Malam sial itu membuat Ruby harus kehilangan mahkotanya demi menggantikan seorang wanita yang diincar seorang mafia yang harus menyalurkan syahwatnya karena dijebak oleh saingan bisnisnya.
"Tuan. Tolong...! jangan lakukan itu...!" Ruby mendorong pria tampan yang dikenal sebagai mafia bringas.
"Aku sudah membayarmu maka, layani aku...! " Ujar Sean menyeringai licik.
Sean mengira Ruby adalah wanita penghibur namun ternyata Ruby adalah gadis baik-baik yang masih suci. Ia yang ingin kembali ke negaranya ternyata harus menjadi korban salah tangkap oleh anak buahnya mafia.
"Bagaimana kelanjutan kisah antara Ruby dan Sean sang mafia?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Cemburu
Hari-hari Rubby diliputi rasa bahagia yang mendalam karena bersama lagi dengan bayinya. Ia begitu telaten merawat bayinya yang sekarang ini sudah berusia dua bulan.
Sean selalu membawa makanan kesukaan Rubby. Apalagi Rubby diberi kesempatan untuk memasak makanannya sendiri karena perabotan dapurnya harus terpisah dengan yang lain dan isi kulkasnya semua berlebel halal.
Sean begitu memanjakan Rubby membuat hati Sarah makin memanas. Tidak ada satu orang maid di mansion mewah itu untuk bisa diajak kerjasama. Walaupun ia menawarkan bayaran yang cukup tinggi.
Seperti contohnya hari ini dia berbicara dengan salah satu maid yang terlihat masih muda. Maid itu sedang membersihkan kamarnya dan Sarah memperhatikan wajah maid itu.
"Hai kau ....!" panggil Sarah dengan menggerakkan jarinya agar si maid mendekatinya.
"Iya nyonya." Maid itu sedikit membungkukkan badannya dengan sopan.
"Apakah kamu mau uang yang banyak dariku?" tawar Sarah seraya berdiri sambil bersedekap menghadap ke maid itu.
"Maaf nyonya. Maksudnya apa ya?"
"Jika kamu mau bekerja untukku, maka gajimu lebih besar daripada yang kamu terima setiap bulannya," ucap Sarah namun maid yang bernama Jennie itu masih bingung.
"Apa yang anda inginkan dari saya nyonya?"
"Mencelakai bayi itu dan yang akan mendapatkan masalah adalah wanita bercadar itu. Pengasuhnya," ucap Sarah.
"Astaga, nyonya. Bukankah itu bayi anda sendiri. Kenapa nyonya menyuruhku untuk mencelakainya? Tidak nyonya, aku tidak mau. Di dalam rumah ini penuh dengan cctv. Aku tidak mau ambil resiko dengan mencelakai seorang bayi. Tuan Sean akan membunuhku atau memasukkan aku ke dalam kandang harimau. Aku tidak mau nyonya," tolak Jennie seraya membereskan perabotan kebersihannya di troli.
"Aku akan membayarmu tiga kali lipat. Kau hanya mendorong stroller bayi itu dari atas tangga atau mencebur nya ke kolam renang karena cctv kedua tempat itu sedang rusak," bujuk Sarah namun Jenni tetap menolak.
"Silahkan suruh yang lain saja nyonya. Aku tidak berani. Aku janji tidak akan membongkar rahasia ini pada tuan. Aku permisi dulu, nyonya." Mendorong trolinya lalu beranjak keluar dari kamar Sarah.
Sarah mengamuk seraya menarik seprei yang sudah dirapikan oleh Jenni." Pembantu sialannnn....!" meremas rambutnya sendiri penuh frustasi.
Ia tidak tahu bagaimana caranya untuk menyingkirkan Rubby dari mansion itu. Hatinya benar-benar sakit melihat keakraban Sean dengan Rubby.
"Apa bagusnya wanita itu bagi Sean? Dia bahkan tidak bisa melihat wajah wanita itu. Dan wanita itu sungguh sangat menjijikan. Ia terlihat sok alim hanya untuk mendapatkan perhatian Sean," gumam Sarah sambil memikirkan cara untuk memfitnah Rubby.
Sore itu Rubby dan bayinya sudah kelihatan cantik dan rapi untuk menyambut kedatangan Sean. Rupanya Sean ingin mengajak ke duanya jalan-jalan sore entah ke mana.
Sarah yang melihat itu tidak senang sama sekali. Ia menghampiri Rubby yang sedang berada di taman.
"Berikan bayiku..! Aku ingin menggendongnya," pinta Sarah.
"Tidak boleh. Yang boleh menggendong baby Oliver hanyalah aku dan Sean," tegas Rubby.
"Cihh....! Kau lupa ya kalau bayi itu anak kandungku dengan Sean. Jadi aku berhak menimang bayiku sendiri."
"Apakah benar ini anak kandungmu yang terlahir dari rahimmu? Atau anak pungut dari seseorang yang ingin menyelamatkan kamu dari amukan Sean?" sindir Rubby membuat mata Sarah melotot tajam walaupun jantungnya seketika berdenyut kencang.
Deggggg....
