NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Sereal, Kopi & Wilayah Kekuasaan

Matahari pagi Kota Valerika menyelinap masuk melalui celah gorden otomatis penthouse yang terbuka perlahan, memantulkan cahaya keemasan yang hangat di atas permukaan lantai marmer hitam yang dingin dan mengilat.

Setelah ketegangan hebat yang sangat menguras emosi dan mengacaukan ketenangan mental di acara gala amal semalam, pagi ini atmosfer di dalam The Obsidian kembali sunyi.

Namun, itu bukan lagi jenis kesunyian yang mencekam seperti malam-malam sebelumnya, melainkan sebuah keheningan canggung dari dua orang dewasa yang baru saja menyadari bahwa batasan emosional di antara mereka telah sedikit bergeser akibat sebuah improvisasi darurat.

Adrian keluar dari koridor timur lebih awal dari biasanya.

Pria itu menanggalkan seluruh setelan jas formal dan kemeja kaku yang biasa melekat pada tubuhnya, menggantinya dengan pakaian santai berupa kaus katun polos berwarna abu-abu yang pas di badan dan celana olahraga hitam longgar.

Rambut hitamnya masih sedikit acak-acakan selepas mandi pagi, memberikan kesan kasual yang sangat kontras dari citra kaku, dingin, dan angkuh seorang CEO Utama dari Hutama Industries.

Tujuannya melangkah ke area utama pagi ini sangat sederhana dan mendesak: kafein dosis tinggi.

Namun, begitu kakinya melangkah masuk ke area dapur bernuansa minimalis-modern, langkah Adrian terhenti seketika.

Di sana, di balik meja pulau (kitchen island) marmer putih yang megah, Alea sudah berdiri lebih dulu.

Wanita itu mengenakan jubah tidur sutra berwarna putih gading yang longgar, dengan rambut hitam panjangnya yang semalam diurai bergelombang kini dicepol asal-asalan ke atas, ditahan oleh sebuah jepit badai berwarna hitam.

Beberapa helai rambut halus tampak lolos, membingkai leher jenjangnya yang putih.

Pemandangan domestik yang begitu kasual dan intim itu mendadak membuat tenggorokan Adrian terasa kering.

Skenario "berakting demi kamera tersembunyi" yang dia cetuskan dengan begitu berani semalam mendadak terasa sangat nyata, dekat, dan mengintimidasi di bawah terang cahaya pagi yang asli, tanpa ada naskah yang menuntun mereka.

"Kau... sedang membuat kopi?" tanya Adrian, suaranya sedikit serak khas orang yang baru bangun tidur, memecah keheningan dapur.

Alea menolehkan kepalanya, sedikit terkejut dengan kehadiran Adrian yang tiba-tiba, namun dengan cepat dia berhasil menguasai diri kembali.

Di tangan kirinya, dia memegang sebuah stoples kaca besar berisi sereal gandum garing, dan di tangan kanannya ada kotak susu rendah lemak yang baru dikeluarkan dari lemari es pintar.

"Hanya untuk diriku sendiri. Mesin espresso otomatisnya ada di sebelah kananmu, pakai saja sendiri kalau kau butuh."

Adrian berjalan mendekat, mengambil jarak aman yang cukup longgar di sisi lain meja marmer, sadar betul bahwa ketegangan fisik semalam telah membuat suasana pagi ini menjadi sedikit lebih sensitif dari biasanya.

Saat dia mulai menyalakan mesin kopi dan memasukkan kapsul kopi pilihan, matanya secara tidak sengaja melirik ke arah menu sarapan yang sedang disiapkan oleh Alea.

Sebuah mangkuk porselen putih berisi tumpukan sereal gandum hambar, biji-bijian kering, tanpa warna yang tidak menarik sama sekali.

Adrian mendengus geli, sebuah senyuman tipis terukir di sudut bibirnya.

"Kau benar-benar berniat sarapan dengan makanan burung itu, Alea?"

Alea, yang sedang menuangkan susu cair ke dalam mangkuknya, menghentikan gerakannya di udara.

