Kaisar Hou adalah seorang kaisar bijaksana dan baik hati. Ia juga menyandang gelar sebagai kaisar termuda di dinasti Ming. Pada umurnya ke 17 tahun ia sudah di nobatkan sebar seorang raja dan mampu membawa kerajaannya pada puncak kejayaan.
Namun hidupnya berakhir dengan begitu tragis di tangan saudaranya. Bahkan kekasihnya juga mengkhianati dirinya.
Namun dewa masih menyayanginya. Alhasil ia bereinkarnasi pada tubuh seorang siswa lelaki pada abad ke 21.
Namun sayangnya kehidupan siswa lelaki itu cukup sulit. Ia di cap sebagai pecundang dan selalu jadi objek bullyan teman temannya.
Lalu bagaimana Hou melalui rumitnya kehidupan barunya itu? Mampukah dia bertahan pada kerasnya dunia asing ini?
Yuk ikuti berjalanan Hou dalam menghadapi keras nya abad ke 21. Next reading guys😀😁😁😁
*Update setiap hari Selasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sofie Otviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
...Abaikan typo.......
Wussss..
Angin berhembus dengan begitu kencang. Bahkan pepohonan sampai bergoyang dengan sangat nyata, hingga hampir saja tumbang.
Devan menatap Bland yang terus terjun dari ujung tebing menuju lautan bebas. Bland hanya menatap pasrah pamannya yang terus meneriaki namanya dari bibir tebing.
Dan tak lama setelah itu Bland mengacungkan tangannya ke arah langit. Membuat sebuah barrier yang langsung melingkupi dirinya dan menghentikan tarikan gravitas padanya.
Bland mengamban di udara. Melihat itu Devan langsung menghela nafasnya lega dan menatap keponakannya yang sudah berdiri di hadapannya dengan keadaan baik baik saja.
“Kau baik baik saja?” tanya Devan masih saja memastikan keadaan keponakannya tersebut.
Bland pun mengangguk sambil membersihkan pakaiannya yang kotor dengan kedua tangannya “Baik baik saja paman. Entah kenapa selalu seperti itu.. mungkin bibiku merindukanku” ucap Bland dengan menatap lautan lepas dengan semburat hijau di warna birunya laut.
“Apa kejadian seperti itu selalu terjadi?” tanya Devan dengan pandangan menyelidik.
Bland menatap raut wajah serius bercampurkan cemas pamannya tersebut “Ya.. suah dari dulu seperti itu. Tapi itu tidak membuatku terluka. Hanya tercebur ke lautan dan tenggelam perlahan”
“Lalu bagaimana caramu naik? Kau tidak pandai berenang bukan” tanya Devan lagi. Namun kali ini raut wajah keponakannya itu hancur parah karna kalimat terakhirya, tentang Bland yag tidak pandai berenang.
“Menyebalkan.. tapi aku masih bisa bernafas di laut, itu aneh bukan? Dan lagi seperti ada seseorang yang memelukku di dalam sana. Airnya terasa hangat dan nyaman” Jelas Bland dengan tersenyum tipis
“Mungkinkah itu bibi Stacia paman?” tanya Bland dengan raut wajah setengah lega.
Devan menghela nafasnya panjang “Mungkin..”
Ia meminta pengorbanan darimu Bland.. karna kesalahan kedua orang tuamu.. ia ingin merenggutmu dengan alasan lautan tersebut..
“Benarkan.. bibi selalu mencintaiku dari kecil. Bahkan aku masih menyimpan jubah yang pernah ia rajutkan untukku dan kakakku yang belum lahir itu” raut wajah Bland berubah menjadi pandangan sendu.
“Seandainya anak bibi lahir saat itu.. dan bibi selamat dari pembantaian di istananya.. mungkin aku tidak akan kesepian bersama dengan Bella seperti sekarang” Bland menitikan air matanya tanpa sadar.
Devan mendekatinya dan memeluk keponakannya yang sudah lebih tinggi beberapa cm dari tingginya “Sudahlah Bland.. sebaiknya kita doakan yang tebaik bagi ketiganya disana. Jangan membuat mereka cemas dengan dirimu yang seperti ini Bland” tegur Devan dengan nada selembut mungkin.
“Baiklah.. aku akan selalu mendoakaan kebahagian mereka disana”
“Anak baik”
...🐁 🐁 🐁 🐁 ...
Lino menatap diam Aria yang duduk di hadapannya dengan membaca sebuah buku yang ada di atas meja. Kedua tangan gadis itu sibukmenulis dan membolak balikkan halaman buku tersebut.
Sementara itu Lino hanya sibuk memandanginya dengan menikmati secangkir teh krisan, dengan mendengarkan lagu favorite nya akhir akhir ini. Ia baru saja tahu, jika musik dari abad ke 21 ini memiliki irama yang lebih indah dan beragam dari pada di era nya dulu.
