Setelah aku selamat dari kecelakaan itu, aku berhasil untuk bertahan hidup. Tetapi masalah yang kuhadapi ternyata lebih besar daripada dugaanku. Aku tersesat dihutan yang lebat dan luas ini. Aku mungkin masih bisa bertahan jika yang kuhadapi hanyalah binatang liar. Tapi yang jadi masalah bukanlah itu. Sebuah desa dengan penduduk yang menurutku asing dan aneh karena mereka mengalami sebuah penyakit yang membuat indera penglihatan mereka menjadi tidak berfungsi. Sehingga mereka harus mencari "Cahaya" mereka sendiri untuk mengatasi kegelapan yang amat sangat menyelimuti raga mereka. Mereka terpaksa harus mencari dan mencari sampai bisa menemukan mata mereka yang hilang. Dan akhirnya mereka bertemu dengan kami. Beberapa penumpang yang selamat setelah kecelakaan itu, harus bertahan hidup dari kejaran atau mungkin bisa kusebut penderitaan mereka atas kegelapan yang menyelimuti mereka. Berjuang untuk mendapatkan "Cahaya Mata" mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Rombongan
Kami pun mencoba untuk menyalakan sebuah petasan dengan suara yang paling keras dengan harapan suara ini dapat didengar oleh rombongan Pak Bonadi dan mereka bisa mengetahui posisi kami disini.
Kami pun meletakkan sebuah petasan ditanah dan siap untuk menyulut sumbunya. Tepat setelah sumbunya menyala, aku dan Novan berlari menjauh karena petasan ini lumayan berbahaya. Petasan beberapa kali memancarkan cahaya kelap-kelip diantara embun pagi. Walau cahayanya tidak terlihat diantara cahaya pagi, tetapi samar-samar aku masih bisa melihat cahayanya yang berwarna-warni.
Beberapa saat setelah petasan itu dinyalakan, petasan itu pun meledak dengan keras sehingga membuat burung-burung yang sedang hinggap di batang-batang tebu berterbangan kesana-kemari dan suaranya yang menggelegar memecah keheningan pagi hingga ke sudut yang jauh. Kami pun saling pandang satu sama lain.
"Berhasil gak sih?" tanya kami serentak.
Tak berselang lama, terdengar suara tembakan dari arah timur tempat kami berdiri. Aku langsung beranggapan bahwa itu adalah suara tembakan pistol dari Pak Bonadi. Suaranya terdengar sangat keras. Mataku berbinar dan merasa sangat bahagia mendengar suara tembakan itu. Kemudian kami pun memutuskan untuk kembali menyibak tebu yang padat itu dan segera menuju kearah sumber suara dengan semangat. Dengan sabit yang kumiliki saat ini, menyibak batang tebu menjadi tak sulit lagi. Sembari berjalan, aku menanyakan sesuatu kepada teman-temanku.
"Semalam yang ngasih ide buat gantian jaga siapa ya?" tanyaku sembari masih terus membabat tebu yang menghalangi jalanku.
"Kamu lah," jawab Vivi yang berjalan dibarisan paling belakang.
"Iya kah?" tanyaku masih belum percaya akan ucapannya.
"Semalem kakak ketiduran, jadi aku bangun buat bergantian jaga," jawab Aini yang berjalan tepat dibelakangku.
"Aku melihat kakak seperti kecapekan banget. Sampe tidur jongkok. Aku yang gak tega akhirnya minjem sabit kakak kemudian keluar buat menjaga diluar semak," sambungnya. Aku terkagum mendengar apa yang dikatakan oleh adikku itu.
Aku merasa dia sudah tumbuh dewasa dan mampu untuk menanggung sebuah tanggung jawab. Tetapi aku baru tersadar kalo sebelum Aini berjaga, aku baru saja membunuh seorang zombie anak kecil dan membiarkannya terkapar disana. Aku sedikit khawatir, apakah Aini melihat zombie itu? Aku memberanikan diri untuk bertanya lagi.
"Kalo Aini yang jaga setelah kakak, kamu lihat zombie anak kecil gak yang udah gak bernyawa?" tanyaku.
"Aku lihat. Terus aku singkirkan diantara semak-semak didepan tempat kita tidur. Dia juga bawa buket bunga tebu yang aku buat kemarin sore," jawabnya lagi.
"Loh bukannya buket bunganya udah aku kasihin ke kamu ya, Vi?" tanyaku lagi.
"Maaf, An. Aku gak sengaja hilangin buketnya," sahut Vivi. Aku hanya menghela nafas.
"Oiya, kamu gak jijik, An?" tanyaku lagi.
"Engga. Aku udah biasa," jawabnya lagi. Aku terkejut mendengarnya.
Aku menjadi sedikit tenang sekarang. Akhirnya aku tak harus lagi untuk fokus melindungi Aini. Sekarang dia sudah bisa untuk menjaga dirinya sendiri. Tetapi aku juga tak boleh lepas tanggung jawab begitu saja terhadapnya. Dengan kemampuannya yang sekarang, kita bisa bekerja sama dan saling melindungi satu sama lain. Aku sangat bangga sekali.
"Oiya terus pas kalian berjaga semalam, kalian ngehadapin zombie gak gaes?" tanyaku.
"Cuman ketemu beberapa kali sih, tapi aku cuman sembunyi aja," jawab Vivi. Aini juga melakukan hal yang sama.
"Aku ketemu zombie kakek," seru Novan dengan bersemangat. Kami terkejut mendengarnya.
"Terus kamu apain?" tanyaku penasaran.
"Dia sempet mau masuk ke tempat persembunyian kita, tapi aku usir dia pake mercon cahaya. Karena aku gamau kalo make mercon yang suaranya keras, terus kakak-kakak semua bangun," jawabnya menerangkan. Aku sepertinya bisa menyimpulkan sesuatu.