Dia menatap Adrian dengan pandangan mata datar dan dingin, tatapan yang biasa dia gunakan untuk mengintimidasi para redaktur pelaksana bawahannya di kantor media digital Corisand Group.

"Ini namanya granola organik dengan campuran biji rami dan oat murni, Adrian. Ini makanan sehat fungsional untuk menjaga fokus otak dan stabilitas energi sepanjang hari. Bukan makanan burung."

"Kelihatannya sangat hambar dan tidak berselera," sahut Adrian ringan, mengambil cangkir keramiknya yang kini mulai terisi penuh oleh cairan hitam pekat beraroma robusta yang kuat dan harum.

"Seorang pewaris tunggal Corisand Group ternyata sama sekali tidak punya selera yang menantang atau menyenangkan untuk urusan perut di pagi hari."

"Dan seorang Hutama tampaknya mengira dia memiliki hak absolut untuk mengatur selera makan orang lain hanya karena keluarganya menguasai separuh rantai logistik pangan di negara ini?" balas Alea sengit, namun ada riak geli yang mati-matian ditahannya di sudut bibir ranumnya.

Dia membawa mangkuk serealnya berjalan menuju meja makan panjang yang terletak di sisi ruang tengah, lalu duduk di salah satu kursi kayu penata gaya yang nyaman.

Adrian menyusul dari belakang, membawa cangkir kopinya yang masih mengepulkan uap tipis, lalu duduk di kursi yang berada tepat di seberang Alea.

Meja makan kayu jati itu sebenarnya sangat panjang, dirancang khusus untuk jamuan makan malam formal sepuluh orang tamu VIP, namun anehnya, pagi ini mereka berdua memilih untuk duduk di ujung meja yang sama, hanya terpisah oleh jarak dua kursi kosong di antara mereka.

"Mengenai kejadian dan pembicaraan kita semalam..." Alea kembali membuka suara setelah berhasil menelan suapan pertama serealnya, nadanya sengaja dibuat seformal dan sedingin mungkin untuk merebut kembali kendali situasi yang sempat hilang.

"Kuharap kau tidak lupa kalau aksi nekatmu melepas jepit rambutku di depan ruang tengah itu... sudah agak berlebihan dan keluar dari batas kesepakatan awal."

Adrian menyesap kopi hitamnya secara perlahan, menikmati rasa pahit yang membakar lidahnya, sementara matanya menatap lurus ke arah Alea dari balik bibir cangkir.

"Itu disebut sebagai improvisasi taktis, Alea. Jika memang benar ada mata-mata atau kamera mikro yang sedang mengawasi kita dari atas sana, adegan semalam akan terlihat sangat organik dan meyakinkan. Seorang suami yang baru pulang dari pesta formal, merasa lelah, dan ingin melihat istrinya tampil apa adanya tanpa riasan kaku. Sederhana, bukan?"

"Visualisasimu dan skenariomu terlalu spesifik serta dramatis untuk ukuran seorang pria yang berulang kali mengaku di depan media tidak punya waktu untuk mengurus hubungan asmara," cibir Alea, meskipun dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa pipinya mendadak terasa sedikit hangat mendengar penjelasan Adrian.

Untuk menyembunyikan semburat merah tipis itu, dia mulai menyendok serealnya dengan gerakan yang jauh lebih cepat.

"Aku hanya seorang pebisnis profesional yang tahu bagaimana cara menjual sebuah cerita yang bagus kepada audiens," kekeh Adrian pelan.

Lesung pipinya muncul dengan sempurna di wajah tegasnya, dan entah mengapa, di mata Alea pagi ini, senyuman itu terlihat sangat menjengkelkan sekaligus... sialan, tampan.

Drama domestik berskala kecil di antara mereka tidak berhenti begitu saja di meja makan pagi.

Satu jam kemudian, sebuah konflik baru yang lebih nyata dan menguji kesabaran kembali pecah di dalam ruang kerja komunal penthouse yang terletak di lantai dua.

