NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029

"Kali ini, bahkan suara hujan di luar jendela terdengar seperti peringatan."

Kalimat itu terus menempel di kepala Keira sampai dua hari berikutnya.

Rio masih menelusuri catatan adopsi. Jason masih tidak muncul. Kevin beberapa kali mengirim pesan singkat menanyakan apakah ia baik-baik saja, tetapi Keira hanya menjawab seperlunya.

Ia tahu ada sesuatu yang semakin dekat.

Namun malam itu, bahaya datang bukan dari arsip lama, bukan dari DNA, bukan pula dari pria misterius yang menyebut nama Teguh Mulyono.

Bahaya datang dari ruang keluarga, dari sebuah tripod kecil berwarna pink, dari lampu ring light yang seharusnya sudah disembunyikan di lemari.

Tiffany duduk bersila di karpet ruang keluarga Menteng Residence. Rambutnya digerai dengan jepit bintang. Di depannya, tablet menyala menampilkan wajahnya sendiri yang memakai masker kain bergambar kelinci.

"Halo, semuanya!" katanya sambil melambaikan tangan. "Tiffi mau nyanyi. Tapi jangan bilang Mommy, ya. Mommy lagi kerja di atas."

Angka penonton di sudut layar awalnya hanya dua belas.

Lalu naik menjadi tiga puluh.

Lalu seratus delapan puluh.

Tiffany tidak mengerti kenapa angka itu bergerak cepat. Baginya, livestream hanya permainan lucu yang dulu pernah ia lakukan di Singapura dengan pengawasan Keira. Bedanya, malam ini ia membuka akun kecil bernama MalaikatTiffi, akun yang pernah dibuat Ethan "untuk latihan algoritma rekomendasi".

Ethan tidak ada di rumah. Ia sedang di Hartono Estate, masih menjalankan peran kecilnya sebagai Darren di hadapan beberapa orang tertentu. Rio juga sedang keluar mengecek alamat notaris lama. Di lantai atas, Keira berada di ruang kerja dengan earphone sebelah, menyimak laporan arsip dari luar negeri.

Tiffany merasa sangat dewasa.

"Koko Eth bilang, kalau Tiffi nyanyi, semua orang jadi senang," katanya pada kamera. "Jadi Tiffi nyanyi satu lagu saja. Satu, ya. Habis itu tidur."

Komentar mulai berlari.

Lucu banget.

Ini anak siapa?

Suara kecilnya bagus.

Maskernya gemes.

Tiffany membaca sebagian komentar dengan mata berbinar. Ia berdeham, mengatur napas seperti penyanyi sungguhan, lalu mulai menyanyikan lagu anak-anak sederhana tentang rumah dan pelukan. Suaranya belum sempurna, kadang terlalu tinggi, kadang lupa lirik lalu tertawa sendiri. Tetapi justru itu yang membuat penonton bertahan.

Dalam sepuluh menit, penonton menembus delapan ribu.

Akun-akun gosip kecil mulai membagikan tautan. Beberapa pengguna menulis bahwa anak itu mungkin putri keluarga kaya karena interior rumah di belakangnya terlalu mewah. Lampu gantung kristal, sofa krem, lukisan modern di dinding, semuanya tertangkap kamera meski Tiffany mengira latarnya hanya boneka kelinci.

Tiffany menyelesaikan lagu kedua. Ia menepuk tangan sendiri.

"Tiffi hebat, kan?"

Komentar meledak.

Hebat!

Malaikat kecil!

Buka masker dong.

"Tidak boleh buka masker," Tiffany menjawab serius. "Mommy bilang kalau live harus pakai masker. Biar aman."

Namun setelah itu, ia merasa hidungnya gatal.

Ia menahan sebentar. Menahan lagi. Lalu bersin kecil.

Masker kelinci melorot ke bawah dagu.

Wajah Tiffany terbuka penuh di layar.

Selama beberapa detik, ia tidak sadar. Ia sibuk menggosok hidung dengan punggung tangan. Kamera menangkap semuanya. Dahi kecilnya, mata bulat yang mirip Keira, garis rahang halus yang anehnya membawa bayangan Kevin, dan bentuk alis yang sama persis dengan Darren.

Komentar berubah liar.

Kok mirip Tuan Muda Hartono?

Itu anak Hartono?

Dia mirip anak yang pernah viral di Hartono Estate.