“Pagi pagi aku sudah melihat sepasang bucin di sini. Apa kalian tidak sarapan duu?” omel Lena dan duduk di samping Aria dengan membawa sarapannya.
“Kamu yang bangun ke siangan, karna itu kamu tidak tahu kami sudah sarapan tadi” balas Aria tanpa menatap Lena yang sudah memperhatikan gelagatnya.
“Ck.. menyebalkan. Lalu kenapa kamu tidak membangunkanku?”
“Untuk apa? Akutahu kamu pulang larut kemarin dan istirahat terlambat. Jadi aku membiarkanmu bangun kesiangan” jelas Aria mendapatkan tatapan haru dari Lena.
“Terimakasih Aria jutek” ucap Lena dengan memeluk Aria sejenak dan kemudian melanjutkan sarapannya.
“Sama sama” balas Aria dengan tersenyum tipis.
Sementara itu Lino hanya diam memperhatikan aktivitas kedua gadis itu. Mereka sudah saling meledek. Aria dengan pandangan cuek sementara Lena yang sudah terlihat kesal karna reaksi Aria yang sangat dingin ketika membalas argumennya.
“Haihh.. ribut sekali kalian ini. Apa harus menjadi pusat perhatian orang orang dulu baru kalian bisa merasa malu dengan tingkah ke kanak kanakan itu?” omel Nana, datang bersama Ivan yang terlihat masih mengantuk. Mungkin lelaki itu juga sama dengan Lena yang bangun terlambat karna mendapatkan sip malam kemarin.
“Waa.. lihat itu”
“Si kembar ada disini?”
“Kenapa tuan muda ada disini?”
“Entahlah.. tidak biasanya mereka mau melakukan pekerjaan amal seperti ini?”
Seru para pengunjung kantin darurat ketika menatap ke hadiran Raka dan Riko di kantin mereka. Lino, Lena, Ivan dan Nana pun juga ikut menoleh pada sumber perhatian tersebut.
“Kakak..” ucap keduanya sambil menatap Aria yang masih saja fokus pada bukunya. Namun setelah mendengar namanya di panggil beberapa kali, Aria pun menoleh pada mereka.
“Kami datang” ucap mereka dengan senyum mengembang. Sementara itu Aria hanya menghela nafasnya besar.
“Jangan membuat keributan. Bantulah pekerjaan yang menurut kalian mampu.. jangan yang tidak bisa lalu kalian mengacaukannya” tutur Aria dan menatap kembali buku pelajarannya.
“Baik..” sahut mereka dan menatap ke empat orang yang
ada di satu meja dengan Aria.
“Kenapa?” tanya Ivan ketika pandangan Raka dan Riko menjadi pandangan tajam nan menusuk.
“Duduk saja.. tidak perlu mengusir kami. Tidak perlu sungkan, tuan muda” ucap Kend yang baru saja bergabung dengan mereka, dengan membawa sarapan paginya yang sudah tidak lengkap karna tidak kebagian lauk. Ia bangun terlalu siang, hingga hanya bisa makan dengan sisa lauk yang tersisa.
Mendengar hal itu Raka dan Riko langsung saling menatap dan memandang Kend dengan pandangan tajam. “Kami tidak ingin...”
“Kami ini seniormu. Jangan berlagak dan cepatlah duduk jika kalian ingin bergabung” ucap Ivan dengan di penuhi hawa membunuh di sekitarnya.
“Baiklah”
“Terimakasih”
Ucap mereka dengan sedikit gugup setelah mendapatkan tatapan ancaman seperti itu dari Ivan, tentu saja mereka sangat kenal dengan Ivan. Karena Ivan termasuk orang famous dengan kekuatan yang tidak bisa di remehkan di dalan Akademic Carberus.
“Lino.. Nana.. giliran kalian jaga” ucap seorang perempuan dengan kacamata bulat yang menggantung di hidung tingginya.
“Baiklah.. sampai jumpa semua” ucap Nana dan lekas pergi bersama dengan Lino.
“Hati hati lah.. mungkin akan ada sedikit masalah” ucap Aria ketika Lino memandangnya dengan lekat.
“Baiklah.. jangan terlalu lelah” ucap Lino dan tiba tiba mengecup kening Aria.
Dan membuat Aria, teman teman maupun pengunjung kantin tertegun dengan sikap Lino yang berubah menjadi pemberani dalam hal seperti ini akhir akhir ini. Bisa di katakan jika Lino menjadi orang yang lebih romantis dna peka. Entah memang itu sikap asli atau ada sesuatu yang membuatnya berubah, mereka tidak ada yang tahu. Yang jelas perlakuan seperti ini membuat semua orang selalu terkejut.
Selalu Semangat ya kak. Dan Mari kita saling mendukung. Terima-kasih