Ruangan kerja luas itu memiliki desain interior yang maskulin namun elegan, dengan dua meja kerja kayu besar yang diletakkan saling berhadapan, hanya dipisahkan oleh sebuah karpet geometris modern berbulu pendek di bagian tengah lantai.

Alea sedang duduk fokus, sibuk memeriksa draf artikel utama dan kebijakan editorial untuk majalah digitalnya melalui sebuah tablet premium, sementara Adrian tenggelam dalam tumpukan laporan keuangan kuartalan dan grafik saham Hutama Industries di layar laptopnya.

Keheningan kerja yang produktif itu mendadak pecah oleh sebuah suara ketukan berirama yang konstan.

Tok. Tok. Tok.

Alea mendongak dari tabletnya dengan dahi berkerut.

Di seberangnya, Adrian sedang mengetuk-ngetukkan ujung pulpen logam mahalnya ke atas permukaan meja kaca tebal sambil menopang dagunya, tampak berpikir keras.

Wajah pria itu berkerut serius menatap angka-angka, sama sekali tidak sadar kalau kegiatan kecilnya itu mulai mengusik ketenangan orang lain di ruangan yang sama.

Alea mengembuskan napas berat melalui hidungnya.

Dia mencoba mengabaikan suara menjengkelkan itu dan kembali memfokuskan matanya membaca analisis pasar.

Tok. Tok. Tok. Klik.

"Adrian," panggil Alea, suara indahnya naik satu oktav, sarat akan teguran.

"Hmm? Ada apa?" Adrian menjawab pendek tanpa mengalihkan pandangan matanya sedikit pun dari layar laptopnya yang terang.

"Bisa tolong berhenti mengetuk-ngetukkan pulpen itu ke meja? Aku sedang membaca analisis data audiens yang sangat rumit dan membutuhkan ketelitian tinggi, dan suara ketukanmu itu benar-benar merusak fokus konsentrasiku."

Adrian menghentikan gerakan tangannya di udara, lalu menurunkan pulpennya.

Dia menatap Alea dengan sebelah alis tebal yang terangkat tinggi.

"Ini adalah ruang kerja bersama, Alea. Dan aku selalu mengetuk pulpen atau jari kalau sedang memeriksa angka-angka audit internal yang memusingkan ini. Itu adalah kebiasaan lama yang membantuku berpikir lebih cepat."

"Kalau begitu, mulailah belajar untuk berpikir di dalam kepalamu sendiri, Tuan Hutama, bukan menyebarkannya di atas meja kaca yang kaku ini," balas Alea sengit sambil melipat kedua tangannya di depan dada, bersandar pada kursi kerjanya.

"Atau belilah karpet tambahan untuk melapisi mejamu agar tidak menimbulkan polusi suara."

Adrian ikut bersandar pada kursi kerjanya, menyunggingkan sebuah senyuman menantang yang membuat darah Alea sedikit berdesir.

"Bagaimana kalau kita membuat sebuah kesepakatan domestik baru yang adil? Aku akan berhenti mengetuk pulpen di ruangan ini, asalkan kau juga berhenti menyalakan lilin aromaterapi beraroma lavender itu di atas mejamu. Baunya terlalu menyengat dan membuatku merasa seperti sedang terjebak di dalam spa kecantikan wanita, bukan di sebuah pusat komando bisnis."

Alea membelalakkan sepasang mata indahnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Lavender itu membantu mengurangi tingkat stres kerja dan meningkatkan hormon kebahagiaan, Adrian! Itu adalah hal esensial untuk kesehatan mental seorang eksekutif!"

"Tapi itu membuatku mengantuk dan kehilangan insting tajamku, Nona Corisand," balas Adrian tak mau kalah, nadanya terdengar keras kepala.

Mereka berdua saling melempar pandangan mata yang tajam dan mengintimidasi selama beberapa detik yang menegangkan, menyerupai dua orang jenderal perang yang sedang memperebutkan wilayah kekuasaan di garis depan perbatasan negara.

Tidak ada satu pun di antara mereka yang mau mengalah, dan tidak ada yang mau menurunkan ego tinggi masing-masing demi kedamaian bersama.