Tiffany akhirnya sadar maskernya turun. Ia cepat-cepat menariknya lagi, tetapi terlambat. Beberapa penonton sudah merekam layar. Jumlah penonton melonjak dari delapan ribu menjadi tiga puluh ribu dalam hitungan menit.

Di layar, notifikasi hati naik seperti hujan kecil.

"Wah, kok ramai sekali?" Tiffany tertawa gugup. "Tiffi cuma nyanyi."

Seseorang menulis, Daddy kamu siapa?

Tiffany membacanya pelan. Mata kecilnya tiba-tiba lembut.

"Daddy?"

Ia menatap kamera, seolah kamera itu bisa berubah menjadi wajah pria tinggi yang belakangan sering ia lihat di rumah. Pria yang membelikan boneka, mengikat rambutnya dengan canggung, dan diam-diam menatap Mommy seperti orang yang ingin pulang tapi takut ditolak.

Tiffany memegang boneka kelincinya lebih erat.

"Daddy, kalau kamu sedang menonton," katanya lirih, "Tiffany kangen sekali."

Di lantai atas, Keira baru melepas earphone saat samar-samar mendengar suara Tiffany dari bawah. Ia mengira anak itu sedang bernyanyi untuk boneka. Baru ketika ponselnya bergetar berkali-kali, Keira menunduk.

Pesan dari Naomi masuk paling atas.

Ci Keira, Tiffi live?

Pesan kedua dari Rio menyusul.

Bos, ada aktivitas publik dari akun anak. Saya sedang tarik akses.

Darah Keira langsung turun dari wajahnya.

Ia berlari keluar ruang kerja.

Sementara itu, di lantai empat puluh enam Hartono Group, Kevin sedang menandatangani dokumen merger ketika layar tablet Feng menyala karena notifikasi darurat dari tim media monitoring.

Feng awalnya hanya melirik. Lalu wajahnya berubah.

"Boss."

Kevin tidak mengangkat kepala. "Apa?"

"Ada livestream anak kecil yang sedang naik. Tim monitoring menangkap kata kunci Hartono."

"Serahkan ke PR."

"Boss, wajah anak itu..."

Kevin akhirnya berhenti menulis. Feng memutar tablet perlahan ke arahnya.

Di layar, Tiffany sedang menatap kamera dengan masker yang sudah naik kembali. Tetapi klip yang diputar ulang memperlihatkan momen beberapa detik sebelumnya, saat wajahnya terbuka.

Kevin membeku.

Ruangan kantor yang biasanya dingin mendadak terasa tidak punya udara. Jarinya berhenti di atas pena. Matanya terpaku pada wajah kecil itu.

Tidak.

Ia pernah melihat garis wajah seperti itu.

Pada Darren saat tidur, ketika wajah anak itu kehilangan semua ketegangan.

Pada Ethan, saat anak itu tersenyum nakal di balik layar laptop.

Namun Tiffany berbeda. Di wajahnya ada kelembutan Keira, tetapi alis, hidung, dan tatapan yang tiba-tiba serius itu seperti potongan dirinya sendiri yang dikembalikan dalam bentuk anak perempuan.

Kevin mengambil tablet dari tangan Feng.

"Putar lagi."

Feng menurut.

Klip itu berulang. Masker turun. Wajah kecil terbuka. Tiffany bersin. Komentar bergulir. Lalu suara itu terdengar, lebih pelan dari lagu sebelumnya.

Daddy, kalau kamu sedang menonton, Tiffany kangen sekali.

Pena di tangan Kevin patah.

Feng menahan napas. Selama bekerja bertahun-tahun, ia pernah melihat Kevin marah, dingin, bahkan nyaris membunuh orang dengan tatapan. Tetapi ia belum pernah melihat wajah Boss-nya seperti itu. Seperti seorang pria yang baru sadar bahwa seluruh hidupnya sudah berdiri di depan pintu, sementara ia terlalu lama tidak membuka.

"Feng," suara Kevin serak.

"Ya, Boss."

"Hapus semua rekaman publik. Hubungi platform. Pakai jalur hukum Hartono Group kalau perlu. Tidak boleh ada wajah anak itu tersebar."

"Siap."

"Cari sumber akun. Siapa yang daftar?"

Feng mengetik cepat. "Akun terhubung ke perangkat di Menteng Residence. Nama akunnya MalaikatTiffi. Ada jejak pembuatan dari alamat IP yang pernah dipakai Ethan."

Kevin memejamkan mata sebentar.

