Menikah kemudian bahagia adalah impian semua orang. Begitu juga dengan Soraya. Namun dapatkah dia bahagia saat menikah dengan seorang player?
Apakah harapan Soraya bahwa Ardan akan berubah bisa menjadi kenyataan?
Ataukah pernikahan mereka akan kandas karena wanita lain?
Lalu siapa Soraya sebenarnya? Benarkah dia hanya seorang wanita sebatang kara? Bagaimana jika seandainya waktu mengungkapkan jati dirinya?
Cerita ini penuh dengan intrik, dendam, perselingkuhan, perebutan kekuasaan dan kekuatan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hijjatul Helna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilanganmu
Sebuah mobil berhenti tepat di depan pintu mansion. Ardan bergegas keluar dari mobil dan masuk ke mansion.
Kakinya melangkah lebar menaiki anak tangga berharap segera cepat sampai ke kamar dan melihat kondisi Soraya yang tadi pagi sangat pucat saat dia tinggalkan.
Membuka pintu perlahan agar tidak membangunkan istrinya yang mungkin sedang terlelap. Namun betapa terkejut dirinya karena tidak mendapati istrinya di atas ranjang.
Dia masih berusaha tenang. Mungkin Soraya lagi di kamar mandi, pikirnya.
Keheningan dari kamar mandi membuatnya penasaran. Apakah Soraya ketiduran di sana? Atau malah pingsan?
Takut jika pemikirannya yang terakhir terjadi pada Soraya, Ardan segera mendorong pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci. Kosong!
Ardan tertegun sebentar, kemudian dia bergegas keluar kamar dan memanggil pelayan.
Semua pelayan berkumpul.
"Di mana Soraya? Di mana istri saya?"
Tatapan Ardan tampak berang.
Seorang pelayan menjawab dengan takut.
"Lho, bukannya tadi Tuan mengirim perawat untuk menjemput Nyonya Soraya untuk dibawa ke rumah sakit?"
"Apa?" Ardan terkejut.
Suaranya menggelegar, membuat semua pelayan menunduk ketakutan.
Ardan mondar-mandir mencoba mencerna apa yang terjadi. Kemudian dia menunjuk pelayan yang tadi bicara.
"Kau ... Katakan apa yang tadi terjadi!"
"Baik, Tuan! Tadi tak lama setelah Tuan pergi, datang mobil ambulan beserta beberapa orang perawat. Mereka mengatakan kalau mereka diutus Tuan untuk membawa Nyonya Soraya ke rumah sakit. Kami yang tadi pagi mendengar Tuan membujuk Nyonya agar mau ke rumah sakit berpikir, mungkin memang benar Tuan yang mengirim mereka."
"Dan tadi saat mereka akan membawa Nyonya, dan Nyonya tidak mau, mereka membujuk Nyonya dengan mengatakan kalau Tuan sedang sibuk di perusahaan dan supaya Nyonya tidak membuat pekerjaan Tuan terganggu karena memikirkan kondisi Nyonya. Setelah mendengar perkataan orang itu, Nyonya akhirnya mau ikut dengan mereka." seorang pelayan wanita menambahkan.
Sialan! Siapa mereka? Apa yang mereka inginkan? Apakah mereka menculik Soraya untuk dijadikan sandera? Bagaimana kondisi Soraya sekarang?
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Ardan.
Arghhh ... Ardan meremas rambutnya dengan kesal.
Asisten yang bernama Robby mengibaskan tangannya sebagai isyarat agar para pelayan segera meninggalkan mereka berdua.
"Lebih baik kita segera menyebarkan orang untuk mencari Nyonya. Bagaimana Tuan?" Usul Robby.
Ardan yang merasa kehilangan akal pikirannya saat ini hanya mengangguk lemah. Robby segera mengambil ponselnya dan melakukan panggilan.
{Halo!}
Suara seorang pria terdengar saat panggilan diangkat.