"Mercon cahaya ya?" gumamku.
Aku pun teringat akan kejadian saat kami masih berada di Desa Soca. Mereka seperti bersembunyi dari sinar matahari saat sore, dan kemudian kembali keluar saat menjelang waktu maghrib. Ini bisa menjadi sebuah petunjuk kalau kelemahan mereka adalah cahaya yang menyilaukan. Aku yang masih bergelut dengan berbagai pertanyaan yang mengusik pikiranku, tak sadar aku menabrak seseorang di depanku.
"Eh aduh maaf aku..." belum sempat aku menyelesaikan pertanyaanku, aku sangat terkejut dengan apa yang kutabrak saat ini.
Aku menabrak seorang zombie yang meringkuk diantara lebatnya tebu. Dia berperawakan seperti orang dewasa. Dia hanya meringkuk sembari memegangi tengkuknya seperti melindungi dirinya dari sengatan matahari. Dia tak bereaksi dan hanya berdiam diri saja disana meskipun sempat aku tabrak. Aku menoleh kebelakang dan melihat teman-temanku juga terdiam mematung melihatku menabrak zombie itu.
Aku pun berjalan dan segera menghindarinya. Tetapi saat aku melihat ke sekeliling, aku baru tersadar bahwa area ini terdapat banyak sekali zombie yang meringkuk bersembunyi diantara tebu yang lebat dan padat ini. Mereka tak bereaksi dan hanya berdiam diri saja. Sekujur tubuhku menjadi merinding, jantungku berdegup kencang, kakiku kaku, dan tanganku gemetar, begitupun yang lain.
Tetapi aku memutuskan untuk terus berjalan dan sebisa mungkin menghindari zombie yang tidak menyerang itu. Setelah beberapa langkah kami berjalan menyibak tebu, akhirnya kami pun sampai dipinggiran ladang. Kami bisa bernapas lega kembali. Kakiku terasa lemas atas kejadian sebelumnya.
"Kenapa mereka tadi tidak menyerang?" tanyaku dengan napas tersengal.
"Entah? Aku juga gak tau. Mungkin cahaya matahari yang jadi penyebabnya," sahut Vivi yang juga masih mengatur napasnya.
"Bisa jadi. Yaudah kita buruan ke tempatnya Pak Bonadi aja kalo gitu!" ajakku kepada mereka yang masih terengah-engah. Napasku seakan terhenti ketika melewati para zombie yang meringkuk itu. Situasi mencekam di pagi yang masih berkabut membuat bulu kudukku merinding kalau terus-terusan membayangkannya.
Setelah itu kami segera berlari kearah utara dan segera menemui rombongan Pak Bonadi dan lainnya. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Kenapa mereka tidak menyerang kami saat itu? Apakah mereka memang takut akan cahaya matahari? Benakku masih bertanya-tanya.
Setelah beberapa langkah kami berlari, akhirnya kami pun bertemu dengan rombongan Pak Bonadi di kejauhan. Aku memanggil mereka dan seketika mereka pun menyambut kedatangan kami dengan senyuman. Aku sangat lega dan merasa bahagia bisa bertemu mereka kembali.
"Hadeh dicariin kemana-mana malah pada keluyuran," gerutu Kak Willie.
"Maaf, Kak. Kita malah tersesat," jawabku sembari menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal itu.
"Kalian sangat berani. Aku salut sama kalian," sambung Pak Bonadi. Kami hanya tersenyum mendengarnya dengan napas yang masih tersengal.
"Bagaimana malam kalian? Kalian gak bertemu zombie kan?" tanya Pak Bonadi lagi.
"Ketemu lah, Pak. Serem-serem lagi," sahut Novan. Mereka sempat terkejut mendengarnya.
"Beneran lu, Cil? Terus lu apain mereka?" tanya Kak Willie yang terlihat tidak percaya akan perkataan Novan.
"Ya kita hajar lah," jawab Novan sombong. Kak Willie semakin tidak percaya mendengar ucapan pria kecil itu.
"Iya, Kak. Kita sempet ketemu beberapa zombie dan kita hajar mereka. Ini buktinya," sahutku sembari memamerkan sabit yang berukuran sedang ditanganku.
"Wih keren kalian bocil-bocil kematian," jawab Kak Willie bangga. Yang lain hanya tersenyum melihat keberanian kami.
"Oiya, Pak. Sebelum aku kesini, pas aku lewat tebu-tebu yang lebat itu, aku menemukan..." belum sempat aku menyelesaikan perkataanku Pak Bonadi langsung menyahut.
"Ya! Kamu benar. Aku juga sadar dari kemarin saat menghalau anjing-anjing itu," ucap Pak Bonadi sembari menatap tajam kearah ladang.
"Bisa kita simpulkan mereka hanya menyerang kita waktu malam saja, atau dalam kondisi yang agak teduh karena mereka layaknya sebuah kelelawar atau hewan nocturnal lainnya," sambungnya.
"Aku juga menjumpai sesosok anak kecil zombie yang sempat aku tertipu oleh hasutannya," sambungku.
"Anak kecil? Ada zombie anak kecil?" tanya Pak Bonadi keheranan.
"Benar. Dia sempat berkata padaku sebelum dia mencoba untuk mencongkel kedua bola mataku. Tetapi kata-kata yang paling kuingat hanyalah cahaya biru yang aku miliki mampu menerangi seluruh jiwanya. Cahaya yang menyinari sekelilingku, membuatnya memiliki sebuah harapan untuk bisa menyingkirkan kegelapan yang menyelimutinya selama ini,"
☺☺☺