"Apa-apaan kamu bicara sok tahu seperti itu? Kamu hanya ibu susunya bukan istrinya Sean apalagi ingin diakui bayi ini milikmu, hah?!" bentak Sarah untuk menutupi kebohongannya.
"Apakah kamu mau aku membuktikan kepada Sean kalau bayi ini bukan darah dagingmu?" tantang Rubby yang tidak takut sedikitpun pada Sarah.
"Oh begitu. Kamu mengancam ku? Ok. Kamu bisa membuktikan itu. Aku mau lihat apakah Sean percaya pada wanita aneh sepertimu atau aku? Dasar pelakor...!" sarkas Sarah.
"Pelakor...? sejak kapan Sean menikahimu atau mengakui mu sebagai istrinya?" Cibir Rubby lalu meninggalkan Sarah yang tampak meradang.
Rubby mencari tempat lain untuk bisa bersama dengan bayinya. Sarah kehilangan kata untuk menyerang Rubby yang dikiranya bisa ia tindas.
"Bagaimana bisa dia mengetahui kalau baby Oliver bukan anak kandungku? Apakah itu hanya bisa-bisanya dia saja untuk menakuti ku? Aku rasa seperti itu. Dia tidak mungkin tahu tentang baby Oliver." Sarah menghibur hatinya yang sedang gundah.
Derap langkah kaki Sean menarik atensi Rubby yang langsung berdiri menggendong bayinya.
"Rupanya kalian di sini." Sean mengambil bayinya dari gendongan Rubby.
"Wah. Makin hari putriku makin cantik saja. Cepatlah besar sayang, Daddy akan mengajarkan kamu tentang apa saja," ucap Sean sambil melirik Rubby yang menatap interaksi mereka.
Baby Oliver yang sudah berusia tiga bulan itu tersenyum pada ayahnya. Walaupun ia tidak mengerti ucapan ayahnya namun, ia merasa ayahnya sedang mengajaknya bermain.
"Bersiaplah...! Aku ingin mengajak kalian berdua jalan-jalan...!" ajak Sean.
"Aku sudah siap."
"Baguslah...! Ayo kita pergi. Aku ingin makan diluar bersamamu."
"Tapi kamu baru pulang kerja. Apakah tidak sebaiknya kamu istirahat dulu?" tawar Rubby.
"Melihat kalian berdua sudah menghilangkan lelah ku. Aku tidak butuh istrahat. Ayo kita jalan sebelum memasuki malam hari. Bukankah kamu harus sholat magrib nanti?" tanya Sean yang sudah menghafal jadwal sholat yang selalu dilakukan Rubby.
Ketiganya sudah berada di dalam mobil yang siap meninggalkan mansion mewah itu. Sarah yang terbakar cemburu memperhatikan keduanya dari atas balkon kamarnya. Saking kesalnya ia mengambil pot bunga yang ada di di sampingnya lalu menjatuhkan ke bawah.
Beberapa maid yang melihatnya hanya tersenyum geli pada Sarah.
"Apakah dia sudah gila karena tidak bisa mendapatkan perhatian tuan Sean. Kalau aku jadi tuan Sean, sudah aku usir wanita tidak berguna itu. Bahkan bayinya sendiri tidak menyukainya. Aneh...?!" cibir mereka.
Setibanya di restoran, Sean mengajak ngobrol Rubby. Ia ingin menyampaikan niatnya untuk menikahi Rubby. Itulah sebabnya ia sengaja mengajak Rubby keluar dari mansion agar tidak dilihat Sarah.
"Rubby. Apakah aku boleh tanya sesuatu kepadamu?" tanya Sean.
"Silahkan Sean...!"
"Apakah kamu sudah bercerai dengan suamimu? Jika sudah, maukah kamu menikah denganku?" tanya Sean membuat Rubby terkesiap.
"Apaaa....?!" sentak Rubby.
"Menikahimu. Aku sudah pelajari agamamu. Kamu tidak bisa tinggal denganku tanpa ikatan pernikahan. Bukankah itu adalah perbuatan dosa?" tanya Sean. Satu-satunya tujuan Sean menikahi Rubby untuk membuktikan bahwa Rubby adalah wanita yang sama yang pernah ia perkosa.
"Aku....aku...!" Rubby begitu cemas karena ia tidak siap menikah dengan Sean. Satu-satunya yang ingin ia lakukan adalah menculik bayinya dari Sean. Dengan begitu ia tidak perlu tinggal bersama dengan Sean lagi.
"Rubby. Apakah kamu mendengarkan aku?" tanya Sean sekali lagi.
"Tidak mungkin kita bisa menikah tuan karena keyakinan kita saja berbeda," tolak Rubby secara halus.
"Aku tidak punya agama Rubby. Aku bisa mengikuti keyakinan kamu. Bahkan aku sudah belajar agamamu walaupun hanya terjemahannya saja," timpal Sean agar Rubby tidak punya alasan untuk menolaknya.
Rubby bingung harus bicara apa. Ia tidak tahu dengan perasaannya saat ini. Apakah dia menyukai Sean atau tidak.
Rasanya masih pengin 😭😭😭