertinya Nona Rubby butuh minum untuk mengembalikan staminanya," pinta Nara pada Vallon.
Nara faham betul kalau saat ini Rubby sedang terguncang dan salah satunya pasti ia lelah dalam menghadapi paksaan Marco.
"Baiklah Uncle Nara," jawab Vallon
Sementara Nara beserta dokter Abidin menuju lantai atas untuk mengobati Marco. Vallon pun beranjak dari ruang televisi menuju kamar Muria untuk membangunkannya.
Nara sudah sampai di kamar yang ditunjuk oleh Vallon. Tidak sulit untuk Nara masuk ke dalam kamar Rubby. Karena kunci pintu masih menggantung pada tempatnya.
Ketika Nara masuk, Marco dalam keadaan berbalut selimut. Tubuh nya bergetar. wajahnya memerah namun bibirnya pucat.
"Sir! Anda masih baik-baik saja kan? saya mendapatkan telepon, dari Tuan Vallon," tanya Nara setengah berlari menghampiri Marco.
Nara tak peduli dengan berserakannya barang-barang di lantai.
"Aku dalam keadaan buruk Nara! kau benar, perempuan iblis itu ada di pesta dan memasukan obat sialan ini pada minuman ku, tolong Aku! bawakan Rubby untukku! Aku butuh Rubby," ucap Marco dengan bibirnya yang bergetar.
"Tidak bisa Sir, Anda berdua belum menikah," ucap Nara lirih.
"Tenang saja Nara! besok aku akan menikahinya," ucap Marco kekeh pada keinginan nya untuk menggauli Rubby.
"Oke..besok Anda akan menikahi Rubby, tapi untuk saat ini, saya membawa dokter untuk menetralkan keadaan tubuh Anda, Sir," bujuk Nara.
"Cepatlah Nara, Aku sudah tak tahan," tukas Marco, sepertinya ia masih memiliki pemikiran yang sedikit jernih.
"Tolong siapkan air dingin, untuk mengompres nya," pinta dokter Abidin.
"Hay, siapa Anda?" tanya Marco dengan pandangan yang sayu.
"Tak usah khawatir, ini dokter Abidin yang menggantikan dokter Yosep dan beliau yang akan mengobati Anda! karena dokter Yosep sedang berada di luar Negeri," jawaban Nara.
"Baiklah! permisi sebentar, saya ambil air untuk mengompres dahulu," pamit Nara.
"Silahkan," ucap dokter. Nara pun bergegas ke lantai bawah, untuk mengambil air dingin dan akan dipergunakan untuk mengompres Marco.
"Baiklah. Cepat dokter obati saya, rasanya sudah tidak tahan, atau suntik mati saja sekalian," ucap Marco.
"Memang nya yakin, Anda lngin mati sekarang?" tanya dokter Abidin sambil tersenyum.
"Tidak jadi dokter! sembuhkan saya saja. Saya belum menikahi gadis pujaan hati saya," ucap Marco datar.
Dokter Abidin pun segera mengeluarkan alat-alat medis dan obat-obatan dari dalam tasnya.
Ketika dokter Abidin telah selesai memeriksa Marco dan mengobatinya dengan 1 buah suntikan, Nara pun tiba membawa tempat berisi air dingin.
"Baiklah! sudah saya berikan suntikan penetral, tolong usahakan tubuhnya tetap stabil, agar tubuh melakukan pendinginan dan juga akan membantu obat bekerja dengan baik. Namun Maaf Tuan, obat ini sepertinya akan menimbulkan sedikit lelah. Namun tidak perlu khawatir saya sudah memberikan vitamin dan suplemen." ucap Dokter Abidin.
"Terima kasih dokter," ucap Marco pelan.
"Sama-sama! saya permisi Tuan," pamit dokter Abidin.
"Saya mengantarkan dokter sebentar, Sir!" ucap Nara.
"Ya!" sahut Marco singkat, kini ia sudah merebahkan tubuhnya. Memang, sedikit demi sedikit berangsur membaik sepertinya.
Setelah mengompres Marco, Nara pun ikut turun bersama dokter Abidin, ia mengantarkannya ke depan pintu gerbang.
Setelah dokter Abidin pergi, Nara pun kembali masuk ke dalam rumah.
"Nona, ini ada salep dan vitamin yang di berikan dokter tadi, katanya tidak perlu di periksa. Dokter memperkirakan mungkin hanya luka lecet dan rasa letih saja," ucap Nara sembari meletakkan salep dan vitamin di atas meja.
"Terimakasih," ucap Rubby masih menundukkan kepalanya.
"Uncle Nara, Bagaimana keadaan Ayahku?" tanya Vallon saat Nara hendak pergi.
"Sudah lebih baik Tuan Val!" jawab Nara.
"Bagaimana dengan Anda Nona?" tanya Nara pada Rubby. Nara begitu penasaran ingin melihat wajah Rubby. Karena dari tadi, tidak begitu nampak.
Kini Rubby, terlihat lebih segar setelah ia mencuci wajahnya dan meminum air teh manis hangat, yang dibuatkan oleh Muria.
"Alhamdulillah, saya sudah lebih baik Tuan," sahut Rubby sambil mendongakkan wajahnya menatap Nara. Akhirnya keinginan Nara pun terwujud, yaitu melihat jelas wajah Rubby.
"Deg! Busyed..nih cewek cantik juga, boddy nya proposional, pantas saja Tuan Marco tertarik padanya," puji Nara dalam hatinya.
"Tuan!" panggil Rubby.
"Ah, iya..sa-saya!" Nara merasa gugup dan terkejut saat Rubby memanggil nya.
"Apakah Tuan Marco, betul-betul sudah membaik?" tanya Rubby.
"Sudah Nona, apakah Nona hendak menemui nya?" tanya Nara.
Vallon dan Muria yang sedang duduk di samping kiri-kanan Rubby hanya terdiam.
"Tidak! justru saya ingin pergi malam ini juga, tolong sampaikan pada Tuan Marco, kata maaf dari saya," ucap Rubby dengan kembali berlinang air mata.
"Nona, sebaiknya Anda jangan pergi! saya juga mohon maaf yang sebesar-besarnya atas Nama Tuan Marco. Ini murni keteledoran, Tuan Marco tidak seperti itu! Saya jamin. Saya sudah menjadi tangan kanannya selama belasan tahun," ujar Nara meyakinkan Rubby.
Bersambung...
msak orang baik harus d madu
tpi gpp udah ending juga
gemes q ma emily
pngen uwel uwel mak AUTHORRRRRRRRRR
Q GA HARUS nunggu up nya buat tahu kejutan krna pas q baca udah tamat
tpi tetep aja masih deg deg an
pa lagi yg part 1 walah 3kli baca ga bosen
ampe klo dngar bacaan Ar-Rahman q pasti inget ustad afnan
smangat bunda