{Sebarkan anak buahmu untuk mencari keberadaan Nyonya Soraya. Fotonya akan aku kirim sebentar lagi}
{Baik, Tuan!}
Robby menutup panggilan, tampak mengirim foto pada pria yang tadi ditelponnya. Kemudian menatap ke arah Ardan yang terlihat kacau.
Kemeja Ardan terlihat kusut dengan ujungnya yang sudah keluar sebagian dari celana panjangnya. Sedangkan jas yang tadi dipakainya sudah melayang di atas sandaran sofa. Dasinya pun sudah tak nampak, entah kapan terlempar dari lehernya.
Ardan berpikir keras tentang hilangnya Soraya. Istrinya tak punya musuh di sini. Atau musuhnya yang ingin menghancurkannya dan menjadikan Soraya sebagai sandera.
Semakin dipikirkan semakin tak ketemu benang merahnya.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Tidak mungkin dia mencari Soraya di seluruh tempat di Budapest. Selain hal itu akan sia-sia juga tak akan berhasil, hanya membuang waktu.
Kamera pengawas!
Ya, dia akan menggunakan kamera pengawas yang terdapat di setiap lampu lalu lintas. Tidak mungkin mobil ambulan yang membawa Soraya tak tertangkap kamera pengawas. Bagaimana pun lihainya mereka, pasti salah satu kamera sempat merekam mobil ambulan itu.
Ardan segera memerintahkan kepada Robby untuk mengurus ijin untuk mencari keberadaan Soraya melalui kamera pengawas.
Ardan juga memberi kabar pada orang tuanya tentang hilangnya Soraya. Alena terdengar histeris mendengar menantu kesayangannya diculik. Dan orang tuanya mengatakan akan segera menyusulnya ke Budapest.
Ardan merasa cukup lega karena orang tuanya akan datang dan membantu mencari Soraya.
Soraya, di mana kamu sayang! Bagaimana keadaanmu dan bayi kita?"
Pikiran Ardan tambah kacau mengingat kondisi Soraya saat tadi pagi dia tinggalkan. Apakah penculik itu memperlakukan istrinya dengan baik?
******Helna******
Sudah sebulan Ardan melakukan pencarian Soraya, namun hasilnya buntu.
Pencarian menggunakan kamera pengawas pun nihil.
Papa Permana juga ikut membantu dengan menyebarkan orang-orangnya. Tapi sampai sekarang tak ada hasil sama sekali.
Soraya seakan hilang ditelan bumi.
Kondisi Ardan tampak mengenaskan. Bobot tubuhnya menurun drastis. Dia tak lagi sempat memperhatikan penampilannya. Makan tak teratur, tidur tak lelap.
Beberapa kali dia bermimpi buruk tentang Soraya. Dalam mimpinya, Soraya mengenakan pakaian serba putih, dengan airmata bercucuran dia mengucapkan permintaan maaf dan selamat tinggal. Setelah itu Soraya berjalan menjauh darinya. Meski dia telah memanggil-manggil Soraya, namun istrinya tak menoleh lagi. Kemudian tubuh Soraya perlahan-lahan menghilang. Ardan terus memanggil nama Soraya, hingga dia terbangun karena igauannya sendiri.
"Soraya ... Sayang ... Soraya ... Tunggu ... Soraya ... Jangan pergi! Soraya ... Sorayaaa!" tangan Ardan menjulur ke depan seolah ingin meraih bayangan Soraya yang perlahan menghilang.
Ardan terbangun dengan tubuh gemetar dan keringat membasahi seluruh badannya. Napasnya memburu seperti seorang yang sudah berlari jauh. Dia terbangun dalam posisi terduduk.
"Hah ... Hah ... Hah ... "
Ardan mengusap wajahnya berulang kali.
Hmm ... Mimpi yang sama. Apa arti mimpi itu? Pikir Ardan resah.
Ardan segera bangun dan ke kamar mandi. Hari ini dia ada janji dengan kepolisian Budapest. Mungkin ada berita baik, harap Ardan. Meskipun selama ini harapannya selalu berujung kecewa.
Selesai berpakaian, Ardan turun ke bawah. Di ruang makan sudah ada Papa dan momy yang memang menemaninya di sini untuk mencari Soraya.