Ethan.

Darren.

Tiffany.

Dua anak laki-laki yang selama ini sudah membuatnya mencurigai langit dan bumi. Sekarang ada seorang anak perempuan yang menyebutnya Daddy di depan puluhan ribu orang.

Tangannya bergetar saat memperbesar tangkapan layar. Ia tidak peduli Feng melihatnya. Ia memperbesar mata Tiffany, lalu bentuk bibirnya, lalu garis hidungnya. Di setiap bagian, ia menemukan jawaban yang selama ini Keira sembunyikan, tetapi tubuhnya sendiri langsung mengenali.

Mereka bukan kebetulan.

Mereka bukan hanya mirip.

Mereka miliknya.

Milik Keira.

Anak-anak mereka.

Kevin berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.

"Boss, mobil?"

"Sekarang."

"Pak Kevin, konferensi dengan Singapura lima menit lagi."

Kevin menatap Feng. Mata merahnya membuat Feng langsung menutup laptop.

"Batalkan."

"Siap."

Dalam lift privat, Kevin memegang tablet seperti memegang bukti kehidupan. Ia memutar ulang suara Tiffany berkali-kali, tetapi setiap kali kalimat Daddy itu terdengar, dadanya justru semakin sakit.

Ia ingat Keira lima tahun lalu, wajah pucat, mata penuh kebencian, tangan yang menepisnya. Ia ingat Darren kecil yang tumbuh diam di Hartono Estate. Ia ingat Ethan yang pertama kali muncul seperti bayangan nakal dari masa lalu. Ia ingat Tiffany yang pernah menatapnya sambil berkata Daddy harus baik sama Mommy.

Semua potongan itu menyatu terlambat.

Terlalu terlambat.

Mobil Kevin membelah jalan malam Jakarta. Hujan turun tipis di kaca depan, lampu kota memanjang seperti garis-garis basah. Feng mengemudi tanpa berani bicara. Di kursi belakang, Kevin menatap screenshot Tiffany.

"Feng."

"Ya, Boss."

"Pastikan semua media gosip yang menyimpan wajahnya menerima peringatan. Kalau mereka unggah ulang, tuntut."

"Sudah saya proses."

"Dan jangan beri tahu Engkong dulu."

Feng melirik lewat spion, lalu mengangguk. "Saya mengerti."

Kevin tidak ingin Engkong Hartono mendengar dari internet bahwa keluarga mereka mungkin memiliki seorang cucu perempuan yang selama ini tidak pernah dipeluk. Ia harus mendengar dari Kevin sendiri, setelah Kevin mendengar langsung dari Keira.

Di Menteng Residence, Keira sudah mematikan livestream. Tiffany duduk di sofa dengan wajah takut, kedua tangan memeluk boneka.

"Mommy marah?" tanyanya kecil.

Keira berlutut di depannya. Ia ingin marah, tetapi melihat bibir Tiffany gemetar, suaranya melunak.

"Mommy takut, Tiffi. Wajah kamu tidak boleh tersebar begitu saja."

"Tiffi cuma mau Daddy lihat."

Kalimat itu membuat Keira terdiam.

Tiffany menunduk. "Tiffi pikir kalau Daddy lihat, Daddy datang."

Keira memeluknya erat. "Sayang..."

Bel pintu berbunyi.

Keira menegang.

Rio belum kembali. Pengawal luar mengirim pesan singkat hanya satu kalimat.

Pak Kevin datang.

Keira menutup mata sesaat. Ia tahu malam ini tidak bisa dihindari lagi.

Ia menyuruh Tiffany naik ke kamar bersama pengasuh, lalu berjalan ke pintu. Setiap langkah terasa membawa lima tahun luka, lima tahun rahasia, lima tahun keputusan yang ia yakini benar karena ia hanya ingin anak-anaknya aman.

Saat pintu terbuka, Kevin berdiri di bawah cahaya teras. Rambutnya sedikit basah oleh hujan. Jasnya masih dari kantor, tetapi wajahnya tidak lagi seperti CEO Hartono Group yang selalu mengendalikan semuanya.

Matanya merah.

Di tangannya, layar ponsel menyala menampilkan screenshot Tiffany.

Keira tidak berkata apa-apa.

Kevin mengangkat ponsel itu perlahan. Suaranya nyaris pecah saat ia bertanya, "Keira... katakan padaku. Gadis kecil di livestream yang memanggilku Daddy... dia putriku?"

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!