Namun, tepat di tengah-tengah adu tatap yang sengit dan kaku itu, keheningan di dalam ruang kerja yang kedap suara tersebut mendadak dikhianati oleh sebuah suara yang sangat tidak terduga.

Perut Alea mengeluarkan suara keroncongan yang cukup nyaring, sebuah protes alami dari tubuhnya akibat menu sarapan sereal gandum hambar dengan porsi yang terlalu sedikit tadi pagi.

Kruuuk...

Suara itu bergaung dengan sangat jelas dan jernih di antara mereka berdua.

Seketika itu juga, keheningan total melanda ruangan kerja.

Wajah Alea yang biasanya sedingin es dan penuh wibawa kini berubah warna menjadi merah padam dalam hitungan detik.

Dia langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela besar di samping kiri, berdeham dengan sangat keras beberapa kali untuk menutupi rasa malunya yang luar biasa di depan pria itu.

Adrian sempat tertegun sejenak selama dua detik, mencerna apa yang baru saja terjadi, sebelum akhirnya sedetik kemudian, tawa baritonnya yang berat pecah begitu saja.

Pria yang biasanya selalu menjaga citra tegas itu tertawa lepas hingga bahunya berguncang hebat, sebuah tawa yang sangat lepas, tulus, dan hangat, yang belum pernah Alea dengar sejak hari pertama mereka bertemu di ruang baca kantor pengacara keluarga.

"Hentikan tawa sialanmu itu, Adrian! Itu sama sekali tidak lucu!" ketus Alea dengan nada kesal, wajahnya semakin memerah hingga ke area telinga.

"Ternyata... makanan burung organikmu itu benar-benar tidak bekerja dengan baik untuk memenuhi kebutuhan energi perut seorang CEO media," ujar Adrian di sela-sela sisa tawanya yang belum habis.

Dia menutup layar laptopnya dengan satu gerakan cepat yang efisien, lalu bangkit berdiri dari kursi kerjanya, merapikan kaus abu-abunya yang sedikit berkerut.

"Kau... kau mau ke mana sekarang?" tanya Alea dengan nada suara yang melembut karena malu, matanya masih enggan untuk menatap langsung ke arah wajah Adrian.

"Pergi ke lantai bawah untuk menyelamatkan istri kontrakku dari bencana kelaparan yang memalukan," jawab Adrian dengan nada santai dan jenaka, berjalan melangkah menuju pintu keluar ruang kerja dengan gaya yang ringan.

"Aku akan memesan makanan asli yang padat nutrisi dari restoran hotel di bawah. Sup ayam ginseng hangat dan nasi putih. Dan sebagai gantinya untuk jasaku..." Adrian menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kayu, menoleh ke belakang, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan sangat jenaka ke arah Alea.

"...aku boleh mendapatkan hak eksklusif untuk mengetuk pulpen di meja selama sepuluh menit penuh setelah jam makan siang selesai. Bagaimana?"

Alea mendengus kesal, namun sebuah senyuman tak tertahankan mulai merayap di wajahnya.

Dia mengambil sebuah bantal kursi kecil empuk di dekatnya dan berpura-pura hendak melemparkannya ke arah wajah Adrian.

"Pergi sana dan cepat pesan makanannya!"

Begitu sosok tinggi Adrian menghilang di balik daun pintu yang tertutup, Alea perlahan menurunkan kembali bantal kursi di tangannya ke atas pangkuan.

Sebuah senyuman tipis yang sangat tulus, sebuah senyuman manis yang kali ini benar-benar tidak ditujukan untuk konsumsi kamera pengintai atau media mana pun perlahan terukir dengan indah di wajah cantiknya.

Untuk pertama kalinya sejak mereka menjejakkan kaki di dalam penthouse megah ini, dinding es pembatas yang tebal di antara kedua pewaris takhta korporasi itu tidak lagi terasa begitu dingin dan kokoh.

Drama-drama kecil yang konyol ini justru perlahan mulai mencairkan ketegangan di antara mereka, sebelum badai misteri yang sesungguhnya kembali datang mengintai dari balik kegelapan kota.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!