Pekerjaan di perusahaan semuanya diserahkan pada asisten kepercayaan. Walaupun begitu, Papa Permana masih sering memantau lewat laporan email maupun kroscek langsung ke perusahaan. Momy tidak mau pergi ke mana-mana sebelum Soraya ditemukan. Momy Alena orang kedua yang merasa terpukul akan kehilangan Soraya.
"Bagaimana? Sudah ada kabar dari orang kita?" tanya Ardan setelah duduk di kursi.
"Tak ada kabar sama sekali. Sepertinya ada kekuatan besar dibalik semua ini." jawab Permana.
Alena menyiapkan sarapan Ardan meski hanya dicicipi sedikit, tapi setidaknya perut Ardan terisi makanan walau hanya secuil.
Alena memperhatikan kondisi anaknya. Dia menghela napas berat. Selain mengkhawatirkan Soraya, dia juga prihatin atas diri Ardan.
Seolah paham dengan arti tatapan momy nya, Ardan tersenyum tipis.
"I am Ok, Mom! Aku kuat menghadapi ini semua." katanya sambil menepuk lembut bahu momy nya.
Alena segera menyapu sudut matanya yang hampir meneteskan air. Dia tersenyum getir melihat anaknya yang bersikap tegar padahal dalam hatinya rapuh.
Mereka membicarakan langkah selanjutnya dalam proses pencarian Soraya.
Seorang pelayan masuk dan membawa sebuah amplop cokelat. Dan langsung menyerahkannya kepada Ardan yang sudah menyelesaikan sarapannya.
Ardan menerima amplop itu dengan rasa penasaran.
"Dari siapa?" tanya Ardan pada pelayan.
"Tadi kurir yang mengantarkan, Tuan!" sahut pelayan.
Ardan memandangi amplop yang pada bagian depannya terdapat kop pengadilan negeri.
Ada apa? batin Ardan heran karena dia merasa tidak pernah melakukan perbuatan yang membuatnya harus berurusan dengan pengadilan.
Kedua orang tuanya juga sedang menunggunya membuka amplop itu.
Perlahan Ardan membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Tampak sebuah berkas yang cukup tebal. Ardan membolak balik berkas itu. Rahangnya mengeras, rautnya tiba-tiba membeku.
"Tidak ... Tidak mungkin!" gumamnya.
"Ada apa?" tanya Permana sambil mengambil berkas dari tangan Ardan yang masih termangu.
"Gugatan Perceraian?" kata Permana dengan nada tak percaya. Apalagi saat melihat nama Soraya sebagai pihak penggugat.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Alena.
"Aku sendiri tak mengerti. Bagaimana Soraya yang selama ini kita anggap menghilang, ternyata melayangkan gugatan perceraian? Ada yang tidak beres!" kata Papa menyadarkan Ardan dari keterkejutannya.
"Aku harus bertemu dengannya." kata Ardan bergegas.
"Papa temani." Permana mengikuti kepergian Ardan. Dia tak mau membiarkan Ardan sendirian. Dia khawatir kalau Ardan akan melakukan hal bodoh.
Alena melihat berkas yang ditinggalkan oleh anak dan suaminya. Di sana dia membaca nama penggugat, Soraya Palvin!
Soraya Palvin!
Bukankah Soraya tidak memiliki keluarga? Lalu siapa Palvin? Apakah diam-diam Soraya menikah lagi setelah meninggalkan anaknya? Atau orang yang menculik Soraya memaksanya untuk menikah?
Banyak pertanyaan yang berkecamuk di benak Alena. Dengan tak sabar dia menelpon seseorang. Dia berharap orang itu dapat menolong Ardan.
Bersambung ...
**jangan lupa like dan krisan ya!
itu moodbooster buat aku.
Terima kasih sudah mau mampir ke work aku yang pertama ini. 🥰**
sukses
semangat
mksh
mksh cerita nya kk 🤗
kerennnn 👌👍
tetap semangat berkarya ✍️✊